
Senja Untuk Sang Direktur
Pernikahan Yang ......
Sebulan berlalu setelah kejadian itu namun tak ada
pergerakan dari Lea, perempuan itu bak hilang ditelan bumi setelah melepas
Senja dengan segala kontrak yang mengikat. Senja sempat tercengang saat
mendengarnya dari Inezz, Ia ingin menemui Lea untuk bertanya langsung namun Lea tak ingin menemuinya.
Pagi ini Senja tampak bahagia, ia bersama Vanya dan kedua orang tua Vanya akan berangkat ke Solo,
tentu saja Hans juga ikut, tak ketinggalan pasangan Ryu dan Kella. Bahkan Kella
dengan perut buncitnya, paling semangat untuk mempersiapkan barang hantaran
untuk lamaran.
La, kok calon perempuannya ikutan rombongan calon lelaki,,,
ya iyalah, pasalnya Iwan sudah pulang duluan jadi ibunya berpesan agar Senja
berangkat dengan rombongan saja. Di Solo pun persiapan sudah dilakukan, bunda
sibuk menyiapkan jamuan, sedangkan dua kakak ipar Senja sibuk beberes rumah,
merapikan halaman, walau sederhana namun sangat cantik.
Rombongan sampai tepat sebelum makan siang, jadilah jamuan
makan siang yang hangat dipenuhi oleh canda tawa kedua keluarga. Akhirnya,
pihak Senja yang diwakili oleh pamannya dan pihak Hans yang diwakili oleh
ayahnya Ryuji mengadakan pembicaraan serius, yaitu melamar anak perempuan
satu-satunya dari keluarga Alamsyah.
Semua tampak senang dan bahagia, dan akhirnya ditetapkan
ijab kabul akan dilakukan dua minggu lagi. Hans menatap lekat wajah gadisnya,
‘akhirnya bisa bersama dengannya,’ gumam Hans dalam hati, tak sadar bibirnya
tersenyum dan langsung terlihat oleh Senja yang duduk tak jauh darinya. Gadis itu
membalas senyumannya, senyum teduh yang selalu membuat hati Hans bergetar.
“Harusnya langsung akad aja ya sayang,“ ucap Hans pada Senja
yang duduk dipangkuannya,
“iya sih, tapikan bunda mau nyiapin semuanya dulu, “
“Aku sih udah siap,”
“Yey,,,,dasar,” Hans mengeratkan pelukannya , sesekali ia
mengecup mesra pipi gadisnya yang membuat wajah gadis itu bersemu merah.
“Senja untuk Hans,” ucap Hans lagi sambil melihat ke wajah
Senja sambil tersenyum lalu menatap jingganya langit kala sore hari.
“Senjanya pak Direktur,” sahut Senja sambil memutar
tubuhnya, kini mereka saling menatap, Senja menyentuh wajah Hans dengan lembut,
lalu memberi kecupan di kedua kelopak mata pria yang dicintainya itu, lalu turun
kehidung dan sampai ke...
__ADS_1
“Kok berhenti sih...,” protes Hans sambil membuka matanya,
pria itu menatap gadisnya dengan setengah berharap,
Senja tersenyum, lalu memberi sentuhan dibibir lelakinya
dengan bibirnya, ciuman yang lembut yang membuat Hans berlena, mabuk dengan
cinta sang gadis,,, Senja sempat menghentikan
ciumannya namun ditarik lagi oleh Hans, dan kini mereka saling memberi
lumatan-lumatan mesra, lama bahkan seperti tak ingin dipisahkan.
Seminggu menjelang akad, keluarga Senja sibuk mengurus
segala sesuatunya, anak perempuan satu-satunya, ya pasti harus meriah dong, walaupun harus melangkahi sang kakak yang
menyuruhnya duluan untuk menikah.
“Gak pa-pa ni mas Iwan, adek duluan,,,kalau gak kita
barengan aja, gimana ?”
“Nggak lah,,, masnya tahun depan aja,,, ingat ya, adek
jangan galak-galak sama Hans,” ucap Iwan sambil mengacak-acak rambut adiknya,
sedangkan Senja hanya manyun manyun lalu tersenyum.
