
Senja Untuk Sang Direktur
**Ternyata **
Ryuji hanya terdiam mendengarkan pertanyaan yang diajukan oleh Hans, andai dia tak tau tentang kenyataan itu mungkin akan lebih mudah baginya untuk menjawab, sayangnya semalam Dime datang menemuinya dan menyatakan bahwa
dia dan Senja sudah menikah.
“Hans, orang yang paling tepat menjawab pertanyaanmu itu adalah Senja, bukan aku,” jawab Ryu, jawaban diplomatis yang nyatanya tak membuat kegusaran hati Hans menghilang.
“Sudahlah, dia berhak bahagia, walaupun bukan denganku,” pungkas Hans pelan, wajahnya tampak murung kembali, ia mencoba menggerakan
kakinya sedikit demi sedikit dan itu menjadi pemandangan memilukan untuk Senja.
“Kak Dimi, kita pulang saja,” ucap Senja yang sejak tadi berdiri di samping pintu masuk,
“ Tak jadi masuk ?”
Senja menggeleng lalu dengan bantuan Dime berjalan menjauh dari sana.
Keesokan harinya di kantor Dime /////
“Tolong bantu aku mencari bukti tentang kejahatan wanita ini, lakukan dengan secepatnya,” ucap Dime pada seseorang berpakaian serba hitam, lelaki itu sempat menilik foto yang diberikan Dime padanya.
“LEA ? Kalau tak keberatan kenapa anda ingin menyelidiki wanita ini ? Apa ada hubungannya dengan bisnis ?”
“Bukan, ini urusan pribadi, yang kudengar dia terlibat dalam penculikan dan penganiayaan direktur JY, aku ini kamu mencari bukti keterlibatannya,”
“Heem.... anda sudah menimbang risikonya ? Tak ada hal baik jika mencoba mengusiknya,”
“Lakukan saja, “ ucap Dime dingin sambil menuliskan selembar cek dengan nominal besar pada pria itu.
“Baiklah,,, seminggu kemudian anda akan menerima kabarnya,” ucap Pria itu berlalu sambil membawa cek itu pergi.
Dime meremas selembar kertas yang ada di mejanya, beribu tanya muncul dibenaknya, kenapa ia harus melakukan ini, untuk siapa ? Senja ?
entahlah, tapi yang jelas setiap ia melihat air mata di wajah Senja, ia tak
bisa mengabaikannya.
“Senja,,, kenapa kau membuat kekacauan seperti ini,’ gumamnya.
..... ^-*.......
Hari ini Senja memutuskan untuk berdiam diri di rumah, tak ke rumah sakit, kali ini ia yang takut untuk bertemu dengan Hans. Dengan keadaan seperti ini, ia seperti menjadi perempuan jahat yang pergi meninggalkan kekasihnya dan menikah dengan orang lain.
“Senja kenapa melamun begitu, kamu masih sakit ?”
“Nggak kok mi,,,, Mommy mau kemana udah cantik gitu,,,, ngegebetin pak RT ya,”
“Huss... kamu ini ngomong kok sembarangan, Pak RT itu ada isterinya, yang duda itu pak RW,”
“Hahaha... maaf-maaf adek lupa,”
“Kamu gak kemana-mana hari ini ? temenin mommy aja yuk !”
“Kemana mi,,, kerumah pak RW ?”
“Sembarangan,,,,memangnya mommy cewek apaan ! ..... Mom mau
ke mal, cari perlengkapan untuk ulang tahun Radinka minggu depan,”
“Oh,,, Radinka mau ulang tahun ya,,, asik donk,,, “
“Yuk, temenin mommy,,”
Senja beranjak dengan wajah sumbringah, ia baru tahu bahwa
Radinka akan berulang tahun minggu depan, ‘Ibu macam apa aku ini, ulang tahun
anaknya saja gak tahu,’ ucap Senja sambil geleng-geleng melihat wajahnya di
__ADS_1
cermin.
Dengan cepat ia berganti baju dan mengikat sebagian atas
rambutnya tapi membiarkannya tetap terurai. Mereka pergi ditemani supir yang
memang biasa mengantar mom kemana-mana. Senja menggandeng tangan Mom, sambil
sesekali melihat pernak pernik lucu yang akan digunakan saat pesta, ia jadi
tersenyum sendiri saat melihat boneka beruang putih yang besarnya melebihi
tubuhnya.
“Seperti punyaku dulu,,,beli satu ah buat Radinka,” ucapnya sambil
mencoba meraih boneka yang terletak di tempat yang agak tinggi.
“Maaf mbak, tapi ini saya duluan,” ucap seorang wanita
berambut pendek, dia memakai pakaian casual, walau sudah agak berumur tapi
tampak masih cantik.
