
SENJA untuk Sang Direktur
Chapter 11
Vanya terus memperhatikan gerak-gerik Senja yang tampak
gelisah, setiap lima menit gadis itu terus membalikkan badannya, membuat Vanya
tak bisa tidur.
“Lo kenapa sih dari tadi grasak grusuk mulu, gue gak bisa
tidur nih, perut lo sakit lagi ?”
“Nggak, cuman kepikiran sesuatu,”
“cowok ganteng yang tadi ?” Vanya langsung bersemangat, ia
bertemu dengan Dewa tadi siang ketika menjemput Senja. Lelaki berambut gondrong
itu berhasil membius Vanya dengan segala ketampanannya.
“Belum pernah gue lihat wajah cowok secantik itu !” Vanya
tersenyum sambil memejamkan matanya mencoba mengingat lagi wajah Dewa. Vanya
heran mengapa tak ada respon dari sahabatnya itu, Senja malah melamun tanpa
memperdulikan Hpnya yang terus bergetar.
Vanya melirik dan mengambil Hp Senja yang terletak di
sampingnya, ada 30 panggilan tak terjawab dari beberapa nomor namun yang paling
banyak dari nomor Hans. “kenapa gak diangkat, lagi ada masalah sama Hans, gue
denger dari Ryu....”
“gak kok, gue aja yang berlebihan “ potong Senja.
Vanya menatap wajah Senja yang tampak lesu, lalu memeluknya,
“lalu mau cerita sekarang atau nanti ?”
“Nanti saja “
“Ya udah, kita tidur yuk sudah malam !”
Senja mengangguk lalu merebahkan tubuhnya, baru saja ia akan
terlelap,
“lalu cowok itu namanya siapa ?”
“yang mana ?”
“yang gondrong !”
“oh, Dewa ...”
“Ada nomor telponnya gak?, eh btw lo suka nggak, ntar gue
dibilang nikung sahabat lagi !”
“gak, ambil aja buat lo !”
“beneran, gak nyesel ? tapi kayaknya.....
“Vanyaaaa, gue mau tidur ni ......”
....^-^.....
Hans tampak uring-uringan, tiga hari ini ia tak bertemu
Senja, telponnya pun tak pernah diangkat oleh gadis itu. ia sudah mencari
kemana-mana bahkan sampai ke rumah Ryuji. “Mau apa sih tu perempuan, gue bakar
ntar kosannya baru tahu rasa !”
Hans duduk di depan TV, sambil menekan kepalanya yang
berdenyut, tak lama HP nya berdering,
“Hans, kamu gak ke kantor, jam 10 ada rapat sama klien
jangan sampe telat !”
“Iya aku tahu, gadis itu udah masuk ?”
“siapa ? Senja ? udah tu dari pagi juga sudah datang !”
Hans menutup telpon dari Fabio, dan langsung memacu mobilnya
dengan kencang, bunyi klakson dari mobil yang disalipnya pun tak membuat pria
itu mengurangi kecepatannya.
__ADS_1
Lima belas menit, mobil itu sudah berada dimuka pintu masuk
JY group, Hans hanya melempar kuncinya pada satpam untuk memarkirkan mobilnya
yang ditinggal begitu saja.
Hans berjalan cepat dan mendapati Senja sedang berdiri di
sebelah meja Fatma, tanpa basa basi pria itu langsung menarik Senja ke ruangannya. “Brakkk.... “ pintu itu
dibanting dengan keras, saking kuatnya Fabio langsung keluar dari ruangannya .
“Ada apa ?” Fabio bertanya pada Fatma yang masih berdiri
dengan wajah bingung. Gadis itu hanya memberi kode bahwa direkturnya yang
membanting pintu. Fabio mencoba membuka pintu ruangan Hans yang ternyata
terkunci dari dalam.
Senja dan Hans saling menatap dengan tatapan tajam, perasaan
rindu, kesal dan marah bercampur menjadi satu. Senja menghembuskan nafas
panjang dan memilih berbalik badan dan berlalu, namun baru beberapa langkah
Hans menariknya dan ******* bibir gadis itu dengan perasaan kesal.
Hans mencengkram kuat
bahu Senja, bahkan ciumannya membuat Senja sesak. Gadis itu meronta mencoba melepaskan diri, namun baru saja ia
bisa mengambil nafas, Hans kembali ******* bibirnya hingga berdarah.
Hans melepasnya ketika gadis itu mulai terisak, Senja
mendorong tubuh Hans hingga termundur beberapa langkah. Senja berlari kearah
pintu, dan menekan gagang pintu beberapa kali namun terkunci.
Hans mencoba mengatur emosinya lalu berjalan membuka pintu,
Senja tak berbicara sepatah katapun, ia hanya menyeka air matanya dan berjalan
keluar, tanpa memandang wajah Hans.
