
Qory mengambil sebuah kayu pentungan yang tak jauh dari
situ, lalu menghajar Jose dengan kuat. Tangan Senja bergetar, ia menarik
pelatuk pistol itu dan melepaskannya kearah Qory...
“Agh....” darah mengucur dengan derasnya dilantai, semua
mata terbelalak melihat kearah Senja,,,,
SENJA untuk Sang Direktur
Chapter 22
Qory mengaduh kesakitan memegang kakinya yang berlumuran
darah, Kean bereaksi cepat melihat Senja masih termangu setelah menembak paha
kanan Qory. “Akh” senjata di tangan Senja terjatuh ke lantai, tendangan Kean
membuat gadis itu kaget dan reflek mengarahkan tangan kanannya ke perut Kean.
“Bruuk,” Kean sempat mengelak namun pukulan itu tetap
mengenai perut bagian sampingnya. “sialan” Kean kembali mengarahkan
tendangannya kearah Senja, namun gadis itu berhasil mengelak dengan mulusnya.
“gak percuma bertahun-tahun belajar beladiri ternyata
berguna juga,” Senja tersenyum pada Kean, membuat lelaki itu semakin beringas
ingin melukainya. “Berhenti atau pisau ini akan menusuk lehernya” Dua orang
pria berdiri dibelakang Senja, pria berkacamata hitam melingkarkan tangannya ke
lehar Nadia, dan membareti leher gadis itu dengan goresan pisau.
“akhirnya mereka keluar. Dion dan si bisu, habislah kita,”
guman Jose lirih, mencoba berdiri sambil mengambil pentungan dari tangan Qory
yang sudah tak berdaya
“Beraninya sama yang lemah, sini lawan gue !” teriak Senja
melihat darah keluar dari goresan pisau dileher Nadia.
“Gadis sombong, gue suka gaya lo !”
Dion itu tersenyum licik, ia melangkah mendekati Senja, “Mau
taruhan ?”
“Apa yang bisa lo pertaruhkan ? Nyawa ?”
“Benar-benar sombong,,,, Qory harusnya gadis ini kau berikan
padaku dari awal,” Dion tertawa lantang, sedang Kean memungut Pistol yang ada
dilantai dan mengarahkannya ke kepala Senja.
“Stop Kean, nyawa tante Qory ditanganku,”
“Dasar tak tahu terima kasih kau Jose, dia yang memberikan
kehidupan padamu, dan demi gadis liar seperti dia, kau ingin membunuhnya !”
“Kehidupan ? “ Jose tertawa, “Kehidupan yang seperti kematian ?” lanjutnya ...
“Brengsek kau ” teriak Kean.
“Diam kalian berdua” teriak Dion tiba-tiba,,,”Kalian ini
mengganggu kesenanganku !”
“Hei Kean, cepat kau balut luka Qory, kalau kau tak mau dia
mati di sini. Dan kau Jose, ....
__ADS_1
Dion menyeringai, Senja hanya terdiam mendengar perdebatan
mereka yang seperti satu keluarga yang terpecah belah karenanya. Senja menoleh
ke arah Nadia yang bercucuran airmata dan darah, ‘apa yang harus kulakukan, ya
Allah tolonglah hambaMu ini,’
Senja tak bisa berbuat apapun, seolah tenaganya sudah
terkuras habis, sekucur badannya mulai terasa nyeri yang menusuk-nusuk.
“Cantik, ayo kita lanjutkan urusan kita !”
“Maumu apa ?”
“Mauku.... hahahaha mauku katanya,,, hahaha”
“Hei, cepatlah, aku tak punya waktu banyak,,,, “
“Baiklah.... aku beri kau kesempatan, bila dalam sepuluh
menit kau bisa memukul atau menendangku, aku akan bebaskan kalian, tapi jika
tidak, kau jadi milikku !”
“Ok Deal!”
Dion terbahak mendengar jawaban Senja yang secepat kilat,
Jose yang mencoba protes namun diabaikan oleh Senja dan Dion.
Nadia berkali-kali berteriak histeris mencoba menghentikan
Senja, namun gadis itu hanya memberikannya senyuman, ‘hanya ini yang bisa
kulakukan, berharap aku bisa memukulnya, itupun kalau aku bisa bertahan...
Hans... Hans kumohon datanglah !’ bathin Senja.
