
SENJA untuk Sang Direktur
Kampus in Love (2)
Senja memandang satu persatu wajah mahasiswi yang di ikatnya di pohon, ia masih merasa kesal
karena di bilang Pe’a oleh mereka berlima, ditambah lagi sikap sombong yang
ditunjukan oleh Tharis.
Setelah mereka melihat Kartu mahasiswa milik Senja, kini giliran gadis itu yang mengumpulkan KTM kelima mahasiswi itu, dan tanpa ragu Senja membacanya dengan keras hingga menarik perhatian mahasiswa lain.
Tharis terus menggerutu tak terima diperlakukan seperti itu, beberapa kali ia mengeluarkan kalimat provokasi namun tak berhasil memancing emosi Senja, yang tampaknya masih betah mengerjai mereka.
“Maunya apa sih cewek gila ini,,, gue laporin ke dekan kelar
idup lo,” guman Tharis pelan, tentu saja ia tak berani kalau sampai kicauannya
itu terdengar Senja, bisa-bisa ia lebih malu dari sekarang.
Panas matahari yang makin lama makin menyengat membuat
kesabaran Tharis habis, gadis itu berteriak keras pada Senja, yang sedang asik
berteduh dibawah pohon sambil memainkan Hapenya.
“ada apa sih, ribut banget ?”
“Kami tau kamu senior, tapi gak perlu kayak gini juga kali,”
“Maksud lo ?”
“Lo ikat kami dipohon, gak berperikemanusiaan tau,”
“iya ya,, bukannya lo yang mulai duluan, bilang gue Pe’A...
gak tahu hormat sama senior... eh maaf-maaf ya nona cantik,,, gue cuma ngajarin
lo cara hormat pada senior ala angkatan gue !”
Tharis mendecih dan tampak sangat kesal, bahkan matanya
menatap tajam ke arah Senja yang masih tersenyum. Tak lama Rino lewat dan
memandang ke arah mereka, mahasiswa berambut panjang itu lalu berjalan ke arah
Senja.
“Maaf,,, harusnya gak perlu diikat kayak gini kan,,, itu menyalahi aturan, “
Tharis tersenyum senang, karena Rino termasuk Senior yang
paling senior dikampus ini, bahkan pria gondrong itu bergabung juga di BEM,,
jadi .... ‘mampus lo cewek gila’ guman
Tharis sambil tersenyum pada teman-temannya.
“Aturan yang mana yang bisa mencegah gue,” sahut Senja
dengan wajah menantang
Rino mendekatkan wajahnya lalu berkata lirih,,,”Kalau buat
Senja, semua aturan bisa dihapuskan, hahaha” mereka tertawa bersama, bahkan
Rino mengacak-ngacak rambut Senja yang semakin membuat Tharis dan
teman-temannya kesal.
__ADS_1
“Tumben Adek kesini mo ngapain ?”
“Mo cariin mantan....”
“I love you so.... hahaha”
“Dasar gombal.... gue mau ke kajur, katanya nama dosen
pembimbing dan penguji gue udah keluar, temenin yok !”
“Ok,,, tapi mereka dilepasin dulu kali,,, ntar jadi udang
bakar”
“Ups, hampir lupa,”
Senja tertawa lalu membuka salah satu ikatan dari mereka,
walau tampak kesal tapi tak satu pun diantara mereka yang berani protes, bahkan
tak ada yang bersuara, mungkin hanya bergumam dalam hati,,,betapa jengkel dan
malunya mereka saat ini.
Senja tak menghiraukan lagi kelima cewek tadi, ia melenggang santai di temani Rino ke
ruangan kepala jurusan. Sayangnya mereka harus menunggu karena di ruangan itu
sedang ada tamu.
“Ada siapa si mbak,, tamu penting ya, masih lama gak ?”
“ Kayaknya sudah mau selesai deh, tunggu aja !”
