
SENJA untuk Sang Direktur
Kampus in Love
Enam bulan kemudian
Tak terasa sudah enam bulan berlalu, Senja kembali menapakan kakinya ke Jakarta
tapi kali ini tak sendiri, ia ditemani oleh Iwan yang sudah pindah kerja dikota ini.
Untuk tempat tinggal, mereka memilih mengambil kontrakan yang
tak jauh dari kampus, supaya memudahkan Senja yang akan menyelesaikan
skripsinya.
Senja merebahkan diri ditempat tidur yang sudah tertata rapi dan bersih, sebelum mereka berangkat,
Iwan sudah menghubungi Dewa untuk dicarikan kontrakan yang nyaman dan hasilnya
memang melebihi ekspektasi, sangat bagus bahkan sedikit mewah.
Senja menutup matanya, digenggamannya ada handphone yang
sedari tadi tak dilepaskannya. Beberapa kali gadis itu ingin menghubungi Hans
namun kembali di batalkannya.
Hubungannya dengan Hans merenggang setelah kejadian itu,
bahkan Hans tak pernah menghubunginya lagi karena marah besar.
Hari itu setelah tujuh hari meninggalnya ayah, seorang tamu
tak diundang datang menemui Senja, orang yang diwanti-wanti oleh polisi karena
masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang). Pria itu berhasil melarikan diri
setelah penyergapan atas kasus penculikan yang melibatkan Senja.
Jose menemui Senja malam itu, tak ada yang tahu bahwa itu
dirinya, bahkan Senja sempat tak mengenali Jose kala itu. Mata mereka saling
bertatapan, bahkan Jose memeluk Senja dengan erat, memohon maaf atas
kekhilafannya waktu itu.
Kali ini, pria itu datang untuk berpamitan, Ia akan pergi
bersama Moran dan Chynthia seperti rencana mereka di awal. “Aku tahu aku salah,
aku terlibat dengan kasus Chynthia, jadi bila kamu mau, bisa membawaku ke
polisi,”
Senja terdiam menatap Jose yang seperti penuh pengharapan
padanya, tak lama gadis itu menggeleng, “Mulailah hidup dari awal kak. Tapi
janji padaku, jangan lakukan kekerasan lagi !”
Jose mengangguk sambil tersenyum, seperti seorang anak yang
tunduk pada ibunya atau lebih mirip, suami yang berjanji pada istrinya. Tak
lama terdengar tepuk tangan dari seseorang, mata Senja terbelalak melihat sosok
yang berdiri tak jauh dari mereka.
“So Sweet Senja,...”
“Hans,,,, bukan begitu, jangan salah paham,”
“Salah paham apa, begitu mesra, pelukan, tatapan atau
mungkin ciuman mesra setelah ini, maaf kalau aku mengganggu,”
“Hans,”
__ADS_1
Senja tak mampu berkata-kata, tatapan Hans seakan ingin
membunuhnya, bahkan pria itu menariknya dengan kasar, ia tak bisa mendengar
penjelasan apapun saat ini
“Apa, mau bilang apa lagi ? Seharusnya aku tahu dari awal,”
“Bukan begitu, kamu ha...
“Ahggg....
Hans menolak Senja dengan kasar, hingga gadis itu terjatuh
ke tanah
“Hei, jangan kasar ...” Jose membantu Senja berdiri,
“Diam ********....
Tanpa permisi, Jose melayangkan pukulan keras ke wajah Hans,
lelaki yang sedang terbakar emosi itu tentu saja tak diam begitu saja, ia juga mendaratkan
pukulan ke perut Jose. Perkelahian tak dapat dielakkan, dan baru berhenti
ketika Moran berhasil menarik Jose dan membawanya pergi.
“Kau gila ya ?”
“Dia yang gila, bisa-bisanya Senja menyukai lelaki kasar
seperti itu,!”
Moran hanya memandang Jose yang masih terlihat kesal, Pria
itu membawa Jose ke mobil dan pergi ketempat seharusnya mereka tuju.
Sementara Hans yang masih terduduk di tanah, menepis tangan
Senja yang ingin membantunya berdiri. Tak sedikit pun kata-kata keluar dari
......^..^........
Beberapa lama setelah itu, Fatma datang bersama Fabio,
selain menjenguk mereka juga mengantarkan surat rekomendasi dari perusahaan
untuk Senja, tanda gadis itu sudah selesai magang di perusahaan.