“Oh,,,, maaf, saya gak tahu,,, silahkan mbak ambil aja,”
ucap Senja, sambil membantu mengambilkan boneka itu, karena ia lebih tinggi.
“Senja kamu beli ap ....” kalimat Mom tiba-tiba berhenti
ketika bertatapan dengan wanita yang berdiri disamping Senja, raut wajah mom
langsung mengeras,
“Mommy apa kabar ?” ucap wanita itu sambil meraih tangan
mom, ingin menciumnya namun ditarik dengan pelan oleh mom.
mommy duluan ya Marisa ,” ucap Mommy dingin sambil menarik tangan Senja yang
terlihat kebingungan.
“Iya Mom, hati-hati,” sahut wanita itu namun tak diperdulikan lagi oleh Mom yang sudah ngeloyor pergi dari toko itu.
....^-*.....
Senja memperhatikan wajah mom yang tampak tak bersahabat,
mood wanita tua itu tampak berantakan setelah bertemu dengan wanita di toko
tadi. Senja sebenarnya ingin bertanya tapi ia urungkan karena takutnya malah
dia yang disemprot oleh mom.
“Katanya tadi ngajakin pulang, kok malah nangkring di sini,”
ucap Senja sambil menyeruput lemon tea yang baru diantarkan oleh seorang pelayan
restoran.
“Mommy laper,” jawab mommy singkat, tanpa basa basi lagi
langsung melahap makanan yang sudah terhidang. Tak seperti biasanya acara makan
kali ini benar-benar sepi karena mom hanya fokus dengan makanannya dan Senja
tak berani menyela.
“Yang itu tadi mantannya Dime, mamanya Radinka,” ucap Mom
tiba-tiba membuat Senja sedikit tersedak.
__ADS_1
“Yang mana ? yang di toko ? tapi kok Mom ketus begitu,” ucap
Senja sambil menutup mulutnya karena kelepasan bicara.
“Mom ketus ? ya wajar, setelah lima tahun tak ketemu,
memangnya harus beramah tamah dengan wanita yang pergi meninggalkan anak dan
suaminya lalu menikah dengan pria lain,”
Senja menelan ludahnya mendengar penuturan Mom, ia tak tahu
harus bereaksi seperti apa, dia hanya menunggu mom kembali berceritera, tapi
dibenaknya masa’ ada wanita yang meninggalkan lelaki yang baik seperti Dime, ‘ya gak baik-baik amat sih’, gumam Senja dalam hati.
“Dulu kehidupan Dime gak seperti sekarang Senja, dia pontang-panting mencari pekerjaan bahkan untuk lahiran Radinka saja, ia sampai
harus berhutang. Tabungan mom pun sudah habis untuk membantu mereka, dulu mom
tidak tinggal bersama Dime, “ wanita tua itu lanjut bercerita, menumpahkan
seluruh kekesalan yang dialami di masa lalu, dan satu hal membuat yang membuat
Senja tahu, bahwa Dime itu tak seperti yang ia pikirkan selama ini.
..... ^-* ......
Sore itu langit tampak gelap, sepertinya tak lama lagi akan
turun hujan deras, Hans kembali menghadap ke depan kaca jendela, kali ini sambil
berdiri, ia sudah bisa melangkah sedikit demi sedikit walau masih tertatih.
“Hei, aku dengar wanita ular itu datang kemari kemarin ya,”
ucap Vanya yang baru saja sampai, bahkan ia belum sempat meletakan bawaannya.
“Kau datang sendirian ?” tanya Hans sambil berbalik badan.
“Iya,,, papa dan mama tadi menyuruhku kemari, katanya Ryuji
ada operasi malam ini, jadi tak bisa menjagamu,”
“Yang aku maksud temanmu yang kemarin, apa ia tak ikut denganmu hari ini ?”
“Ha ?” Vanya menatap bingung, apa Hans sudah tahu siapa yang pingsan kemarin,
pikirnya dalam hati. “Iyaaa.... kemarin aku cuma kebetulan ketemu dia di sini
kok,,,”
“Bagaimana keadaannya ?” tanya Hans lagi, yang membuat Vanya
semakin gugup.
“Baik,,, sudah pulang kemarin pagi, kamu ini kenapa sih, aku
tanya lain kamu jawab lain,,,dasar,”
“Senja, kemarin itu Senja bukan ?”
“Ha ? bukan kok,” kilah Vanya lagi, sambil membongkar
bawaannya dan menyusunnya di nakas samping tempat tidur.
“Vanya,,,, aku ingin bertemu Senja,
“Ha ? kenapa ? bukannya kamu ....
“Aku Rindu .....”
__ADS_1
//// Bersambung....... (Maaf ya ... up nya telat banget... selamat membaca ^-*)