Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 37


__ADS_3

Senja untuk Sang Direktur 


Menikah


Dime POV


Ini sudah kesekian kalinya Mommy membicarakan tentang ini


padaku, padahal ia tahu dengan jelas, aku sangat tak suka membahas tentang ini.


Aku yang sangat mencintai Marisa, tak mungkin begitu saja bisa melupakannya


walau ia sudah meninggalkanku 5 tahun lamanya. Marisa itu cinta pertamaku dan


tak ada niatan sekalipun untuk menggantinya dengan wanita lain.


Kali ini aku tak bisa mengelak lagi, Mom menyodorkan Hapenya


memperlihatkan foto seorang gadis padaku. Mungkin kalau dalam kondisi normal, aku


tak akan menghiraukan permintaan Mommy seperti sebelum-sebelumnya namun kali


ini beda, karena kondisi kesehatan mom yang memburuk.


Mommy divonis terkena kanker serviks stadium 4 dan kondisinya


dari waktu kewaktu terus menurun, ia yang sangat menyayangi Radinka, gadis


kecil buah pernikahanku dan Marisa, niatan utama mommy adalah untuk mencari


sosok ibu yang tak pernah di dapat oleh cucu kesayangannya itu.


“Kamu terlalu lama menduda Dime, lihatlah dirimu seperti


kumbang layu,” ledek Mommy setiap pagi, saat melihatku sibuk dengan


pekerjaan-pekerjaan yang membuatku lupa waktu.


Heem,,,,,kumbang layu apanya, nyatanya banyak godaan


wanita-wanita di luar sana yang siap menerkamku, entah karena statusku atau


yang lain, entahlah,.. Meeryan misalnya, satu dari dua sekertaris sexy yang


siap memberikan pelayanan visual yang menggairahkan setiap harinya, namun


maaf-maaf saja, aku masih pikir panjang untuk mengakhiri masa dudaku ini.


“Dime, kenapa melamun, ini coba lihat ,,, cantik, pasti kamu


suka,” ucap Mom dengan penuh semangat, sebenarnya aku enggan melihat gambar


wanita itu, tapi tak ingin membuat Mommy kecewa.


Aku melirik sekilas foto di HP Mommy, tampak seorang gadis


berambut sebahu sedang tersenyum dengan jari menunjukan angka dua,,,, mirip


pose alay yang biasa digunakan anak ABG. “Mommy gak salah ?” tukasku heran,


maklum saja  karena sebelum ini,  Mommy selalu memberikan foto gadis alim,


mulai dari yang berkacamata hingga yang berkerudung.


“Tidak kok,,, namanya Senja, keponakan jauh Mommy,,, anaknya


bude Ratna yang di Solo,”


“Hmm,” aku tak berkomentar apapun, Mom bilang  gadis itu masih kerabatnya, ya sudahlah mau


gimana lagi,,, eits bukan maksudku setuju, dipikiranku wanita seperti ini prioritasnya


pasti uang. Aku cuma bisa mengerutkan keningku, apa bedanya dia dengan Selvi


sekertarisku yang selalu pasang tampang menggoda pada setiap lelaki kaya.


“Dia dekat dengan Radinka ?” tanyaku lagi


“Belum pernah ketemu, tapi  mommy pikir mereka pasti cepat akrab,”


Aku semakin heran, bagaimana Mommy punya pendapat begitu


padahal Radinka belum bertemu dengan gadis itu.


“Lalu kenapa mom memilihnya,”


“Feeling saja,” jawabnya sambil tersenyum lalu menepukkan tumpukan


berkas yang berserakan di meja ke kepalaku, kebiasaan Mom yang tak pernah


berubah, ia tak tahu saja seberapa pentingnya kertas itu.


Author POV  //// ----^-*-----


Waktu bergulir dengan cepatnya, sejak bertanya pada Dime

__ADS_1


tentang Senja, Mommy tak pernah meributkannya lagi, ia menganggap anaknya itu


setuju. Ia terus pulang balik Jakarta Solo, setelah masa berkabung berlalu, Mommy


lalu mengajak Dime untuk berangkat ke sana.


