
Hans menghentakkan tangannnya ke dashboard mobil dengan
keras,,, ia sempat terdiam sebelum keluar menyusul Senja.
“Senja....”
Hans berlari kearah Senja, yang tak menoleh walaupun ia memanggilnya, ia tahu Senja sedang menangis
dan Hans langsung memeluk gadis itu dari belakang, ..”maaf...maafkan aku,”
“apaan sih minta maaf mulu’,,, berapa kalipun kamu minta
maaf gak akan cukup nebus kesalahan kamu,”
“Iya aku tahu ... tapi tolong jangan menangis ..”
“Siapa yang nangis, rugi nangisin cowok kayak kamu,”
Hans tersenyum sambil mengeratkan pelukannya, Senja tak berontak karena sibuk menghapus air matanya.
“Masasih ? “ Hans memutar tubuh Senja hingga menghadap ke
arahnya, mengangkat wajah gadis itu yang masih tertunduk.
“apa ?”
“Galak banget sih,” Hans tersenyum sambil menempelkan
dahinya ke kening Senja, tangannya meraih tangan Senja dan menggenggamnya erat.
Mereka hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun, sepertinya malam bisa
merasakan kerinduan yang mereka rasakan.
SENJA UNTUK SANG DIREKTUR
MESUM
Matahari hampir menutup diri ketika Senja dan Art berdiri di
balkon hotel, Senja masih tak habis pikir kenapa ia jadi ikut menemani Art
keluar kota untuk mengisi seminar. Awalnya ia hanya bercanda pada Art untuk
menelpon bosnya, tapi ternyata laki-laki itu benar- benar menelpon dan Senja di
beri libur selama dua hari.
“Emangnya,,Pak Art ngomong apa sih sampe gue bisa dikasi
libur sama mbak Lea?”
“Mau tahu aja,,, asal kamu tahu aja ya,,, suara aku tuh
merdu banget ditelpon, buat meleleh para wanita ,”
“Ish, mulai deh kepedean. Trus gue ngapain kalau kamu lagi
seminar,”
“terserah mau ngapain, ikut juga boleh !”
“Ogah,,, mending dikamar, bobo...”
Art tersenyum melihat Senja yang cemberut, langit yang
memerah serta suara ombak yang berdebur-debur tak dapat mengalihkan pandangan
Art pada wajah Senja. Senja yang tak sadar, masih ngedumel sendiri sambil
meraih kursi dan duduk menikmati keindahan matahari terbenam.
“Senja...”
“apa ?”
“Kamu ini,,, gak bisa manis sedikit ya,”
“Emm .... iya... apa ?”
“eee.... gak jadi deh,, aku masuk dulu,”
“Kok masuk sih... liatin sunsetnya dulu dong,”
__ADS_1
“Aku udah nikmatin Senjanya,,, cantik banget,,”
“hahaha makasih ya,!”
“Sama-sama,” teriak Art dari dalam kamar sambil senyum
tersipu.
----*-*------
Suasana Maestro yang senyap langsung terdengar riuh ketika
Fabio dan Hans berjalan masuk ke kantor itu, dua mahluk tampan menjadi hawa segar bagi maestro yang rata-rata
di isi karyawan wanita. Tak sedikit juga yang bergunjing tentang kehebatan boss
mereka yang bisa menggaet pria tampan untuk dinikahi.
“Gila’ jadi pusat perhatian kita,” bisik Fabio sambil
tersenyum pada beberapa karyawan wanita yang melirik ke arah mereka.
“Jangan terlalu senang,,, sehabis ini kau akan bertemu singa
betina,”
“Haha, itu kamu aja,,, gue sih nggak !”
Hans mendengus kesal pada Fabio yang menolak menemaninya masuk ke ruangan Lea,
ia tahu wanita itu sedikit agresif kalau
bertemu dengannya dan benar saja ketika Hans masuk dengan gaya sedikit
terkejutnya, Lea langsung menggelayut manja.
“Kok, gak bilang sih mau datang ?”
Hans menilik ke seluruh ruangan tanpa memperdulikan Lea.
Sadar dengan itu, tanpa basa basi wanita itu langsung mengecup mesra pipi Hans.
“Kamu datang kesini untuk mencari asisten ku ?”
“Jangan pura-pura, mana dia ?”
“Ish... dia ambil cuti, pergi liburan dengan pacarnya ?”
