Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 39


__ADS_3

Senja Untuk Sang Direktur


Isteri Kedua Yang Cantik


“Awww”, dengan panik Senja mencoba bangkit, namun kembali


terpeleset karena lantainya licin


“Aduh,,,” erang Dime ketika Senja kembali menimpa


tubuhnya.... “Kamu tenang dulu, dasar keras kepala,” ucap Dime


“Bagaimana mau tenang,,, dasar orang mesum gila,”


“Kamu yang gila,” Dime mencoba bangkit sambil memeluk tubuh


Senja, tentu saja gadis itu berontak, untungnya tenaga Dime jauh kuat berkali


lipat, setelah bersusah payah akhirnya ia mampu bangkit dan berdiri.


Senja langsung mendorong Dime dan mengambil handuk untuk


menutupi tubuhnya, begitu juga Dime, mereka basah kuyup namun masih saling


bertengkar dengan suara nyaring.


Mommy yang kebetulan akan ke kamar Senja mendengar kegaduhan


itu langsung bergegas dan membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci,,,


perempuan tua itu terkejut melihat anak dan menantunya hanya memakai handuk


namun dengan tatapan saling membunuh.


“Kalian sedang apa  ?“


ujar mom dengan semburat senyum dibibirnya, beliau tampak menahannya sambil mendengarkan  perdebatan sengit diantara keduanya.


“Ini orang mesum ada di kamar mandi,” teriak Senja sambil


menunjuk Dime yang berdiri di depannya.


“Siapa yang kamu bilang mesum ? kamu yang tiba-tiba masuk ke


kamar mandi “


“Ini kan kamar saya,,, tapi tiba-tiba kamu mandi di sana,


apa maksudnya coba, tengah malam pula, orang gila pun bisa tau apa maksudnya


laki-laki mandi di kamar perempuan ,,!”


Dime menarik nafas panjang, emosinya sudah terasa sampai


diubun-ubun,  entah berapa kali Senja


mengatakan dirinya mesum. “Kamu denger ya,,, ini ruang kerja saya, dari dulu


sampai sekarang begitu,  mana saya tau


kamu ada di sini,,,, dan lagi pula masa’ kamu gak lihat baju yang digantung di


depan kamar mandi,,, masa’ gak denger ada suara orang di kamar mandi...


jangan-jangan kamu sengaja ingin menggoda !”


Senja ternganga mendengar kalimat Dime, dengan emosi gadis


itu langsung memukul Dime dengan keras,,, bukan sekali namun berkali-kali


sambil terus mengoceh tak karuan,,, beberapa pukulan berhasil ditangkis Dime


namun tak sedikit pula yang mengenainya.


“Sudah... ini sudah malam, malu kedengaran tetangga, “ucap


mom menengahi


Mommy lalu menarik tangan Dime, berjalan keluar dari kamar


itu,,, “Mbok,,, bantu Senja, dia kedinginan nanti sakit,” ujar mommy sambil


berlalu.


Senja yang masih kesal,,, mendorong pintu dengan keras

__ADS_1


sehingga membuat mommy dan Dime terperanjat...


“Kamu ...”Pekik Dime dengan keras


“Sudahlah Dime,” mommy menarik tangan Dime lagi, ia takut anak


lelakinya itu murka, walaupun pendiam namun kalau sudah marah, Dime sangat


menakutkan.


“Dimana mommy ketemu perempuan bar-bar seperti itu,” tanya


Dime sambil mengenakan baju tidur sedangkan mommy  memberikan secangkir teh hangat untuknya.


“Sudahlah Dime,, nanti Radinka bangun,” ujar mommy mencoba


menenangkan Dime.


“Mommy yang salah, lupa memberitahumu bahwa Senja tinggal


dikamar itu,,, kamar kalian sedang direnovasi,” sambung mommy lagi sambil duduk


di pinggir tempat tidur dimana Radinka sedang pulas.


“Besok Mommy suruh dia pindah ke kamar belakang biar tak


mengganggumu,”


Dime diam tak membalas kata-kata mommynya itu, ia memijat


mijat kepalanya yang terasa penat.


Sementara itu di kamar Senja, si mbok sudah menyiapkan


segelas susu hangat, wanita tua itu membantu mengoleskan minyak pada kaki Senja


yang biru karena terpeleset tadi.


