
Senja Untuk Sang Direktur
Arti Dirinya
Untuk pertama kalinya Iwan menginjakan kakinya di rumah
Dime, matanya mengedar ke seluruh ruangan yang di dominasi warna putih itu. Mom
yang menyambutnya begitu heboh membuat Iwan sedikit canggung. Sekarang wanita
tua itu sedang sibuk menyiapkan jamuan setelah memanggil Senja.
“Ga usah repot-repot mom, mas Iwan makannya gak cerewet
kok,” gumam Senja sambil menguncir rambutnya ke belakang beberapa kali ia
bercermin, memastikan wajahnya agar tak kelihatan pucat.
“Inikan pertama kali Iwan datang kemari, setidaknya harus
istimewa sedikit,” gumam Mom bersemangat, melihat itu Senja langsung
sumbringah, ia mencium sekilas pipi mertuanya itu, lalu beranjak ke ruang tamu
menemui kakaknya.
Selangkah demi selangkah kakinya semakin dekat dengan kedua
pria yang sedang duduk santai di ruang depan, tanpa dikodepun keduanya langsung
memandang kearahnya, Dewa langsung menyambutnya dengan senyuman hangat
sedangkan Iwan hanya menatap tajam.
Senja tahu kenapa Iwan begitu, bukan berarti lelaki itu
membencinya, tapi lebih karena khawatir, apalagi sisa bengkak dipipinya itu
masih kelihatan. “Adek sehat kok gak sakit lagi,” ucap Senja yang sudah berdiri
di depan Iwan.
Pria itu tak berucap sepatah katapun hanya tangannya
langsung meraba pipi sang adik. Senja pun langsung menghambur ke pelukannya,
tangisnya pecah seakan ingin mengadukan apa yang terjadi padanya. Bagaimana
rasa sakit yang dia alami selama ini, yang tak pernah ia bisa ungkapkan pada
siapapun.
“Adek gak kenapa-napa kok,” gumamnya sambil sesegukan, dan
Iwan pun hanya mengangguk seakan mengerti pilu yang dirasakan adik
kesayangannya itu.
......^-*.......
Waktu sudah menunjukan pukul 21.00 wib, walaupun jam besuk
sudah habis namun Iwan mendapat izin khusus untuk membesuk Hans dengan bantuan
Ryuji. Setelah mendengar semuanya dari Senja, ia tak mungkin mengabaikan Hans
begitu saja, walaupun masih ada rasa sakit bila mengingat kejadian itu.
Iwan duduk di sofa dimana biasa tamu datang untuk bertemu
Hans, kali ini ia datang sendiri, karena Dewa tiba-tiba ada urusan. Pandanganya
fokus pada mata Hans yang sudah tak berfungsi dengan baik itu. Setelah membantu
Hans untuk duduk, Ryuji memilih keluar dari ruangan itu, tampaknya keduanya
butuh ruang untuk bicara.
“Maaf aku baru datang sekarang, aku baru tahu kalau kau
sudah muncul,” tukas Iwan tanpa basa basi,
“Aku yang harusnya minta maaf,”
“Sudah pasti, kau tahu apa yang sudah menimpa kami, walau
bukan kemauanmu, tapi ini juga karena andil darimu,”
__ADS_1
“Aku tahu,” Hans menunduk, sesaat ia menarik nafas panjang,
ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya pada lelaki di depannya itu.
“Aku tak akan berlama-lama di sini, karena aku gerah
melihatmu, hanya sekedar memberitahukan padamu aku sudah mendaftarkan diri
sebagai donormu,”
Hans sedikit terperanjat mendengar kata-kata itu, belum
sempat bicara, Iwan sudah menyelanya
lagi, “Aku melakukan ini bukan untukmu tapi untuk Senja jadi jangan coba
menolak ataupun berterimakasih, kuharap kau bisa menepati janjimu untuk
membahagiakan Senja setelah ini,”tutur Iwan tanpa memberi sela Hans untuk
bicara, setelah kalimatnya itu selesai pria itu langsung pergi
Ryuji yang heran melihat Iwan keluar dengan cepat langsung
masuk ke dalam, baru saja ia ingin bicara namun Hans lebih dulu menyelanya
“Apa benar dia mendaftarkan diri sebagi donorku,” tanya Hans
lebih dulu, sekilas Ryuji tampak sedikit bingung namun kemudian ia menjawabnya
dengan lugas
“Ya, sebelah matanya untukmu,”
“Bukankah aku sudah memiliki donor ?”
“Aku juga sudah bilang begitu padanya, tapi apa salahnya bila
ada cadangan katanya,”
“Dia bilang begitu ?”
