
Senja Untuk Sang Direktur
Perasaan
“Eh Senja mana ?” tanya Vanya yang baru saja tiba, ditangannya ada bungkusan makanan yang baru saja ia beli di kantin rumah sakit. Vanya duduk di sebelah
Hans sambil mengeluarkan makanan yang dibawanya, tanpa aba-aba ia langsung
menyempalkan sepotong kue ke mulut pria tampan itu.
“Apaan sih Vanya,”
“Habisnya gue ngomong loe cuekin, gue tanya Senja mana, tadi ribut perutnya lapar, eh sekarang malah ngilang,”
“Sudah dibawa suaminya pulang,”
“Hah ? Emangnya mas Dime kemari ?”
“Kamu kenal ?”
“Nggak juga sih, tapi kami pernah beberapa kali bertemu,”
“Kenapa tak memberitahuku bahwa dia sudah menikah ?”
“La gue juga baru tau,,, tapi syukur deh dia ketemu pria
kayak mas Dime,”
“ ... ”
Hans diam tak bertanya lagi, sekilas terdengar pria itu
menghembus napas kasar, seperti biasanya tatapannya mulai kosong dan pikirannya
menerawang. Vanya yang menoleh sekilas seakan tau apa yang ada dipikiran Hans
saat ini.
“Maaf .... tapi aku berharap Senja bahagia kali ini. Aku menyaksikan bagaimana Ryuji
mengkhianatinya lalu kau juga pergi meninggalkannya walau itu diluar kehendakmu.
Hans ..... kau tidak melihat bagaimana kondisi saat itu, apalagi setelah bunda
wafat, ia seperti hancur berkeping-keping,”
“Iya ... aku minta maaf,”
“Jangan berkata padaku, katakan padanya .... kau juga
menyakitinya kemarin, berkata kasar dan kau juga mengusirnya Hans, sungguh aku
kesal padamu,”
“ .... “
Vanya meletakan kembali piringnya, tiba-tiba nafsu makannya
hilang, entah kenapa ia jadi kesal sendiri, walaupun ia tau kondisi psikis Hans
yang belum stabil, tapi perlakuan Hans kemarin membuatnya marah. ‘Andai kamu
tahu kondisi Senja saat ini, kamu pasti akan menyesal Hans,’ gumam Vanya dalam
hati.
.... ^-*.....
“Ini jam berapa ?” gumam Senja yang baru terbangun dari
tidurnya, matanya mengedar keseluruh ruang, rasanya ia tadi tertidur di rumah
sakit tapi sekarang terbangun di kamarnya.
__ADS_1
“Kak Dimi mau kemana malam-malam ? kok rapi begitu ?” ucap
Senja sambil mengusap wajahnya, pemandangan yang cukup aneh melihat Dime
malam-malam duduk di depan cermin.
“Kamu sudah bangun ?”
“Heem,” Senja lalu bangkit menuju kamar mandi dan ketika
kembali ia masih mendapati Dime sibuk di depan kaca. “Mau kemana sih, ketemu
Marisa ya,” ucap Senja sambil duduk di pangkuan Dime, ia lalu memandang wajah
Dime dengan tatapan curiga.
“Nggak,,, ngapain ketemu Marisa, ntar ada yang marah,”
“Emang siapa yang marah ?”
Dime mengangkat kedua bahunya sambil melingkarkan tangan
kirinya ke pinggang Senja, sedangkan tangan kanannya masih sibuk mengutak atik
rambutnya, Senja mencibirkan bibirnya sambil memperhatikan Dime, ‘lalu ngapain
malam-malam gini sisiran, aneh-aneh aja ini papa bear,’ gumam Senja dalam hati.
“Sayang, sepertinya aku perlu ke salon deh, “
“Potong rambut ?”
“Ya,,, sekalian diwarnain, ni ada ubannya,”
“Ih genit ... papa Bearkan udah tua, ya wajar ada ubannya,”
“Ha ? Kamu panggil apa sayang... lalu siapa yang udah tua ? ”
“Hahaha,, kak Dimilah emang siapa lagi .. kak Dimi kan mirip papa beruang tu lihat tangannya gede gitu,”
“Haha, auw...kak Dimi jangan gigit disitu,,,, geli tahu....”
“...”
Senja Pov
Aku tak pernah membayangkan bahwa lelaki ini yang akan memelukku setiap malam, entah sejak kapan kami menjadi akrab, mungkin sejak ia menyatakan perasaannya atau
mungkin sebelum itu, aku tak pernah ingat dan memang tak terlalu perlu untuk
mengingatnya.
