Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 26


__ADS_3

SENJA untuk Sang Direktur


Kesaaaal ...


Hans mengaduh sambil mengusap punggungnya yang terkena


hantaman benda keras, ia berbalik namun tak menemukan siapapun dibelakangnya,


“Sial banget, siapa yang nimpuk ni,” gerutu Hans yang masih


mengusap punggungnya yang terasa sakit. Matanya melihat sebuah sepatu tergeletak


tak jauh darinya, pria itu berjongkok, mengambil dan mengamati sepatu berwarna


putih itu.


“Senja, dasar cewek barbar !” Hans tersenyum tipis, lalu


membawa sepatu itu bersamanya.


“Ngapain sih,, tu liat sepatu gue dibawa kan,,, gimana gue


mau pulang coba, sepatu mahal tu,” Omel Senja pada Rino yang secepat kilat


menariknya, setelah gadis itu melempar sepatu pada Hans.


“Lo gila ya,,, ngelempar orang pake sepatu “


“La,, kan lo yang nyuruh gue ngejar dia “


“iya, tapi gak gitu juga kali Senja... maksud gue kan bisa


diomongin baik-baik gak kasar gitu !”


“Ish... itu kalo orangnya bisa diajak ngomong,,, kalau dia


mah mana bisa... kesel gue... lo juga jangan ikutin gue... “ bentak Senja


sambil berjalan berjingkat dengan sebelah sepatu. Rino hanya bisa


menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan Senja yang seperti anak kecil.


“Mas Iwan,, jemput gue sekarang !” bentak Senja sambil duduk


dikursi parkiran kampus, ia tahu jarak tempat kerja Iwan lebih jauh dibanding


jarak rumahnya dengan kampus, namun tetap saja ia mencari pelampiasan


kekesalannya.


“La dek,,, kan kamu bisa jalan kaki, mas lagi kerja ni !”


“Gak mau tahu jemput sekarang,” tiba-tiba sambungan


telponnya di putus Senja begitu saja, suaranya yang sedikit bergetar membuat


Iwan khawatir, ia tahu adiknya itu sekarang tidak dalam keadaan baik.


Tak lama sebuah sedan fort hitam berhenti didepan Senja,


beberapa kali mobil itu mengklakson namun gadis itu cuek tak menghiraukannya.


“Senja... ayo naik,” teriak Dewa, yang membuka kaca


mobilnya.


Senja sedikit bengong lalu bangkit dari duduknya,


menghampiri Dewa yang terlihat sangat berkilau siang itu, “Mas Iwan mana ?”


“Di kantor, tadi dia telpon aku, kebetulan aku disekitar


sini, ya sekalian deh jemput kamu, yuk cepat naik !”


Senja tak berkomentar dan langsung masuk ke dalam mobil,


duduk manis disebelah Dewa yang terus menatapnya. Dewa hampir kelepasan tertawa


ketika melihat Senja hanya mengenakan sebelah sepatu, tapi belum sempat ia


bertanya mata Senja sudah melotot padanya.


“Mau digendong,”


“Ogah... bisa sendiri,”


Senja langsung turun ketika mobil itu sudah berhenti di


depan rumahnya, wajahnya masih terlihat cemberut, karena Dewa terus mesam-mesem

__ADS_1


melihatnya.


 “Jadi cewek


manis-manis dikit,,, masa’ sepatu buat nimpukin orang !”


“Biarin,,, emang dia pantas buat dilempar sepatu “


“Ha,,, beneran buat nimpuk orang... ya ampun Senja, mana


boleh kayak gitu... ntar kalau orangnya balas gimana ?”


Senja terdiam, kadang ia melirik Dewa yang duduk tak jauh


darinya,,, Hatinya masih dongkol pada Hans, ditambah Rino dan Dewa yang kini


menyalahkan sikap kasarnya,


Wajah Senja mulai mengeras,  airmata jatuh satu persatu  membasahi pipinya, suara sesegukannya membuat


Dewa kaget lalu mendekat padanya.


“Kok,,, jadi nangis sih,,,maaf aku gak maksud nyalahin


kamu.... udah ya, aku salah,,,, aku yang salah, ” bujukan dan tangan Dewa yang


mengelus kepalanya membuat tangis Senja semakin menjadi, gadis itu


menelungkupkan kepalanya dikedua lututnya. Dewa yang tampak kebingungan mencoba


menenangkan Senja sebisanya.


.....^-*......


Beberapa hari ini Senja tampak sibuk, setelah pak Saragih


sang kepala Jurusan memberikan nama-nama dosen pembimbing dan pengujinya, gadis


itu hampir tak sempat memikirkan hal lain selain skripsinya.


Pagi sekali gadis itu sudah datang, bahkan kampus masih


terlihat sepi karena baru mereka yang ada kelas pagi yang sudah datang.


