
Senja Untuk Sang Direktur
Senja diwaktu Senja
“La ini dimana ? perasaan tadi gak lewat sini deh, aghhhh
gue ke sasar “
Senja akhirnya duduk diam dibangku taman setelah lelah
mencari dimana tempat awal rombongan mereka menunggu, bahkan sekarang ia tak
menemukan dimana restoran tempat ia numpang ke toilet tadi.
Wajah Senja terlihat lelah, ia termenung memandangi sekitar,
ia juga tak bisa menelpon karena Hp dan dompetnya tertinggal di mobil, gadis itu
sudah bertanya pada beberapa orang yang lewat dan makin membuatnya bingung karena di daerah itu ada beberapa pantai.
‘Kenapa gue **** banget, nama tempatnya aja gue gak tahu,
gimana mo kesana coba,,, mana gak ada uang lagi,,, bisa-bisa ngegembel ni gue,’ Senja kembali melamun, beberapa tawaran orang untuk mengantarnya ditolak gadis
itu dengan sopan, ia tak mau kejadian dengan tante Qory terulang lagi, baginya
didunia ini sulit mencari orang yang benar-benar tulus mau menolong.
---^-*----
“Serius .... belum ketemu ? kemana anak itu pergi ? makasih pak sudah mau bantu cari,,, tolong
terus kasi kabar !” Art menutup telponnya, ia langsung pergi kelokasi ketika
dikabari bahwa Senja menghilang ,,, beberapa orang sudah menyebar ikut mencari
namun tetap saja tak ketemu.
Art turun dari mobilnya, sudah hampir satu setengah jam ia
berkeliling, hingga hari sudah semakin sore dan sebentar lagi gelap, bagaimana kalau Senja tak juga diketemukan,’apa dia di sembunyikan hantu ya,’gumam Art sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Art berhenti di sebuah warung yang ada dipinggir jalan,
membeli sebotol air mineral dan duduk sebentar di sana. Ia mengeluarkan hapenya
dan menunjukannya pada si empunya warung.
“Ibu pernah liat gadis ini gak ?”
“Mana coba ibu liat, tadi sih ada perempuan yang kesasar, cantik
, kalau ibu ada anak laki-laki pasti udah ibu suruh lamar,” ucap ibu itu sambil
terkekeh sedangkan Art hanya tersenyum sambil mengamini ibu itu karena tak
punya anak laki-laki.
“Iya benar ini, tadinya si neng ini duduk di sini tapi
karena banyak yang ngegodain jadi ia pergi,”
“Ibu liat dia pergi ke arah mana ?”
“Kalau gak salah ia menuju ke arah taman yang di sana “
__ADS_1
Dengan cepat tanpa pamit Art berlari ke arah taman yang di
tunjuk ka arah si ibu, nafasnya tersengal ketika sampai di taman itu.
pandangannya mengedar ke seluruh taman yang tampaknya tak sepi sore itu.
Ia berjalan menulusuri setiap pojok taman yang dipenuhi bunga dan bangku-bangku, tak lama matanya mengarah pada sosok yang tak jauh dari sana,
Art berlari sekuat tenaga ...
“Senjaaa...”
Gadis itu menoleh pada suara yang memanggil namanya, ia
melihat lelaki didepannya itu masih terengah-engah,..
“kenapa lama sekali,,, aku takut !”
“Maaf..maafkan aku....” lelaki itu langsung memeluk Senja
dengan erat, ia merasakan badan gadisnya sudah dingin, mungkin ia sedang ketakutan .
“aku sudah ngebut dari Jakarta, kamu gimana bisa kesasar,,,
emangnya kamu anak kecil, dasar gadis bodoh,”
“Maaf-maafkan aku pak direktur,, aku gak hafal nomor Art,,
dan takut kalau telpon mas Iwan, jadi ...” Senja menenggelamkan wajahnya ke
dada Hans, sedari tadi ia sudah menahan agar tak menangis... ia nekad meminjam
telpon genggam orang untuk menghubungi Hans.