“emang siapa yang didalam ?”
minggu depan,,, kamu datang juga ya. Eh iya, bukannya kamu magang di JY ya Senja,, pasti kenal dong !”
Senja terdiam, tiba-tiba perasaannya jadi tak enak, ia
berdiri dari duduknya hendak beranjak dari sana, sayangnya pintu ruangan Kajur
sudah keburu terbuka dan...
“Senja... mau kemana kau ?” panggil pak Saragih, kepala
Jurusan yang sudah sangat akrab dengannya..
“Eh.... bapak.,,, kirain masih lama !”
“ Sini kau,,, ini ada Pak direktur dari JY,,, kudengar kau
magang di sana, pasti kenal dengan beliau kan?”
Senja tersenyum tak enak, seketika ia melihat pandangan
menusuk dari orang yang tak ingin ia temui saat ini.
“Pak Hans, ini Senja mahasiswa saya, dia juga magang di
perusaan anda, mungkin anda kenal... anak ini pintar, cantik lagi,” suara pak
Kajur tertawa menggema ke seluruh ruangan, membuat kami mau tak mau ikut tersenyum.
“Maaf, mungkin saya terlalu sibuk, jadi tidak sempat
mengenal karyawan magang !”
Deg, ‘apa dia bilang’ raut wajah Senja tiba-tiba berubah, ia
__ADS_1
mencoba mencerna lagi kalimat Hans barusan, ‘tidak kenal, dia bilang tidak kenal,’ tanpa disadari Senja menatap
wajah Hans yang terlihat dingin, mungkin cukup membuat hati Senja ikut membeku.
Seketika suasana menjadi awkward, Rino yang menanggapi
suasana itu cepat mengeluarkan joke andalannya, dan disambut tawa renyah dari
pak Saragih yang membuat suasana sedikit mencair.
“hei, kalian tak mau kenalan dengan beliau,, ia ini orang
hebat, masih muda dan ganteng pula,”
Rino lebih dulu menjabat tangan Hans, dan kemudian
menyenggol bahu Senja, agar gadis itu sadar dari kebekuannya.
Senja paham dengan kode yang diberikan Rino, ia mengulurkan tangannya, menjabat tangan pria
didepannya itu.
“Senja, nama saya SENJA,” ucap Senja dengan penekanan pada namanya.
“Hans,,, “ mata mereka sempat bertatapan sebelum Senja
menarik tangannya, gadis itu memilih langsung berbalik berjalan ke sisi lain,
agar Hans tak bisa melihat seperti apa wajahnya sekarang.
Setelah enam bulan tak bertemu, rasa sangat pahit bila tak
dianggap seperti itu, lalu selama ini apa, sebegitunya kah dia marah padaku,
pikiran Senja mulai kemana-mana bahkan ia tak mendengar omongan pak Saragih
yang menyuruhnya menunggu di ruangan.
“Ayo,,, gue traktir lo moccacino,” Rino menarik tangan Senja
yang masih berkutat dengan pikirannya sendiri.
“Gue gak mau moccacino,”
“ Lalu lo maunya apa ? Nangis ?”
“Gak,,, gue mau bunuh orang !”
“Ya,, udah sana, lo kejar tu cowok,, lalu....
Senja terdiam mendengar kalimat Rino yang terpotong, tak lama gadis itu
berbalik arah menyusul Hans yang sudah hampir sampai dikoridor kampus, nafasnya
terengah dan kini ia berdiri hanya sekitar setengah meter dari Hans yang
berhenti karena menerima telpon,
“lo bilang gak kenal
gue,,,, oke baiklah.... rasakan ini,”
Senja melepaskan sepatu ketsnya, dan sekuat tenaga ia
melepar sepatu itu dan ... Dug.... //// bersambung,,,
(Makasih ya yang sudah nyempetin baca,,,, jempol yang kosong
klik ya,,,, 6_*)
__ADS_1