
SENJA untuk Sang Direktur
Arian Sadewa
Setelah kejadian itu, Senja tak pernah mengangkat telpon dan
selalu menghindar dari Dewa, walaupun memang bukan salah Dewa sepenuhnya, tapi
buat Senja menghindari Dewa sama dengan menghindari masalah dari wanita bernama
Diana itu.
Dewa termenung dan menghembuskan napas panjang, ’gadis itu
tampak tenang di depanku tapi begitu rapuh didepan laki-laki itu, ehgg,’
“Kenapa lo wa, dari tadi mantengin Hp aja, ada masalah ?”
“Dia gak mau angkat telpon gue, dicariin ke kost juga
menghindar mulu, stress gue,”
“Ya iyalah, kalau dia masih nemuin lo, berarti dia nantangin
masalah,”
“Maksud lo ?”
“ lo gak lihat, kejadian semalam viral di medsos !”
Dewa tak mengerti apa yang dimaksud oleh Irwan, namun
setelah mengutak atik Hpnya ia baru sadar kejadian kemarin sudah tersebar di
dunia maya dan sialnya, Senja di sebut pelakor di sana.
“Shit, kenapa jadi gini sih, padahal kemarin gak ada
wartawan !”
“Wartawan emang gak ada, namun semua kan punya handphone dan
sosmed,”
Dewa mendecih, ia mengambil kunci mobil dan jaketnya, “mau
kemana lo ?”
“JY !”
“Yakin mau kesana ?”
Dewa tak menjawab pertanyaan Irwan dan tanpa pikir panjang
mengemudikan mobilnya menuju Jy group, ia tak menyangka permasalahannya akan
panjang seperti ini.
.........^_^...........
Senja menutup mulutnya, ketika melihat video yang beredar di
media sosial dengan judul gadis pelakor. Ternyata video itu sudah di edit sedemikian rupa karena tak tampak sosok
Kella di sana.
“Luar biasa !” ucap Hans yang bersender di meja kerjanya,
sedangkan Senja duduk dikursinya sambil membuka akses internet
“Udah deh, jangan ngeledek, sakit tak berdarah ni !”
“Sejak kapan kalian pacaran ?”
“enak aja, siapa yang pacaran. Lagian mana gue tau mas Dewa
itu selebritis !”
Hans tertawa sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Senja, “lalu
kita ?”
“Apaan ?” Senja memundurkan wajahnya karena wajah Hans sangat
dekat, ‘bukan Dewa aja, lo juga ikut terlibat,’ bathin Senja
Mata mereka saling tatap, tangan Hans meraih wajah Senja dan
, “Aww, jahat banget sih, sakit tahu !’ Senja memegang keningnya, yang baru
saja di sentil oleh Hans.
“Jangan suka menggoda !”
“Siapa yang menggoda !” Hans meninggalkan ruangannya sambil
__ADS_1
tersenyum, sedangkan Senja masih termenung disana.
......^_*........
Tanpa di sengaja, Hans dan Dewa bertemu di lobby kantor,
mereka saling pandang dengan tatapan tajam, awalnya Dewa mencoba ramah namun
tak disambut baik oleh Hans
“mau apa kemari ?”
“Aku mau ketemu Senja !”
“jangan ganggu dia lagi !”
“bukan urusanmu !”
Dewa berjalan melewati Hans, baru beberapa langkah dan Hans sudah berdiri didepannya lagi, tanpa pikir panjang Hans melayangkan sebuah pukulan
keras di wajah Dewa, entah apa yang ada dipikirannya saat itu,
“brengsek....”
“Kamu yang
Belum utuh kalimatnya, pukulan telak menghantam wajah Hans,
seketika darah keluar dari bibirnya. Tak tinggal diam Hans membalas, dengan
pukulan tak kalah kuatnya. Suasana menjadi heboh, teriakan resepsionis yang
histeris melihat direktur mereka bercucuran darah membuat para karyawan
berdatangan.
Fabio berlari sekuat tenaga setelah mendapat telpon dari
security yang sudah tak mampu melerai perkelahian itu. “Hans berhenti” teriak
Fabio panik, lelaki itu mencoba menarik tubuh Hans yang basah antara darah dan
keringat.
Sedangkan Dewa ditahan oleh beberapa Security, keadaannya
juga tak lebih baik dari Hans, wajahnya bonyok, darah juga mengalir dari pelipis
dan bibirnya.
dengan tatapan membunuh, Dengan sisa tenaga, lelaki itu mengangkat kursi dan
hendak melemparkannya ke tubuh Dewa yang dipegang security, waktu terasa
terhenti, orang-orang hanya tercengang melihat,
Hans sudap siap mengayunkan kursi itu tepat dikepala
Dewa,,,,,, “Jangaaan,,,,, tidak,,,, kumohon jangan !” Senja memeluk pinggang
Hans dengan napas tersengal-sengal. Hans
seperti tersadar, ia membuang kursi itu ke sisi lain, dan berbalik badan
memeluk Senja yang bercucuran air mata.
