
Senja Untuk Sang Direktur
Dime dan Senja
Setelah ciuman dalam tadi sore, Dime dan Senja terlihat canggung malam ini, apalagi setelah bibi dan paman penjaga villa ini mohon diri untuk pulang ke rumah mereka, saking sunyinya suara detik jarum jam pun
terdengar dengan jelas.
“Kak Dimi, boleh aku nonton TV,” tanya Senja sambil mencari-cari remote TV yang tadi sempat tertangkap oleh matanya, sebenarnya ia tak terlalu ingin menonton tapi karena kikuk dan tak ada bahan obrolan, TV menjadi solusi terbaik.
“Nih,” Dime memberikan remote yang ternyata tertimpa kakinya Senja, ia melirik sekilas wajah isterinya itu lalu berbaring di sebelahnya. Entah karena tak ada acara yang menarik, chanel itu terus diganti oleh Senja
ditambah lagi ia sibuk membetulkan selimutnya yang terhimpit kakinya Dime.
“Maaf, aku lupa bawakan bawahannya, habisnya buru-buru,” ucap Dime yang melihat Senja gelagapan membetulkan selimutnya
“Makanya besok-besok kalau mau nginep bilang dulu, biar aku yang beresin bawaannya, kalau ginikan repot, masa’ kak Dimi nyuruh aku tidur pake jeans,” jawab Senja sambil cemberut.
Dime tertawa melihat wajah cemberut Senja, ia memeluk pinggang Senja yang masih dalam posisi duduk bersandar di sandaran tempat tidur. “Tapi Sexi kok,,, “ gumam Dime perlahan.
“Apa ? kak Dimi bilang apa barusan ?”
“Sexy....” tambah Dime sambil mengigit pelan perut isterinya itu.
“Aw... kak Dime apa-apaan, geli,,, awas ya aku balas jangan marah ...”
Senja yang tak tahan geli, langsung mengeliat-geliat ketika perutnya dikelitiki, ia ingin membalas namun tak berhasil karena tangan Dime lebih cepat dan jangan ditanya kemana selimut yang dipertahankannya dari tadi.
Adegan gelitik itu sudah berubah menjadi adegan mesra, dimana Dime sudah menghimpit tubuh Senja dengan tubuh kekarnya, pria itu tak ingin menahan apa yang diinginkannya selama ini, yang jelas ia sudah mengatakan perasaanya pada Senja, dan soal di balas atau tidak itu urusan belakangan.
Dime mulai mencium dahi dan kedua kelopak mata Senja, lalu terus ke hidung dan bibirnya.
“Boleh ?” tanya Dime perlahan setelah melepas ciuman mereka, lama Senja menatap wajah Dime sebelum akhirnya ia mengangguk pelan dan memejamkan matanya.
.... ^-* .....
Vanya masuk ke kamar Ryu, kakaknya itu sedang memberikan sikecil susu karena Kella tampaknya ketiduran karena kelelahan.
Vanya duduk ditempat tidur sambil memperhatikan Ryu yang telaten membenarkan posisi tidur bayi kecil itu, “Ada apa ?” tanya Ryu pelan.
“Nggak, hanya mau lihat Zalina,” sahut Vanya sambil menoleh ke arah Kella yang tertidur lelap.
__ADS_1
Ryu tersenyum, lalu memberikan secarik kertas pada Vanya, mata Vanya pun berbinar
seakan tak percaya dengan apa yang dibacanya di surat itu.
“Kita bicara di luar,” ajak Ryu.
“Ini serius ? Hans sudah dapatkan donor kornea ? Ya Allah terimakasih, Alhamdulillah,” ucap Vanya sambil duduk di ruang tamu, ia seakan tak percaya mereka dapat dengan cepat menemukan donor.
“Ia benar,,, doakan selalu supaya donor ini cocok untuk Hans,” ucap Ryu yang sudah duduk disebelahnya.
“Senja pasti senang mendengar ini,,, aku mau telpon dia dulu,”
“Vanya sebentar, ada yang mau kutanyakan tentang Senja,”
“Tentang Senja,,,, emang ada apa dengan Senja,” mimik wajah Vanya langsung berubah, ia melihat wajah Ryu yang sedikit tegang ketika membahas tentang Senja.
