Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Sisi Lain


__ADS_3

SENJA untuk sang direktur


Chapter 7


Senja tampak serius menatap layar


laptopnya, beberapa kali ia menguap tapi tetap mencoba fokus pada kerjaannya.


Dua hari ini ia lembur agar pekerjaan yang diberikan Fabio lebih cepat


selesai.  “Jadi pulang kampung juga nih”


ia tersenyum sambil meregangkan otot-otot tangannya.


“waduh, pada kemana nih orang !” Senja


bengong melihat seisi kantor yang sudah sepi. Ia baru teringat Fabio dan Fatma


sudah pamit dari tadi. Senja terduduk di kursinya, lorong-lorong itu tampak


gelap dan menakutkan, ia sampai bergidik sendiri.


“Pak satpam kemana sih, kok belom


lewat ya !” Senja mulai gelisah, beberapa kali ia melihat jam tangannya yang


sudah menunjukkan pukul 19.30.


‘Pak direktur belum pulangkan, tu


orangkan biasanya lembur’ Senja berjalan ke ruangan Hans yang memang masih


menyala lampunya, awalnya ia mau menunggu Hans keluar, tapi sepi seperti ingin membunuhnya.


Senja mengetuk pintu beberapa


kali, ”pak, pak direktur belum pulang kan ?“ tak lama pintu itu terbuka dan


Senja sudah memasang senyuman termanisnya.


“Kamu masih di sini ? belum


pulang ?”


“Belum, pulang yuk !”


Hans mengernyitkan dahinya, “Masuk


dulu, aku mau beresin file sebentar. Awas jangan ketiduran, saya lagi males


gendongin kamu !”


“Iyaa” jawab Senja sewot


Senja duduk sambil memainkan


hapenya, beberapa kali ia menguap dan menguap lagi.


“Senja kalau kamu tidur, saya


perkosa kamu !”ancam Hans lagi.


Senja bangun dengan malas,


membasuh wajahnya dengan air sebanyak mungkin hingga terasa segar. “uwah


segarnya”, ucap Senja di depan Hans, gadis itu tersenyum nakal dan duduk


didepan Hans sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.


“Ih lama banget sih,” rengeknya


“Sebentar, dikit lagi selesai,


awas jangan tidur !”


Lama-lama ketukan keyboard Hans


terasa seperti nada penghantar tidur untuknya, gadis itu merebahkan kepalanya


dimeja, matanya kian lama kian menyipit. Dan akhirnya  terpejam, baru saja ia terlelap, ada sesuatu


yang hangat menyentuh bibirnya, lumatan-lumatan lembut itu membuatnya terbuai,


mata Senja terbuka dan Hans sedang .....


“ ......”


“Siapa suruh kamu tidur  !“


“grrrrr”


Hans tersenyum nakal melihat


Senja yang terus mengomel sepanjang perjalanan pulang, kadang gadis itu


memukulnya dan Hans semakin jadi menggodanya.


 ...... ^_*......


Pemandangan sawah dan hawa yang


sejuk membuat Senja semakin tak sabar untuk sampai dirumahnya, bus yang melaju

__ADS_1


kencang itu seakan tak mampu menahan kerinduaannya. Hampir setahun Senja tak


pulang ke Solo, terakhir waktu liburan Idul fitri tahun lalu.


“Ayaaaaah, bundaaaa, adek pulang


!” Senja menerobos masuk tanpa memperdulikan orang-orang yang memandangnya.


Kediamannya sudah ramai dipenuhi para tetangga dan sanak keluarga yang datang,


sebenarnya pernikahan itu sedianya dilaksanakan di tempat calon mempelai


wanita, namun karena kesepakatan kedua belah pihak, akadnya akan dilakukan di


rumah mempelai pria.


Senja langsung memeluk bundanya


dengan erat, “Bunda, adek lapar dari tadi belum makan,”


“Kamu ini, dateng-dateng langsung


nanyain makanan, salam dulu sama ayah sana !”


Senja mengerucutkan bibirnya,


lalu merebahkan kepalanya kepangkuan sang ibu.  Bunda tersenyum mengelus rambut Putri bungsunya itu, tanpa ia sadari,


gadis kecilnya itu sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik.


Senja menunduk tak berani


mengangkat kepalanya, ketika ayah duduk dihadapannya.


“cepat salam sama ayah !” bisik


bundanya.


Gadis itu menurut, mengambil dan


mencium tangan ayahnya.


“Kuliah adek gimana ? sudah


selesai ?”


“Adek lagi magang yah, habis itu


tinggal skripsi !”


