
Senja Untuk Sang Direktur
Wanita Ular
“Tak ... tok... tak .... tok,” derap suara sepatu hak tinggi menggema di lorong rumah sakit yang tampak sepi, maklumlah ini bukan jam besuk namun wanita berbaju merah itu dapat dengan leluasa masuk ke ruang perawatan
pasien.
Dengan angkuhnya ia memberikan jas khas wanita yang dipakainya pada dua orang bodyguard yang berdiri dibelakangnya.
“Kalian tunggu di sini, jangan biarkan ada yang masuk,” ucapnya lalu berjalan masuk ke ruang yang dihuni seorang pria yang tampak
sedang lelap tertidur.
Hans membuka matanya, nyatanya bunyi langkah wanita itu mengusik tidurnya. Ia mencoba bangun dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
“Untuk apa kau datang kemari ?”
“Heem, hanya ingin melihat keadaanmu ? Apa kau baik-baik saja sayangku,” jawab Lea sambil menyunggingkan senyuman khasnya.
Lea mengamati Hans dari ujung rambut sampai kaki, lalu menarik ujung selimut hingga terbuka seluruhnya.
“Apa kaki ini sudah bisa bergerak sekarang ?”
“Kau puas dengan hasil karyamu kan, kalau aku sudah bisa berdiri lagi, mencekikmu adalah hal pertama yang akan kulakukan !” seru Hans dengan nada dingin
“Hahahaha .... ternyata mematahkan kakimu adalah hal yang tepat, kalau tidak, pasti sekarang kau sudah berlari memeluk wanita itu,” balas Lea disertai lagi dengan tawa renyahnya.
Hans hanya diam tak membalas lagi kalimat Lea, ia hanya melihat wanita itu berjalan mendekatinya.
“Mau apa kau ?” ucap Hans sambil menepis tangan Lea yang ingin menyentuh ujung rambutnya.
“Ternyata Hansku semakin tampan sekarang, tapi sayangnya yang kudengar Senja sudah punya pria lain sekarang,” bisik Lea di telinga Hans.
“Arghhh,,,, wanita sialan,” maki Hans sambil mengeliat histeris, bahkan ia menjatuhkan gelas kaca yang ada di nakas samping tempat tidur, Hans menatap Lea dengan nanar, dengan gerak repleksnya, ia menarik leher Lea dan mencekiknya dengan keras.
Mendengar suara teriakan Lea dan kegaduhan di dalam, dua orang yang berjaga di depan langsung menerobos masuk, satu dari dua pria tegap itu mencoba melepas cekikan Hans dengan kasar, bahkan saking kerasnya Hans sampai terjatuh dari tempat tidur.
Darah mengalir karena jarum infus terlepas, Hans merangkak ingin meraih besi kaki tempat tidur namun ditendang oleh bodyguard Lea yang lain,
“Cukup, biarkan saja dia begitu, lihat apa yang bisa dilakukan pria sombong ini sekarang,” ucap Lea sinis sambi merapikan kerah bajunya.
Lea melangkah keluar dan sempat menatap Hans dengan pandangan melecehkan, wanita itu bahkan melangkahi kaki Hans dan sengaja
menyenggolnya sedikit lalu berjalan keluar diikuti oleh dua pengawalnya.
“Sialan,,,, harusnya kubunuh dia dari dulu,” teriak Hans kesal.
“Pertunjukan yang menarik, harusnya gadis itu menyaksikan kau yang begini Hans,”pungkas Lea dalam hati, ia tersenyum puas dan melenggang dengan angkuhnya sambil memasuki lift.
//// Sementara itu di kamar Senja,
Dime sudah mengemasi tas Senja, sejak semalam mereka terpaksa menginap di rumah sakit karena tubuh Senja yang terlalu lemah.
“Harusnya kamu masih harus dirawat di sini, aku sudah mengurus
kamar untukmu,” ucap Dime pada Senja yang sudah duduk di sofa, sejak malam juga
ia begitu, lebih banyak duduk daripada berbaring di ranjangnya. Ia benci
__ADS_1
ranjang putih itu apalagi bau obat-obatan yang membuat perutnya mual.
“Dokter Ryu bilang aku udah bisa keluar hari ini, kak Dimi ini cerewet sekali, ayo cepetan aku ingin pulang,”
“Iya,” ucap Dime sambil memampah Senja keluar ruangan, walau sedikit khawatir ia tak kuasa mendengar rengean Senja yang tak mau dirawat di sana.
