Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 51


__ADS_3

Senja Untuk Sang Direktur


Perasaan


“Eh Senja mana ?” tanya Vanya yang baru saja tiba, ditangannya ada bungkusan makanan yang baru saja ia  beli di kantin rumah sakit. Vanya duduk di sebelah


Hans sambil mengeluarkan makanan yang dibawanya, tanpa aba-aba ia langsung


menyempalkan sepotong kue ke mulut pria tampan itu.


“Apaan sih Vanya,”


“Habisnya gue ngomong loe cuekin, gue tanya Senja mana, tadi ribut perutnya lapar, eh sekarang malah ngilang,”


“Sudah dibawa suaminya pulang,”


“Hah ? Emangnya mas Dime kemari ?”


“Kamu kenal ?”


“Nggak juga sih, tapi kami pernah beberapa kali bertemu,”


“Kenapa tak memberitahuku bahwa dia sudah menikah ?”


“La gue juga baru tau,,, tapi syukur deh dia ketemu pria


kayak mas Dime,”


“ ... ”


Hans diam tak bertanya lagi, sekilas terdengar pria itu


menghembus napas kasar, seperti biasanya tatapannya mulai kosong dan pikirannya


menerawang. Vanya yang menoleh sekilas seakan tau apa yang ada dipikiran Hans


saat ini.


“Maaf ....  tapi aku berharap Senja bahagia kali ini. Aku menyaksikan bagaimana Ryuji


mengkhianatinya lalu kau juga pergi meninggalkannya walau itu diluar kehendakmu.


Hans ..... kau tidak melihat bagaimana kondisi saat itu, apalagi setelah bunda


wafat, ia seperti hancur berkeping-keping,”


“Iya ... aku minta maaf,”


“Jangan berkata padaku, katakan padanya .... kau juga


menyakitinya kemarin, berkata kasar dan kau juga mengusirnya Hans, sungguh aku


kesal padamu,”


“ .... “


Vanya meletakan kembali piringnya, tiba-tiba nafsu makannya


hilang, entah kenapa ia jadi kesal sendiri, walaupun ia tau kondisi psikis Hans


yang belum stabil, tapi perlakuan Hans kemarin membuatnya marah. ‘Andai kamu


tahu kondisi Senja saat ini, kamu pasti akan menyesal Hans,’ gumam Vanya dalam


hati.


 .... ^-*.....


“Ini jam berapa ?” gumam Senja yang baru terbangun dari


tidurnya, matanya mengedar keseluruh ruang, rasanya ia tadi tertidur di rumah


sakit tapi sekarang terbangun di kamarnya.

__ADS_1


“Kak Dimi mau kemana malam-malam ? kok rapi begitu ?” ucap


Senja sambil mengusap wajahnya, pemandangan yang cukup aneh melihat Dime


malam-malam duduk di depan cermin.


“Kamu sudah bangun ?”


“Heem,” Senja lalu bangkit menuju kamar mandi dan ketika


kembali ia masih mendapati Dime sibuk di depan kaca. “Mau kemana sih, ketemu


Marisa ya,” ucap Senja sambil duduk di pangkuan Dime, ia lalu memandang wajah


Dime dengan tatapan curiga.


“Nggak,,, ngapain ketemu Marisa, ntar ada yang marah,”


“Emang siapa yang marah ?”


Dime mengangkat kedua bahunya sambil melingkarkan tangan


kirinya ke pinggang Senja, sedangkan tangan kanannya masih sibuk mengutak atik


rambutnya, Senja mencibirkan bibirnya sambil memperhatikan Dime, ‘lalu ngapain


malam-malam gini sisiran, aneh-aneh aja ini papa bear,’ gumam Senja dalam hati.


“Sayang, sepertinya aku perlu ke salon deh, “


“Potong rambut ?”


“Ya,,, sekalian diwarnain, ni ada ubannya,”


“Ih genit ...  papa Bearkan udah tua, ya wajar ada ubannya,”


“Ha ? Kamu panggil apa sayang... lalu siapa yang udah tua ? ”


“Hahaha,, kak Dimilah emang siapa lagi .. kak Dimi kan mirip papa beruang tu lihat tangannya gede gitu,”


“Haha, auw...kak Dimi jangan gigit disitu,,,, geli tahu....”


“...”


Senja Pov


                Aku tak pernah membayangkan bahwa lelaki ini yang akan memelukku setiap malam, entah sejak kapan kami menjadi akrab, mungkin sejak ia menyatakan perasaannya atau


mungkin sebelum itu, aku tak pernah ingat dan memang tak terlalu perlu untuk


mengingatnya.