Ternyata tempat yang ditunjukkan Dewa lumayan jauh membuat
Hans mengemudikan mobilnya seperti orang gila. Pikirannya semakin tak tenang,
apalagi setelah Iwan mendapatkan telpon dari Rehan, bahwa ayah mereka dilarikan
ke rumah sakit karena serangan jantung.
“Bunda langsung ke Solo, ia berpesan agar aku dan Senja
langsung menyusul siang ini !”
“Bunda tahu Senja hilang ?”
“Tidak !”
Iwan menghembuskan nafas kasar, sejak mendengar kosan Senja
terbakar ayahnya langsung terbaring sakit, dan sekarang dilarikan ke rumah
sakit. Pertahanannya sebagai lelaki hampir runtuh, matanya mulai berkaca-kaca.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja !”
Lelaki itu hanya memandang kearah Hans dengan sejuta arti,
harapan atau sekedar hiburan, nyatanya sepenggal kalimat dari Hans bisa
membakar semangatnya untuk menemukan Senja.
****( ^-* )*****
Lima menit berlalu namun tak seujung kukupun pukulan Senja,
bisa mengenai Dion. Tawa lelaki itu malah membuatnya semakin down. “Tenang
Senja, kau tidak akan bisa kalau kau gopoh begitu,” ucap Jose.
“Wow, Jose...Jose... kau takut gadis ini masuk kepelukanku,
aku akan memberikan kau jatah setelahku “
__ADS_1
“Sialan kau,” Jose mengarahkan pentungan ditangannya ke arah
Dion, secara membabi buta, Dion
menangkisnya dengan tangan kosong dan
pentungan itu berhasil terlepas dari tangan Jose. Jose dan Dion baku hantam dengan tangan
kosong, saling tendang dan pukul.
Tampaknya, Jose tak berharap ia menang, namun dengan sisa
tenaganya ia menyerang Dion yang nyatanya kemampuan fisiknya lebih kuat
dibandingnya.
Kean tersenyum melihat kearah Senja, tanpa tedeng
aling-aling lelaki itu menarik rambut Senja dengan kuat membuat gadis itu
terpekik. Senja mencoba melawan Kean
namun tenaganya jauh berkurang bahkan nyaris habis.
Nadia menyikut perut sibisu dan berhasil membuat cengkraman
dilehernya melonggar karena bisu sedang lengah, namun hampir saja terbebas, ujung pisau bisu berhasil menyabet
perut wanita itu, hingga Nadia jatuh ke lantai. Senja terpekik, ia berlari
kearah Nadia namun sayangnya tangannya ditarik oleh Kean.
Lelaki itu seperti kesetanan, ia tak peduli yang dihadapinya
itu perempuan, dengan kasarnya Kean menarik dan menampar keras wajah Senja
hingga gadis itu terlempar ke lantai.
“Senja ....” dengan terseret, Jose mencoba meraih tubuh
Senja yang tergeletak di lantai, dengan tubuh babak belur, pergerakan Jose
melambat. Kean dan Dion tertawa lepas, melihat ketiganya sudah tak berdaya,
Kean berjalan ingin menyeret tubuh Senja, namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan
suara Pintu yang di dobrak dari luar.
“Beraninya kalian, “ Hans dengan marah langsung berjalan
kearah Kean, lelaki itu berjalan terus tanpa perdulikan pistol yang mengarah
padanya.
Sepersekian detik terdengar suara tembakan, namun meleset
tak mengenai Hans yang dengan gesit mengelak dan berhasil menendang keras ulu hati
Kean.
Lelaki itu mengaduh, Dion tersenyum sinis, seakan melihat
lawan sepadan dihadapannya. Tak ragu Dion langsung meluncurkan bogemnya kearah
Hans. Dua lawan satu, namun tak membuat Hans mundur. Bisu mencoba maju namun ditahan oleh Iwan dan mereka juga saling baku hantam.
Pertikaian itu baru berhenti ketika Dewa dan polisi sampai
di TKP, peluru panas membuat Dion tak bisa lari, darah memenuhi lantai, dengan
sayup terdengar suara Senja.
“ Hans...Hans...”
Dengan terhuyung lelaki itu meraih tubuh gadisnya yang
lunglai tak berdaya...
“Maaf...maaf aku terlambat....”
Air mata Senja jatuh, ia langsung memeluk erat tubuh
Hans....”terimakasih sudah datang!”//// bersambung...
“Makasih ya sudah mau baca,,,, (^-*)”
__ADS_1