Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 53


__ADS_3

Senja Untuk Sang Direktur


Masalah Hati


Sejak pagi perasaan Dime sudah tak nyaman, bukti-bukti yang


dipegangnya nyatanya tak membuahkan nyaman dihatinya, malah ia semakin gusar


dengan perkataan Herman tentang perbuatan Lea. Awalnya ia masih bisa berpikir positif


namun setelah menerima telpon dari mom, wanita seperti Lea memang tak bisa


diremehkan.


“Aku langsung ke rumah sakit mom,” ucap Dime lalu memacu


kencang mobilnya ke rumah sakit. Dengan langkah tergesa Dime menuju unit gawat


darurat menghampiri mom yang sedang duduk di kursi tunggu sambil memeluk


Radinka.


“Ada apa mom,,, ya Allah nak, kamu kenapa ?” ucap Dime yang


langsung mengambil Radinka dari pelukannya mom, mata gadis kecil itu terlihat


sembab, kadang ia terisak sambil menyebut mommy kecilnya.


“Tadi Marisa datang ke rumah memaksa mengambil Radinka. Mom


dan dia sempat ribut lalu Senja menengahi, entah apa yang dilakukan Marisa yang


jelas, Senja mengalami pendarahan,” jelas mom


“Pendarahan ?”


“Iya,,, kata dokter kemungkinan ia mengalami pendarahan,”


Dime mengucap beberapa kali, pria itu terdiam dan terus


berpikir apa isterinya itu hamil, dan jika benar dengan kondisi Senja, bukankah


ini begitu riskan, ‘Astagfirullahaladzim’ ia berusaha menenangkan hatinya yang


gusar.


Tak lama, suster memanggil perwakilan keluarga untuk ke


ruang dokter, di sana jantung Dime sudah tak karuan, berita buruk atau bahagia


yang akan diterimanya kali ini. Karena dokternya bukan Ryuji, ia semakin tak


tenang.


“Selamat siang, anda suaminya,” tanya seorang dokter


berkacamata, wanita yang memakai pakaian putih itu tampak ramah pada Dime,


apalagi ketika ia melihat ketegangan diwajah pria itu.


“Iya dok,,, bagaimana keadaan isteri saya,”


“Seperti perkiraan sebelumnya isteri anda mengalami


pendarahan,”


“Hamil ?”


Dokter wanita itu hanya tersenyum entah kenapa senyum sang


dokter membuat Dime terintimidasi, wajahnya semakin dipenuhi tanda tanya


“Sebenarnya bukan hamil, karena siklus menstruasinya kacau


kemungkinan diakibatkan stress yang berlebihan menyebabkan pendarahan dan

__ADS_1


sepertinya isteri anda mengalami kekerasan karena hidungnya berdarah ketika


dibawa kemari. Ada baiknya persoalan keluarga ini diselesaikan dengan baik,”


ucap dokter dengan ramah, entah kenapa perasaan sedikit membaik setidaknya


bukan sesuai dengan perkiraannya.


“Oh ya,,, apa sebelumnya Ny. Senja memiliki riwayat penyakit


dalam ?”  tanya dokter itu lagi disela


Dime mengambil napas. Dime terdiam sejenak, lalu menjawab pertanyaan itu dengan


pelan.


“Lupus “


“Seperti yang saya duga, ini berhubungan dengan sistem imun


isteri anda, ada baiknya setelah ini anda berkonsultasi dengan dokter


specialis,” saran dokter lalu menuliskan secarik resep dan memberikannya pada


Dime.


Dime mohon diri setelah selesai, dengan langkah gontai ia


menuju ke ruang sementara dimana Senja dirawat, ia sudah minta pada dokter itu


untuk menuliskan rujukannya.


“Senja sudah sadar mom, “ tanya Dime saat melihat mom keluar


dari sana, wanita tua itu tersenyum lelah, sambil memeluk cucunya.


“Sudah,,, mom pulang dulu ya Dime, kasian Radinka, jaga


Senja ya nak,”


Dime hanya mengangguk, mengecup sekilas kening anaknya yang


Senja menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, bibirnya


sontak tersenyum melihat siapa yang datang, Dime langsung memeluknya


“Maaf ...”


