Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
PULANG


__ADS_3

SENJA untuk Sang Direktur


Chapter 23


Senja Pov


                Sekujur tubuhku sakit bahkan rasanya berkali-kali lipat namun itu semua tak sebanding dengan rasa yang


diberikan olehnya, ia terus mendekapku, memberikan kehangatan bahkan tak


membiarkan air mataku jatuh.


“Tenanglah semuanya sudah berlalu,”


"Terima kasih,”


Sekejap mataku tertutup dan Hans semakin mengeratkan


pelukannya. Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas suara bising dan ramai itu


membangunkanku, ‘eh dimana ini ? Bandara ?’


Bajuku sudah berganti dengan pakaian yang bersih, aromaku pun


sudah menjadi harum, Kulihat Vanya tersenyum dan menghampiriku,


“Ayo ?”


“Kita kemana ?”


“Pulang ke Solo !”


“Solo ?”


Vanya membantuku turun dari tempat tidur dan naik ke atas


kursi roda yang sudah disiapkan oleh pihak maskapai. Hans dan mas Iwan sudah


lebih dulu ada di pesawat, mereka menyambutku dengan wajah yang susah


diartikan.


‘ada apa ?’ aku ingin bertanya demikian, namun tak keluar


dari mulutku hingga pesawat ini akan lepas landas.


Mas Iwan hanya menggenggam tanganku erat tanpa mau melihat


ke wajahku yang penuh tanda tanya. Kulihat disisi lain, Ryuji juga ada, please,


jangan katakan keadaanku buruk, hingga dokter harus ikut menyertaiku pulang.


Perjalanan ini sangat melelahkan, setelah berjam-jam


akhirnya sampai juga, namun perasaan apa ini, hatiku gundah, apa ini pertanda,


firasat...


“Nya, ada apa ?” tanyaku, sebelum mobil ini benar-benar


berhenti di halaman rumah,


Ia memandangku dengan mata berkaca-kaca, lalu memelukku


erat. “yang kuat ya !”


Aku menolak tubuhnya, “Ada apa “ bentakku.


Pintu mobil terbuka dan mas Iwan langsung menggendongku  keluar,banyak orang, kenapa banyak orang di

__ADS_1


rumahku ? ada apa ? bukankah pesta pernikahan sudah selesai, lalu untuk apa


dipasang tenda.


 Tak lama terdengar


suara ambulans mengaung, makin lama makin jelas dan berhenti tepat didepan


dimana mas Iwan berdiri sambil menggendongku.


“Turun, turunkan adek.... !”


Aku memandang wajah mas ku itu, mukanya muram lalu ia


menurunkanku dengan perlahan, aku sedikit sempoyongan, untung Hans segera


menahan tubuhku dengan kedua tangannya.


Pintu ambulans terbuka, aku melihat bunda keluar dari sana


bersama mas Rehan. Bunda tampak lusuh, lalu beberapa orang membaca kalimah


tahlil (La ilaha illa lLah) dan mas Adam yang keluar dari mobil lain berlari menyambut


tubuh yang dikeluarkan dari ambulans itu.


Tubuhku kaku, ‘itu ayah ?’ Bunda, menghambur memelukku, aku


sempat melihat wajah ayah yang sudah memucat, lalu pandanganku kabur dan


menghitam.


----^-^-----


Kalimah tahlil terus berkumandang, kala tubuh yang sudah tak


bernyawa itu dibawa masuk ke dalam rumah. Beberapa kerabat langsung duduk dan


sedangkan Adam sibuk mengurus persiapan pemakaman ayah mereka.


Rehan menarik Iwan ketempat yang sedikit sepi,


“Adek kenapa, wajahnya babak belur ?”


“nanti keceritakan, lalu ayah, kenapa kau tidak bilang ?”


“Ayah kena serangan jantung tadi pagi, pas aku dan bunda


sampai, beliau berpulang !”


Iwan mengusap air mata dan terduduk lunglai, ia sama sekali


tak menduga ayah akan meninggalkan mereka secepat ini.


“Ayah berpesan padaku, agar kita menjaga bunda, dan adek


jangan dibiarkan tinggal sendiri di Jakarta,” lanjut Rehan.


Senja terbangun dan melihat bunda sudah duduk disampingnya


sambil memegang buku yasin. Gadis itu meraih tangan bundanya, mencoba sebisa


mungkin untuk tegar walau akhirnya air matanya terus mengalir tanpa henti.


Setelah Ashar, tubuh ayah lalu diantar keperistirahatan


terakhir, bunda, ketiga anak laki-laki serta menantunya pergi mengantar ayah,


sementara Senja tinggal di rumah. Kondisinya terus menurun, beberapa kali ia

__ADS_1


pingsan, dan membuat Ryuji harus menyuntikan obat di tubuhnya.


“Kak, gimana kondisinya ,” tanya Vanya sambil bersandar di


tempat tidur, sedangkan Ryuji sedang menyuntikkan obat pada infus ditangan


Senja


“Tidak terlalu baik, aku sudah hubungi Hans katanya


pemakamannya sudah selesai, setelah dia sampai kita ke rumah sakit,”


“Rumah sakit !”


“Emm”


Sepuluh menit berselang, Hans sudah sampai di rumah dan


langsung masuk kekamar.


“Gimana keadaannya ?”


“tak terlalu baik, ganti bajumu, kita ke rumah sakit !”


 Hans langsung membuka


bajunya tanpa mempedulikan Vanya di belakangnya, “eh sepupu, lo gak liat disini


ada orang !”


“eh, ada Vanya, sory-sory lo terabaikan,”  Hans tersenyum sambil mencubit pipi Vanya


yang kesal, lalu pria itu duduk disamping Senja sambil memegang tangan


gadisnya.


“Hans, ayah mana ?“


“Ayah sudah pulang sayang, tabah ya !”


Walaupun ia sudah mendengar kalimat itu berkali-kali namun


tetap saja Senja tak bisa menerimanya, seketika bayangan ayah berputar-putar


dikepalanya. Saat ayah marah, saat ayah membujuknya kala merajuk atau ayah yang


menjadi tamengnya ketika ketahuan berkelahi di sekolah.


Tangisnya pecah lagi dan kesadarannya hilang kembali,


“Ryu...  ia pingsan


lagi, !”


“Kita bawa ke rumah sakit sekarang”


Hans mengangkat tubuh Senja setelah infusnya di lepas oleh


Ryuji, namun tak lama terdengar suara ribut di depan, Vanya segera keluar untuk


melihat apa yang terjadi .


Tak lama gadis itu kembali dengan tergopoh, “Ada apa, Nya,”


tanya Ryuji heran melihat wajah Vanya yang terlihat pucat.


“Ada.... ada polisi di depan !”


“Polisi ?” ///// bersambung....

__ADS_1


(Makasih ya yang sudah mau baca.....  ^-*)


__ADS_2