“Ya,”
Hans kembali menghela nafas setelah mendengar jawaban
gumamnya lirih.
“Jangan banyak berprasangka, banyak orang baik di dunia ini
yang melakukan apapun tanpa mengharapkan imbalan,” ucap Ryu menanggapi
kegalauan Hans yang menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya.
“Senja... apa kabarnya sekarang, entah kenapa aku merasa ...
“Kau rindu padanya ?”
“Jangan sembarangan ...”
“Aku akan menelponnya besok, dia pasti akan datang kalau aku
bilang kau rindu padanya,” balas Ryu sambil terkekeh
“Kau ....” Hans mendengus kesal melihat wajah Ryu yang
cengegesan, tapi entah kenapa ada sesuatu yang tak bisa dipungkirinya bahwa ia
memang merindukan Senja.
.... ^-^......
“Bagaimana rencana kita selanjutnya, apa lancar ?” ucap Lea
sembari menandatangani beberapa berkas di kantornya
“Ya... besok saya akan menemui Senja,” ucap Widuri, seorang
wanita yang dipercaya Lea untuk aksinya kali ini. Widuri memang bukan karyawan
di kantornya, namun perempuan 36 tahun ini merupakan tangan kanan Lea yang
lebih berperan dibalik layar.
“Cerdas, aku tahu kau negosiator handal, buat dia tertekan
secara psikologis,”
__ADS_1
“Ya,,, untuk penderita Lupus sepertinya, tekanan psikologis
seperti ini akan membuatnya mati perlahan,”
“Hahaha,,,, kau memang lebih pintar dari Marisa, aku tunggu
kabar baik darimu,”
“Baik boss,”
Lea tertawa lepas, untuk kesekian kalinya ia merasa diambang
kemenangan, sakit hatinya yang terpendam selama ini akhirnya terbayar perlahan.
“Seorang wanita sepertimu Senja, bukanlah tandinganku,,,
lihat apa yang kau dapatkan setelah ini,, bahkan pria cacat seperti Hans pun
tak akan sudi menoleh ke arahmu,”
Lea memicingkan matanya,,,, ia membuka laci kerjanya yang
terdapat foto Hans di sana, ia jadi teringat kenangan bersama pria itu, walau
awalnya ia hanya ingin mempermainkan pria itu tapi nyatanya pengkhianatan Hans
padanya begitu menyakitkan.
“Apa benar aku menyukaimu, Hans ? “ ucap Lea sambil mengusap
foto Hans dengan jemarinya, tak lama ekpresinya jadi berubah, dengan senyuman
khasnya, ia meremas foto itu
“Seperti kau meremukan hatiku, begitu pula akan ku buat
wanita itu remuk di hadapanmu, hahaha”
..... ^-*......
Senja sudah bangun sebelum azan subuh berkumandang, ia sibuk
mengecek kembali barang bawaannya untuk liburan ke Solo, awalnya ia akan ikut
berangkat bersama Iwan kemarin, namun berhubung suaminya itu terus protes, jadi
ia menunggu Dime untuk berangkat siang ini.
“Baru jam segini, kenapa sudah bangun?” tanya Dime yang terkejut
mendengar suara berisik Senja yang sedang mengepack ulang pakaiannya.
“Kan lagi siap-siap, siapa tahu ada yang kelupaan,”
“Besok pagikan bisa,” protes Dime sambil memeluk Senja dari
belakang, sedangkan Senja masih sibuk mengatur ulang pakaiannya sembari bersila
di atas tempat tidur,”
“Rencananya besok pagi mau ke rumah sakit dulu,,,”
“Oh ...” ucap Dime lalu melepakan pelukannya dan kembali
berbaring di tempat tidur. Senja menoleh kearah Dime yang sudah menyelimuti
seluruh tubuhnya dengan selimut,
“Kak Dimi kenapa ?”tanya Senja sambil menarik selimut, tapi
ditahan dengan kuat oleh Dime.
‘Nih orang kenapa sih, ngambek ya ?’ seloroh Senja dalam
hati, ia lalu berbalik dan berbaring di sebelah Dime. Perlahan tangannya
melingkar di pinggang sang suami.
“Cemburu ya,,,” bisik Senja perlahan di telinga Dime membuat
lelaki itu sedikit bergidik. Dime diam tak menjawab ia hanya meresapi hembusan
nafas Senja di telinganya. Lama keduanya terdiam lalu Dime membuka sebagian selimut yang menutupi wajahnya. Ia
menoleh ke arah Senja yang sedari tadi memandang ke arahnya.
“Seberapa besar sebenarnya rasa cintamu untuk lelaki itu,
__ADS_1
tak bisakah hatimu hanya untukku Senja ?” ///// bersambung