Hans sudah kembali ke Jakarta tiga hari setelah lamaran,
beberapa hari tak ketemu membuat pasangan ini harus menahan rindu walaupun
setiap malam Hans selalu menelpon calon isterinya itu.
Tiga hari menjelang pernikahan, rumah calon mempelai wanita
sudah penuh dengan sanak keluarga baik yang jauh maupun dekat, melaksanakan
disusul oleh keluarga besar Hans sore harinya.
Ryuji yang dijadwalkan akan datang bersama Hans dan Fabio
ternyata datang duluan, karena sang isteri yang merengek memintanya datang.
Sayangnya Hans yang dijadwalkan datang sehari sebelum hari H harus menundanya
karena ada urusan kantor yang harus diselesaikan dan ia berangkat pagi dengan
penerbangan pertama ke Solo.
“Bedaknya jangan ketebelan mbak,, ntar pengantinnya kayak
pakai topeng,” protes Kella pada juru rias yang sedang mendandani Senja, gadis
itu hanya tertawa kecil melihat kebawelan Kella, kadang Senja mengelus-elus
perut calon ibu muda itu kalau Kella sudah terlalu cerewet.
“Jangan galak-galak
ntar ditendang ama dedeknya lo,”
“Huss... mantennya diem aja,,, biar mami Kella yang urus,”
protes Kella sambil tersenyum pada Senja yang duduk disebelahnya.
Tak lama Handphone Senja berdering, Kella yang langsung
mengambil Hp yang kebetulan ada di dekatnya,
“Siapa ,” tanya Senja
__ADS_1
“Biasa,,, Hans... udah sabaran, nelpon mulu,”
“Hallo....” ucap Kella mengangkat telpon dari Hans
“Kay..... Senja mana ?,” ucap Hans diseberang sana
“Ada nih,,, lagi make up an,,, kamu dimana ? udah sampai
belum,”
“Udah ni, lagi di bandara... nunggu mobil jemputan,,, Senja
mana, aku mau ngomong,”
“Iya bentar,”
Kella memberikan Hpnya pada Senja dengan senyum menggoda,,,
tak jarang Kella juga ikut nimbrung obrolan mereka,,, itu panggilan terakhir
,,,, “aku sayang kamu,” ucap Hans pada gadisnya,,,,
“Aku juga sayang pak direktur, I love u,” tutup Senja.
Detik-detik menegangkan itu mulai datang, semenit serasa
sejam, bahkan sejam terasa sehari. Para tamu sudah mulai gusar, begitu pula
dengan keluarga besar yang panik karena calon mempelai pria belum juga tiba.
Azan zuhur sudah lewat dari sejam, namun tak ada tanda-tanda
Hans akan datang, bahkan saat dihubungi HP nya sudah tidak aktif. Ryu mencoba
menelpon Fabio namun hasilnya sama, bahkan Iwan sudah menyusul ke Bandara untuk
mengecek, namun hasilnya nihil karena Hans tak ada disana.
Pria itu menghilang bahkan sampai senja menyapa dengan
jingganya yang menyelimuti langit,,, Senja yang ada dikamar duduk disamping
jendela, ia hanya terdiam membiarkan angin menyapu wajah lelahnya, membiarkan
kegundahannya ikut larut bersama datangnya malam.
Tak lama terdengar teriakan panik dari luar kamar, Tante
Hima berteriak karena tiba-tiba bunda jatuh pingsan, mungkin kelehan mungkin
juga stress.Senja berlari ke muka pintu melihat tubuh bundanya sudah digotong
masuk ke kamar.
Ryuji langsung memeriksa keadaan bunda, dan tanpa ditunda ia
ingin bunda langsung dibawa ke rumah sakit.
.
.
.
Kabut hitam menyelimuti sang gadis, setelah dua hari dirawat
di rumah sakit, bunda menghembuskan nafas terakhirnya. Pesta yang berubah
menjadi duka, siapa yang bisa mengelak dari takdir Illahi, bahwa Rezeki, jodoh
dan maut ada di tangan Tuhan.
(///// Terimakasih yang sudah mau baca.... Chapter depan
__ADS_1
akan hadir Dimitri Alexander diantara mereka ....... MOHON MAAF LAHIR BATHIN )