Senja mengembangkan senyumnya ketika melihat Rima berjalan


ke arahnya. Sekretaris pak Saragih itu menyapanya hangat dan memberikan dua


“Serius dapatnya pak Artyatama sebagai pembimbing ?’


“Iya,,, emang kenapa mbak ? Pembimbing kedua sih,,, yang


pertamanya pak Saragih, tapi kata beliau konsultasinya sama pak Artya dulu, “


“Oh,,,, “ Rima tersenyum penuh arti yang membuat Senja


penasaran, gadis itu terus bertanya namun jawaban Rima terlalu diplomatis dan


mengambang membuatnya kesal sendiri.


 Semakin lama hari


semakin siang, perlahan namun pasti kampus sudah semakin ramai, Senja terus


melihat jam di Hpnya, dan kembali membuka chatnya dengan dosen pembimbingnya


itu


“Ampun dah,,, ini udah 2 jam lebih gua nunggu,.,, tu pak


dosen kemana ... nyebelin banget, ditelpon juga gak bisa “ gumam Senja yang


sudah gondok karena kelamaan menunggu.


“Mbak,,, gue cabut dulu ya,,, capek  besok aja balik lagi,”


“eh.. tunggu bentar ... itu kayaknya udah dateng deh !”


“Ha ? yang mana ?”


“loh,,, Kamu gak kenal dengan namanya pak Art ,,, padahal


dia terkenal sekali dikalangan mahasiswa cewek di sini  loh,“


“Ish.. peduli amat sih mbak... yang mana sih orangnya ?”


Senja semakin gemas pada Rima yang terus menyanjung orang


yang namanya Artya itu,,, ‘apa ia secakep itu ? Argggg... bodo... mau cakep

__ADS_1


kek,,, mau apa, gue dah nunggu dua jam lebih ini.... ‘ Senja seakan ingin


teriak, dengan cepat gadis itu beranjak dan menghampiri orang yang ditunjuk


oleh Rima.


Senja mengatur nafasnya, ia sengaja memotong percakapan


dosen muda itu dengan beberapa mahasiswi. ‘Ups...ternyata beneran cakep...


syukurlah kalo gak gue bakal minta ganti aja nih dosen ngaret,’


Artya memandang Senja dari atas sampe bawah, tersenyum lalu


mengajak gadis itu ke ruangannya. Akhirnya Senja bisa bernafas lega setidaknya


penantian dua jamnya tidak sia-sia.


“Udah nunggu lama ? Maaf saya tadi ke bandara nganter


tunangan saya, ia mau ke Jepang pagi ini !”


Senja tersenyum miris, ‘udah tau bakal ke bandara pagi,


ngapain juga mesti janjian pagi-pagi’ batin Senja


“ Kok diam ? kamu kaget saya sudah tunangan ?”


“Ha ?”


Lagi-lagi pria tinggi besar ini tersenyum penuh arti, ia


meletakan segelas air mineral di depan Senja, lalu duduk dikursinya, “ lalu ?”


tanyanya pada Senja yang masih bengong sendiri.


“Saya mau konsultasi skripsi pak, bapak pembimbing kedua


saya,”


“Skripsi ?”


“Iya, memangnya apa !”


“Saya kira kamu pengagum saya,,, habis penampilanmu gak


seperti mau konsultasi”


‘what....what..what,,, dia bilang apa barusan,,, ‘ Senja


menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menenangkan diri, ‘ingat pesan mas Dewa,,


jadi cewek gak boleh kasar,,, dia itu dosen, dosen Senja’


“Memang baju saya kenapa pak ?”


“baju kamu bagus,,,, tatapan matamu juga bagus,,, seperti,...”


Art tak meneruskan kalimatnya,,, lesung pipinya terlihat sangat dalam ketika


pria itu kembali menyunggingkan senyumannya.


Ia meraih map yang disodorkan Senja, membukanya sebentar


lalu menutupnya kembali.


“Kita konsultasi lagi besok ya, saya ada kuliah sebentar lagi,”


“Apa pak ?”


“Besok,, kita konsultasi lagi,,hari ini sampai di sini dulu,”


Senja terdiam, tanpa disadarinya tangannya mengepal, rasanya


ia ingin menjambak rambut pak dosen dihadapannya itu,


“Kamu masih disini ? Sabar ya, besokkan kita bisa ngobrol lagi !”


Senja kaget mendengar ucapan Art yang terasa menusuk, tanpa


basa basi Senja langsung berdiri dan keluar dari ruangan itu... “Jangan lupa


tutup pintunya lagi ya,” kalimat itu sempat terdengar oleh Senja, namun tak


digubrisnya,,


 “Apa-apaan tu orang... ampuuun Tuhan kenapa ada orang kayak gitu ya, !” gumam Senja kesal.


///// bersambung

__ADS_1


“Makasih ya yang sudah baca... Bantu like ya ^-*)


__ADS_2