“Mbok tidur aja, aku udah gak apa kok,”


“Minum susunya dulu, badan non dingin sekali,,, mbok jadi


khawatir,”


 Mbok membantu Senja


mengambil gelas susunya, namun hanya diminum sedikit karena tiba-tiba ia merasa


mual. Setelah gadis itu pulas, barulah si mbok keluar dari kamar itu.


Sekitar pukul sembilan pagi, Dime duduk di ruang makan


sambil membaca koran,,, bi Asih menyiapkan sarapan dan secangkir kopi pahit untuknya,  karena hari ini ia cuti jadi ia hanya sarapan


sendiri karena mommy ada jadwal check up di rumah sakit dan Radinka pergi ke


sekolah.


Dime meletakan koran yang belum selesai dibacanya ke atas


meja, tangannya mulai meraih sendok ingin menikmati nasi goreng buatan


mommynya, seperti biasa masakan mom selalu jadi kegemarannya, tidak terlalu


asin tapi cukup pedas.


Bi Asih mengisi air putih digelas lalu beranjak ke sisi lain


untuk mengangkat sepiring nasi dan segelas smooties orange yang belum


tersentuh,


“Sarapan siapa bi?” tanya Dime masih dengan mulut mengunyah


makanannya


“Punya nak Senja tuan,”


“Dia gak sarapan ? kemana perempuan itu, keluyuran lagi ?”


“Dari tadi bibi belum liat tuan, biasanya sehabis sholat subuh dia sudah ngerecokin


dapur,” ujar bi Asih sambil tersenyum.


Tak lama terdengar suara bel, si mbok langsung beranjak

__ADS_1


membukakan pintu sedangkan bi Asih masih menemani Dime mengobrol.


“Siapa mbok,” tanya Dime ketika perempuan tua itu lewat


didepannya.


“Non Vanya tuan, temennya nak Senja,”


“Hemm” Dime hanya diam tak berkomentar lagi  dan meneruskan makannya.


Sudah tiga kali mbok mengetok pintu kamar Senja namun tak


ada jawaban dari dalam, mbok membuka pintu kamar yang memang tak terkunci, lalu


beranjak ke sisi tempat tidur.


Senja masih terbaring disana dengan selimut tebal menutupi


seluruh tubuhnya, wajahnya tampak memerah, mbok yang heran langsung menyentuh keningnya,,,


“Ya ampun panas sekali,,, Nak bangun,,, Nak Senja,”


“Ehg..” erang Senja, ia ingin manjawab namun seperti tak


mampu.


Si mbok lalu memegang tangan dan kaki Senja, dan panasnya


lebih dari yang di kepala, dengan gopoh si mbok berlari mencari bi Asih yang


rupanya masih di ruang makan.


“Sih....Asih... tolong telponkan dokter,”


“Siapa yang sakit mbok” jawab bi Asih menghampiri mbok yang


masih berjalan menuju ke arahnya.


“Nak Senja, badannya panas sekali,” kalut mbok


Dime menghentikan kunyahannya, berfikir sejenak lalu bangkit


dari duduknya ,


“Aku liat dulu mbok,” Dime berjalan cepat ke kamar


Senja  diikuti mbok yang setengah berlari


mengikuti langkah panjangnya.


Tanpa banyak berfikr Dime menyentuh kening dan leher Senja


yang panasnya seperti terbakar mungkin hampir 38 derajat celcius, dengan sigap


lelaki itu langsung menggotong tubuh gadis itu,


“Kita ke rumah sakit,” serunya sambil berjalan keluar


Vanya yang menunggu di teras depan mendengar suara kalut,


berjalan ke arah garasi, “ada apa mbok,” tanyanya melihat mbok yang gopoh


“Nak Senja sakit non Vanya,”


“Pakai mobil saya aja mas,,,,ada di depan,” ucap Vanya,


melihat Dime menggotong temannya, lalu mengarahkan Dime menuju mobilnya yang terparkir


di pinggir jalan depan rumah. Dime memasukan Senja di kursi belakang dan meminta


Vanya juga duduk disana sedangkan ia yang menyetir.


“Rumah sakit Darmais saja mas,,,”


“Bukannya itu agak jauh dari sini ya,”


“DI sana ada kakak saya,,, Senja biasa ke sana,”


Dime mengikuti perkataan Vanya mengarahkan mobilnya ke RS


Darmais, sedangkan Vanya menelpon Ryuji. Dime melirik kaca dan melihat Senja


yang masih terbaring pucat di pangkuan Vanya, ‘Padahal semalam galak sekali,,,


‘gumamnya dalam hati sambil mengulum senyum. ///// bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2