
SENJA Untuk Sang Direktur
Chapter 4
Hari-hari Senja mulai sibuk dari mengatur jadwal wakil
direktur, fotocopy hingga buat kopi, sekretaris merangkap OG, haha. Senja mulai
menikmati ritme kehidupannya, ditambah dengan acara lamaran kakaknya yang
membuat hidupnya makin tak berjeda.
Siang itu, Senja buru-buru kembali ke kantor setelah
mengantar keluarganya ke bandara, nafasnya ngos-ngosan ketika mendapat pesan Fabio yang menyuruhnya cepat
kembali ke kantor. Pemandangan biasa
melihat Hans marah-marah, namun hari ini dunia seakan berbalik seratus delapan
puluh derajat, Hans tersenyum.
“Wah, luar biasa, ” mulut Senja sampai ternganga, lelaki itu
juga sangat ramah pada Fatma, sekretarisnya.
“Iyakan, tapi nggak usah sampe melonggo juga kali,”
“Eh, pak Fab, sejak kapan ada disitu,”
“Sejak tadi, kamu aja gak sadar,”
Haha, Senja tertawa kecil, matanya masih melirik ke arah
Hans yang tampak berbeda siang itu. “Ayo ikut, ada yang mau ketemu kamu !”
Fabio menarik tangan Senja, masuk keruangan Hans. Ada wanita disana, memakai
mini dres yang benar-benar mini, rambut yang bergelombang dibiarkan tergerai
begitu saja.
“Kella, ini Senja. Senja ini Kella, bintangnya di kantor
ini, tapi dulu,” Fabio tertawa kecil mengenalkan mereka yang nyatanya memang
sudah mengenal.
Kella memandang Senja dengan tatapan yang susah untuk
diartikan, begitu pula Senja, gadis itu bahkan tak bisa menyembunyikan ekspresi
tak senangnya.
Kella dengan senyumnya menyodorkan tangan untuk menyalami
Senja, gadis itu hanya memandangi tangan
Kella, teringat setahun yang lalu dengan ramahnya wanita ini juga
memperkenalkan diri sebagai teman Ryuji
Tapi pertemanan seperti apa sampai harus naik ke ranjang,
Senja mendecih, ia tercekat mendengar
namanya di panggil Hans.
“Senja, kamu tak sopan pada tamu,” bentak Hans
“Sudahlah Hans, mungkin Senja kaget melihat aku ada disini,”
jawab Kella, sambil bergelayut manja ditangan Hans.
Senja diam seribu
basa, kini ia tahu alasan mengapa Hans berbuat kasar padanya saat pertunangan Ryuji
waktu itu, ternyata untuk wanita ini. Fabio yang sedari tadi bingung mencoba
mencairkan suasana, entah mengapa mereka jadi makan siang satu meja.
Suasana sangat canggung, apalagi Kella menunjukkan kemesraan
tak wajar pada Hans. Senja hanya berbincang pada Fatma untuk menenangkan
pikirannya. Tiba-tiba ia Senja tersenyum kecil, seperti mendapat ilham dari
__ADS_1
langit.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, tak lama Vanya datang membawa Ryuji. Senja mengulum senyum menatap
akting kaget Vanya ketika bertemu dengan mereka. “Wah ada kakak ipar juga,”
ucap Vanya yang langsung duduk di samping Hans.
Awalnya Senja kaget ternyata Vanya kenal dengan Hans, tapi
ya sudahlah, nyatanya dia yang diatas angin sekarang. Tapi Senja merasa
tatapan-tatapan tajam sedang mengarah padanya, ‘bodo ah’
-------^-*........
Senja duduk di depan cermin melihat matanya yang bengkak,
nyatanya bertemu dengan Ryuji merobek lagi luka lamanya, hutang penjelasan yang
terbayar itu malah membuatnya semakin sakit.
“Senja aku gak sengaja, itu terjadi begitu saja, aku khilaf”
Itu yang dikatakan Ryuji, ‘Dia bilang gak sengaja, khilaf,
emangnya kalau aku yang ngelakuin dia bakal maafin,’ Senja berkutat dengan pikirannya yang buntu.
Tiga setengah tahun ia bersama Ryuji,
sosok yang mungkin tidak bisa dilupakannya apalagi ada Vanya sebagai penghubung mereka.
Senja memejamkan matanya, tak tahu cara untuk menghapus
ingatan itu ‘cari pacar baru aja, tapi
kalo selingkuh lagi gimana ?’ agrhhh....
..........^U^.........
