
SENJA untuk Sang Direktur
Chapter 8
Senja memandangi wajah Hans dengan serius , ia masih tak
percaya lelaki yang duduk di sampingnya saat ini, benar-benar direktur pemarah
dikantornya.
“kenapa ? belum
pernah lihat orang cakep lagi minum,” Hans tersenyum sambil menenggak minuman
sodanya,
“ish..” Senja langsung mengalihkan pandangannya, dia masih
bingung kenapa Hans benar-benar datang.
“Jangan geer kamu, saya ada kerjaan di Solo jadi sekalian
mampir kemari”
“oh .... ” Senja mengangguk-angukkan kepalanya. “kirain dari
Jakarta langsung kemari “
Kini Hans yang menoleh ke arah Senja sambil tersenyum,
“berharap ya !“
“Ish ...”
“Masuk yuk !”
“ngapain?”
“Nemuin orang tua kamu,”
“Ha ? emangnya kenapa mau ketemu mereka ?
” Melamar !”
“ Arggg ..... !”
Hans tertawa melihat reaksi Senja yang kelabakan mendengar
ucapannya, Senja langsung beranjak dari duduknya meninggalkan Hans yang tersenyum puas.
....^-*......
Senja mengomel sendiri ketika mengambil baju dan pindah ke
kamar bundanya, sedangkan kamarnya akan dipakai Hans untuk menginap malam ini,
bahkan dia harus menyiapkan pakaian ganti untuk Hans.
“kok bisa-bisanya ayah baik banget sama tu orang, pasti ada
apa-apanya ni,” omel Senja sambil
memandang Hans yang sedang berbincang dengan ayahnya di teras depan
“Senja ternyata sudah punya pacar ya, jadi patah hati saya,”
“eh” Senja kaget ketika tiba-tiba, Dewa sudah berada
dibelakangnya ‘ampun deh, ni orang kayak setan, tiba-tiba bisa ada disitu’
batin Senja
“bukan pacar kok !”
“masa’, berarti masih ada kesempatan dong !”
“Ha? he ... he ..” Senja hanya bisa nyengir tak jelas
mendengar perkataan Dewa. Lelaki ini selalu bisa membuatnya salah tingkah. Senja
memperhatikan lelaki yang berdiri di sebelah itu, rambutnya sebahu dengan
postur tinggi besar, kulitnya sedikit cokelat dengan senyum selalu menghiasi
bibirnya, ‘tipe-tipe playboy tingkat atas nih,’
“Pacarnya ada berapa mas Dewa ?” Dewa kaget mendengar
pertanyaan Senja yang tiba-tiba, lelaki itu tertawa memandang wajah jahil gadis di sebelahnya itu. Dewa terdiam,
ia menunggu gadis itu menoleh kearahnya, “Senja ....”
“ya “ Senja
mengerling sejenak, mendapati Dewa sedang menatapnya,
“ kenapa nanyain itu ?”
“ iya, soalnya masnya cakep banget,”
Dewa tersenyum, dia tahu Senja sedang menggombalinya
sekarang ...”masa sih ?”
“iya, tapi kalau liatnya dari bengawan Solo, haha...” Senja
tertawa, meninggalkan Dewa yang menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“garing ya, biarin deh yang penting kabur dulu, hihi”
..... ^_^....
__ADS_1
Senja gelisah dan terus berjalan bolak balik, ia baru ingat
kalau hapenya tertinggal di kamar ketika mengambil baju tidur. Beberapa kali ia
menoleh kearah bundanya yang sudah tertidur pulas. ‘harusnya dia udah tidur
kan, jangan sampai dia buka tu hape bisa habis gue,!’
Senja berjalan pelan, kalau sampai ketahuan ayahnya, tengah
malam ia masuk ke kamar yang ada laki-laki, bisa-bisa ia digorok ayahnya yang galak itu. Senja menekan gagang
pintu, untungnya tidak dikunci, gadis itu masuk dan menutup pintunya perlahan,
agar tak terdengar suara.
‘syukurlah dia udah tidur, kemana tuh hape, perasaan tadi
gue simpan di sini’ mata Senja berkeliling ke penjuru kamar dan mendapati hape itu ada di tangan Hans yang tampak sudah
terlelap.
Senja berjalan sangat pelan, ia bahkan sampai menahan nafas
ketika tangannya akan mengambil hape,
“ups, dapat....
“aaaaaa...
Tangan Senja ditarik dengan kuat sampai ia terjatuh diatas
tubuh Hans, matanya terbelalak ketika wajah Hans hanya beberapa senti dari
wajahnya ,
“sssttt, jangan ribut kalau gak mau seisi rumah jadi heboh,”
“iya maaf, gue cuma mau ambil hape kok, lepasin,”
Hans melepas tangan Senja namun dengan cepat berbalik
menindih tubuh gadis itu dengan tubuhnya, “ampuuun, lo mau ngapain, kalau
ketahuan ayah, bisa dibunuh gue !”
“Makanya kamu jangan ribut. Tadi ngapain sama orang itu ?”
“orang siapa ? yang
mana ?”
“pura-pura gak tahu atau mau ....