Dimitri Alexander, lelaki dingin yang bermulut pedas yang dulu memandangku sebelah mata, mungkin karena ia terpaksa menikahiku atau sebaliknya namun yang pasti jodoh mengikat kami.
Aku ingat kalimat pedasnya kala malam pertama di hari pernikahan kami, dia bilang akan melepaskanku kalau aku
memintanya, walau ia tak berujar langsung di depan mukaku, tapi aku mendengarnya dan itu membuatku sakit hati.
Tapi sekarang, entahlah bagaimana jika aku mengungkap kalimat itu didepannya, apa ia akan melepasku. Heem... Senja yang sekarang bukan Senja yang dulu, walau setengah hatiku masih milik pria “itu” namun
duniaku kini milik lelaki “ini”. Aku ini perempuan serakah, yang mau keduanya
sejalan namun tak mungkin begitu.
“Kamu kenapa sayang,,, “ucap kak Dimi sambil memeluk erat
tubuhku, lihat lelaki ini sekarang, tingkahnya seperti anak kecil tak sesuai
dengan tubuhnya yang seperti papa Bear itu, hahaha, aku geli sendiri jadinya.
“Kak Dimi, aku lapar,” rengekku, aku suka sekali bermanja
padanya, karena serasa berada di dekat mas Iwan, dia selalu mengabulkan apa
__ADS_1
yang kuminta, oh iya, bagaimana kabar ketiga saudara ku itu ya, mentang-mentang
sudah punya isteri jadi lupa sama adeknya.
“Ya udah ayo makan,,, mau aku gendong ?”
“Nggak “
“Ha ?”
“Maksudnya nggak mau makan nasi, pengennya makan bakso pedes,”
“Jam segini, mamang baksonya udah pada tidur Senja, besok aja ya,”
“Maunya sekarang,”
Haha walaupun ia menghembus nafas kasar tapi tetap saja ia pergi, aku sebenarnya kasian karena ini jam dua pagi, tapi udah pengen mau gimana lagi, membayangkannya saja air liurku mau menetes, hemm.
Dan begitu dengan malam-malam selanjutnya, dan kak Dimi
sudah siap dengan peralatan tempur tengah malamnya jika aku tiba-tiba merengek,
hahaha.
Keesokan Harinya ....
Hari ini aku pergi ke rumah sakit, setelah beberapa hari aku absen karena ulang tahun Radinka, katanya Hans mau menjalani tes awal untuk kecocokan dengan donor korneanya, alhamdulillah ... akhirnya, memang butuh proses yang panjang namun jika kita bisa sabar hasilnya juga akan baik.
Aku tersenyum padanya yang sedang berjalan tertatih, kakinya sudah membaik dan kini hanya memerlukan tongkat saja, lihat tampang angkuhnya,
ia berjalan begitu saja melewatiku dasar .... aku tahu dia melihatku.
“Adek sudah datang, ayo jalan,” ucap Ryuji, mantan terbaikku
hahaha,,, lelaki ini selalu ramah, selain mantan dia juga dokterku dan saudara
Vanya, sepupunya Hans, hubungan yang terus berputar diantara kami.
“Kondisinya bagaimana ?”
“Bagus, kakinya sudah kuat untuk berjalan normal. Oh ya
Senja, bagaimana kondisimu ?”
“Sehat kok, cuma sering pusing dan sedikit mual aja,”
“Oh ya,,, setelah ini mau kuperiksa,”
“Nggak ah,,, Adekkan gak sakit kak Ryu,,,,”
“Iya,,, tapikan buat jaga-jaga,”
Ia mengusap kepalaku, kebiasaan yang dari dulu tak pernah
berubah bahkan senyumannya kini semakin manis,,, haha.
...... ^-* .....
Sementara ditempat lain, sepasang mata sedang mengawasi Hans
dari jauh, mulai dari keluar ruangan dan kini masuk ke ruang pemeriksaaan.
Seorang lelaki bertubuh besar, berkacamata hitam sedang sibuk menelpone
seseorang.
“Hans sudah masuk ruang pemeriksaan boss,”
“Baguslah,,, pastikan semuanya baik-baik saja, “
“Okey,”
Lelaki itu menutup telponnya, sambil terus mengawasi sedangkan orang yang ditelponnya kini sedang tersenyum puas, ia berada di rumah
__ADS_1
keluarga calon donor kornea untuk Hans. “Tunggu kejutan dariku Hans,”
(Bersambung)