Suasana kantor pagi ini sungguh mencekam, sunyi, hanya
terdengar satu suara vocal yang mengaum, siapa lagi kalau bukan suara direktur
yang lagi marah-marah.
pura-pura sibuk.
“hu uh, udah dari tadi tu begitu, efek kemarin kali ya !” Fatma
mengulum senyum.
“oooo aku tau, gara-gara Kella !”
“eeee.... bukannya kamu yang manggil tunangan mbak Kella !”
Ups, Senja menutup mulutnya
“siap-siap kamu Senja, bentar lagi kamu dapat bagian, aku
aja udah dua ka.....
“Senjaaaa....
Mata Senja dan Fatma sama-sama terbelalak karena kaget
mendengar teriakan Hans, mereka lupa disana ada cctv yang dapat dilihat dari
ruangan direktur.
“Semangat Senja” ucap Fatma sambil mengangkat tangannya
Senja tersenyum, sambil mengarahkan jempolnya pada Fatma.
Aduh gimana ni, mati gue mati gue, jantung Senja berdetak tak karuan, otaknya
berkerja lebih keras mencari ide untuk lepas dari amukan Hans.
Senja mengetuk pintu dengan ragu, ”MASUK, “dari suaranya
saja Senja sudah bisa menebak bagaimana sadisnya ekspresi Hans. Gadis itu
membuka pintu dan berjalan masuk, ‘jurus terakhir, jurus terakhir......
bruk.... Senja ambruk didepan Hans,,,,berhasil, pura-pura pingsan, Senja
mendengar suara panik dari Hans, dan dia merasakan ada yang mengangkat
__ADS_1
tubuhnya, tapi lama-lama ia merasa tubuhnya sangat lelah dan ia terlelap.
...^-^....
“Senja kamu sudah sadar !”
Gadis itu tersenyum melihat Fatma sedang mengipas-ngipas
wajahnya dengan kertas, “gue gak apa-apa kok mbak, Cuma ketiduran !”
“Gak apa-apa gimana, badan kamu dingin semua. Senja kamu
alergi tu, coba liat banyak ruamnya,”
Senja melihat ada ruam muncul ditangannya, ‘kupu-kupu itu
lagi,’ gadis itu mendesah, awalnya ia hanya pura-pura pingsan tapi sekarang
tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga, badannya pun terasa nyeri.
Hans dan Fabio masuk ke ruangan, “gimana keadaannya ?”
“badannya dingin sekali pak, ”
“kita ke rumah sakit !” tanpa basa-basi Hans langsung mengangkat
tubuh Senja.
“eeee, apa-apaan lo, lepasin gue gak mau ke rumah sakit !”
“Jangan bergerak, kalo gak saya lempar kamu kebawah, !” Hans
terus berjalan sambil menggedong Senja yang terus meronta, Fabio dan Fatma yang
mengikuti mereka dari belakang hanya mengulum senyum, dan pemandangan itu
langsung menjadi viral di kantor.
........^-^..........
Hans berjalan menuju lorong rumah sakit, pulang dari kantor
ia langsung ketempat ini, untuk melihat keadaan Senja yang ternyata harus di
opname karena terlalu lemah. Beberapa kali ia memijit dahinya yang penat.
Masalah Kella selalu
membuatnya sakit kepala, kejadian kemarin membuat Kella terus menangis, karena
Ryuji lebih memperdulikan Senja. Hans paling tidak bisa melihat Kella terluka,
karna itu membuat hatinya sakit.
Dan semua itu
gara-gara Senja. “kenapa dia bisa pingsan coba, belum juga diapa-apain,”gumam
Hans kesal. Kamar tempat ia meninggalkan
gadis itu untuk dirawat tampak ramai, dokter dan beberapa perawat tampak sibuk
kasak kusuk.
Hans mulai cemas, ia mempercepat langkahnya. Pemandangan
seperti ini membuatnya trauma, kejadian yang menimpa ayah dan ibunya lima tahun
lalu masih terpampang jelas diingatannya.
‘Gak mungkinkan dia.....’
“Dokter ada apa !”
“ Oh pak Hans, anda kenal dengan pasien dikamar ini ? ”
“ iya, maksud dokter pasien bernama Senja kan ? saya yang
bawa kemari, ada apa dok ?”
“Nona Senja kabur dari rumah sakit “
“.......”
///// bersambung ///// yang belum klik jempol, ayoo klik ya,
yang sudah terimakasih banyak, hatur nuwun (^0*. Unie)
__ADS_1