Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Tak Sengaja


__ADS_3

SENJA Untuk Sang Direktur


Chapter 1


Mata Senja menyipit melihat motor maticnya yang teronggok di garasi kosan.


Bagian depannya penyok, spionnya patah dan sekarang bannya juga kempes. Gadis itu menghela nafas, satu-satunya harta


kekayaannya yang tersisa itu masih dalam keadaan menyedihkan.


Seminggu lalu ia mengalami kecelakaan,


pergelangan tangan kirinya retak, dan sialnya mobil yang menabraknya malam itu


langsung kabur, untung masih ada orang baik yang membawanya ke rumah sakit.


Senja sampai di depan sebuah


perusahaan marketing yang lumayan besar, hari ini ia mulai magang di sana.


Dengan ragu Senja melangkahkan kakinya ke lobby kantor, seorang resepsionis


cantik menyapa  dengan ramah lalu


mengantarkan gadis itu ke supervisiornya.


“Nama kamu Senja ?” tanya wanita berkacamata dengan mimik serius.


“ Ia bu “


“ Senja saja tidak pakai nama belakang ?”


Gadis mengangguk sambil tersenyum.


“Oke, panggil aku mbak Merry,


jangan panggil ibu, aku belum menikah !”


Senja kembali tersenyum, lalu


mengikuti langkah Merry masuk ke ruangannya. Disana ada beberapa orang yang


kemudian akan menjadi rekan kerjanya, Dina , Vian dan Ratni.


Senja mencoba ramah pada mereka


dengan tersenyum dan menghampiri untuk berkenalan walau tanggapan Dina dan


Ratni dingin, tak seperti Vian. Sudahlah pikir Senja, gadis itu melenggang cuek


menuju meja kerjanya.


Setumpuk berkas ada didepannya


masih belum tersentuh, gadis itu memainkan hp nya, melihat jam yang sudah


menunjukan waktu makan siang, ‘pantas saja perutku perih’ gumamnya, tapi tak


ada satupun dari Ratni, Dina dan Vian yang beranjak dari ruangan itu.


“Kenapa gelisah, elo lapar ?”


tanya Ratni sambil mengemasi kertas-kertas di atas mejanya.


“Iya mbak, aku punya maag akut !”


“Di sini itu nungguin mbak Merry


selesai dulu baru kita bisa makan siang, jadi selamat menunggu !’


“Mbak Merry nya kemana ?’


Ratni hanya mengangkat kedua


bahunya, hampir jam satu siang namun tak ada tanda-tanda mbak Merry akan


kembali, Senja terus memegangi perutnya, obat maag cair pun sudah ditenggaknya


dari tadi.


“Nih makan punya gue, mbak Merry


baliknya setengah jam lagi,  dia bawain


makanan untuk kita. Lo makan di dapur aja, lurus lalu belok kiri !”


”Makasi mbak Dina,


Senja tersenyum lebar, ia


mengintip bekal makanan yang diberikan Dina kemudian berlari ke arah dapur yang


ditunjukkan Dina tadi. Kelakuaanya membuat ketiga orang teman seruangannya itu


saling pandang dan tersenyum.


“Aw,,,”  karena terburu-buru gadis itu menabrak


seseorang, isi kotak makanannya berhamburan di lantai, Senja mendecak kesal


karenanya


” Kamu buta ya !” Umpat seorang


pria,


“ La, yang nabrak siapa ?” balas


Senja dengan marah, gadis itu mengaduh kesakitan, karena tangannya yang terluka


tersenggol pria itu.


“    Ini kantor bukan pasar, seenaknya kamu


lari-lari, “ suara berat Hans memancing perhatian, tiba-tiba seisi kantor


menjadi riuh rendah, dengan cepat para office boy membersihkan makanan yang


berhamburan. Tak ada satupun dari mereka yang berani angkat kepala.

__ADS_1


“ Ganti,” teriak Senja menantang.


Gadis itu sampai menengadahkan kepala karena pria dihadapannya itu sangat


tinggi.


Mata Hans menatap tajam dari ujung


kaki hingga ke ujung rambut, “Keluar kamu, saya tidak mau lihat kamu lagi di


kantor ini  !”


“Oh hoho, so sweet my big boss,


kamu kira saya mau lihat muka kamu lagi !”


“Kalo gitu keluar sekarang,”


“Ok, fine, kalau gitu ganti dulu


makanannya”


“Sial, kamu masih mikirin


makanan, dasar Babi“


“Kamu yang ****,” balas Senja


memaki, hampir saja Hans melayangkan tamparan ke wajah Senja, untung ia masih


dapat mengendalikan dirinya. Hans menarik tangan Senja, membawa gadis itu ke kantin,


seketika isi kantin yang semula ramai, makin lama semakin sepi.


“Sana pesan yang kamu mau, ” Senja


menyengir sinis, ’dasar sombong, awas lo gue kerjain,’


Dengan santainya Senja membawa


sepiring nasi goreng dengan sebelah tangannya, dia duduk tepat dihadapan Hans


yang sibuk dengan hapenya. “Sudah... segitu saja kamu pesan ?”


“eee... emang boleh pesan yang


banyak ?”


“Kamu kira saya miskin  ?”


Senja tersenyum, sambil menyendokan


nasi goreng ke mulut mungilnya. Sesekali Hans melirik dan terpergok oleh Senja.


“Kenapa lo liat-liat ..... Mau ?”


