
SENJA untuk Sang Direktur
Ada Apa Denganmu
Hari ini Senja berpakaian rapi, ia mengenakan blazer
berwarna abu dengan t-shirt putih sebagai dalaman dipadukan dengan celana kain
berwarna hitam.
Ini adalah kali ketiga ia datang untuk konsultasi dengan pak Artya, dua pertemuan sebelumnya
hasilnya nihil karena Art lebih fokus membahas pakaiannya, lengkap dengan
bahasa kepedean yang membuat Senja kesal.
*Senja jangan lupa\, seminarnya jam 9 pagi* Senja
menghembuskan nafas panjang ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh Rima, pak Saragih selalu
mengingatkan sekretarisnya itu untuk mengirim pesan pada Senja, agar tidak ada
alasan lupa.
Senja menatap lagi wajahnya di cermin, seketika muncul
bayangan Hans disana,’Huh,,, kenapa begini,,, fokus...fokus Senja,,,ingat kamu
sudah dicampakan... go..go’ Senja mengusap wajahnya, lalu memoleskan lipstik
berwarna Nude dan tersenyum penuh semangat.
.... *-^....
Langkah Senja terhenti, ketika melihat pak Saragih sedang
berbincang akrab dengen beberapa dosen lain dan juga Hans, Jantung Senja serasa
berhenti berdetak ketika lelaki itu menoleh ke arahnya.
‘mampus gue,’ dengan cepat Senja berbalik arah, berjalan
menjauh namun ...
“Senja .....”
‘arghhh, kenapa sih dia muncul sekarang’
“Hei... mau kemana ?”
“Anu, pak ... mau cari bapak,,, iya saya mau cari bapak, kan
kita ada jadwal konsultasi hari ini”
Art menyunggingkan senyumannya, “Kamu ini seperti habis
dikejar hantu, ayo kita kesana !”
“Kemana pak ?”
“ke auditorium, memangnya kamu mau ajak saya kemana ? ingat
loh saya sudah punya tunangan,”
‘erggg...’
Senja mengernyit mendengar kalimat Art, namun ia tak ingin
membalas perkataan dosennya itu, ia hanya menyunggingkan senyum
jelitanya,’memangnya lo aja yang bisa senyum,,,gue juga bisa’ batin Senja.
Senja berjalan dibelakang Art, beberapa kali terdengar
hembusan nafas kasar dan gerutuan kecil darinya, ketika Art berjalan ke arah
dosen-dosen dan tentu saja menyapa Hans yang merupakan pembicara utama hari
ini.
Kali ini tak bisa dihindari lagi, Hans berdiri tepat
didepannya saat Art memilih bergeser kesamping dan berdiri disebelahnya. Dengan
gaya sok akrabnya, Art mulai berbincang hangat dengan Hans dan yang lebih
mengesalkan, pria itu mengajak Senja ikut dalam obrolan ringan itu.
Senja mengangkat wajahnya, menatap wajah Hans dengan biasa,
sebisa mungkin ia ingin menunjukan ia baik-baik saja walau nyatanya tak seperti
itu. Berbanding terbalik dengan Hans yang lebih memilih menghindari kontak mata
dengannya.
“Ikut aku setelah seminar selesai,” Hans berbicara pelan sambil
berjalan menuju auditorium, pria itu sengaja mengejar langkah Senja, yang seperti
ingin menghindarinya.
__ADS_1
“Untuk apa ? kita kan tidak saling kenal,”
“Ambil sepatumu,”
“Sepatu apa ? huh”
“Pangeran tak kan pernah lupa dengan sepatu cinderellanya,”
Hans berjalan cepat mendahului Senja, Pria itu menyunggingkan senyuman saat
menoleh kearah Senja yang menunjukan wajah geram.
....^-*.....
Hans menjadi pembicara yang sangat baik di seminar kali ini,
bahkan banyak mengundang kekaguman terlebih pada kaum hawa, bahkan beberapa
dari mereka mengabadikan setiap moment yang memancarkan aura ketampanan sang
direktur.
Senja memutar bola matanya, ketika Rima berbicara antusias
tentang Hans, wanita itu tak henti-hentinya memuji mahluk tampan yang kini sedang
berbincang seusai seminar.
“Mbak sebenarnya suka yang mana sih,,, kemarin pak dosen,
sekarang pak direktur ?” tanya Senja sambil menyendokkan makanan ke piringnya.
“Dua-duanya juga boleh, tapikan pak dosen sudah punya pacar,
kalau pak Hans sudah belum ya Senja, emm ,,, tolongin mbak dong Senja, cari tau
!”
“Iya, gampang,, tapi ambilin aku salad buah yang disana ya
mbak,” pinta Senja dengan wajah penuh kode, Rima menoleh dan tersenyum
sumbringah, karena Hans dan Art sedang berbincang di dekat meja hidangan salad.
