
Senja Untuk Sang Direktur
Isteri Kedua Yang Cantik
“Awww”, dengan panik Senja mencoba bangkit, namun kembali
terpeleset karena lantainya licin
“Aduh,,,” erang Dime ketika Senja kembali menimpa
tubuhnya.... “Kamu tenang dulu, dasar keras kepala,” ucap Dime
“Bagaimana mau tenang,,, dasar orang mesum gila,”
“Kamu yang gila,” Dime mencoba bangkit sambil memeluk tubuh
Senja, tentu saja gadis itu berontak, untungnya tenaga Dime jauh kuat berkali
lipat, setelah bersusah payah akhirnya ia mampu bangkit dan berdiri.
Senja langsung mendorong Dime dan mengambil handuk untuk
menutupi tubuhnya, begitu juga Dime, mereka basah kuyup namun masih saling
bertengkar dengan suara nyaring.
Mommy yang kebetulan akan ke kamar Senja mendengar kegaduhan
itu langsung bergegas dan membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci,,,
perempuan tua itu terkejut melihat anak dan menantunya hanya memakai handuk
namun dengan tatapan saling membunuh.
“Kalian sedang apa ?“
ujar mom dengan semburat senyum dibibirnya, beliau tampak menahannya sambil mendengarkan perdebatan sengit diantara keduanya.
“Ini orang mesum ada di kamar mandi,” teriak Senja sambil
menunjuk Dime yang berdiri di depannya.
“Siapa yang kamu bilang mesum ? kamu yang tiba-tiba masuk ke
kamar mandi “
“Ini kan kamar saya,,, tapi tiba-tiba kamu mandi di sana,
apa maksudnya coba, tengah malam pula, orang gila pun bisa tau apa maksudnya
laki-laki mandi di kamar perempuan ,,!”
Dime menarik nafas panjang, emosinya sudah terasa sampai
diubun-ubun, entah berapa kali Senja
mengatakan dirinya mesum. “Kamu denger ya,,, ini ruang kerja saya, dari dulu
sampai sekarang begitu, mana saya tau
kamu ada di sini,,,, dan lagi pula masa’ kamu gak lihat baju yang digantung di
depan kamar mandi,,, masa’ gak denger ada suara orang di kamar mandi...
jangan-jangan kamu sengaja ingin menggoda !”
Senja ternganga mendengar kalimat Dime, dengan emosi gadis
itu langsung memukul Dime dengan keras,,, bukan sekali namun berkali-kali
sambil terus mengoceh tak karuan,,, beberapa pukulan berhasil ditangkis Dime
namun tak sedikit pula yang mengenainya.
“Sudah... ini sudah malam, malu kedengaran tetangga, “ucap
mom menengahi
Mommy lalu menarik tangan Dime, berjalan keluar dari kamar
itu,,, “Mbok,,, bantu Senja, dia kedinginan nanti sakit,” ujar mommy sambil
berlalu.
Senja yang masih kesal,,, mendorong pintu dengan keras
__ADS_1
sehingga membuat mommy dan Dime terperanjat...
“Kamu ...”Pekik Dime dengan keras
“Sudahlah Dime,” mommy menarik tangan Dime lagi, ia takut anak
lelakinya itu murka, walaupun pendiam namun kalau sudah marah, Dime sangat
menakutkan.
“Dimana mommy ketemu perempuan bar-bar seperti itu,” tanya
Dime sambil mengenakan baju tidur sedangkan mommy memberikan secangkir teh hangat untuknya.
“Sudahlah Dime,, nanti Radinka bangun,” ujar mommy mencoba
menenangkan Dime.
“Mommy yang salah, lupa memberitahumu bahwa Senja tinggal
dikamar itu,,, kamar kalian sedang direnovasi,” sambung mommy lagi sambil duduk
di pinggir tempat tidur dimana Radinka sedang pulas.
“Besok Mommy suruh dia pindah ke kamar belakang biar tak
mengganggumu,”
Dime diam tak membalas kata-kata mommynya itu, ia memijat
mijat kepalanya yang terasa penat.
Sementara itu di kamar Senja, si mbok sudah menyiapkan
segelas susu hangat, wanita tua itu membantu mengoleskan minyak pada kaki Senja
yang biru karena terpeleset tadi.
“Mbok tidur aja, aku udah gak apa kok,”
“Minum susunya dulu, badan non dingin sekali,,, mbok jadi
khawatir,”
Mbok membantu Senja
mengambil gelas susunya, namun hanya diminum sedikit karena tiba-tiba ia merasa
mual. Setelah gadis itu pulas, barulah si mbok keluar dari kamar itu.
