
SENJA untuk sang direktur
Chapter 7
Senja tampak serius menatap layar
laptopnya, beberapa kali ia menguap tapi tetap mencoba fokus pada kerjaannya.
Dua hari ini ia lembur agar pekerjaan yang diberikan Fabio lebih cepat
selesai. “Jadi pulang kampung juga nih”
ia tersenyum sambil meregangkan otot-otot tangannya.
“waduh, pada kemana nih orang !” Senja
bengong melihat seisi kantor yang sudah sepi. Ia baru teringat Fabio dan Fatma
sudah pamit dari tadi. Senja terduduk di kursinya, lorong-lorong itu tampak
gelap dan menakutkan, ia sampai bergidik sendiri.
“Pak satpam kemana sih, kok belom
lewat ya !” Senja mulai gelisah, beberapa kali ia melihat jam tangannya yang
sudah menunjukkan pukul 19.30.
‘Pak direktur belum pulangkan, tu
orangkan biasanya lembur’ Senja berjalan ke ruangan Hans yang memang masih
menyala lampunya, awalnya ia mau menunggu Hans keluar, tapi sepi seperti ingin membunuhnya.
Senja mengetuk pintu beberapa
kali, ”pak, pak direktur belum pulang kan ?“ tak lama pintu itu terbuka dan
Senja sudah memasang senyuman termanisnya.
“Kamu masih di sini ? belum
pulang ?”
“Belum, pulang yuk !”
Hans mengernyitkan dahinya, “Masuk
dulu, aku mau beresin file sebentar. Awas jangan ketiduran, saya lagi males
gendongin kamu !”
“Iyaa” jawab Senja sewot
Senja duduk sambil memainkan
hapenya, beberapa kali ia menguap dan menguap lagi.
“Senja kalau kamu tidur, saya
perkosa kamu !”ancam Hans lagi.
Senja bangun dengan malas,
membasuh wajahnya dengan air sebanyak mungkin hingga terasa segar. “uwah
segarnya”, ucap Senja di depan Hans, gadis itu tersenyum nakal dan duduk
didepan Hans sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
“Ih lama banget sih,” rengeknya
“Sebentar, dikit lagi selesai,
awas jangan tidur !”
Lama-lama ketukan keyboard Hans
terasa seperti nada penghantar tidur untuknya, gadis itu merebahkan kepalanya
dimeja, matanya kian lama kian menyipit. Dan akhirnya terpejam, baru saja ia terlelap, ada sesuatu
yang hangat menyentuh bibirnya, lumatan-lumatan lembut itu membuatnya terbuai,
mata Senja terbuka dan Hans sedang .....
“ ......”
“Siapa suruh kamu tidur !“
“grrrrr”
Hans tersenyum nakal melihat
Senja yang terus mengomel sepanjang perjalanan pulang, kadang gadis itu
memukulnya dan Hans semakin jadi menggodanya.
...... ^_*......
Pemandangan sawah dan hawa yang
sejuk membuat Senja semakin tak sabar untuk sampai dirumahnya, bus yang melaju
__ADS_1
kencang itu seakan tak mampu menahan kerinduaannya. Hampir setahun Senja tak
pulang ke Solo, terakhir waktu liburan Idul fitri tahun lalu.
“Ayaaaaah, bundaaaa, adek pulang
!” Senja menerobos masuk tanpa memperdulikan orang-orang yang memandangnya.
Kediamannya sudah ramai dipenuhi para tetangga dan sanak keluarga yang datang,
sebenarnya pernikahan itu sedianya dilaksanakan di tempat calon mempelai
wanita, namun karena kesepakatan kedua belah pihak, akadnya akan dilakukan di
rumah mempelai pria.
Senja langsung memeluk bundanya
dengan erat, “Bunda, adek lapar dari tadi belum makan,”
“Kamu ini, dateng-dateng langsung
nanyain makanan, salam dulu sama ayah sana !”
Senja mengerucutkan bibirnya,
lalu merebahkan kepalanya kepangkuan sang ibu. Bunda tersenyum mengelus rambut Putri bungsunya itu, tanpa ia sadari,
gadis kecilnya itu sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik.
Senja menunduk tak berani
mengangkat kepalanya, ketika ayah duduk dihadapannya.
“cepat salam sama ayah !” bisik
bundanya.
Gadis itu menurut, mengambil dan
mencium tangan ayahnya.
“Kuliah adek gimana ? sudah
selesai ?”
“Adek lagi magang yah, habis itu
tinggal skripsi !”