Rima melenggang setelah mengacungkan jempolnya pada Senja,
gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat mbak sekrtetaris itu sedang
kumat genitnya, seperti ABG yang lagi caper.
Senja berjalan ke tempat duduk di pojok ruangan, ia sengaja memilih
tempat yang sepi supaya bisa menyantap makan siangnya dengan tenang.
Senja mengunyah dua tablet obat maag sebelum mulai makan, tangannya mulai
menekan bagian bawah perutnya yang terasa perih karena asam lambungnya naik.
“Mbak Senja ini !”
“Eh... apa ini ...”
“air putih hangat, kata masnya suruh kasiin ke mbak Senja “
“Mas yang mana ya pak?”
Lelaki paruh baya itu menunjuk ke arah Hans yang berdiri tak
jauh dari sana, tatapan mata Hans yang mengarah padanya, membuat Senja
tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya.
“makasih ya pak,”
Senja meneguk air hangat itu yang membuat penuh terasa lebih
nyaman, ia tak dapat menyembunyikan perasaan senangnya, karena Hans masih
perhatian padanya.
*****^-^****
Senja masih berdiri didepan auditorium, beberapa kali ia
memandang jam ditangannya, namun Art belum juga keluar begitu juga dengan Hans
yang menyuruhnya menunggu.
“Hiss kemana sih ni orang, dua-duanya belum juga
nongol,,, gak tau ya ini sudah siang,,,
jangan-jangan mereka barengan,”
Mata Senja membesar ketika melihat dua orang itu berjalan
bersama sambil berbincang, ia cuma bisa menghembuskan nafas sambil menunggu
keduanya mendekat,’ampun dah beneran barengan rupanya’.
“Senja ayo,,, udah lama nunggu ya... pak Hans saya duluan
__ADS_1
ya,, “ Hans mengiyakan kalimat Art, namun matanya tertuju pada gadis yang
berdiri disebelah pria itu, Hans tampak terganggu dengan sikap Art yang tampak
akrab pada gadisnya.
*Aku tunggu di parkiran\,*
*Tapi masih mau konsultasi\,\,\, agak lamaan sedikit boleh gak*
*Oke*
Senja tak sadar, Art sedang memperhatikan dirinya yang sibuk
membalas pesan di ponselnya, ia kaget ketika wajah Art hanya beberapa centi
dari pipinya.
“Astagfirullah,,, bapak ngagetin aja “
“Kamu ada janji ?,”
“Iya,,ehhh gak kok,,, “
“Ya udah,,, tepatin aja janjimu dulu, konsultasinya kan bisa
kita tunda besok,”
‘ya elah,,, gue udah nunggu dia berhari-hari enak aja
ngomong gitu,,,,dasar’
“Gak apa,, ntar aja,,, ayo pak kita mulai,”
Art menatap Senja sambil tersenyum dan kembali duduk di
kursi kerjanya, pria itu mengambil berkas milik Senja, membacanya sebentar lalu
menghembuskan nafas kasar.
Mata Senja melotot, ketika pulpen Art mulai mencorat-coret
pekerjaannya, bahkan hampir setiap item terdapat catatan dari dosennya itu.
“Pak, itu beneran ?”
“Apanya ?”
“Coretannya,,, eh maksud saya,, yang salah segitu
banyaknya,”
“Baca aja nanti kalau kamu sudah sampai dirumah, kalau
kurang paham bisa telpon saya .... atau konsultasi kerumah saya,,, soalnya
besok saya gak ke kampus ,”
Senja memandang wajah Art yang sangat serius, beda dari
biasanya yang selalu cengengesan,,, tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.
Senja menundukan kepalanya sambil mengemasi berkas-berkasnya.
“Makasih pak,,, Saya pulang dulu,” Senja berjalan keluar
dengan murung, pekerjaannya selama ini .... Senja tak bisa berfikir lagi,,,
‘harus mulai dari awal lagi,’..
“Senja ...... “
“Ya ....”
“Fokus,,, jangan pacaran terus ,,,,”
‘ish....’
Tatapan khawatir Art mengiringi langkah Senja, perasaan tak enak menyelimuti pria itu karena
wajah gadis itu terlihat pucat.
“Sudah selesai ?”
“Sudah,,,,”
“Lima menit keparkiran,,, kalo gak, aku tinggal !”
“iya...tunggu .....
Belum selesai Senja menjawab, telpon itu langsung diputus
oleh Hans, yang membuat gadis itu terengah-engah berlari ke parkiran,,,
“Pak Direktur .....
Hans menoleh kearah Senja yang sudah berdiri dibelakangnya, tak
lama gadis itu langsung ambruk jatuh ke
tanah.... //// bersambung
__ADS_1
(Makasih ya yang sudah baca,,, bantu Like ya, ^-*)