
Jose menerobos api , bahkan beberapa patahan kayu
menimpanya, pintu kamar Senja sudah terbakar habis, Jose terhenyak
memandang Senja yang sudah dikelilingi
api, gadis itu diam tak bergeming, air matanya jatuh satu persatu.
“Senja ayo keluar,”
teriak Jose
Gadis itu menoleh,
matanya bertemu dengan mata Jose, “Kenapa... kenapa kakak lakukan ini ....“
SENJA untuk Sang Direktur
Chapter 19
Senja berontak ketika Jose menarik tangannya, gadis itu
berteriak histeris, meminta penjelasan dari Jose. “Bruk” Senja jatuh kelantai,
Jose sengaja memukul tengkuknya agar gadis itu pingsan. Jose mengambil selimut
tebal yang ada di atas tempat tidur, membasahi nya dengan air, Lalu menutupi
tubuhnya dan Senja.
Bunyi pecahan kaca mengejutkan mereka yang ada di bawah,
Jose membawa Senja terjun bebas dari lantai dua, membuat orang-orang terpekik
histeris. Tubuh mereka terhempas ke tanah, beberapa orang berusaha menolong
mematikan api yang membakar selimut.
Jose masih dengan
kesadaran penuh ketika tim medis mencoba memberikan pertolongan pada mereka.
Nafasnya terengah, lelaki itu sempat menoleh ke arah Senja yang tak bergerak
“Senja...Senja... “ teriak Riani sambil menggoyang-goyangkan
tubuh Senja yang tak sadarkan diri, suara sirine ambulans semakin mendekat,
Moran dan Cynthia masuk membaur dikerumunan orang, mencari kesempatan membawa
Jose.
“JoSe ayo” bisik Cynthia membawa Jose perlahan keluar dari
kerumunan orang dan sepersekian detik kemudian Moran sudah berhasil membawa
mereka kabur dari tempat itu.
“Gadis itu ?”
“Ntahlah, dia masih tak bergerak. Aku membuatnya pingsan sebelum lompat dari
jendela !” Jose mengerang, menahan perih luka bakar dilengannya.
“Tenanglah, aku sudah
kirim orang untuk melihatnya “ timpal Cynthia menenangkan.
......^=^.......
Hans tergesa-gesa pergi ke rumah sakit setelah mendapat
kabar dari Vanya, lelaki itu bahkan masih menggunakan kaos oblong dan celana
pendek. “Nya, gimana ?”
“Ryuji ada didalam, gue juga gak tahu, banyak polisi soalnya
!”
“Polisi ?”
“Ya, katanya ada indikasi kesengajaan”
“Maksudnya kosan sengaja di bakar ?”
“Ya !”
Hans menghela nafas panjang, lalu bergegas mencari informasi
pada petugas yang ada di sana.
Ayam jantan berkokok tanda pagi mulai menyapa, bau hangus
masih terasa pekat, air bergenang dimana-mana, api berhasil dipadamkan, tak
__ADS_1
lama setelah azan subuh berkumandang.
Air mata Nadia bercucuran, ia tak bisa melupakan insiden
dini hari itu, bagaimana api menyambar-nyambar apa yang ada di sana, bahkan
sebagian barang pribadinya tak terselamatkan.
Nadia mengais-ngais reruntuhan yang dipagari oleh police
line, matanya tertuju pada boneka beruang putih yang setengahnya sudah terlalap
api. Ia tahu dengan jelas itu milik siapa, tangannya mencoba meraih boneka itu
dan memandanginya dengan berkaca-kaca.
“Adek, maafin gue, maafin gue....”
.....^-*......
Bunda, Rehan dan Iwan sudah tiba dirumah sakit sebelum sore,
wajah mereka terlihat tegang, karena Senja belum bisa ditemui dengan leluasa.
Walaupun menurut Ryuji kondisi Senja sudah lebih baik, namun serangkaian
pemeriksaan masih harus dijalani.
Bunda duduk di samping tempat tidur melihat Senja yang masih
terlelap, sejak pagi, gadis itu terus tertidur dan hanya terbangun sebentar
lalu kembali memejamkan matanya. Hal yang serupa, ketika Senja kecil baru di
temukan, setelah menghilang selama sepuluh hari.
“Tenanglah nak Hans, Senja gadis yang kuat,” ucap Bunda
mencoba menenangkan Hans yang wajahnya tampak letih dan kusut.
Tak lama, Ryuji masuk dengan dua orang perawat, memeriksa
keadaan Senja.
“Bunda ..... bisa ikut Ryu sebentar keruangan, ada yang Ryu
ingin bicarakan tentang keadaan Senja,”
“Oh iya ,,, sebentar nak Ryu, bunda panggil Iwan dulu untuk
Ryu tersenyum ramah
mencoba menenangkan bunda yang tampak tergopoh.
