Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 24


__ADS_3

SENJA untuk Sang Direktur


Kampus in Love


Enam bulan kemudian


Tak terasa sudah enam bulan berlalu, Senja kembali menapakan kakinya ke Jakarta


tapi kali ini tak sendiri, ia ditemani oleh Iwan yang sudah pindah kerja dikota ini.


Untuk tempat tinggal, mereka memilih mengambil kontrakan yang


tak jauh dari kampus, supaya memudahkan Senja yang akan menyelesaikan


skripsinya.


Senja merebahkan  diri ditempat tidur yang sudah tertata rapi dan bersih, sebelum mereka berangkat,


Iwan sudah menghubungi Dewa untuk dicarikan kontrakan yang nyaman dan hasilnya


memang melebihi ekspektasi, sangat bagus bahkan sedikit mewah.


Senja menutup matanya, digenggamannya ada handphone yang


sedari tadi tak dilepaskannya. Beberapa kali gadis itu ingin menghubungi Hans


namun kembali di batalkannya.


Hubungannya dengan Hans merenggang setelah kejadian itu,


bahkan Hans tak pernah menghubunginya lagi karena marah besar.


Hari itu setelah tujuh hari meninggalnya ayah, seorang tamu


tak diundang datang menemui Senja, orang yang diwanti-wanti oleh polisi karena


masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang). Pria itu berhasil melarikan diri


setelah penyergapan atas kasus penculikan yang melibatkan Senja.


Jose menemui Senja malam itu, tak ada yang tahu bahwa itu


dirinya, bahkan Senja sempat tak mengenali Jose kala itu. Mata mereka saling


bertatapan, bahkan Jose memeluk Senja dengan erat, memohon maaf atas


kekhilafannya waktu itu.


Kali ini, pria itu datang untuk berpamitan, Ia akan pergi


bersama Moran dan Chynthia seperti rencana mereka di awal. “Aku tahu aku salah,


aku terlibat dengan kasus Chynthia, jadi bila kamu mau, bisa membawaku ke


polisi,”


Senja terdiam menatap Jose yang seperti penuh pengharapan


padanya, tak lama gadis itu menggeleng, “Mulailah hidup dari awal kak. Tapi


janji padaku, jangan lakukan kekerasan lagi !”


Jose mengangguk sambil tersenyum, seperti seorang anak yang


tunduk pada ibunya atau lebih mirip, suami yang berjanji pada istrinya. Tak


lama terdengar tepuk tangan dari seseorang, mata Senja terbelalak melihat sosok


yang berdiri tak jauh dari mereka.


“So Sweet Senja,...”


“Hans,,,, bukan begitu, jangan salah paham,”


“Salah paham apa, begitu mesra, pelukan, tatapan atau


mungkin ciuman mesra setelah ini, maaf kalau aku mengganggu,”


“Hans,”

__ADS_1


Senja tak mampu berkata-kata, tatapan Hans seakan ingin


membunuhnya, bahkan pria itu menariknya dengan kasar, ia tak bisa mendengar


penjelasan apapun saat ini


“Apa, mau bilang apa lagi ? Seharusnya aku tahu dari awal,”


“Bukan begitu, kamu  ha...


“Ahggg....


Hans menolak Senja dengan kasar, hingga gadis itu terjatuh


ke tanah


“Hei, jangan kasar ...” Jose membantu Senja berdiri,


“Diam ********....


Tanpa permisi, Jose melayangkan pukulan keras ke wajah Hans,


lelaki yang sedang terbakar emosi itu tentu saja tak diam begitu saja, ia juga mendaratkan


pukulan ke perut Jose. Perkelahian tak dapat dielakkan, dan baru berhenti


ketika Moran berhasil menarik Jose dan membawanya pergi.


“Kau gila ya ?”


“Dia yang gila, bisa-bisanya Senja menyukai lelaki kasar


seperti itu,!”


Moran hanya memandang Jose yang masih terlihat kesal, Pria


itu membawa Jose ke mobil dan pergi ketempat seharusnya mereka tuju.


Sementara Hans yang masih terduduk di tanah, menepis tangan


Senja yang ingin membantunya berdiri. Tak sedikit pun kata-kata keluar dari


......^..^........


Beberapa lama setelah itu, Fatma datang bersama Fabio,


selain menjenguk mereka juga mengantarkan surat rekomendasi dari perusahaan


untuk Senja, tanda gadis itu sudah selesai magang di perusahaan.


