
SENJA untuk Sang Direktur
Chapter 31
Senja mengangguk - anggukan kepalanya sambil tersenyum pada
Art,,,tanpa disadarinya Hans dan Fabio sedang memperhatikannya dari jauh. Wajah
Hans tampak tak senang, kedekatan Art dan Senja mengganggu hati dan pikirannya.
Fabio yang menangkap hal itu, segera mengajak bosnya itu
pergi dari sana, tapi Hans malah melakukan hal sebaliknya, ia bangkit dari
duduknya dan mengikuti Senja yang sedang berjalan ke arah toilet.
“Lagi senang rupanya, dapat pacar baru ?”
Senja kaget ketika Hans sudah berdiri di depannya, gadis itu
melirik wajah Hans yang tampak dingin, terakhir mereka bertemu, Senja menginjak
kaki Hans dengan keras, membuat lelaki itu kesal.
“Maaf yang waktu itu,,, aku gak sengaja nginjak kaki kamu,”
“Siapapun yang melihatnya pasti tau itu disengaja !”
Senja mendengus kesal,”siapa suruh peluk-peluk orang
sembarangan !”
“Oh,,, aku lupa kamu sudah punya pacar baru,,, maaf kalau
begitu,!”
“eeh..bukan begitu ....”
Dengan wajah dinginnya Hans berbalik badan, berjalan
meninggalkan Senja yang tampak kelabakan menanggapi kesalahpahaman mereka.
‘aapan sih ni orang,’.. tangan Senja mengepal, wajahnya
mulai terasa panas. Harusnya ia yang marah, berhari-hari ia mencari Hans yang
menghilang dan tiba-tiba muncul dengan kabar pertunangan dengan wanita lain,
bukannya menjelaskan, kini pria itu menuduhnya yang bukan-bukan.
“Hans diatama...Selamat atas pertunangannya,,, semoga kalian
bahagia,” Hans menghentikan langkahnya, tapi Senja sudah berjalan cepat
mendahuluinya hingga yang tampak hanya punggung gadis itu.
“Lo kenapa ? ....”
tanya Vanya yang kebingungan, ia baru saja sampai ketika tangannya langsung
ditarik Senja, disudut matanya gadis itu sempat melihat Fabio ,
“Lo ketemu Hans?”
“udah deh,,, “
“Guekan nanya,,, terus pak dosen gimana,, kita tinggal ni ?”
“Diakan udah gede,, bisa pulang sendiri !”
“Dasar... elo masuk mobil sana ,,, gue telpon dia dulu...”
------^-^------
Senja duduk di teras rumahnya ditemani Vanya yang sedang asik menyeruput segelas
sereal panas di tangannya, cuaca dinginnya malam itu rasanya tak bisa
menyejukkan suasana hati Senja.
__ADS_1
“Masih mikirin Hans ?”
“Nggak,,, siapa juga yang mikirin dia “
“Trus muka lo kenapa ?... telpon tu diangkat, lo keselnya
sama Hans kok pak dosen yang kena imbasnya !”
“ biarin aja ,,, gue lagi malas ngomong !”
“Terserah lo deh ... btw besok lo tanda tangan kontrak ? cepet banget ya !”
“Iya,,, gue juga
heran,, lo doain gue ya... mudahan
semuanya lancar “
“Pasti dong, gue doain yang terbaik buat sahabat gue,,,
semoga Senja dapat boss yang baik,, tampan dan kaya .... Amin”
“Amin....”
“Hahahaha”
.......^-*-------
Pukul sembilan pagi, Senja sudah duduk manis di sebuah ruangan di kantor Maestro,
Handy selaku kepala bagian personalia meletakkan sebuah map yang berisi berkas
kontrak yang akan di tanda tangani oleh Senja.
“Baca dulu mbak Senja,” dengan ramah Handy menjelaskan
sedikit tentang pekerjaan yang akan dikerjakan olehnya.