“Kamu tahu Senja sudah menikah ?”
“What ? Apa ? Menikah ? dengan Siapa ? Jangan bilang dengan mas Dime,”
Ryu hanya tersenyum, melihat reaksi kakaknya itu, Vanya langsung melotot, bisa-bisanya Senja tak bercerita tentang hal sepenting itu dengannya.
“Kan kan sudah kuduga, habisnya mas Dime itu perhatian banget sama Senja,,, awas kamu Senja, bikin kesal aja,,,, terus... terus ... Hans sudah tahu ?”
Vanya terdiam sejenak, “Kasihan Hans, tapi itu risiko kalau berurusan dengan wanita ular itu, aku kan sudah berulang kali ngingatin Hans waktu itu, tapi ya sudahlah,,, mas Dime pun orangnya baik kok, semoga Senja bahagia,”
“Ya, semoga begitu,” ucap Ryu sambil menyenderkan kepalanya ke sandaran kursi,
“Cuma mau bilang itu,,, atau ada yang lain ?”
Ryu melihat ke arah Vanya, ia sebenarnya tak ingin mengatakan ini, tapi setidaknya harus ada orang tempatnya berbagi.
“ Kondisi Senja tak baik saat ini,”
“ Ha ? Maksudnya penyakitnya memburuk,”
“ Ia... lupusnya mulai menggerogoti lagi dan kali ini lebih parah ,,, besok aku akan bicara dengan Dime tentang ini,”
Vanya terhenyak, tanpa sadar air matanya jatuh, begitu juga dengan Kella yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka.
...... ^-* .....
__ADS_1
Keesokan Harinya, di Villa .....
“Sayang, kenapa jalanmu begitu,” ledek Dime ketika melihat Senja baru keluar dari kamar mandi, pria itu langsung memeluk isterinya itu dengan mesra, lalu membopongnya duduk di tempat tidur
“Gara-gara siapa coba,” jawab Senja sambil mengeringkan rambutnya di pangkuan Dime.
“Sakit ya ?”
“Hehe,,, kak Dimi nyebelin tau nggak,”
Dime tertawa kecil sambil menggigit kecil dagu isterinya itu, lalu dengan nakalnya ia berbisik di telinga Senja, "Mau coba lagi nggak ?”
“ ..... “
....^-* .....
Dime dan Senja berjalan-jalan menikmati suasana puncak, mereka sempat singgah untuk menikmati sarapan mereka yang kesiangan. Keduanya tampak lahap menikmati makanannya, Dime tersenyum saat teringat pertama kali mereka pergi makan bersama, dan ia menyuapi Senja.
“Mau coba ini ?” ucap Dime sambil mengambil nasi dan lauk dengan tangannya lalu menyodorkannya pada Senja. Senja tersenyum lalu tanpa canggung makan dari suapan tangan Dime.
“Sambelnya mana ?”
“Ini pedas sayang,,,, pake sambel kecap saja,” jawab Dime, tapi melihat wajah Senja yang sedikit merengek, ia lalu mencolek kan sedikit
sambal itu dan menyuapkan pada Senja.
Dime hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi Senja yang kegirangan lalu melotot ketika Senja ingin mengambil lagi.
Hampir seharian mereka berjalan-jalan, walau tampak lelah tapi keduanya tampak senang namun sayangnya ketika mereka ingin masuk ke villa, telpon Dime berbunyi,
“Iya Mom, ada apa ?” tanya Dime yang masih memegang kunci pintu di tangannya.
“Dime kau dimana ?” tanya mom dengan nada suara yang sedikit kalut.
“Di puncak dengan Senja,”
“Pulang sekarang nak,,, Marisa memaksa ingin mengambil Radinka,” ucap mom setengah menangis.
“ Iya mom, aku dan Senja pulang sekarang,”
Dime menutup telponnya sambil menatap Senja yang bertanya, pria itu lalu mengecup sekilas dahi Senja, “Kita pulang sekarang ya,,,”
__ADS_1
“Heem,,, ada apa kak Dimi, mom kenapa,”
“Mom baik-baik saja,,, tapi Marisa ingin membawa Radinka,” ///// bersambung