Senja hanya diam, sampai Dime melepas pelukan dan melihat


kearahnya.


“Ayo pulang, aku gak suka rumah sakit,” gumam Senja pelan,


matanya terus mengiba agar Dime membawanya pulang.


“Kita tunggu dokter Ryu dulu ya, aku menelponenya tadi, dia


bilang akan sampai satu jam lagi,”


“Kenapa harus bilang ke kak Ryu, dia itu bawel aku gak mau


nginap, beneran sudah gak apa-apa kok, ayolah kak Dimi,”


Dimi tersenyum mendengar renge’an itu, ia mengusap pipi


Senja yang masih tampak membengkak, ‘Dia memukulnya begitu keras, Marisa kau


berubah,’ gumam Dime dalam hati, bahkan sekarang ia merasa tak mengenal wanita


yang pernah mengisi kehidupannya dulu.


“Jangan hiraukan Marisa, aku tak mau kamu terluka lagi, biar


mom dan aku yang mengurusnya,”

__ADS_1


Senja mengangguk, sebenarnya ia ingin menjawab kalimat Dime


karena sejak awal bukan dirinya yang ingin ikut campur tapi ia urungkan,


hatinya sudah cukup lelah dengan ini.


 ..... ^-*.....


“Ada apa denganmu, sudah kubilang jangan lakukan hal yang


gegabah. Sekarang posisi wanita itu sudah diatas angin, mantan suamimu itu akan


semakin menyayanginya dan lihat dirimu, apa yang kau dapatkan !”


“Sudah cukup, aku datang kesini bukan untuk mendengar


ceramahmu Lea, kalau bukan karena kau teman Wilson aku tak akan mau bekerjasama


denganmu,”


“Huh... Kerjasama apa ? aku tak dapat keuntungan apapun


darimu, jangankan mendapatkan Dimitri dan anakmu kembali, melihat kearahmu saja


lelaki itu sudah tak mau,,, kau lihat Senja, dia itu cantik, muda dan dengan segudang


keahliannya menggoda pria,” ucap Lea sambil duduk menyilangkan kakinya, ia


menatap lurus ke arah Marisa yang sedang meneguk segelas wine.


“Direktur JY itu maksudmu ?”


“Ya, mantan tunanganku tersayang, hahaha,” tawa Lea


menggema, entah perasaan menggebu apa yang dirasakannya sekarang, kepuasan


batin ketika akan melihat Hans dan Senja hancur secara perlahan.


“Kenapa tak langsung kau habisi saja wanita benalu itu,,, akan


lebih cepat dan efisien lalu aku bisa mendapatkan Dime dan anakku kembali,”


“Hahaha,,,, bicara apa kau Marisa,,, Dimitri itu lelaki


cedas, kau sudah mencampakkannya dan kabur dengan pengusaha itu, mana mungkin


ia mau kembali padamu,,, omong kosong,” jawab Lea sambil mendecih melihat


wanita dihadapannya itu sudah setengah mabuk.


“Hei,,, Dime itu masih mencintaiku,,, aku yakin sekali,”


“Apa katamu, Cinta ? Bullshits,”


Lea akhirnya masuk ke kamar meninggalkan Marisa


yang masih asik


dengan minumannya. Marisa terdiam sejenak dalam keheningan diteguknya lagi wine


itu dan menuangkan kembali yang masih bersisa di botol.


“Apakah mas Dime tak mencintaiku lagi,,, dulu dia bilang aku


satu-satunya wanita dihatinya, kenapa dia berubah begitu cepat,” gumam Marisa,


tiba-tiba wanita itu tertawa lalu airmatanya mulai membasahi pelupuk matanya.


“Dime itu terlalu menuruti wanita tua itu, aku juga terpaksa


meninggalkannya karena ia tak mampu menghidupi dengan layak, sekarang setelah


sukses, wanita sialan itu ingin menguasainya, aku tak kan membiarkan itu,”


batin Marisa bergejolak, ingin rasanya ia berteriak saat ini,”Kalau Lea tak mau

__ADS_1


menghabisimu,,, aku juga bisa Senja,,, tunggulah saat kematianmu,” ....


(bersambung)


__ADS_2