
Senja Untuk Sang Direktur
Masalah Hati
Sejak pagi perasaan Dime sudah tak nyaman, bukti-bukti yang
dipegangnya nyatanya tak membuahkan nyaman dihatinya, malah ia semakin gusar
dengan perkataan Herman tentang perbuatan Lea. Awalnya ia masih bisa berpikir positif
namun setelah menerima telpon dari mom, wanita seperti Lea memang tak bisa
diremehkan.
“Aku langsung ke rumah sakit mom,” ucap Dime lalu memacu
kencang mobilnya ke rumah sakit. Dengan langkah tergesa Dime menuju unit gawat
darurat menghampiri mom yang sedang duduk di kursi tunggu sambil memeluk
Radinka.
“Ada apa mom,,, ya Allah nak, kamu kenapa ?” ucap Dime yang
langsung mengambil Radinka dari pelukannya mom, mata gadis kecil itu terlihat
sembab, kadang ia terisak sambil menyebut mommy kecilnya.
“Tadi Marisa datang ke rumah memaksa mengambil Radinka. Mom
dan dia sempat ribut lalu Senja menengahi, entah apa yang dilakukan Marisa yang
jelas, Senja mengalami pendarahan,” jelas mom
“Pendarahan ?”
“Iya,,, kata dokter kemungkinan ia mengalami pendarahan,”
Dime mengucap beberapa kali, pria itu terdiam dan terus
berpikir apa isterinya itu hamil, dan jika benar dengan kondisi Senja, bukankah
ini begitu riskan, ‘Astagfirullahaladzim’ ia berusaha menenangkan hatinya yang
gusar.
Tak lama, suster memanggil perwakilan keluarga untuk ke
ruang dokter, di sana jantung Dime sudah tak karuan, berita buruk atau bahagia
yang akan diterimanya kali ini. Karena dokternya bukan Ryuji, ia semakin tak
tenang.
“Selamat siang, anda suaminya,” tanya seorang dokter
berkacamata, wanita yang memakai pakaian putih itu tampak ramah pada Dime,
apalagi ketika ia melihat ketegangan diwajah pria itu.
“Iya dok,,, bagaimana keadaan isteri saya,”
“Seperti perkiraan sebelumnya isteri anda mengalami
pendarahan,”
“Hamil ?”
Dokter wanita itu hanya tersenyum entah kenapa senyum sang
dokter membuat Dime terintimidasi, wajahnya semakin dipenuhi tanda tanya
“Sebenarnya bukan hamil, karena siklus menstruasinya kacau
kemungkinan diakibatkan stress yang berlebihan menyebabkan pendarahan dan
__ADS_1
sepertinya isteri anda mengalami kekerasan karena hidungnya berdarah ketika
dibawa kemari. Ada baiknya persoalan keluarga ini diselesaikan dengan baik,”
ucap dokter dengan ramah, entah kenapa perasaan sedikit membaik setidaknya
bukan sesuai dengan perkiraannya.
“Oh ya,,, apa sebelumnya Ny. Senja memiliki riwayat penyakit
dalam ?” tanya dokter itu lagi disela
Dime mengambil napas. Dime terdiam sejenak, lalu menjawab pertanyaan itu dengan
pelan.
“Lupus “
“Seperti yang saya duga, ini berhubungan dengan sistem imun
isteri anda, ada baiknya setelah ini anda berkonsultasi dengan dokter
specialis,” saran dokter lalu menuliskan secarik resep dan memberikannya pada
Dime.
Dime mohon diri setelah selesai, dengan langkah gontai ia
menuju ke ruang sementara dimana Senja dirawat, ia sudah minta pada dokter itu
untuk menuliskan rujukannya.
“Senja sudah sadar mom, “ tanya Dime saat melihat mom keluar
dari sana, wanita tua itu tersenyum lelah, sambil memeluk cucunya.
“Sudah,,, mom pulang dulu ya Dime, kasian Radinka, jaga
Senja ya nak,”
Dime hanya mengangguk, mengecup sekilas kening anaknya yang
Senja menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, bibirnya
sontak tersenyum melihat siapa yang datang, Dime langsung memeluknya
“Maaf ...”
