
SENJA untuk Sang Direktur
Sudahlah
Senja heran karena dirinya sudah berada diatas tempat tidur, padahal tadi ia masih berada di kampus. Mata gadis
itu tertuju pada Iwan yang tertidur di sampingnya, dan langsung terkejut karena tangannya tersengol,
“Sudah sadar ?”
“Heem... adek kenapa ? perasaan tadi masih dikampus !”
“Kamu pingsan, masih pusing gak ?”
“Iya... siapa yang bawa adek pulang ?”
“cowok, katanya dosen kamu “
“Dosen ?”
“Ya... kita kerumah sakit, mas udah buat janji sama Ryuji buat cek up”
Iwan mengelus rambut adiknya sambil tersenyum lembut, untuk saat ini baru dia yang mengetahui Senja terkena
lupus, ia hanya berharap kondisi adiknya itu tidak memburuk.
Senja membalas senyuman kakaknya, seakan tahu apa yang dipikirkan Iwan saat ini. Dari semua saudara, sebenarnya
Iwan yang paling cuek, namun ketika rahasia tentang penyakitnya diketahui oleh
Iwan, pria itu menjadi kakak nomor satu bagi Senja, perhatian dan ketulusan
membuat senja terharu.
“Tenang,,, adek gak akan mati kok !”
“Huss, kenapa ngomong gitu.... ayo nanti kita kemalaman !”
“Mas,,, tadi yang nganterin beneran pak dosen ? Gak ada orang lain ?”
“Yang lain maksudnya ?”
“Gak kok “
Senja tersenyum, namun raut kecewa tak dapat
disembunyikannya, ‘bukannya tadi ada Hans ya, kok jadi pak dosen, apa dia
beneran gak peduli lagi,’
.....*-*......
Hans terlihat gelisah, beberapa kali ia membolak balikan
tubuhnya di atas kasur, ia ingin menelpon Senja namun sudah lewat tengah malam.
Teringat Senja, yang tiba-tiba pingsan, namun yang membuatnya shock adalah keberadaan Art yang tanpa ragu langsung
menggotong membawa gadis nya pergi.
‘mereka ada hubungan apa ?’
Hans menghempas kasar nafasnya, selama ini ia sudah mencoba
sekuat tenaga untuk tidak memperdulikan gadis itu namun nyatanya, ia semakin
sakit.
Kejadian antara Senja dengan Jose membuatnya mengaburkan
__ADS_1
perasaannya terhadap gadis itu, walau ia tahu apa yang dilihatnya di cctv itu
adalah usaha dari Senja untuk melepaskan diri dari Jose namun rasanya seperti
pengkhiatan yang menyakitkan untuknya.
Ditambah lagi, Jose yang diam-diam menemui gadisnya, dan
Senja menerimanya dengan senang hati.”Apa yang sebenarnya kau inginkan, dasar
playgirl,” umpat Hans.
****^-^-----
Senja POV
Hidup itu gak mesti harus diisi dengan sakit hatikan ? lupakan saja pria itu untuk
apa diingat lagi toh dia sendiri yang menghindar tanpa memberikan penjelasan.
Bila yang dikatakan kak Ryu itu benar, Hans murka karena
melihat adegan kissing ku dengan Jose waktu itu, please deh, itukan untuk bela
diri, lagian kalau ada cara lain untuk ngadepin orang yang dikasi perangsang,
gue pasti pilih cara itu lah, selain menembak Jose tentunya.
Hans memang selalu begitu, egois maunya menang sendiri kalau
saja dia ngomong kenapa tiba-tiba marah dan gak pedulian pasti akan gue jelasin
sejelas-jelasnya, betewe ya sudahlah,,, pak direktur good bye,,,selalu saja
bilang gitu sih, tapi nyatanya selalu kepo tuk cari info tentang dia.
Egrrrr...gila lo Senja.
begini, MENUNGGU.... Dosen yang kalau bisa diblacklist, sudah gue hapus dari
ingatan sejak kemaren-kemaren.
Sudah gak tedeng aling-aling ubah isi skripsi gue, eh
giliran buat janji selalu molor, ‘maaf ya Senja, mau jemput pacar dulu, maaf ya
ada rapat, bla...bla...’ seribu satu alasan dan satu lagi ....
“ lagi ngedumel apalagi ni, saya kan baru telat 15 menit ”
“Astagfirullah, bapak ini ngagetin aja,,, 15 menit darimana,
saya sudah hampir tiga gelas tau,”
“Oh, ya... kamu saja yang rakus,”
“Ish...”
Oh ya, satu lagi, orang ini selalu seenaknya, sebelas dua
belas lah sama lelaki yang “Itu” eh,, kenapa ingat dia lagi,,, hapus..hapus..
Hampir satu jam ngebahas skripsi, buat kepala gue mumet,
kalau skripsi, pak dosen ini selalu serius, yang sesuailah dengan predikat dia
sebagai dosen berprestasi, selalu detail dan perfect.
“Capek ? ya udah kita jalan yuk !”
__ADS_1
“Pacar bapak gak marah kalau bapak jalan sama perempuan lain
?, kalau pacar saya sih...”
“Saya kan bukan jalan sama perempuan lain, jalannya sama kamu,
mahasiswa saya, lagian diakan lagi keluar kota, gak bisa nemenin saya nonton !”
“Nonton ?”
“iya ? Mau gak ?”
“Mau... mau... kapan lagi nonton gratis !”
“gratis dari mana ?”
“Kan bapak yang ngajak, bapak yang bayarin dong !”
“Saya sih mau bayarin kamu, tapi kamunya mau gak jadi pacar
saya,”
“ih... ogah “
“Hahahaha”
-----^0^-------
Senja memilih naik taxi, setelah menolak tawaran Art yang
ingin mengantarnya pulang. Ia merasa tak enak karena sudah mengerjai Art dengan
pesan makanan yang super mahal, setelah sebelumnya ia yang membayar tiket
bioskop.
“Mau kemana mbak ?” tanya bapak supir taxi itu dengan ramah
“Area kampus pak, ada komplek perumahan Praja Nirmala,
masuk, no 12,”
“iya mbak,”
Senja tersenyum, untunglah pak supirnya langsung mengerti dengan
alamat yang diberikannya, kalau gak ia mesti pusing menjelaskan karena ia tidak
terlalu hafal nama-nama jalan.
Senja memandang keluar jendela, langit sudah tampak berwarna
jingga. Senja tersentak, ketika mereka melewati gedung perkantoran JY, halaman
gedung itu tampak kotor dengan kertas-kertas yang berserakan ditambah lagi
dengan sisa bakaran ban yang masih mengeluarkan asap dan bau menyengat.
“Bekas demo, sudah beberapa hari ini perusahaan itu didemo
karyawannya,” celetuk pak supir tiba-tiba
“Demo ? memang kenapa pak ?”
“Denger-denger sih, ada PHK besar-besaran, ditambah lagi
direktur mereka yang terkena skandal,”
“Skandal ????” ///// bersambung
__ADS_1
>>>>> makasih banyak yang sudah mau baca\,\,\, ^-* semangat...chayoo