
**Senja untuk Sang Direktur **
Penasaran
Dime mengecup hangat kening mom sebelum wanita tua itu
menutup matanya untuk tidur, pikirannya sedikit tenang setelah bicara dan
mendengar pendapat mommy, ‘biarlah waktu yang bicara,’kalimat itulah yang bisa
ia benamkan dihatinya saat ini.
Senja yang tiba-tiba menerobos masuk dalam kehidupannya,
kini mengusik ritme hidupnya yang tenang, dan saat hatinya mulai menerima, kini
perempuan itu ingin lari darinya. ‘Tidak semudah itu Senja, selalu ada
kosekwensi dari setiap perbuatan,’ ucap Dime dalam hati.
Perlahan Dime berjalan keluar dari kamar mom, jam sudah menunjukan
pukul 01.00 dini hari. Dime melewati ruang tengah yang TV nya masih menyala, lelaki itu
mengernyitkan dahi ketika melihat Senja masih duduk serius menonton.
“Belum tidur ?” tanya Dime sambil duduk bersebelahan dengan
Senja, karena kursinya di desain hanya untuk dua orang, jadi posisi mereka jadi
sangat dekat.
“lagi nonton,” Senja menggeser sedikit kakinya yang
tersentuh kaki Dime, lelaki itu duduk dan ikut menikmati film, entah kenapa
kata-kata jahat yang ingin dilontarkannya pada gadis itu akhirnya hanya
tertelan di kerongkongannya saja.
Suasana hening, mungkin karena mereka serius menonton atau rikuh satu sama lain, tak
lama tiba-tiba Senja memencet remote yang membuat tayangannya berganti,
“Kenapa diganti?” protes Dime yang sedang menikmati adegan
di film itu
Senja tak menjawab namun matanya melotot memandang ke arah
Dime, “Kamu kenapa sih, itukan lagi seru,,, mereka lagi kissing,” ucap Dime
setengah tersenyum lalu mencoba merebut remote ditangan Senja,
“Kak Dimi, apaan sih,,, “ Senja memukul -mukul tangan Dime
yang mencoba mengambil remotenya, dan tanpa sengaja chanelnya malah terganti
dengan tayangan yang lebih hot,,,
“Aduh,,, tuh kan,,,, “ gumam Senja panik lalu mematikan TVnya,
sedangkan Dime hanya diam menahan tawa.
“Eh mau kemana ?”
“Kamar,,,”
“Tunggu sebentar, kok kesana ? mommy bilang kamar kita sudah
selesai ,”
“Kamar kita ?”
“Iya,” tunjuk Dime dengan bibirnya ke arah kamar utama yang
telah usai direnovasi,
Senja menatap mata Dime sesaat lalu duduk lagi kemudian
keduanya tampak canggung dan salah tingkah,
“Bukan aku, tapi mommy yang memindahkan barangmu ke sana
waktu kamu di Singapura,” tambah Dime sambl sesekali melirik Senja yang masih
__ADS_1
terdiam.
‘Pantas saja barang-barangku pada gak ada di kamar ternyata
sudah dipindah ya,’ gumam Senja dalam hati.
----^-^-----
Kecanggungan itu berlanjut hingga di kamar tidur mereka,
ranjang ukuran besar ada di ruangan itu, bertahta ukiran yang tampak selaras
dengan lemari dan meja riasnya, bahkan di bagian dinding kamar pun terdapat beberapa ukiran yang membuat ruangan
itu tampak elegan dan klasik.
“Mom yang mendesainnya, beliau suka yang ukiran begini,”
ucap Dime mengurai kesunyian, lelaki meneguk segelas air putih lalu mengambil
posisi berbaring di tempat tidur sedangkan Senja, jangan ditanya, kakinya
hampir tak bisa bergerak karena grogi.
‘La gue harus gimana ni,” gumamnya pelan sambil menatap
seluruh ruangan. Tak ada sofa di sana yang bisa digunakan untuk berbaring
seperti yang biasa ada di adegan film atau kisah novel romantis.
“Kamu gak tidur ?” tanya Dime yang melihat Senja masih
berdiri, sebenarnya dia juga canggung tapi pikiran dan tubuhnya sudah terasa sangat lelah.
“Iya ini baru mau tidur,” jawab Senja sambil berjalan
ragu-ragu ke arah ranjang, ditambah lagi tatapan mata Dime yang tak lepas
darinya.
‘Tenang Senja, tenang, stay cool,’ gumam Senja dalam hati.
“Akh ... sudah lama
aku gak tidur bareng perempuan,” ucap Dime sambil meletakan kepala diatas kedua
“Cih,” balas Senja pelan sambil menarik bantal dengan cepat,
ia sempat melirik wajah dingin Dime yang sesekali dihiasi senyum nakal.
“Kak Dimi jangan macam-macam ya, aku lagi gak mood ni,”
“Aku juga gak minat sama perempuan yang mikirin pria lain
selain suaminya,”
“Deg....” ‘Apa maksud pria ini, ia sedang menyindirku
sekarang,’ batin Senja, gadis itu menggigit bibirnya sambil memikirkan akal
untuk membalas Dime.