Dibalik itu Senja tahu , bahwa dirinya telah dipecat secara
tak langsung,,, ‘well terserahlah, dasar cowok lebay, marah sampe segitunya’ gumam Senja dalam hati.
Dari hari itulah semuanya berakhir, tanpa kata Putus dan
.....
Senja meletakann Hp, bahkan nomor Hans sudah dihapus dari
kontak telponya agar ia bisa mengendalikan dirinya untuk tak menghubungi lelaki
itu,”harga diri dong, udah dicampakin juga....keep Spirit girl,”
Senja menyemangati dirinya, walau ia tahu, menghapus kontak
telpon Hans juga percuma karena ia sudah hapal nomornya.
-----^-*-------
Senja sudah siap dengan ransel dan celana jeans andalannya,
ia juga mengikat rambut nya keatas, tanpa polesan make up seperti yang biasa ia
gunakan kala masih menjadi orang kantoran.
Gadis itu kembali bercermin dan tersenyum “good bye my
boss,,, go go Senja” Senja melangkahkan kakinya keluar, celingak-celinguk
__ADS_1
mencari kakaknya yang belum kelihatan batang hidungnya sejak pagi.
Senja mengerutkan keningnya,”kemana tuh orang, mas Iwan...o
mas Iwan where are you,” Senja berjalan menuju pintu, ia sempat mengerling ke
atas meja makan, yang sudah penuh dengan makanan.
“Beh,,, dia tebar pesona pagi-pagi” Senja berjalan dengan
langkah panjang menghampiri Iwan yang sedang mengobrol dengan perempuan Sexy di
depan rumah.
“Woi, dari tadi dipanggil gak nyahut-nyahut,”
“Eh... dek kamu mau kemana ?”
“Ya elah ni orang, kekampus lah, emang mau ngemol pagi-pagi gini... btw siapa ni”
“ini, yang punya kontrakan,,,oh iya mbak Sinta ini adek saya, Senja,”
Senja tersenyum manis menyambut uluran tangan Sinta padanya,,, Sinta sangat ramah bahkan kelewat ramah kalau sedang bicara dengan Iwan,,, bahasa tubuhnya sangat menggoda ditambah lagi dengan belahan rendah
baju tidur yang dikenakannya.
“Mbak, masuk dulu ya,,, yuk mas Iwan,” Senja menarik tangan
Iwan yang sepertinya masih betah berlama-lama ngobrol dengan Sinta. Bahkan
Senja sempat melihat perempuan itu dengan genit tersenyum pada Iwan.
“Betah banget kelihatannya,” Sindir Senja sambil duduk menghadap meja makan,
“biasa aja !”
“terus, masih gadis apa sudah janda ?”
“Janda anak satu,”
“Wah,,,hebat lo mas, baru sehari pindah, udah sensus aja...
gue bilangin bunda baru tahu lo,”
“Jangan macam-macem, aku gak ngapa-ngapain juga. Cuma
beramah tamah doang”
“Beh alesan .... darimana lo dapat ni kontrakan,
jangan-jangan nemenin gue cuma modus,”
“Sembarangan,,, ini Dewa yang nyariin tahu... tahu aja dia, selera
gue....hahaha”
‘sumpah ya mas Dewa, awas lo kalau ketemu gue’ batin Senja.
Senja mendecih melihat sikap kakaknya yang kegenitan,
setelah sarapan Iwan mengantarnya ke kampus. Rasanya sudah lama sekali ia tidak
ketempat ini, biasanya ia selalu bersama Vanya, rasanya jadi asing sendiri.
“Eh lo.... yang kuncir kuda kesini,,,, junior gak ada sopan
santunnya” Senja kaget ketika tiba-tiba sekelompok mahasiswa memanggilnya,
“Kalian panggil saya,”
“Iya kamu... kalau lewat depan senior kasi hormat dong...
makanya ikut orientasi biar gak Pe A’...”
Senja berjalan perlahan menuju sekelompok mahasiswa yang
memanggilnya,,,”Sialan... yang junior tu siapa.... gue ikat kalian di pohon
satu-satu,” gumam Senja kesal.....///// bersambung
__ADS_1
(Makasih ya yang sudah baca ......^-*)