“Sudahlah, aku tahu kalau kamu itu lemot,,, hahaha,” ucap
Hans sambil mengelus-elus kepala gadisnya.
hadapannya, baru saja ia menyadari perasaannya dan kala senja sore itu, ia
mendapati hatinya remuk berkeping-keping.
-----^-*-----
Sepanjang perjalanan Senja terdiam, ia teringat ekspresi Art
yang tak seperti biasanya ketika ia pamit untuk pulang, tentu kali ini ia ikut
bersama Hans. Tak ada senyum diwajah
Art, Senja tahu pria sudah kebingungan mencarinya, tapi kalau
sampai enggan bicara padanya bukannya itu sudah kelewatan.
Tiba-tiba mobil Hans yang sedang melaju kencang dijalanan berhenti tiba-tiba, “aduh, ada apa
kok berenti tiba-tiba,”
Senja menoleh pada Hans yang tiba-tiba mengarahkan pandangan
tajam seakan ingin menelan habis seluruh tubuhnya, pria itu memajukan tubuhnya
sambil menarik pinggul Senja yang duduk tanpa memakai sabuk pengaman,
“mma...mau aapa....” belum selesai kalimatnya, bibir Senja sudah dilumat habis
oleh Hans, pria itu menciumnya hingga Senja hampir kehabisan nafas...
__ADS_1
“eghhh....hah...hah,,, apa sih... sesak tau,”
“ itu hukuman... kamu sama aku, tapi mikirin laki-laki
lain,”Hans menatap wajah Senja yang memerah, gadis itu hanya mencibir sambil menyeka
bibirnya yang basah.
“Sembarangan... emang aku mikirin siapa, kamu tuh kali, yang
mikirin mak lampir !”
“Cemburu ?”
“Ngg...Nggak,” Hans tersenyum melihat wajah Senja yang gugup
karena tatapannya, tanpa banyak kata Hans melanjut kan aksinya tapi kali ini
dengan lebih lembut.
Ciuman panas dan bertubi-tubi itu membakar gairah dua insan
yang sedang dimabuk cinta, namun sepersekian detik kemudian Senja tersadar
ketika ciuman Hans sudah mulai berjalan ke lehernya,, gadis itu ingin
menghindar, namun tak mampu menolaknya.
“Hans... Hans...”
Lelaki itu seakan tak mendengar, ia terus melanjutkan
kenakalannya, hingga hampir menyentuh bagian sensitif si gadis ,”
Ahk.......emm...emm ” Senja menggigit bibirnya, menahan aksi Hans yang sedikit
lagi menyentuh bagian sensitifnya yang sudah menegang,,,,”Hans ja....”
....”Tinnnn...tinnnnn”
Suara klakson keras mengejutkan keduanya,,,, Senja langsung
mendorong tubuh Hans dan mengancing kemejanya.
Tak lama seorang petugas mengetok kaca pintu mobil
mereka....
“Maaf pak,,,, bisa lihat Sim dan STNKnya” tanya petugas
polisi yang tengah berpatroli malam itu, akhirnya Hans keluar dari mobil untuk
menjelaskan pada petugas itu.
“Kenapa ?” tanya Senja pada Hans yang masuk kembali ke mobil
“Nggak,,, Cuma tanya kenapa kita berhenti di tepi jalan,”
jawab Hans sambil menjalankan mobilnya
“Hahaha... kamu sih mesum,”
“Hah.... siapa suruh kamu godain aku,”
“ih...siapa yang godain,” tak lama kemudian tawa Senja pecah melihat ekspresi Hans
“Awas kamu,,,,aku balas nanti,”//// bersambung
__ADS_1
“Makasih ya yang sudah baca..... MAAF ini dibuat sebelum bulan
puasa,,, jadi di skip aja bagian yang menggangu”