Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 55


__ADS_3

Senja Untuk Sang Direktur


Arti Dirinya


Untuk pertama kalinya Iwan menginjakan kakinya di rumah


Dime, matanya mengedar ke seluruh ruangan yang di dominasi warna putih itu. Mom


yang menyambutnya begitu heboh membuat Iwan sedikit canggung. Sekarang wanita


tua itu sedang sibuk menyiapkan jamuan setelah memanggil Senja.


“Ga usah repot-repot mom, mas Iwan makannya gak cerewet


kok,” gumam Senja sambil menguncir rambutnya ke belakang beberapa kali ia


bercermin, memastikan wajahnya agar tak kelihatan pucat.


“Inikan pertama kali Iwan datang kemari, setidaknya harus


istimewa sedikit,” gumam Mom bersemangat, melihat itu Senja langsung


sumbringah, ia mencium sekilas pipi mertuanya itu, lalu beranjak ke ruang tamu


menemui kakaknya.


Selangkah demi selangkah kakinya semakin dekat dengan kedua


pria yang sedang duduk santai di ruang depan, tanpa dikodepun keduanya langsung


memandang kearahnya, Dewa langsung menyambutnya dengan senyuman hangat


sedangkan Iwan hanya menatap tajam.


Senja tahu kenapa Iwan begitu, bukan berarti lelaki itu


membencinya, tapi lebih karena khawatir, apalagi sisa bengkak dipipinya itu


masih kelihatan. “Adek sehat kok gak sakit lagi,” ucap Senja yang sudah berdiri


di depan Iwan.


Pria itu tak berucap sepatah katapun hanya tangannya


langsung meraba pipi sang adik. Senja pun langsung menghambur ke pelukannya,


tangisnya pecah seakan ingin mengadukan apa yang terjadi padanya. Bagaimana


rasa sakit yang dia alami selama ini, yang tak pernah ia bisa ungkapkan pada


siapapun.


“Adek gak kenapa-napa kok,” gumamnya sambil sesegukan, dan


Iwan pun hanya mengangguk seakan mengerti pilu yang dirasakan adik


kesayangannya itu.


......^-*.......


Waktu sudah menunjukan pukul 21.00 wib, walaupun jam besuk


sudah habis namun Iwan mendapat izin khusus untuk membesuk Hans dengan bantuan


Ryuji. Setelah mendengar semuanya dari Senja, ia tak mungkin mengabaikan Hans


begitu saja, walaupun masih ada rasa sakit bila mengingat kejadian itu.


Iwan duduk di sofa dimana biasa tamu datang untuk bertemu


Hans, kali ini ia datang sendiri, karena Dewa tiba-tiba ada urusan. Pandanganya


fokus pada mata Hans yang sudah tak berfungsi dengan baik itu. Setelah membantu


Hans untuk duduk, Ryuji memilih keluar dari ruangan itu, tampaknya keduanya


butuh ruang untuk bicara.


“Maaf aku baru datang sekarang, aku baru tahu kalau kau


sudah muncul,” tukas Iwan tanpa basa basi,


“Aku yang harusnya minta maaf,”


“Sudah pasti, kau tahu apa yang sudah menimpa kami, walau


bukan kemauanmu, tapi ini juga karena andil darimu,”

__ADS_1


“Aku tahu,” Hans menunduk, sesaat ia menarik nafas panjang,


ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya pada lelaki di depannya itu.


“Aku tak akan berlama-lama di sini, karena aku gerah


melihatmu, hanya sekedar memberitahukan padamu aku sudah mendaftarkan diri


sebagai donormu,”


Hans sedikit terperanjat mendengar kata-kata itu, belum


sempat  bicara, Iwan sudah menyelanya


lagi, “Aku melakukan ini bukan untukmu tapi untuk Senja jadi jangan coba


menolak ataupun berterimakasih, kuharap kau bisa menepati janjimu untuk


membahagiakan Senja setelah ini,”tutur Iwan tanpa memberi sela Hans untuk


bicara, setelah kalimatnya itu selesai pria itu langsung pergi


Ryuji yang heran melihat Iwan keluar dengan cepat langsung


masuk ke dalam, baru saja ia ingin bicara namun Hans lebih dulu menyelanya


“Apa benar dia mendaftarkan diri sebagi donorku,” tanya Hans


lebih dulu, sekilas Ryuji tampak sedikit bingung namun kemudian ia menjawabnya


dengan lugas


“Ya, sebelah matanya untukmu,”


“Bukankah aku sudah memiliki donor ?”


“Aku juga sudah bilang begitu padanya, tapi apa salahnya bila


ada cadangan katanya,”


“Dia bilang begitu ?”


“Ya,”


Hans kembali menghela nafas setelah mendengar jawaban


gumamnya lirih.


