
Senja untuk Sang Direktur
Tragedi Kamar Mandi
Sudah sepuluh hari Senja kembali ke Jakarta, walau kotanya
sama namun dengan rasa berbeda, karena sekarang ia tinggal bersama keluarga
mommy Hima. Canggung jelas dan yang
pasti ia tak bebas, belum terbiasa dengan kebiasaan keluarga ini, sarapan dan
bangun pagi tepat pada waktunya, walaupun tak harus tapi setidaknya ia belajar
menyesuaikan diri.
Hari ini wajah mommy Hima tampak sangat cerah, ia pun bersemangat untuk menyiapkan makan malam walaupun ini masih pagi, “ Dime pulang hari ini,” bisiknya pada Senja, gadis itu hanya tersenyum dengan ekspresi
datar, “Bagus dong mom, Radinka pasti senang banget, “ jawab Senja santai.
“Emang kamu gak kangen sama suamimu ?”
“Ha ?,,, hahaha mommy ini ada-ada aja, ngomong aja gak
pernah gimana mau kangen !” jawabnya lugas sambil memasukan roti ke mulutnya
dalam porsi besar.
Mommy terdiam sejenak, ia baru sadar bahwa sejak menikah
Senja dan Dime belum pernah terlihat bersama, setelah dari Solo, Dime langsung
dinas keluar kota dan baru akan kembali nanti malam.
“Kalau begitu nanti malam kamu dandan yang cantik, sambut
suamimu pulang,”
“Ptfff,” Senja hanya menahan senyum menatap wajah Hima yang
serius, sebenarnya ia ingin membantah tapi tak tega melihat wajah mommy
Himanya.
-----^-*-----
Sejak sore Senja sudah meninggalkan rumah, ia tahu Dime akan
datang pukul lima sore jadi ia keluyuran bersama Vanya dan berencana pulang
ketika jam makan malam selesai.
Vanya dan Senja sedang duduk-duduk di cafe yang bernuansa
klasik, alunan suara piano membuat suasana hati Senja membaik, tapi telpon
genggamnya terus bergetar dan dibiarkan saja olehnya, Vanya yang mendegarnya
merasa risih dan jadi curiga pada sahabatnya itu,
“Siapa sih, kok gak diangkat ? gebetan baru ya !”
“Bukan, itu tante Hima !”
“Lalu kenapa gak diangkat?”
“Anaknya baru pulang
dari luar negeri,,, gue gak pengen ganggu !”
“Lo kenapa sih jadi tinggal bersama mereka, lagiankan lo bisa tinggal bareng
gue, aneh banget, jadi curiga gue ?”
“Ye..,,, emang gue kenapa ?”
“ Jangan-jangan lo mau ngegebet anaknya, secarakan doi keren gitu,”
“Haha, emangnya lo pernah liat anaknya tante Hima yang mana
?”
“Ya pernahlah, ganteng walau udah om-om sih, gue
denger-denger duda anak satu ya ?”
“Haha,,, Vanya.... ada-ada aja sih lo. Betewe kenapa
emangnya kalau duda ? Mas Dewa juga duda,”
“Ya, setidaknya Dewa itu gak punya anak, kalau diakan,,, akh
ribet deh kalau punya hubungan dengan pria dewasa, belum lagi alasan mereka
cerai,,, tuh kan bikin pusing,”
__ADS_1
“Heem...”
Senja terdiam sejenak, selama ini yang tak pernah memikirkan
sejauh itu, Dime itu orang seperti apa ia juga tak pernah tau, ‘ya sudahlah,
sudah terlanjur juga,’ pikirnya dalam hati.
“Lo kenape menghela nafas gitu, jangan-jangan gue bener lagi !”
“Apaan sih,” Senja
hanya mencibir mendengar ledekan
sahabatnya itu,
Malam semakin larut, akhirnya mobil Vanya sampai di depan kediaman Dime, Senja melambaikan
tangan pada sahabatnya itu sebelum mobilnya menjauh pergi. Seketika hati Senja
menjadi sepi, pandangannya mengarah pada mobil yang biasa digunakan Dime sudah
berada di garasi rumah.
“Sampai kapan gue begini,” gumamnya pelan sebelum melangkah
masuk lewat pintu belakang. Senja mengendap-endap masuk lewat pintu dapur, ia
sengaja minta cadangan kuncinya pada si mbok,
“La non baru pulang,,, ini udah jam brapa,, ibu nyariin non
dari tadi,” labrak si mbok tiba-tiba, wanita paruh baya itu lalu menghidupkan
lampu dan pandangan seketika menjadi terang.
“Baru juga jam sepuluh malam, mbok,,, galak amat,” sahut
Senja sambil menuang segelas air putih lalu menenggaknya hingga habis.
“Kan Mas Dime pulang hari ini, kok mbaknya malah keluyuran,
ibu marah-marah dari tadi,”
Senja lalu merangkul bahu mbok dan sedikit berbisik,,,, “Aku canggung mbok,,, malu,
lagian aku sama mas Dime kan gak begitu kenal, jadi....., mbok ngertikan,”
Mbok terdiam,, wanita tua itu akhirnya sadar bahwa Senja
bukan karena keluyuran tak jelas, mungkin karena merasa tak nyaman, ia pun tahu
bagaimana sikap Dime yang dingin.