....”.“.......
Senja hanya diam ketika Fabio bertanya apa yang terjadi tadi
di ruangan Hans, karena penasaran, Fabio duduk disamping Senja sambil menunggu
“Lalu tu bibir kenapa ?” bisik Fabio
“ digigit Babon ,”
“ hahaha .... emang ada Babon di sini !”
“Ada, tuh,” jawab Senja, sudut bibirnya mengarah pada Hans
yang baru keluar dari ruangannya.
“Ups” Fabio menutup mulutnya sambil menahan tawa.
Senja membuang muka ketika Hans memandang kearahnya, bahkan
ia berjalan duluan menuju ruang rapat.
“Ngapain dia ikut ?”
“La, kan emang Senja yang bakal presentasi. Kamu gak baca
proposalnya Hans ?”
“Baca, cuma apa hubungannya dengan dia ?”
“Senja yang buat proposalnya jadi aku suruh dia yang
presentasi sekalian !”
“kamu yakin ?”
“100 %”
Hans hanya mengangkat alis, walau ia tak yakin pada Senja
namun karena Fabio yang berkata mau tak mau ia harus menurutinya. Klien mereka sudah
datang, Senja memilih duduk bersebelahan dengan Fabio dan berhadapan dengan
Hans.
Senja terlihat gugup, beberapa kali ia mengulum bibirnya dan
mengerjap kesakitan. Hans hanya
tersenyum melihat itu ‘rasakan, siapa suruh ngilang gitu aja’ batin Hans.
Akhirnya waktu presentasi itu tiba, Senja memejamkan matanya
__ADS_1
sejenak, “Bismillahirahmanirrahim” gadis
itu bangkit dari duduknya menjabarkan bussiness plannya. Walau awalnya agak
terbata namun akhirnya Senja bisa mengikuti alurnya.
Pertanyaan bertubi-tubi dari klien ditambah lagi tekanan
dari Hans akhirnya bisa diatasi Senja. “OK Deal, God Jobs mr. Hans,” ucapan itu
disambut lega oleh semuanya dan terutama Senja yang akhirnya bisa bernafas
lega.
“Ok Fab, buat tim untuk mengerjakan ini dan ingat satu hal,
jangan libatkan dia dalam proyek ini !” ucap Hans dengan lantang di depan
Senja.
“Tapi kan ...!”
“Kamu mau tanggung jawab kalau dia tiba-tiba kabur !’ sindir
Hans sambil berjalan cepat.
Senja mendengus kesal mendengar sindiran itu, ‘sudahlah,
lagian gue juga bukan karyawan tetap disini, sebentar lagi kontrak itu juga
akan berakhir, semangat Senja, semangat !’ Senja mencoba menghibur dirinya
sendiri, padahal ia sedikit berharap namun apalah mau dikata.
....*-*.....
Hujan turun dengan derasnya, Senja masih duduk disamping
jendela kaca besar di lobby depan. Sebenarnya ia tak suka dengan hujan yang
mengingatkanya pada seseorang. ‘dia bilang bakal balik lagi, dia bilang akan
selalu sama-sama dasar pembohong,’
Senja menelungkupkan kepalanya diatas meja, kenangan itu
terus terlintas dikepalanya, bersama air hujan yang jatuh kebumi.
“Senja....Senja ...”
Senja mengangkat kepalanya melihat Hans sudah duduk di
hadapannya, dengan cepat ia menyeka wajahnya yang basah.
“kenapa tidak pulang, gak ada tumpangan ?”
Senja hanya mendecih, ‘ini orang kenapa dari sih dari tadi
bikin kesal aja,’ batinnya
“bukan urusan lo !”
Hans tertawa, “maaf atas sikapku !”
“yang mana ? yang suka seenaknya, yang mesum, atau pembohong
!”
“hee... semuanya,,,,”
“semuanya gue maafin, kecuali pembohong, gue benci pembohong
!”
Senja berjalan namun tangannya ditahan oleh Hans.
“Memangnya kalau aku gak bohong, kamu gak bakalan marah ?”
Senja terdiam menatap mata Hans, ‘kurang ajar banget ni
cowok, udah salah gak mau ngaku !’
“ya udah pacaran saja sama cewek yang suka dibohongin !”
Senja menarik tangannya, dan berjalan pergi,,,
“Senja,,,, kalau kamu pergi aku bakalan cari perempuan yang
lebih dari kamu !” ucap Hans kesal
“ya udah sana cari, emangnya cowok cuma elo.... “
“Senjaaaaa.....!!!”
Senja terus berjalan tanpa memperdulikan Hans yang berteriak
memanggilnya,,,, ‘orang gila nyebelin’ ///// bersambung...
(makasih ya yang sudah nyempetin baca, klik jempolnya nya
__ADS_1
yang masih kosong\,\,\,\, *-* bye bye)