Senja yang tadinya sudah berbaring membelakangi Dime, kini
memutar tubuhnya perlahan, dengan gaya yang dibuat manja, ia menatap Dime
dengan wajah centilnya.
“Akh syukurlah, berarti aku aman malam ini,Se la mat ma lam
kak Dimi,” ucap Senja sambil menarik selimut yang belum digunakan Dime.
“Eh Senja,,,, aku juga gak tertarik ya mau ngapa-ngapain
kamu,...”
“.....”
“Senja ...”
“ZZzzzzz..”
“Senj....” Dime mendecak kesal, karena wanita di sebelahnya
itu sudah tidur duluan dengan pulasnya.
__ADS_1
“Bisa-bisanya dia tidur di suasana seperti ini, dasar...
eghrrrrr...”
*......*
Pagi ini suasana tampak tenang, Radinka menikmati sarapannya
dengan lahap, sedangkan sang oma selalu sibuk menyiapkan makanan pagi untuk
anak dan cucunya. Dime keluar dari kamar diikuti Senja di belakangnya.
Walau sedikit ragu namun mom menyunggingkan senyumnya,
‘padahal tadi malam mereka sempat perang dingin, bisa-bisanya pagi ini mereka
keluar dari kamar yang sama,’ batin mom.
“Senja mau sarapan apa ?” tanya mom, yang lebih memilih menyapa
menantunya lebih dulu dibanding Dime, yang pagi itu tampak sedikit kusut. Ada
lingkaran hitam di bawah matanya, “mungkinkah mereka tidak tidur semalam, tapi
Senjanya tampak cerah sekali tidak seperti orang habis “bertempur,” “ gumam mom
dalam hati.
Ekspresi mom memancing Dime untuk bereaksi, beberapa kali
pria itu berdehem supaya mom tak meneruskan menebak-nebak apa yang terjadi tadi malam.
“Aku tak bisa tidur tadi malam, wanita ini tidurnya belingsatan sekali,” ucap Dime sambil menyeruput kopi hitamnya.
Senja langsung menoleh karena merasa tertohok oleh ucapan Dime. “Siapa yang kak Dimi bilang belingsatan, aku tuh tidur rapi, enak aja nuduh sembarangan,”
“Kamukan tidur mana kamu sadar apa yang kamu lakuin semalam,
oh....” Dime menghembus nafas kasar, matanya naik turun memandang wajah Senja
yang sewot padanya.
“Kak Dimi ini, suka nuduh sembarangan, mana buktinya,,,
kalau gak bisa tidur jangan salahin aku dong !”
“Tapikan itu gara-gara ....
“Mommy kecil dan ayah tidur bareng ya,” ucap Radinka tiba-tiba, membuat reaksi terkejut untuk semua yang ada disana, bahkan mom tak sanggup lagi menahan tawanya.
“Radinka sayang, mulai sekarang mommy kecil bakal bareng ayah terus,” jawab mom.
‘Kalau gitu, Radinka boleh tidur sama mommy kecil dan ayah dong nanti malam,” ucap Radinka sambil tersenyum senang.
“Boleh dong sayang, jadi mommy ada temannya, dan gak dituduh-tuduh lagi sama...'
“Ehem....” Mom sampai memberi kode pada Senja, karena wajah Dime sudah mulai memerah.
Dime hanya diam dan meneruskan sarapannya, kepalanya sedikit
pusing karena semalaman ia tak bisa tidur akibat aksi Senja tadi malam.
(hahaha).
.....^....^.....
////Seminggu kemudian ////
Senja duduk dengan tenang di lobby rumah sakit sambil menunggu Ryuji dan Vanya datang, menurut keterangan Ryu, Hans akan mulai menjalani perawatan di rumah sakit ini, setelah kemarin kembali ke Indonesia.
Tak lama sebuah mobil fort hitam berhenti di depan pintu masuk. Senja langsung berdiri melihat siapa yang datang, pria itu kini sedang dibantu untuk duduk di kursi rodanya. Ryu dengan sigap mendorong kursi itu
berjalan masuk,ia sempat melihat sosok Senja yang berdiri di pojok sambil
menatap ke arah mereka.
“Syarat satu-satunya kenapa Hans mau kembali ke Indonesia dan di rawat rumah sakit ini adalah kamu Senja.... kamu tak boleh tau kalau ia sudah kembali maka dari itu,
ini akan jadi rahasia,’ kalimat Ryu kembali terngiang di telinga Senja,
Ia hampir menagis saat melihat Hans, “bukannya kalau dia
menganggap ku penting, ia akan menghubungiku dan berbagi duka dengannya mengapa dia tega,” rintih Senja dalam hati.
Senja melangkah perlahan, “setiap harinya aku akan berdiri dengan jarak lebih dari satu meter Hans, agar kau tak bisa melihatku,” /////
__ADS_1
bersambung