Sekitar pukul sembilan pagi, Dime duduk di ruang makan
sambil membaca koran,,, bi Asih menyiapkan sarapan dan secangkir kopi pahit untuknya, karena hari ini ia cuti jadi ia hanya sarapan
sendiri karena mommy ada jadwal check up di rumah sakit dan Radinka pergi ke
sekolah.
Dime meletakan koran yang belum selesai dibacanya ke atas
meja, tangannya mulai meraih sendok ingin menikmati nasi goreng buatan
mommynya, seperti biasa masakan mom selalu jadi kegemarannya, tidak terlalu
asin tapi cukup pedas.
Bi Asih mengisi air putih digelas lalu beranjak ke sisi lain
untuk mengangkat sepiring nasi dan segelas smooties orange yang belum
tersentuh,
“Sarapan siapa bi?” tanya Dime masih dengan mulut mengunyah
makanannya
“Punya nak Senja tuan,”
“Dia gak sarapan ? kemana perempuan itu, keluyuran lagi ?”
“Dari tadi bibi belum liat tuan, biasanya sehabis sholat subuh dia sudah ngerecokin
dapur,” ujar bi Asih sambil tersenyum.
Tak lama terdengar suara bel, si mbok langsung beranjak
__ADS_1
membukakan pintu sedangkan bi Asih masih menemani Dime mengobrol.
“Siapa mbok,” tanya Dime ketika perempuan tua itu lewat
didepannya.
“Non Vanya tuan, temennya nak Senja,”
“Hemm” Dime hanya diam tak berkomentar lagi dan meneruskan makannya.
Sudah tiga kali mbok mengetok pintu kamar Senja namun tak
ada jawaban dari dalam, mbok membuka pintu kamar yang memang tak terkunci, lalu
beranjak ke sisi tempat tidur.
Senja masih terbaring disana dengan selimut tebal menutupi
seluruh tubuhnya, wajahnya tampak memerah, mbok yang heran langsung menyentuh keningnya,,,
“Ya ampun panas sekali,,, Nak bangun,,, Nak Senja,”
“Ehg..” erang Senja, ia ingin manjawab namun seperti tak
mampu.
Si mbok lalu memegang tangan dan kaki Senja, dan panasnya
lebih dari yang di kepala, dengan gopoh si mbok berlari mencari bi Asih yang
rupanya masih di ruang makan.
“Sih....Asih... tolong telponkan dokter,”
“Siapa yang sakit mbok” jawab bi Asih menghampiri mbok yang
masih berjalan menuju ke arahnya.
“Nak Senja, badannya panas sekali,” kalut mbok
Dime menghentikan kunyahannya, berfikir sejenak lalu bangkit
dari duduknya ,
“Aku liat dulu mbok,” Dime berjalan cepat ke kamar
Senja diikuti mbok yang setengah berlari
mengikuti langkah panjangnya.
Tanpa banyak berfikr Dime menyentuh kening dan leher Senja
yang panasnya seperti terbakar mungkin hampir 38 derajat celcius, dengan sigap
lelaki itu langsung menggotong tubuh gadis itu,
“Kita ke rumah sakit,” serunya sambil berjalan keluar
Vanya yang menunggu di teras depan mendengar suara kalut,
berjalan ke arah garasi, “ada apa mbok,” tanyanya melihat mbok yang gopoh
“Nak Senja sakit non Vanya,”
“Pakai mobil saya aja mas,,,,ada di depan,” ucap Vanya,
melihat Dime menggotong temannya, lalu mengarahkan Dime menuju mobilnya yang terparkir
di pinggir jalan depan rumah. Dime memasukan Senja di kursi belakang dan meminta
Vanya juga duduk disana sedangkan ia yang menyetir.
“Rumah sakit Darmais saja mas,,,”
“Bukannya itu agak jauh dari sini ya,”
“DI sana ada kakak saya,,, Senja biasa ke sana,”
Dime mengikuti perkataan Vanya mengarahkan mobilnya ke RS
Darmais, sedangkan Vanya menelpon Ryuji. Dime melirik kaca dan melihat Senja
yang masih terbaring pucat di pangkuan Vanya, ‘Padahal semalam galak sekali,,,
‘gumamnya dalam hati sambil mengulum senyum. ///// bersambung ....
__ADS_1