“berarti tidak lama lagi
selesaikan ? adek ingat janji adek pada ayah waktu itu apa ?’
Senja mengangguk, tak berani
ayah tak terlalu baik. Ayahnya tak setuju jika anak perempuannya itu tinggal
jauh dari mereka, namun karena Senja yang keras kepala, maka ayahnya mengalah,
namun tanpa sepeser pun di biayai oleh ayahnya.
Untunglah suasana kaku itu tak
berlangsung lama, Adam, Rehan dan Iwan datang dan langsung memeluk adik
kesayangan mereka itu, selama ini biaya kuliah dan biaya hidup Senja di Jakarta
adalah hasil urunan dari ketiga kakaknya ini.
“Adek yang menyambut tamu besok
ya !’
“Ih kok adek sih mas Iwan, yang
lainkan ada. Besok adek sibuk mau main sama kurcaci-kurcaci kecil !”
“Eh gak bisa, mesti harus dan
kudu kamu, ada cowok ganteng mau kenalan !” bisik Iwan di telinga adiknya.
Senja menatap, lalu tersenyum
sambil mengangkat alisnya “ kaya gak ?”
“beuh, bukan kaya lagi, mobil,
motor, rumah bakal dibelikan buat kamu !”
“beneran ?”
“iya, tapi dalam bentuk brosur !”
“waaaaaa !!!”
....... ^-*.......
Rumah kediaman Senja sudah penuh
sesak dengan para undangan, halaman depan juga sudah penuhi sanak keluarga yang
membawa anak kecil, Senja tampak mengipas-ngipas wajahnya yang sudah penuh
__ADS_1
dengan keringat. Kebaya yang dikenakannya membuatnya tak leluasa bergerak.
“Kering juga nih gigi dari tadi
senyum mulu !” gumam Senja sambil menyeka keringat di dahinya,
“Gigi siapa yang kering ?”
“eh ....”
Senja tersenyum canggung pada
seorang lelaki yang tiba-tiba menyapanya, ia tahu sedari tadi pria ini terus
memperhatikannya, ‘jangan Geer dulu Senja, siapa tahu di gigi lo nyangkut cabe
!’ batin Senja.
“Silakan duduk mas, panas ya di
dalam,” ucap Senja mencoba ramah dan disambut anggukan oleh pria itu yang lalu
duduk di sebelahnya,
“Kamu Senja ?”
‘tuh kan bener, emang nih orang
ngeliatin gue dari tadi. Jangan-jangan temannya direktur mesum, eh...
hapus-hapus ngapain gue ingat tu orang’ batin Senja
“Iya, Senja adiknya Reihan,”
jawab Senja canggung sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan pria itu.
“Saya Dewa, temannya Iwan !”
“Oh, mas Iwan pernah cerita
tentang mas kemarin,”
“Oh ya ! emang dia cerita apa
saja ?”
Dewa yang antusias membuat Senja
merasa rikuh, gadis itu terus mengipas wajahnya karena grogi.
...... ^o^........
Hans bolak-balik di depan rumah
sambil memegang hapenya. Rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur,
sejak semalam ia terus gelisah membuatnya tak bisa tidur,
“sialan, dari kemarin kok gak ada
kasi kabar, kalau mau cutikan bisa telepon, bosnya itu aku atau Fabio sih “ Hans
terus mengomel sambil menatap layar hapenya. Beberapa kali ia memencet nomor
yang sama tapi dibatalkannya lagi.
“Hallo,” Hans kaget ketika
telponnya tersambung, dia bahkan menarik nafas panjang sebelum bicara.
“Kamu di mana ?”
“Solo”
“Ngapain ?”
“kakak gue nikahan, kenapa ? kangen ya ?”
Hans repleks tersenyum, tapi ia
mencoba agar suaranya tetap stabil.
“Kenapa nggak bilang ? kan bisa
telpon atau apa !”
Senja tersenyum kecil mendengar
pertanyaan Hans ditelpon, ‘kesambet apaan nih orang !’ pikirnya,
“Senja makan yuk,” Senja kaget
tiba-tiba Dewa sudah berdiri disampingnya sambil menawarkan makanan, tiba-tiba
di telpon terdengar suara orang berteriak
“SENJA SIAPA ITU ? KAMU TUNGGU DI
SANA, AKU JEMPUT,”
Senja bengong karena tiba-tiba
Hans memutuskan telponnya ‘ kok berasa habis ketahuan selingkuh ya !’ ///////
__ADS_1
bersambung...
(Klik Jempol ya)