“Disini pak ?” tanya Senja, ketika akan menandatangani
kontrak itu,,, kontrak selama satu tahun dengan gaji sedikit diatas rata-rata. Tentu
menduga apa yang akan terjadi padanya setelah itu.
Handy mengantarkan Senja, walau sedikit bingung, namun ia
tak menaruh curiga sedikit pun, hanya langkahnya sedikit terhenti ketika sampai
di depan ruang direktur.
“Ada apa mbak Senja ? ayo ...”
“Sebentar mas, kita mau ke ruangan direktur ?”
“Iya,,, meja kerja anda ada di dalam ”
“Maksudnya ?”
“Maaf, apa mbak Senja tadi gak baca kontraknya, disana
ditulis posisi anda sebagai sekretaris pribadinya direktur !”
“whattt???”
“ternyata gak di baca ya,,, hahaha tenang saja direkturnya
perempuan kok !”
“Oh “
Walau kaget, namun ia mencoba tenang, benarkah ia tak
membaca bagian posisi di kertas kontrak tadi, tapi perasaannya mengatakan bahwa
itu tidak tertera di sana, ‘sudahlah’ pikir Senja.
Hawa dingin menusuk ketika pintu itu terbuka, entah karena
AC nya terlalu dingin atau memang suasananya yang dingin. Seorang wanita
__ADS_1
berdiri dibalik meja, memandang tajam ke arah Senja yang berjalan di belakang Handy.
Setelah mengantarkan Senja, Handy langsung mohon diri dan
keluar dari sana. Pandangan Senja mengedar ke seluruh ruangan sebelum matanya
beradu pandang dengan Lea.
‘Rasanya pernah liat, tapi di mana ya’ Senja mencoba
tersenyum walau rasanya sedikit kelu.
Lea menyambut senyuman itu dengan senyum tipis diujung
bibirnya, wanita itu berjalan menuju ke arah Senja.
“Senang bisa bertemu denganmu seperti ini Senja,,, kenalkan
saya Lea ... Alea Mamuraja,”
Senja menjabat tangan Lea yang kini berdiri tepat
dihadapannya, Senja sempat terkesima dengan penampilan Lea yang sangat elegan, dibandingkan
dengan dirinya yang .... ah sudahlah
Tatapan Lea yang memperhatikan dirinya dari atas sampai
bawah membuat Senja sedikit risih, walau ia harus menyunggingkan senyum
termanisnya kini.
“Kamu Senja ?”
“Iya,” jawab Senja sedikit canggung, apalagi tatapan wanita
berlipstik merah menyala di depannya ini seakan ingin mengulitinya.
“Saya baca CV kamu, pernah kerja di JY ?”
“Cuma magang bu, “
“Oh,,, berarti kamu kenal dengan tunangan saya ?”
“Ha ? tunangan ibu siapa, mungkin saja saya mengenalnya,”
ucap Senja sambil menatap penuh wanita di depannya itu, sedikit demi sedikit ia
mulai menerka kearah mana wanita ini bicara, dan otaknya seakan dipaksa untuk
mengingat wajah wanita yang tak asing ini.
“Hansdiatama Putra, direktur JY, itu calon suami saya,”
Bibir Senja repleks mengeluarkan senyum kelunya, sepersekian
detik lalu ia berhasil mengingat siapa wanita ini, namun ketika diucapkan tetap
saja berasa menyakitkan.
“Oh, Direktur JY sangat beruntung mendapatkan wanita seperti
anda,” ucap Senja sembari mengatur ekspresinya agar tak terlalu kalah telak
dengan wajah penuh kemenangan milik Lea.
“Terimakasih Senja, kamu tahu alasan saya menerima kamu di
sini ?” ucap Lea lagi.
Senja hanya menggelengkan kepalanya, tanpa niat untuk
menjawab itu,
“Karena saya mendengar kamu punya Affair dengan Hans,” bisik
wanita itu di telinganya lalu tersenyum licik sambil meninggalkan Senja yang
masih mencoba menahan kesalnya . ///// bersambung....
__ADS_1