Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Rindu


__ADS_3

Senja Untuk Sang Direktur


Chapter 54


Senja POV


Kenapa perasaanku jadi sedih begini, padahal sudah jelas


sekali dokter bilang bahwa pendarahannya bukan karena kehamilan, apa aku begitu


berharap. Senja ... wanita sepertimu ini apa bisa mempunyai bayi, kau itu tak


sempurna


“Senja,,, kamu kenapa sayang,,,kenapa tiba-tiba menangis,”


tanya kak Dimi padaku,,, kulihat wajahnya begitu lelah, apa ia juga kecewa


padaku, bagaimana jika ia juga mengharapkan hal yang sama.


“Nggak kenapa-napa kok,,, memang gak bisa pulang ya malam


ini ?”


“Iya,,, dr. Ryu bilang lebih baik di rumah sakit dulu, besok


pagi baru kita cek up di tempatnya ?”


“Lagi ?”


“Iya... sabar... nanti kalau udah sehat, kita pergi liburan


ya,,, kamu mau kemana, keluar negeri atau ke Bali,”


“Kalau pulang ke Solo boleh ?” tanyaku lagi dan ia langsung


mengangguk tanda setuju, membuatku menghambur ke pelukannya. Sudah lama sekali


aku tak pulang ke Solo terlebih sejak menikah,,, rindu dengan bunda dan ayah


yang lama tak kusapa pusaranya.


Rindu dengan ketiga saudaraku itu terlebih mas Iwan yang


sudah putus kontak denganku begitu lama, apa ia masih marah ?


“Kapan kita berangkat ?” tanyaku lagi, sebelum janji itu


hanya menjadi janji belaka


“Sembuh dulu,”


“Iya,,, ini juga udah sembuh kok,, gak sakit,” jawabku


sambil memperlihatkan tubuhku yang sudah bugar padanya.


“Heem,,, itu masih bengkak,,, kalau Iwan lihat,,, bisa


dibogem akunya,,, memangnya kamu gak kasihan sama Kak Dimi mu ini,” selorohnya


dengan meniru gaya bicaraku. Aku tersenyum sambil meraba pipi bekas tamparan


Marisa,,,ish masih sakit dan kuyakin ini bengkak, apalagi hidungku sampai


berdarah,, awas saja, dia kira aku gak bisa balas, besok-besok kalau ketemu aku


jambak rambutnya.


....^-*.....


Setelah tiga hari berkutat di rumah sakit akhirnya Dime bisa


menarik nafas lega karena Senja sudah bisa di rawat di rumah hari ini, bukan


perkara menemani Senja yang membuatnya capek, namun rengean minta pulangnya itu


yang membuat kepala Dime semakin mumet.


Setelah ia mengantar Senja dan memastikan isterinya itu


beristirahat, Dime kembali memutar stirnya ke rumah sakit, ada sesuatu


mengganjal yang harus diselesaikannya sekarang juga. Dime mengetuk kamar yang


tak asing baginya itu, tak lama Vanya tersenyum ketika melihat dirinya yang ada

__ADS_1


dibalik pintu.


“Eh mas Dime ? Sendirian ?”


“Iya,,, Hans sedang apa ?”


“Biasa... masuk mas,” ucap Vanya yang langsung menghampiri


Hans yang duduk menghadap jendela, dan berbisik bahwa ada Dime datang


membesuknya.


Hans bangkit dari duduknya, dari caranya bangun dan berjalan


Dime bisa memastikan bahwa kaki pria itu sudah jauh lebih baik dari pertemuan


terakhir mereka, namun ...


“Ada apa anda datang kemari,,, sepertinya isteri anda sudah


lama tak datang kemari,” ucap Hans yang sudah berdiri tak jauh darinya,


dibelakangnya Vanya memberi kode agar Dime tak bicara mengenai keadaan Senja,


karena Hans tak tahu itu.


Dime tampaknya mengerti dengan itu, ia berdehem sejenak,


lalu  mulai bicara tentang maksud


kedatangannya ke tempat ini. Kini dua lelaki itu sudah duduk berhadapan dan


Vanya memilih duduk di samping Hans, sekilas Dime sempat curiga kenapa Vanya


seakan tak bisa jauh dari Hans.


‘Apa penglihatan pria ini benar-benar buruk,’ pikir Dime


dalam hati, ia pun mulai menilik mata Hans yang seperti tatapan kosong.


“Aku mau bicara tentang Lea padamu,” ucap Dime memulai


pembicaraan mereka, mendengar nama itu disebut Hans sedikit terkejut, begitu


pula dengan Vanya yang langsung spontan mengumpat.