Senja hanya diam, sampai Dime melepas pelukan dan melihat
kearahnya.
“Ayo pulang, aku gak suka rumah sakit,” gumam Senja pelan,
matanya terus mengiba agar Dime membawanya pulang.
“Kita tunggu dokter Ryu dulu ya, aku menelponenya tadi, dia
bilang akan sampai satu jam lagi,”
“Kenapa harus bilang ke kak Ryu, dia itu bawel aku gak mau
nginap, beneran sudah gak apa-apa kok, ayolah kak Dimi,”
Dimi tersenyum mendengar renge’an itu, ia mengusap pipi
Senja yang masih tampak membengkak, ‘Dia memukulnya begitu keras, Marisa kau
berubah,’ gumam Dime dalam hati, bahkan sekarang ia merasa tak mengenal wanita
yang pernah mengisi kehidupannya dulu.
“Jangan hiraukan Marisa, aku tak mau kamu terluka lagi, biar
mom dan aku yang mengurusnya,”
__ADS_1
Senja mengangguk, sebenarnya ia ingin menjawab kalimat Dime
karena sejak awal bukan dirinya yang ingin ikut campur tapi ia urungkan,
hatinya sudah cukup lelah dengan ini.
..... ^-*.....
“Ada apa denganmu, sudah kubilang jangan lakukan hal yang
gegabah. Sekarang posisi wanita itu sudah diatas angin, mantan suamimu itu akan
semakin menyayanginya dan lihat dirimu, apa yang kau dapatkan !”
“Sudah cukup, aku datang kesini bukan untuk mendengar
ceramahmu Lea, kalau bukan karena kau teman Wilson aku tak akan mau bekerjasama
denganmu,”
“Huh... Kerjasama apa ? aku tak dapat keuntungan apapun
darimu, jangankan mendapatkan Dimitri dan anakmu kembali, melihat kearahmu saja
lelaki itu sudah tak mau,,, kau lihat Senja, dia itu cantik, muda dan dengan segudang
keahliannya menggoda pria,” ucap Lea sambil duduk menyilangkan kakinya, ia
menatap lurus ke arah Marisa yang sedang meneguk segelas wine.
“Direktur JY itu maksudmu ?”
“Ya, mantan tunanganku tersayang, hahaha,” tawa Lea
menggema, entah perasaan menggebu apa yang dirasakannya sekarang, kepuasan
batin ketika akan melihat Hans dan Senja hancur secara perlahan.
“Kenapa tak langsung kau habisi saja wanita benalu itu,,, akan
lebih cepat dan efisien lalu aku bisa mendapatkan Dime dan anakku kembali,”
“Hahaha,,,, bicara apa kau Marisa,,, Dimitri itu lelaki
cedas, kau sudah mencampakkannya dan kabur dengan pengusaha itu, mana mungkin
ia mau kembali padamu,,, omong kosong,” jawab Lea sambil mendecih melihat
wanita dihadapannya itu sudah setengah mabuk.
“Hei,,, Dime itu masih mencintaiku,,, aku yakin sekali,”
“Apa katamu, Cinta ? Bullshits,”
Lea akhirnya masuk ke kamar meninggalkan Marisa
yang masih asik
dengan minumannya. Marisa terdiam sejenak dalam keheningan diteguknya lagi wine
itu dan menuangkan kembali yang masih bersisa di botol.
“Apakah mas Dime tak mencintaiku lagi,,, dulu dia bilang aku
satu-satunya wanita dihatinya, kenapa dia berubah begitu cepat,” gumam Marisa,
tiba-tiba wanita itu tertawa lalu airmatanya mulai membasahi pelupuk matanya.
“Dime itu terlalu menuruti wanita tua itu, aku juga terpaksa
meninggalkannya karena ia tak mampu menghidupi dengan layak, sekarang setelah
sukses, wanita sialan itu ingin menguasainya, aku tak kan membiarkan itu,”
batin Marisa bergejolak, ingin rasanya ia berteriak saat ini,”Kalau Lea tak mau
__ADS_1
menghabisimu,,, aku juga bisa Senja,,, tunggulah saat kematianmu,” ....
(bersambung)