Hans hanya menyengir sambil


mengangkat telponnya yang tiba-tiba berdering. “cancel dulu, saya lagi ada


urusan !” ucap Hans menjawab telponnya.


makannya, lalu secepat kilat ia kabur dari hadapan Hans. ’Ada apa dengannya,


tiba-tiba kabur, tapi cantik juga’ Hans tersenyum sendiri, sambil mengusap


rambut dengan tangannya,


Tak lama pelayan kantin datang


sambil membawa tagihan, kabetulan Fabio asisten pribadi Hans sudah berada di


sana.


“Maaf Hans, kalian makan apa saja


sampai tagihannya segini !”


“Saya gak makan, Cuma cewek itu


yang makan, kalau gak salah nasi goreng, emang kenapa ?”


“Coba lihat sendiri deh !” Fabio


menyodorkan selembar kertas tagihan padanya,


“Shit... nasi goreng apa ini,


kenapa sampai belasan juta ?”


Dengan suara bergetar pelayan


kantin menjawab teriakan Hans “ nasi gorengnya untuk satu kantor, pak direktur !”


‘Damn, pantas dia tersenyum manis  tadi’


“Kantor kita karyawannya hampir


seribu orang, wajar tagihannya sampai segitu..... haha kamu dikerjain gadis itu


Hans”


“Cari dia sampai dapat, berikan kontrak mati untuknya “ pekik Hans sambil mengontrol emosinya yang tiba-tiba


meluap


*******


Senja masih celingak-celinguk,


menunggu orang yang akan bertemu dengannya datang. Ketika di kampus ia dijemput


oleh beberapa orang dan dibawa ke tempat ini, ‘gak mungkin diakan, lagian ini


udah lewat seminggu, mungkin ini orang-orangnya Vanya, tu anak kan suka yang


aneh-aneh’


Senja mencoba menenangkan diri,

__ADS_1


beberapa kali ia mencoba menghubungi sahabatnya itu, namun tak kunjung


diangkat.


“Kamu nelpon siapa ?” suara berat


Hans mengejutkan Senja, gadis itu mundur beberapa langkah ketika wajah Hans


hanya beberapa senti dari wajahnya.


“La ternyata memang elo !”


“Memang kamu berharap siapa ?”


“Apalagi sih, urusan kitakan


sudah selesaI !”


“Tanda tangani ini, kamu tidak


akan saya tuntut kepolisi “


Senja mengernyitkan dahinya,


sambil mengambil map yang dilemparkan Hans diatas meja. ‘jadi beneran masalah


ini, gila’ tangihannya sampai 15 juta cuy’ Senja tertawa kecil,


“Kenapa kamu tertawa, seneng kamu


mau dimasukin penjara !”


“Wo,,,, tenang-tenang, katanya


orang kaya, uang segini aja ko repot !”


Hans melirik Senja dengan mata


tajamnya, “Eh, bukannya lo yang suruh pesan sesukanya kemarin, masa lupa,


cctv... cctv kan ada !”


“Cepat tanda tangan !” bentak


Hans


“Ogah, siapa yang mau bekerja


setahun gak di gaji, gue mau makan apa !”


“Kamu gak baca, disitukan ditulis


makan siang dan makan malam ditanggung perusahaan, gaji kamu buat bayar uang


tagihan kantin !”


“Eh, emangnya orang hidup cuma


untuk makan, lalu yang bayar kost gue siapa, kalau gue sakit mau beli obat


gimana, beli pembalut tiap bulan pake apa, emangnya elo yang mau beliin.


Katanya direktur tapi kok gak punya otak !”


“Kamu bilang apa ?” wajah Hans


tampak merah menahan marah, lelaki itu terus melangkahkan kakinya hingga  membuat Senja harus terus mundur kebelakang


hingga punggungnya menyentuh dinding.


“Tunggu-tunggu elo mau apa, sory


gue keceplosan, maaf ya maaf,” Hans terus menatap tajam kearah Senja bahkan


tubuhnya sudah menghimpit gadis itu.


Senja sampai menelan ludah


beberapa kali, ‘gimana ni’ gadis itu sudah mulai gelagapan, “cinta satu malam


oh indahnya, cinta satu malam buat kumelayang” Senja kaget mendengar hapenya


tiba-tiba berdering,


‘Oh God, kenapa juga ringtonenya


harus ini, dasar Vanya’, Senja bergumam dalam hatinya,  Hans mengulum senyum mendengar nada dering bernada


dangdut dari hape gadis itu.” Bentar ya, pak Direktur..” ucap Senja merogoh


saku jeans birunya. Hans hanya melonggarkan sedikit  himpitannya tapi masih tetap dalam posisi yang


sama.


“Nya, kenapa lama amat angkat


telponnya!”


“Sory-sory hape gue ketinggalan


tadi, ada apa sih, penting banget ya !”


“Gue pinjam uang ya !”


“Berapa ?”


Mata Senja menangkap mata Hans


yang terus mengamatinya, bahkan pandangan Hans seakan-akan ingin menelan


seluruh tubuhnya.


“Lima belas ju...... “ akh.....


belum sempat Senja meneruskan kata-katanya, Hans sudah merengkuh tubuh gadis


itu kedalam pelukannya, bahkan ******* bibir mungil gadis itu..... /////


bersambung (unie)

__ADS_1


Klik jempol ya, klik jempol ya, KLIK love Juga, makasih, makasih, makasih (^-*)


__ADS_2