Lea tersenyum lebar melihat ekspresi Hans yang marah, Lea
sudah memperkirakan ini, makanya dengan senang hati memberi izin apalagi yang
menelponnya mengaku sebagai pacar Senja.
“Kenapa ? Aku gak bohong,,, pacarnya yang menelpon ku,”
“Jangan macam-macam kamu,”
“Mana mungkin aku berani, kalau tak percaya kamu bisa
hubungi nomor pacarmya itu, kukirim padamu sekarang,”
Hans menatap ponselnya, tak lama sebuah nomor telpon masuk
ke Hpnya dan itu bukan nomor Iwan atau Dewa. ‘siapalagi ini ‘ dengus Hans
kesal, tanpa basa basi pria itu langsung meninggalkan Lea yang tersenyum
menang.
---- ^-^----
Belum lama rasanya Senja terlelap, ketika pintu kamarnya
sudah digedor dari luar. Dengan malas gadis itu mencoba bangun dari tempat
tidurnya, semalaman ia tak bisa tidur mendengar celotehan Hans yang marah karena ia pergi keluar kota.
Senja mengusap-ngusap matanya sambil menarik gagang pintu,
tak lama terlihat wajah segar Art yang memandangnya dengan senyuman termanis
yang ia punya.
__ADS_1
“Ada apa sih pagi-pagi, ganggu aja,”
“Lari pagi yuks, udah ditungguin sama yang lain,”
“Ogah ah,, ngantuk nih,”
Senja hendak menutup pintu namun ditahan oleh Art, tanpa
basa basi lelaki itu langsung masuk ke kamar Senja.
“Keluar gih, gue mau tidur nih,”
“Cepetan mandi, aku tungguin kamu”
“Pak Art...”
“Senja...”
“Ish gue masih ngantuk nih,,,” tanpa sengaja Senja menabrak
gelas yang ada diatas lemari dan airnya tumbah membasahi pakaiannya.
“Senja kamu gak apa-apa... “
“Iya,”
“kamu gak pakai bra ? ups..”
Art langsung menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat
mata Senja mempelototinya, secepat kilat gadis itu menghilang dari hadapan Art
dan masuk ke kamar mandi.
“Argggg.... cowok sialan,”
......^-*.....
Mau tak mau karena Art terus menungguinya, Senja ikut lari
pagi bersama rombongan Seminar. Rata-rata para peserta membawa keluarga atau
isteri mereka ikut Serta, Senja jadi berfikir keras kenapa Art malah
repot-repot mengajaknya.
Art terus mengejar Senja yang selalu menghindarinya, walau
ia mengatakan ia tak melihat ‘Itu’ namun Senja menyadari mata Art sengaja atau tidak selalu melihat ke ‘itu’nya.
“Udah deh, sana-sana jangan dekat-dekat risih gue sama lo,”
“Kok marah sih, kan kamu yang .... “ kalimat Art terhenti
ketika mata Senja membesar dengan wajah berapi, “Lagian semua cewek kan
punya,,, biasa aja kali,” sambung Art namun dengan pelan,
“ Artya kamu ya .... bikin beteee, ”
Dengan kesal Senja mencubit Art dengan kuat dan memukul pria
itu berkali-kali sampai Art kabur berlari ke pantai dan Senja masih terus
mengejarnya. Tanpa di sadari itu malah menjadi pemandangan romantis bagi yang
melihatnya, dan alhasil mereka jadi buah bibir di sana.
Siangnya Senja pergi jalan-jalan dengan rombongan keluarga
para paserta, ia tak memperdulikan Art yang terus menelponnya karena khawatir ,
ia asik berbelanja dan makan jajanan khas yang sudah lama tak dijamahnya.
‘kapan lagi bisa begini, besok udah ketemu sama tu nenek
lampir’ Senja senyum-senyum sendiri ketika selesai bercermin di toilet, tapi
setelah berjalan beberapa lama ia tak menemukan dimana rombongan tadi,
‘Kok gak ada ya, apa gue ditinggal,,, masasih padahal gak
lama,’ lama Senja berjalan, ia malah berbalik menelusuri arah yang salah,
selama ini ia jarang berjalan sendirian kalau ditempat yang belum familiar
baginya karena Senja itu buta arah //// bersambung....
__ADS_1
(makasih banyak yang sudah baca... bantu like ya !)