Dimitri Alexander, lelaki dingin yang bermulut pedas yang dulu memandangku sebelah mata, mungkin karena ia terpaksa menikahiku atau sebaliknya namun yang pasti jodoh mengikat kami.


Aku ingat kalimat pedasnya kala malam pertama di hari pernikahan kami,  dia  bilang akan melepaskanku kalau aku


memintanya, walau ia tak berujar langsung di depan mukaku, tapi aku mendengarnya dan itu membuatku sakit hati.


Tapi sekarang, entahlah bagaimana jika aku mengungkap kalimat itu didepannya, apa ia akan melepasku. Heem... Senja yang sekarang bukan Senja yang dulu, walau setengah hatiku masih milik pria “itu” namun


duniaku kini milik lelaki “ini”. Aku ini perempuan serakah, yang mau keduanya


sejalan namun tak mungkin begitu.


“Kamu kenapa sayang,,, “ucap kak Dimi sambil memeluk erat


tubuhku, lihat lelaki ini sekarang, tingkahnya seperti anak kecil tak sesuai


dengan tubuhnya yang seperti papa Bear itu, hahaha, aku geli sendiri jadinya.


“Kak Dimi, aku lapar,” rengekku, aku suka sekali bermanja


padanya, karena serasa berada di dekat mas Iwan, dia selalu mengabulkan apa

__ADS_1


yang kuminta, oh iya, bagaimana kabar ketiga saudara ku itu ya, mentang-mentang


sudah punya isteri jadi lupa sama adeknya.


“Ya udah ayo makan,,, mau aku gendong ?”


“Nggak “


“Ha ?”


“Maksudnya nggak mau makan nasi, pengennya makan bakso pedes,”


“Jam segini, mamang baksonya udah pada tidur Senja, besok aja ya,”


“Maunya sekarang,”


Haha walaupun ia menghembus nafas kasar tapi tetap saja ia pergi, aku sebenarnya kasian karena ini jam dua pagi, tapi udah pengen mau gimana lagi, membayangkannya saja air liurku mau menetes, hemm.


Dan begitu dengan malam-malam selanjutnya, dan kak Dimi


sudah siap dengan peralatan tempur tengah malamnya jika aku tiba-tiba merengek,


hahaha.


Keesokan Harinya ....


Hari ini aku pergi ke rumah sakit, setelah beberapa hari aku absen karena ulang tahun Radinka, katanya Hans mau menjalani tes awal untuk kecocokan dengan donor korneanya, alhamdulillah ... akhirnya, memang butuh proses yang panjang namun jika kita bisa sabar hasilnya juga akan baik.


Aku tersenyum padanya yang sedang berjalan tertatih, kakinya sudah membaik dan kini hanya memerlukan tongkat saja, lihat tampang angkuhnya,


ia berjalan begitu saja melewatiku dasar .... aku tahu dia melihatku.


“Adek sudah datang, ayo jalan,” ucap Ryuji, mantan terbaikku


hahaha,,, lelaki ini selalu ramah, selain mantan dia juga dokterku dan saudara


Vanya, sepupunya Hans, hubungan yang terus berputar diantara kami.


“Kondisinya bagaimana ?”


“Bagus, kakinya sudah kuat untuk berjalan normal. Oh ya


Senja, bagaimana kondisimu ?”


“Sehat kok, cuma sering pusing dan sedikit mual aja,”


“Oh ya,,, setelah ini mau kuperiksa,”


“Nggak ah,,, Adekkan gak sakit kak Ryu,,,,”


“Iya,,, tapikan buat jaga-jaga,”


Ia mengusap kepalaku, kebiasaan yang dari dulu tak pernah


berubah bahkan senyumannya kini semakin manis,,, haha.


...... ^-* .....


Sementara ditempat lain, sepasang mata sedang mengawasi Hans


dari jauh, mulai dari keluar ruangan dan kini masuk ke ruang pemeriksaaan.


Seorang lelaki bertubuh besar, berkacamata hitam sedang sibuk menelpone


seseorang.


“Hans sudah masuk ruang pemeriksaan boss,”


“Baguslah,,, pastikan semuanya baik-baik saja, “


“Okey,”


Lelaki itu menutup telponnya, sambil terus mengawasi sedangkan orang yang ditelponnya kini sedang tersenyum puas, ia berada di rumah

__ADS_1


keluarga calon donor kornea untuk Hans. “Tunggu kejutan dariku Hans,”


(Bersambung)


__ADS_2