“iya, iya.. itu mas Dewa temennya kakak gue. Gak
ngapa-ngapain cuma ngomong bentar lalu cabut !”
Hans menatap mata Senja, ia tahu gadis itu sedang tak
itu ditekan dari luar,..
Pintu terbuka, untung Hans dengan cepat menarik selimut
untuk menutupi mereka berdua. Jantung mereka seakan mau putus ketika ibu masuk
ke kamar, untung hanya melihat sebentar lalu menutup pintu itu lagi.
Hans memeluk tubuh Senja, aroma tubuh gadis itu membuatnya
terbuai dan makin mempererat pelukannya, untuk sepersekian detik detak jantung
mereka seperti beradu.
“pak bos. ....”
“heem ....”
“boleh lepasin gak, bunda udah pergi tu !”
“boleh sebentar lagi ?”
“gak boleh, ntar khilaf !”
Hans tersenyum, lalu melepas pelukannya, wajah Senja
terlihat memerah, dengan cepat gadis itu pergi keluar dari kamar.
‘Senja, kamu buat aku gila... !’
.... *-^ ......
Paginya para tamu dan rombongan sanak keluarga mempelai
wanita pulang ke Jakarta, bunda dan ayah tampak sibuk beramah tamah dengan
besan barunya itu yang juga akan pulang hari itu. Suasana begitu heboh, dipenuhi
canda dan tawa, terkecuali untuk Senja dan Hans, keduanya tampak begitu rikuh
begitu canggung.
Hans tak berani menatap Senja secara langsung, ia hanya
curi-curi pandang, padahal Senja ada di sekitarnya. Begitu pula dengan Senja
yang selalu menghindari kontak mata dengan Hans.
‘Aduh, gue kenapa sih, dasar tuh bos gila’, bisa-bisanya gue
jadi deg-degan gini’.
“Senja, aku pamit dulu ya !”
__ADS_1
“oh... oh iya, hati-hati mas Dewa,”
“aku calling ntar, kalo udah sampai ya, !”
Senja tersenyum sambil mengangguk, tanpa sadar ia menoleh
kearah Hans yang sudah pasang wajah perang. “ups ..”
....*-^......
Hans tampak sedang berbincang dengan Rei dan Iwan sore itu,
tiba-tiba Rei langsung nyeletuk menanyakan hubungannya dengan Senja, dengan
santainya Hans menjawab “ya itu,”
“ya itu, maksudnya lo lagi pedekate sama adek gue,” tanya
Rei dengan logat yang biasa digunakan Senja. Sambil mengunyah kacang, Hans
mengangguk sambil tersenyum, tiba-tiba tawa Iwan dan Rei pecah.
“ya ampun laris juga tuh anak, gue denger si Dewa juga
naksir dia !”
Iwan mengangguk mengiyakan pertanyaan Reihan, tak lama Hans
berdiri
“Mau kemana Hans ?”
“Mau ketemu Senja, dari pagi belom ada ngomong ni, kangen !”
Tawa Rei dan Iwan pecah lagi melihat reaksi Hans, dengan
cueknya Hans meninggalkan kakak beradik itu yang masih terus tertawa.
Senja duduk di balkon atas sambil melihat langit yang sudah
berwarna jingga, gadis itu selalu menyukai senja lengkap dengan matahari
terbenamnya. Angin sepoi-sepoi membuat rambut tergerainya melambai pelan,
“cantik ya !’
“makasih”
“maaf ya, bukan kamu tapi langitnya !”
Senja tersenyum pada Hans yang sudah duduk disampingnya,
mereka berdua sama-sama memandang langit.
“Aku mau ngomong sesuatu,”
“ngomong aja emang ada yang larang !”
Hans menatap Senja, “aku.....
“Apa ....
Lama Hans terdiam, mata mereka saling bertemu, Hans menatap
dalam mata gadis itu....
Bukan bicara, mereka malah dikejutkan oleh suara hape Senja
yang tiba-tiba berdering...
“siapa yang nelpon ?”
“Dewa”
“jangan diangkat,”
“kenapa, kan gak sopan kalo gak diangkat “
“aku bilang jangan ya jangan !”
“ish... kenapa sih,” Senja suka melihat reaksi cemburu Hans yang terlihat jelas
diwajahnya. Dengan senyum nakalnya, Senja malah mengangkat telpon itu, “Hallooo...
Hans merebut Hape Senja yang sudah tersambung, Hans membalas
senyuman nakal Senja, “Aku jatuh cinta padamu , Senja ...”
Senja terdiam mematung, kini Hans yang tersenyum puas,
melihat reaksi gadis itu. Hans pun beranjak dari duduknya dan berjalan
meninggalkan Senja yang masih mematung.
*
*
*
“Hans Diatama Putra, I LOVE YOU,”
Langkah Hans terhenti, ia lalu membalikkan badannya melihat
Senja yang berdiri beberapa meter di hadapannya.
“coba ulangi “
“Hans Diatama Putra, i.... love ... you ......... TAPI
BOHONG... HAHAHA !” ////// bersambung...
(makasih sudah baca,,,, yang jempolnya masih kosong, klik
__ADS_1
ya,,,, yang sudah, terima kasih banyak, wassalam...eh lupa,,, love juga ya,
^-*)