Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 27


__ADS_3

SENJA untuk Sang Direktur


Ada Apa Denganmu


Hari ini Senja berpakaian rapi, ia mengenakan blazer


berwarna abu dengan t-shirt putih sebagai dalaman dipadukan dengan celana kain


berwarna hitam.


Ini adalah kali ketiga ia  datang untuk konsultasi dengan pak Artya, dua pertemuan sebelumnya


hasilnya nihil karena Art lebih fokus membahas pakaiannya, lengkap dengan


bahasa kepedean yang membuat Senja kesal.


*Senja jangan lupa\, seminarnya jam 9 pagi* Senja


menghembuskan nafas panjang ketika membaca pesan  yang dikirimkan oleh Rima, pak Saragih selalu


mengingatkan sekretarisnya itu untuk mengirim pesan pada Senja, agar tidak ada


alasan lupa.


Senja menatap lagi wajahnya di cermin, seketika muncul


bayangan Hans disana,’Huh,,, kenapa begini,,, fokus...fokus Senja,,,ingat kamu


sudah dicampakan... go..go’ Senja mengusap wajahnya, lalu memoleskan lipstik


berwarna Nude dan tersenyum penuh semangat.


.... *-^....


Langkah Senja terhenti, ketika melihat pak Saragih sedang


berbincang akrab dengen beberapa dosen lain dan juga Hans, Jantung Senja serasa


berhenti berdetak ketika lelaki itu menoleh ke arahnya.


‘mampus gue,’ dengan cepat Senja berbalik arah, berjalan


menjauh namun ...


“Senja .....”


‘arghhh, kenapa sih dia muncul sekarang’


“Hei... mau kemana ?”


“Anu, pak ... mau cari bapak,,, iya saya mau cari bapak, kan


kita ada jadwal konsultasi hari ini”


Art menyunggingkan senyumannya, “Kamu ini seperti habis


dikejar hantu, ayo kita kesana !”


“Kemana pak ?”


“ke auditorium, memangnya kamu mau ajak saya kemana ? ingat


loh saya sudah punya tunangan,”


‘erggg...’


Senja mengernyit mendengar kalimat Art, namun ia tak ingin


membalas perkataan dosennya itu, ia hanya menyunggingkan senyum


jelitanya,’memangnya lo aja yang bisa senyum,,,gue juga bisa’ batin Senja.


Senja berjalan dibelakang Art, beberapa kali terdengar


hembusan nafas kasar dan gerutuan kecil darinya, ketika Art berjalan ke arah


dosen-dosen dan tentu saja menyapa Hans yang merupakan pembicara utama hari


ini.


Kali ini tak bisa dihindari lagi, Hans berdiri tepat


didepannya saat Art memilih bergeser kesamping dan berdiri disebelahnya. Dengan


gaya sok akrabnya, Art mulai berbincang hangat dengan Hans dan yang lebih


mengesalkan, pria itu mengajak Senja ikut dalam obrolan ringan itu.


Senja mengangkat wajahnya, menatap wajah Hans dengan biasa,


sebisa mungkin ia ingin menunjukan ia baik-baik saja walau nyatanya tak seperti


itu. Berbanding terbalik dengan Hans yang lebih memilih menghindari kontak mata


dengannya.


“Ikut aku setelah seminar selesai,” Hans berbicara pelan sambil


berjalan menuju auditorium, pria itu sengaja mengejar langkah Senja, yang seperti


ingin menghindarinya.

__ADS_1


“Untuk apa ? kita kan tidak saling kenal,”


“Ambil sepatumu,”


“Sepatu apa ? huh”


“Pangeran tak kan pernah lupa dengan sepatu cinderellanya,”


Hans berjalan cepat mendahului Senja, Pria itu menyunggingkan senyuman saat


menoleh kearah Senja yang menunjukan wajah geram.


....^-*.....


Hans menjadi pembicara yang sangat baik di seminar kali ini,


bahkan banyak mengundang kekaguman terlebih pada kaum hawa, bahkan beberapa


dari mereka mengabadikan setiap moment yang memancarkan aura ketampanan sang


direktur.


Senja memutar bola matanya, ketika Rima berbicara antusias


tentang Hans, wanita itu tak henti-hentinya memuji mahluk tampan yang kini sedang


berbincang seusai seminar.


“Mbak sebenarnya suka yang mana sih,,, kemarin pak dosen,


sekarang pak direktur ?” tanya Senja sambil menyendokkan makanan ke piringnya.


“Dua-duanya juga boleh, tapikan pak dosen sudah punya pacar,


kalau pak Hans sudah belum ya Senja, emm ,,, tolongin mbak dong Senja, cari tau


!”


“Iya, gampang,, tapi ambilin aku salad buah yang disana ya


mbak,” pinta Senja dengan wajah penuh kode, Rima menoleh dan tersenyum


sumbringah, karena Hans dan Art sedang berbincang di dekat meja hidangan salad.