“Ada yang serius ?” tanya Hans tiba-tiba
“Tidak, jangan khawatir ... jaga dia baik-baik !”
Hans hanya mengangguk , saat ini ia masih tak habis pikir,
siapa dalang pembakaran kosan, dan apa yang diinginkan.
Polisi masih berlalu lalang di sekitar rumah sakit, orang-orang
yang datang menjenguk juga dibatasi, karena Senja merupakan saksi dari kejadian
kebakaran itu. Sosok Jose yang menghilang tanpa jejak juga menjadi salah satu
penyebab, keamanan Senja masih diperketat.
Iwan dan Ryu berjalan keluar, sedangkan dua perawat yang
tadi bersamanya, sedang mengganti botol infus, karena cairannya sudah habis.
Iwan berinsiatif untuk menggantikan bunda mendengarkan
penjelasan Ryuji, ia tak ingin beban pikiran ibunya itu bertambah, karena di
Solo, ayah mereka juga sedang sakit. Iwan duduk dengan gusar, entah kenapa perasaannya tak enak ketika
melihat Ryuji datang membawa laporan kesehatan Senja.
Ryuji mulai dengan bahasa-bahasa medis yang berbelit,
membuat Iwan sedikit bingung.
“Ryu...bisa kau langsung ke intinya saja ?” ucap Iwan yang
tak sabaran membuat Ryu menarik nafas panjang,
“Ya.... dari insiden kebakaran kemarin, Senja tak mengalami
luka fisik, mungkin hanya schock namun .....”
“Namun ... ?
__ADS_1
“Aku melakukan pemeriksaan laboratorium padanya, dan
hasilnya Senja mengidap Lupus ...”
“Lupus ?” Iwan terhenyak, seluruh tubuhnya melemas
“Penyakit apa itu,,, apa berbahaya, apa harus dioperasi ?”
“ Lupus itu penyakit yang menyerang sistem imunitas atau
kondisi dimana tubuh memproduksi antibodi dengan jumlah yang sangat besar, dalam
kondisi normal, antibodi berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan virus atau
bakteri namun pada penderita lupus,,,, antibodi ini yang menyerang tubuhnya, akibatnya
penderita mengalami peradangan,”
“apa ini bahaya ?” tanya Iwan penasaan
“Iya dan sampai saat
ini belum ditemukan obatnya,”
“Ya Allah ......” Iwan mengusap wajahnya dengan kedua
tanganya
“Tapi, kita bisa melakukan penanganan untuk mengendalikan
gejala dan meminimalkan kekambuhannya. Terapi dan obat pereda rasa sakit,
tenanglah semua akan baik-baik saja, “
Iwan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai,
kata-kata Ryuji masih terus terngiang ditelinganya, selama ini ia tak pernah
melihat adiknya itu sakit parah, namun seperti apa yang dikatakan Ryuji, Senja
itu gampang lelah, dan ketika menstruasi ia akan merasakan sakit luar biasa.
Iwan berhenti didepan ruang rawat, ia melihat adiknya itu
sedang tertawa seperti biasa, sambil di suapi bunda makan. Ia menarik nafas dan masuk kedalam dengan
wajah biasa, mata Senja tertuju padanya, seakan gadis itu tahu apa yang baru
saja didengarnya dari Ryuji.
“Gimana Wan ?” tanya bunda cemas, Iwan sempat melihat kearah
Senja yang seakan memberi kode padanya.
“Baik Bunda, beberapa hari lagi juga sudah bisa pulang”
“Tu kan bunda, adek bilang juga apa. Asik besok boleh pulang
!” Senja tersenyum, dan langsung disentil hidungnya oleh Hans yang duduk
disebelahnya.
“Iya,,, tapi besok itu harus ketemu polisi dulu !” ucap Hans
“Oke, siap-siap,”
Iwan menunggu kesempatan untuk bicara berdua dengan adiknya
itu, akhirnya dengan berbagai alasan ia berhasil membujuk Bunda untuk pulang ke
hotel ditemani Rehan untuk instirahat. Dan ketika Hans keluar untuk mengganti
pakaian, iwan tak melewatkan kesempatannya.
“Kenapa gak bilang kalau adek sakit ?”
“Hehe,,, ketahuan ya !”
“Jangan cengengesan, aku serius,,,, Ryuji bilang,
kemungkinan kamu sudah tahu kalau kamu terkena lupus,,, jadi selama ini adek sakit sendirian ? apakah
sakit sekali ?”
“tenang saja, adek sehat kok, sakitnya kadang-kadang,,, adek
juga sudah terapi sama dokter !”
Iwan menatap dalam wajah adiknya, ia tahu Senja
menyembunyikan itu karna tak ingin kami semua khawatir dengan keadaannya. Senja
tersenyum, lalu memeluk Iwan,,,, “Mas Iwan tenang saja, adek kuat kok,” //////
Bersambung...
__ADS_1
“Makasih yang sudah baca, ^-*)