“berarti tidak lama lagi


selesaikan ? adek ingat janji adek pada ayah waktu itu apa ?’


Senja mengangguk, tak berani


ayah tak terlalu baik. Ayahnya tak setuju jika anak perempuannya itu tinggal


jauh dari mereka, namun karena Senja yang keras kepala, maka ayahnya mengalah,


namun tanpa sepeser pun di biayai oleh ayahnya.


Untunglah suasana kaku itu tak


berlangsung lama, Adam, Rehan dan Iwan datang dan langsung memeluk adik


kesayangan mereka itu, selama ini biaya kuliah dan biaya hidup Senja di Jakarta


adalah hasil urunan dari ketiga kakaknya ini.


“Adek yang menyambut tamu besok


ya !’


“Ih kok adek sih mas Iwan, yang


lainkan ada. Besok adek sibuk mau main sama kurcaci-kurcaci kecil !”


“Eh gak bisa, mesti harus dan


kudu kamu, ada cowok ganteng mau kenalan !” bisik Iwan di telinga adiknya.


Senja menatap, lalu tersenyum


sambil mengangkat alisnya “  kaya gak ?”


“beuh, bukan kaya lagi, mobil,


motor, rumah bakal dibelikan buat kamu !”


“beneran ?”


“iya, tapi dalam bentuk brosur !”


“waaaaaa !!!”


....... ^-*.......


Rumah kediaman Senja sudah penuh


sesak dengan para undangan, halaman depan juga sudah penuhi sanak keluarga yang


membawa anak kecil, Senja tampak mengipas-ngipas wajahnya yang sudah penuh

__ADS_1


dengan keringat. Kebaya yang dikenakannya membuatnya tak leluasa bergerak.


“Kering juga nih gigi dari tadi


senyum mulu !” gumam Senja sambil menyeka keringat di dahinya,


 “Gigi siapa yang kering ?”


“eh ....”


Senja tersenyum canggung pada


seorang lelaki yang tiba-tiba menyapanya, ia tahu sedari tadi pria ini terus


memperhatikannya, ‘jangan Geer dulu Senja, siapa tahu di gigi lo nyangkut cabe


!’ batin Senja.


“Silakan duduk mas, panas ya di


dalam,” ucap Senja mencoba ramah dan disambut anggukan oleh pria itu yang lalu


duduk di sebelahnya,


“Kamu Senja ?”


‘tuh kan bener, emang nih orang


ngeliatin gue dari tadi. Jangan-jangan temannya direktur mesum, eh...


hapus-hapus ngapain gue ingat tu orang’ batin Senja


“Iya, Senja adiknya Reihan,”


jawab Senja canggung sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan pria itu.


“Saya Dewa, temannya Iwan !”


“Oh, mas Iwan pernah cerita


tentang mas kemarin,”


“Oh ya ! emang dia cerita apa


saja ?”


Dewa yang antusias membuat Senja


merasa rikuh, gadis itu terus mengipas wajahnya karena grogi.


...... ^o^........


Hans bolak-balik di depan rumah


sambil memegang hapenya. Rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur,


sejak semalam ia terus gelisah membuatnya tak bisa tidur,


“sialan, dari kemarin kok gak ada


kasi kabar, kalau mau cutikan bisa telepon, bosnya itu aku atau Fabio sih “ Hans


terus mengomel sambil menatap layar hapenya. Beberapa kali ia memencet nomor


yang sama tapi dibatalkannya lagi.


“Hallo,” Hans kaget ketika


telponnya tersambung, dia bahkan menarik nafas panjang sebelum bicara.


“Kamu di mana ?”


“Solo”


“Ngapain ?”


“kakak gue nikahan, kenapa  ? kangen ya ?”


Hans repleks tersenyum, tapi ia


mencoba agar suaranya tetap stabil.


“Kenapa nggak bilang ? kan bisa


telpon atau apa !”


Senja tersenyum kecil mendengar


pertanyaan Hans ditelpon, ‘kesambet apaan nih orang !’ pikirnya,


“Senja makan yuk,” Senja kaget


tiba-tiba Dewa sudah berdiri disampingnya sambil menawarkan makanan, tiba-tiba


di telpon terdengar suara orang berteriak


“SENJA SIAPA ITU ? KAMU TUNGGU DI


SANA, AKU JEMPUT,”


Senja bengong karena tiba-tiba


Hans memutuskan telponnya ‘ kok berasa habis ketahuan selingkuh ya !’ ///////

__ADS_1


bersambung...


(Klik Jempol ya)


__ADS_2