Rima melenggang setelah mengacungkan jempolnya pada Senja,


gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat mbak sekrtetaris itu sedang


kumat genitnya, seperti ABG yang lagi caper.


Senja berjalan ke tempat duduk di pojok ruangan, ia sengaja memilih


tempat yang sepi supaya bisa menyantap makan siangnya dengan tenang.


Senja mengunyah dua tablet obat maag sebelum mulai makan, tangannya mulai


menekan bagian bawah perutnya yang terasa perih karena asam lambungnya naik.


“Mbak Senja ini !”


“Eh... apa ini ...”


“air putih hangat, kata masnya suruh kasiin ke mbak Senja “


“Mas yang mana ya pak?”


Lelaki paruh baya itu menunjuk ke arah Hans yang berdiri tak


jauh dari sana, tatapan mata Hans yang mengarah padanya, membuat Senja


tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya.


“makasih ya pak,”


Senja meneguk air hangat itu yang membuat penuh terasa lebih


nyaman, ia tak dapat menyembunyikan perasaan senangnya, karena Hans masih


perhatian padanya.


*****^-^****


Senja masih berdiri didepan auditorium, beberapa kali ia


memandang jam ditangannya, namun Art belum juga keluar begitu juga dengan Hans


yang menyuruhnya menunggu.


“Hiss kemana sih ni orang, dua-duanya belum juga


nongol,,,  gak tau ya ini sudah siang,,,


jangan-jangan mereka barengan,”


Mata Senja membesar ketika melihat dua orang itu berjalan


bersama sambil berbincang, ia cuma bisa menghembuskan nafas sambil menunggu


keduanya mendekat,’ampun dah beneran barengan rupanya’.


“Senja ayo,,, udah lama nunggu ya... pak Hans saya duluan

__ADS_1


ya,, “ Hans mengiyakan kalimat Art, namun matanya tertuju pada gadis yang


berdiri disebelah pria itu, Hans tampak terganggu dengan sikap Art yang tampak


akrab pada gadisnya.


*Aku tunggu di parkiran\,*


*Tapi masih mau konsultasi\,\,\, agak lamaan sedikit boleh gak*


*Oke*


Senja tak sadar, Art sedang memperhatikan dirinya yang sibuk


membalas pesan di ponselnya, ia kaget ketika wajah Art hanya beberapa centi


dari pipinya.


“Astagfirullah,,, bapak ngagetin aja “


“Kamu ada janji ?,”


“Iya,,ehhh gak kok,,, “


“Ya udah,,, tepatin aja janjimu dulu, konsultasinya kan bisa


kita tunda besok,”


‘ya elah,,, gue udah nunggu dia berhari-hari enak aja


ngomong gitu,,,,dasar’


“Gak apa,, ntar aja,,, ayo pak kita mulai,”


Art menatap Senja sambil tersenyum dan kembali duduk di


kursi kerjanya, pria itu mengambil berkas milik Senja, membacanya sebentar lalu


menghembuskan nafas kasar.


Mata Senja melotot, ketika pulpen Art mulai mencorat-coret


pekerjaannya, bahkan hampir setiap item terdapat catatan dari dosennya itu.


“Pak, itu beneran ?”


“Apanya ?”


“Coretannya,,, eh maksud saya,, yang salah segitu


banyaknya,”


“Baca aja nanti kalau kamu sudah sampai dirumah, kalau


kurang paham bisa telpon saya .... atau konsultasi kerumah saya,,, soalnya


besok saya gak ke kampus ,”


Senja memandang wajah Art yang sangat serius, beda dari


biasanya yang selalu cengengesan,,, tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.


Senja menundukan kepalanya sambil mengemasi berkas-berkasnya.


“Makasih pak,,, Saya pulang dulu,” Senja berjalan keluar


dengan murung, pekerjaannya selama ini .... Senja tak bisa berfikir lagi,,,


‘harus mulai dari awal lagi,’..


“Senja ...... “


“Ya ....”


“Fokus,,, jangan pacaran terus ,,,,”


‘ish....’


Tatapan khawatir Art mengiringi langkah Senja,  perasaan tak enak menyelimuti pria itu karena


wajah gadis itu terlihat pucat.


“Sudah selesai ?”


“Sudah,,,,”


“Lima menit keparkiran,,, kalo gak, aku tinggal !”


“iya...tunggu .....


Belum selesai Senja menjawab, telpon itu langsung diputus


oleh Hans, yang membuat gadis itu terengah-engah berlari ke parkiran,,,


“Pak Direktur .....


Hans menoleh kearah Senja yang sudah berdiri dibelakangnya, tak


lama  gadis itu langsung ambruk jatuh ke


tanah.... //// bersambung

__ADS_1


(Makasih ya yang sudah baca,,, bantu Like ya, ^-*)


__ADS_2