Mbok memandang wajah Senja dan menangkap rasa iba diwajah isteri kedua majikannya itu,
Senja tersenyum dan meletakan jari
telunjuk di bibirnya lalu ditambah dengan isyarat kunci melalui jemarinya.
Mbok lalu membelai rambut Senja sambil tersenyum, “Non cepat
mandi sana, lalu istirahat,”
“Iya... tapi mbok gak boleh panggil non lagi,,,, panggil nak
Senja saja, ya,”
Mbok mengangguk dengan mata berkaca-kaca,,, lalu menatap
Senja yang berjalan masuk ke kamarnya, wanita tua itu membuka bungkusan yang
diberikan Senja sambil tersenyum.
....^-^.....
Senja langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, badannya
terasa penat, walaupun begitu ia merasa senang karena sudah lama sekali ia tak
jalan dengan Vanya. Hampir saja ia
terlelap lalu terkejut karena ada suara pesan
masuk di hapenya.
*Gue udah nyampe
*Syukurlah,,,, bobo gih
* Lo jangan lupa mandi\,\,\, lengket tau...
* Yo’i
Senja tersenyum, kalau tak ada pesan dari Vanya, pasti ia
__ADS_1
lupa untuk mandi. Sambil
bernyanyi-nyanyi kecil Senja melepas pakaiannya, mengenakan handuk lalu
berjalan masuk ke kamar mandi, dan ia tak memperhatikan ada pakaian lain yang
tergantung depan kamar mandi.
Jantung Dime berdetak tak karuan, beberapa kali ia menelan
ludahnya, tubuh putih nan mulus tanpa berbalut selehai benang pun kini tampak
jelas di depannya. Aroma bunga yang keluar dari sabun yang digunakan gadis itu
seakan mengusik kelaki-lakian.
Senja yang tak sadar ada sepasang mata yang sedang melihat
tubuh polosnya, mulai membaluri seluruh badannya dengan cairan yang beraroma mawar, mulai dari tangan beralih ke leher hingga ke setiap
lekuknya, lalu menuju ke bagian yang paling menonjol dari tubuhnya
Detak jantung Dime seakan terhenti, ia tak bisa mengalihkan
pandangannya bahkan sedetikpun, bagian itu sangat putih bahkan lebih putih dari
busa sabun yang melumurinya, begitu besar dan berisi.
“akh,” gumamnya tanpa sadar, bagian tubuhnya yang lain tak
dapat dibohongi, dorongan hasrat yang menggebu yang lama tak dirasakannya.
Senja terhenti, tubuhnya kaku seketika saat telinganya
menangkap suara yang jelas bukan suaranya, gadis itu menelan ludah dan
memalingkan wajahnya ke sisi kanan dan... “ahggggggg
Senja berteriak sekuat tenaga sambil memukul-mukulkan
gayungnya ke arah Dime, Dime yang mencoba mengelak menangkap tangan Senja dan
karena licin mereka berdua terpeleset dan Senja jatuh tepat diatas tubuh Dime.
“Agrrrr... dasar mesum,,,, ,”
Senja terus mencoba memukul Dime dengan tangannya, ia tak
sadar dadanya sudah bersentuhan dengan lelaki itu tanpa alas sedikit pun,
“Tenang dulu....akh..,”
Senja tersentak mendengar leguhan suara Dime yang seperti
sedang terangsang sesuatu, ia baru sadar ketika memandang ke bawah,,,, dadanya
menempel ke dada Dime, bukan hanya dada bahkan seluruh tubuhnya, hingga ia dapat merasakan sesuatu milik
Dime.
“Awww”, dengan panik Senja mencoba bangkit, namun kembali
terpeleset karena lantainya licin
“Aduh,,,” erang Dime ketika Senja kembali menimpa
tubuhnya.... “Kamu tenang dulu, dasar keras kepala,” ucap Dime
“Bagaimana mau tenang,,, dasar orang mesum gila,”
“Kamu yang gila,” Dime mencoba bangkit sambil memeluk tubuh
Senja, tentu saja gadis itu berontak, untungnya tenaga Dime jauh kuat berkali
lipat, setelah bersusah payah akhirnya ia mampu bangkit dan berdiri.
Senja langsung mendorong Dime dan mengambil handuk untuk
menutupi tubuhnya, begitu juga Dime, mereka basah kuyup namun masih saling
bertengkar dengan suara nyaring.
Mommy yang kebetulan akan ke kamar Senja mendengar kegaduhan
itu langsung bergegas dan membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci,,,
perempuan itu terkejut melihat anak dan menantunya hanya memakai handuk namun
dengan tatapan saling membunuh.
“Kalian sedang apa ?“
///// bersambung
(makasih ya yang sudah baca... tinggalkan komen, kritik
__ADS_1
maupun saran.... sekali lagi terimakasih.... heppy reading *-*)