“Kamu tunggu di sini dulu ya, aku mau mengurus administrasinya sebentar,” ucap Dime sambil tersenyum lembut, ia meninggalkan Senja yang duduk di ruang tunggu dekat lobby depan, sebenarnya administrasinya sudah selesai, tapi ia perlu mengambil catatan yang ditinggalkan Ryuji.
“Wow...wow ... lihat aku bertemu siapa hari ini“
“Mbak Lea ? ucap Senja kaget
“Senja...Senja...Senja.... aku kangen sekali padamu, cantik,” ucap Lea sambil menggamit dagu Senja, sesaat Senja sempat terpaku, tak
tahu harus berbuat apa, kalau itu benar, dugaan terkuat atas penculikan dan
penganiayaan Hans adalah wanita di hadapannya ini.
Senja berdiri menatap lekat pada Lea, ‘Apa wanita ini baru
dari kamar Hans, lalu apa yang dilakukannya,’ gumam Senja dalam hati.
“Apa yang mbak lakukan disini, sudah cukup perbuatan yang
mbak Lea lakukan, aku dan Hans sudah sama-sama menderita, lalu apa lagi ?”
“Menderita ? Siapa yang kamu bilang menderita ? Hans ? atau
kamu ?” ucap Lea sambil menatap Senja dari atas sampai bawah.
Wanita itu berputar mengelilingi Senja lalu berhenti tepat
didepan wajahnya,”Bukannya kamu sudah punya lelaki baru sekarang ? siapa itu,,,
dengan mudahnya berpindah dari direktur yang satu ke direktur yang lain,”
“PLAKKK,” sebuah tamparan keras mendarat di wajah Lea,
spontan membuat wanita itu mengerang marah, tanpa basa basi Lea langsung
mengangkat tangannya ingin melayangkan balasan, sayangnya tangan itu sudah
lebih dulu ditahan seseorang,
“Jangan main kekerasan di sini, walaupun kau wanita, aku tak
akan segan-segan padamu,” ucap Dime sambil menghempaskan tangan Lea sebelum
sempat mengenai isterinya.
Dua bodyguard Lea sudah akan maju mendekat namun mundur
kembali setelah mendapat tatapan tajam dari Lea, rupanya wanita itu masih bisa
berpikir panjang padahal sudah banyak orang yang berkerumun di sana.
“Oh... ini rupanya,” ucap Lea sambil tersenyum sinis, ia
lalu mundur selangkah sambil kembali menatap Senja,,,, “Heem,,, hari ini kau
__ADS_1
menamparku sekali, besok akan kutampar kau dua kali,” ucap Lea lalu berjalan
pergi.
“Senja kamu tak apa-apa ? tanya Dime sambil memapah Senja lalu
mengajaknya duduk.
“Gak apa-apa, Kak Dimi dari mana ?”
“Habis ambil ini,,, kita pulang sekarang atau...”
Senja menatap dalam wajah Dime yang tampak khawatir, tak
lama ia menelungkupkan wajahnya di bahu pria itu, “Hans... Hans bagaimana ? aku
khawatir !”
“Kalau begitu, kita lihat Hans dulu ?” tawar Dime dan
disambut anggukan dari Senja yang masih tak bisa mengangkat wajahnya.
...... ^-* .....
Suster jaga yang kebetulan akan melakukan pemeriksaan pagi
itu, terkejut melihat apa yang terjadi di kamar Hans, pria itu tampak terduduk
diam, infusnya terlepas dengan darah tercecer dimana-mana, ditambah lagi dengan
pecahan gelas yang ada disudut lain.
“Ya Allah ada apa ini,” ucap suster itu panik, ia sempat
berteriak memanggil temannya sebelum membantu Hans kembali ketempat tidur.
Ryu yang kebetulan akan kekamar Hans setengah berlari
melihat kepanikan beberapa suster dan langsung menerobos masuk.
“Apa yang terjadi Hans ?” tanya Ryuji yang dengan cepat membantu
suster memasang alat infus baru. Tak ada jawaban dari Hans, tatapannya kosong
seperti tak menyadari sudah ada orang disana.
“Sebenarnya ada apa ini suster, mengapa bisa begini,” tanya
Ryuji setengah membentak.
“Maaf dok, saya juga baru tahu,,, kami baru berganti shif
pagi ini,” jawab suster itu sambil membersihkan pecahan beling.
“Hans.... Hans sadarlah... katakan apa yang terjadi ?” ucap
Ryu sambil memegang kedua bahu pria itu.
Tak lama kemudian Hans seperti kembali kesadarannya, ia
__ADS_1
menatap dalam mata Ryuji, “Katakan padaku,,, apa Senja sudah bersama oransg
lain sekarang ?” ///// bersambung....