------------
Senja memencet bel beberapa kali, namun apartemen mewah yang
ditempati Dewa itu seperti tak berpenghuni. Namun baru ia akan berbalik pergi,
tiba-tiba pintunya terbuka.
“Masuklah !” wajah Dewa tampak kusut dengan lebam-lebam di
sekujur tubuhnya.
Senja berjalan masuk sambil menutup matanya dengan jari yang
direnggangkan, Dewa tersenyum kecil, lalu mengambil kaosnya yang terletak di
atas sofa.
“aku sudah pakai baju, mau apa kemari, mana Hans ?”
Senja duduk di kursi sambil meletakkan rantang di atas meja,
wajahnya hanya tertunduk tak berani menatap Dewa yang duduk di depannya.
“Dapurnya di sana !” tunjuk Dewa. Senja melongo dan menunjuk
dirinya sendiri.
“aku tinggal sendirian, kalau mau, bantuin sekalian !”
__ADS_1
Senja tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya menuju dapur
yang ditunjuk Dewa tadi. Matanya menangkap sekeliling ruangan yang tampak rapi,
tapi mungkin karena memang jarang ditempati.
Senja menyalin makanan yang dibawanya, awalnya ia membawa itu
untuk Hans, tapi karena dirumah Hans terparkir mobil Kella ia membatalkan
niatnya untuk kesana.
“Mas Dewa !”
Senja memanggil Dewa beberapa kali, namun tampaknya Dewa
sudah terlelap di sofa, Senja memperhatikan wajah Dewa yang babak belur, gadis
itu bersimpuh duduk di lantai. Mengambil salep luka dan hendak mengoleskannya
ke wajah Dewa.
Baru saja Senja akan mengulurkan tangannya, dengan cepat
Dewa menangkap pergelangan Senja, “Cuma mau olesin obat kok, bukan juga mau
ngeracunin !” ucap Senja sewot, Dewa sempat menatap mata gadis itu lalu
melepaskan tangannya, membiarkannya mengoles luka-luka itu.
Dewa menelan ludah beberapa kali, ketika Senja meniup
lukanya, entah apa yang dipikirnya, ia sendiri ingin menyangkalnya, namun
semakin lama debaran jantungnya semakin kuat,
“udah selesai, nih makan !’ ucap Senja sambil bangun dari
duduknya. Ia menyajikan makanan didepan Dewa.
Dewa mengambil makanannya sambil menetralkan dekat
jantungnya, beberapa kali ia melirik ke arah Senja yang sibuk memainkan
hapenya.
“Mas Dewa, gue pulang dulu ya, ada urusan ni !”
“Gitu aja , tunggu bentar nanti aku antar !”
“Gak usah, ntar gue makin dibenci netizen lagi, hahaha !”
Senja hendak mengambil tasnya namun tangannya di tarik oleh
Dewa, lelaki itu menatap lekat padanya, “aku masih berhutang maaf padamu
tentang waktu itu !”
“kan udah gue bilang, gak usah diba....
Dewa menarik Senja kepelukannya, yang membuat Senja
gelagapan,gadis itu berhasil menolak tubuh Dewa, namun tak bisa menarik
tangannya yang dipegang erat oleh Dewa,
“Senja,,, kita nikah saja !”
“what, ??” mata Senja terbelalak mendengar perkataan Dewa,
“Mas Dewa becanda,”
“Aku serius” Dewa kemudian berlutut sambil memegang tangan Senja,
..”Senja.... aku Arian Sadewa, memintamu untuk menjadi isteriku ,,,,, !”
Senja terdiam, tak lama gadis itu tersenyum, menarik tangan
Dewa agar berdiri, mereka saling bertatapan, “Mas Dewa meminta Senja menjadi
isteri ?”
“Iya ?”
“Harus jawab sekarang ?”
Dewa mengangguk dan tak melepas tatapan dari Senja.
“Boleh......tapi ....Nunggu upin ipin masuk SD, ahahaha,”
Senja langsung kabur meninggalkan Dewa yang termangu
mendengar jawabannya,”Upin ipin kapan masuk SDnya, perasaan dari dulu TK mulu,
arggggg”
__ADS_1
(Makasih yang sudah baca,... bagi likenya ya ^-*)