?” tanya Hans dingin


“Aku tak ingin punya hubungan dengan wanita itu hanya saja


ia mengusik Senja yang sama saja ia mengusikku,”


Dime memperhatikan wajah dingin pria di depannya itu tampak


sedikit gusar, mungkin karena Senja,,, ‘Entah aku harus marah atau kesal untuk


ini,’ gumam Dime dalam hati.


“Apa yang dilakukan Lea ?” tanya Hans


“Aku yang akan melindungi Senja jadi kau jangan khawatir dan


aku punya sesuatu untukmu,” ucap Dime sambil mengeluarkan amplop dari saku


jaketnya dan meletakannya di atas meja, melihat Vanya yang mengambil amplop itu


membuat Dime semakin yakin bahwa Hans sekarang sudah tak bisa melihat.


Vanya sedikit kaget melihat kertas-kertas yang dibacanya dan


langsung berbisik pada Hans


“Apa maksudmu memberikan bukti ini padaku ?”


“Jangan salah sangka, aku bukannya ingin menolongmu, hanya


saja jika wanita itu dapat diredam, maka akan baik untuk Senja,”


“Oh.. Kalau begitu lebih baik anda pergi dari sini sekarang,


aku akan memikirkan apa yang akan kulakukan dengan ini,” ucap Hans sambil


meremas amplop yang diberikan Vanya barusan padanya, dan tanpa basa basi Dime


langsung keluar dari kamar itu, ia hanya menganggukan kepala sejenak pada

__ADS_1


Vanya.


“Dasar,, untung aku punya salinannya,” seloroh Dime dalam


hati, saat melihat kertas bukti itu diremas oleh Hans dan satu lagi yang


tertahan tak disampaikannya pada Hans yaitu tentang donor mata itu. Entah


kenapa ia jadi tak sanggup mengatakannya. “Semoga ada orang baik yang akan


menjadi donormu, pria sombong,” gumam Dime sambil menghela nafas panjang.


.... ^-*......


Dewa tersenyum ketika mendapati pesan masuk ke handphonenya


walaupun sepersekian menit kemudian wajahnya jadi mengkerut. Ia meletakan Hpnya


di atas meja sambil mengela nafas panjang.


“Kenapa kamu Wa,” ucap Iwan sambil menyeruput kopi hitamnya,


sudah dua hari ini kakak kandung Senja ini ada di Jakarta namun tak sekalipun


ia mendatangi kediaman Dime.


“Gak,,  itu washapnya


Vanya ?”


“Heem,,, kalian dekat sekarang ? hati-hati nyakitin anak


orang lagi,”


“Hahaha, apaan sih lo,,, cuma bahas kerjaan kok. Oh ya... lo


gak jenguk adek, gue denger dari Vanya, adek masuk rumah sakit kemarin,”


“Dia kan (Senja) sudah punya suami, biar laki-laki itu yang


mengurusnya,“ balas Iwan ketus sambil mengutak-atik HP nya pura-pura tak peduli


dengan apa yang dikatakan Dewa.


“Lo kebangetan, walau gimanapun Senja itu adek lo,,,


setidaknya lo harus tau keadaanya, walau lo gak suka sama laki-laki itu,”


“Heem,,, Adek juga udah gak ingat sama aku,,,”


“Saraf lo,,, yang biasa nelpon lo terus di matiin itu siapa


? dasar egois,” ucap dewa sambil beranjak dari duduknya sedangkan Iwan hanya


terpaku  memandang layar Hp yang memuat


nama adik kesayangannya itu.


“Hallo... Mas Iwan, ini mas Iwan kan?” terdengar suara


renyah diseberang sana, suara yang lama tak terdengar ditelinga Iwan, padahal


dulu suara itu sangat bising tapi sekarang terdengar lemah.


Iwan menarik nafas panjang sebelum mengucapkan kalimat


pertamanya, entah kenapa hatinya sedikit renyuh untuk berucap pada Senja.


“Adek apa kabar ?” ucap Iwan akhirnya,


“Mas Iwan adek sakit,” balas Senja diseberang sana, suara


rengean khas sang adik, yang nyatanya sangat dirindukan olehnya.


“Minum obat,,, memangnya laki-laki itu tak membelikanmu


obat,” sahut Iwan ketus


Lama tak terdengar suara balasan dari Senja,,, keduanya


terdiam namun dengan telpon yang masih tersambung....


“Adek... hiks...hiks...hiks....”


Tanpa sadar air mata Iwan menetes mendengar suara tangis di

__ADS_1


seberang sana, ‘adek maafkan aku,’ (Bersambung...)


__ADS_2