“Jangan banyak berprasangka, banyak orang baik di dunia ini


yang melakukan apapun tanpa mengharapkan imbalan,” ucap Ryu menanggapi


kegalauan Hans yang menghela nafas panjang untuk  kesekian kalinya.


“Senja... apa kabarnya sekarang, entah kenapa aku merasa ...


“Kau rindu padanya ?”


“Jangan sembarangan ...”


“Aku akan menelponnya besok, dia pasti akan datang kalau aku


bilang kau rindu padanya,” balas Ryu sambil terkekeh


“Kau ....” Hans mendengus kesal melihat wajah Ryu yang


cengegesan, tapi entah kenapa ada sesuatu yang tak bisa dipungkirinya bahwa ia


memang merindukan Senja.


.... ^-^......


“Bagaimana rencana kita selanjutnya, apa lancar ?” ucap Lea


sembari menandatangani beberapa berkas di kantornya


“Ya... besok saya akan menemui Senja,” ucap Widuri, seorang


wanita yang dipercaya Lea untuk aksinya kali ini. Widuri memang bukan karyawan


di kantornya, namun perempuan 36 tahun ini merupakan tangan kanan Lea yang


lebih berperan dibalik layar.


“Cerdas, aku tahu kau negosiator handal, buat dia tertekan


secara psikologis,”

__ADS_1


“Ya,,, untuk penderita Lupus sepertinya, tekanan psikologis


seperti ini akan membuatnya mati perlahan,”


“Hahaha,,,, kau memang lebih pintar dari Marisa, aku tunggu


kabar baik darimu,”


“Baik boss,”


Lea tertawa lepas, untuk kesekian kalinya ia merasa diambang


kemenangan, sakit hatinya yang terpendam selama ini akhirnya terbayar perlahan.


“Seorang wanita sepertimu Senja, bukanlah tandinganku,,,


lihat apa yang kau dapatkan setelah ini,, bahkan pria cacat seperti Hans pun


tak akan sudi menoleh ke arahmu,”


Lea memicingkan matanya,,,, ia membuka laci kerjanya yang


terdapat foto Hans di sana, ia jadi teringat kenangan bersama pria itu, walau


awalnya ia hanya ingin mempermainkan pria itu tapi nyatanya pengkhianatan Hans


padanya begitu menyakitkan.


“Apa benar aku menyukaimu, Hans ? “ ucap Lea sambil mengusap


foto Hans dengan jemarinya, tak lama ekpresinya jadi berubah, dengan senyuman


khasnya, ia meremas foto itu


“Seperti kau meremukan hatiku, begitu pula akan ku buat


wanita itu remuk di hadapanmu, hahaha”


..... ^-*......


Senja sudah bangun sebelum azan subuh berkumandang, ia sibuk


mengecek kembali barang bawaannya untuk liburan ke Solo, awalnya ia akan ikut


berangkat bersama Iwan kemarin, namun berhubung suaminya itu terus protes, jadi


ia menunggu Dime untuk berangkat siang ini.


“Baru jam segini, kenapa sudah bangun?” tanya Dime yang terkejut


mendengar suara berisik Senja yang sedang mengepack ulang pakaiannya.


“Kan lagi siap-siap, siapa tahu ada yang kelupaan,”


“Besok pagikan bisa,” protes Dime sambil memeluk Senja dari


belakang, sedangkan Senja masih sibuk mengatur ulang pakaiannya sembari bersila


di atas tempat tidur,”


“Rencananya besok pagi mau ke rumah sakit dulu,,,”


“Oh ...” ucap Dime lalu melepakan pelukannya dan kembali


berbaring di tempat tidur. Senja menoleh kearah Dime yang sudah menyelimuti


seluruh tubuhnya dengan selimut,


“Kak Dimi kenapa ?”tanya Senja sambil menarik selimut, tapi


ditahan dengan kuat oleh Dime.


‘Nih orang kenapa sih, ngambek ya ?’ seloroh Senja dalam


hati, ia lalu berbalik dan berbaring di sebelah Dime. Perlahan tangannya


melingkar di pinggang sang suami.


“Cemburu ya,,,” bisik Senja perlahan di telinga Dime membuat


lelaki itu sedikit bergidik. Dime diam tak menjawab ia hanya meresapi hembusan


nafas Senja di telinganya. Lama keduanya terdiam lalu Dime membuka  sebagian selimut yang menutupi wajahnya. Ia


menoleh ke arah Senja yang sedari tadi memandang ke arahnya.


“Seberapa besar sebenarnya rasa cintamu untuk lelaki itu,

__ADS_1


tak bisakah hatimu hanya untukku Senja ?” ///// bersambung


__ADS_2