Dibalik itu Senja tahu , bahwa dirinya telah dipecat secara


tak langsung,,, ‘well terserahlah, dasar cowok lebay,  marah sampe segitunya’ gumam Senja dalam hati.


Dari hari itulah semuanya berakhir, tanpa kata Putus dan


.....


Senja meletakann Hp, bahkan nomor Hans sudah dihapus dari


kontak telponya agar ia bisa mengendalikan dirinya untuk tak menghubungi lelaki


itu,”harga diri dong, udah dicampakin juga....keep Spirit girl,”


Senja menyemangati dirinya, walau ia tahu, menghapus kontak


telpon Hans juga percuma karena ia sudah hapal nomornya.


-----^-*-------


Senja sudah siap dengan ransel dan celana jeans andalannya,


ia juga mengikat rambut nya keatas, tanpa polesan make up seperti yang biasa ia


gunakan kala masih menjadi orang kantoran.


Gadis itu kembali bercermin dan tersenyum “good bye my


boss,,, go go Senja” Senja melangkahkan kakinya keluar, celingak-celinguk

__ADS_1


mencari kakaknya yang belum kelihatan batang hidungnya sejak pagi.


Senja mengerutkan keningnya,”kemana tuh orang, mas Iwan...o


mas Iwan where are you,” Senja berjalan menuju pintu, ia sempat mengerling ke


atas meja makan, yang sudah penuh dengan makanan.


“Beh,,, dia tebar pesona pagi-pagi” Senja berjalan dengan


langkah panjang menghampiri Iwan yang sedang mengobrol dengan perempuan Sexy di


depan rumah.


“Woi, dari tadi dipanggil gak nyahut-nyahut,”


“Eh...  dek kamu mau kemana ?”


“Ya elah ni orang, kekampus lah, emang mau ngemol pagi-pagi gini... btw siapa ni”


“ini, yang punya kontrakan,,,oh iya mbak Sinta ini adek saya, Senja,”


Senja tersenyum manis menyambut uluran tangan Sinta padanya,,, Sinta sangat ramah bahkan kelewat ramah kalau sedang bicara dengan Iwan,,, bahasa tubuhnya sangat menggoda ditambah lagi dengan belahan rendah


baju tidur yang dikenakannya.


“Mbak, masuk dulu ya,,, yuk mas Iwan,” Senja menarik tangan


Iwan yang sepertinya masih betah berlama-lama ngobrol dengan Sinta. Bahkan


Senja sempat melihat perempuan itu dengan  genit tersenyum pada Iwan.


“Betah banget kelihatannya,” Sindir Senja sambil duduk menghadap meja makan,


“biasa aja !”


“terus, masih gadis apa sudah janda ?”


“Janda anak satu,”


“Wah,,,hebat lo mas, baru sehari pindah, udah sensus aja...


gue bilangin bunda baru tahu lo,”


“Jangan macam-macem, aku gak ngapa-ngapain juga. Cuma


beramah tamah  doang”


“Beh alesan .... darimana lo dapat ni kontrakan,


jangan-jangan nemenin gue cuma modus,”


“Sembarangan,,, ini Dewa yang nyariin tahu... tahu aja dia, selera


gue....hahaha”


‘sumpah ya mas Dewa, awas lo kalau ketemu gue’ batin Senja.


Senja mendecih melihat sikap kakaknya yang kegenitan,


setelah sarapan Iwan mengantarnya ke kampus. Rasanya sudah lama sekali ia tidak


ketempat ini, biasanya ia selalu bersama Vanya, rasanya jadi asing sendiri.


“Eh lo.... yang kuncir kuda kesini,,,, junior gak ada sopan


santunnya” Senja kaget ketika tiba-tiba sekelompok mahasiswa memanggilnya,


“Kalian panggil saya,”


“Iya kamu... kalau lewat depan senior kasi hormat dong...


makanya ikut orientasi biar gak Pe A’...”


Senja berjalan perlahan menuju sekelompok mahasiswa yang


memanggilnya,,,”Sialan... yang junior tu siapa.... gue ikat kalian di pohon


satu-satu,” gumam Senja kesal.....///// bersambung

__ADS_1


(Makasih ya yang sudah baca ......^-*)


__ADS_2