“Solo,,,, bukannya sudah lewat 40 hari ya Mom,,, kenapa


mesti ke sana lagi, ?” tanya Dime heran, ia tak mengira  Mommynya itu masih merencanakan mencari


isteri kedua untuknya, ia hanya tau kalau mom sedang menjenguk kerabatnya yang


sakit dan sudah wafat enam bulan lalu.


“Kan kamu  sudah


setuju,,, ya besok keluarga di sana sudah kumpul,,, kalau gak ada halangan


lusanya kita langsung akad saja,”


“Akad apa ? siapa yang mau nikahan ?” Dime masih kebingungan


“Dime.. jangan berkilah,,,  Mom sudah capek ngebujuk Senja untuk setuju, eh kamunya lagi.... “ Mommy


tampak menahan kesal ia menatap tajam wajah putra sulungnya itu,


Dime terdiam, ia mencoba mencerna setiap kalimat yang


dikatakan oleh mommynya itu,,, SENJA.... akh,,, itu nama gadis matre itukan.


Dime lalu menarik nafas panjang dan dalam, ia sungguh tak ingat kapan ia bilang


setuju, andai Mommy tau betapa cintanya Dime pada Marisa, bahkan sampai saat


ini, ia masih berharap mantan isterinya itu kembali.


“Ia baiklah,,, apapun yang mommy lakukan aku setuju,,, asal


jaga kesehatan mommy ya,” bujuk Dime sambil merengkuh erat tubuh ibunya yang


rapuh itu. Tak lama tangannya terasa panas, tetesan air mata Mommy mulai


membasahi tangannya.


“Mommy takut waktu mommy tak cukup Dime,”


“Jangan bicara begitu,,, semua itu di tangan Allah,”


“Ia,,,Mommy tau,,, cuma Mommy berusaha mencari yang terbaik


untukmu,,,, karena mommy menyayangi kamu dan Radinka,,,,,,,”


Untuk saat ini percuma berdebat dengan Mommy, tapi


dikepalanya Dime sudah menyiapkan seribu rencana untuk menyingkirkan Senja dari


kehidupan pribadinnya.


----^-*-----


“Dimitri Alexander bin Harmawan saya nikahkan engkau dengan


adik saya, Senja binti Alamsyah dengan mas kawin sebentuk cincin emas dibayar


tunai,”


“Saya terima nikahnya Senja binti Alamsyah dengan mas kawin


sebentuk cincin emas dibayar tunai,”


“Sah,”


“Sah”


Senja terdiam, ia tak tahu harus berekspresi seperti apa,


perasaannya campur aduk menjadi satu, andai saja ijab kabulnya dilangsungkan


enam bulan lalu pasti bukan lelaki disampingnya ini mempelainya.


Pasti bunda juga masih disini, tersenyum dan memeluknya .


‘Ini semua salah Hans, ini semua salah Hans,,,,,’teriak Senja dalam hati, tak


sadar air matanya kembali jatuh.


“Senja,” ujar Adam sambil memeluk adik kesayangannya itu,


Adam pun tak bisa menahan airmatanya.


“Adek baik-baik ya,,,, “ ucapnya lagi sambil menyeka air


mata Senja dan gadis itu tersenyum sambil menganggukan kepalanya.  Tak lama Rehan juga memeluk adiknya, sama


seperti Adam, Rehan juga tak bisa menahan air matanya, pesta besar yang sudah

__ADS_1


disiapkan untuk adiknya beberapa waktu lalu, berganti jadi hari berkabung.


Dan hari ini, akad nikah berlangsung sederhana bahkan sangat


sederhana, tak ada sanak keluarga hanya mereka saja, di pihak Dime pun hanya


ada Mommy seorang.


“Mas Iwan mana ,” tanya Senja dengan suara bergetar


“Dia di kamar,”


“Mas Iwan  gak mau


lihat Adek ?”


“Hmm”


Rehan Diam tak menjawab, hanya menyunggingkan senyum namun


menyiratkan kesedihan. Sejak awal Iwan paling menentang keputusan Senja untuk


menikah. Ia tak setuju Senja menikah dengan Dime, ia tak mau adiknya itu


menjadi isteri kedua.


“Sebesar apapun kebaikan tante Hima pada kita, tapi bukan


berarti Senja bisa menjadi isteri kedua anaknya,,,, itu gila, bagaimana jika


perempuan itu tiba-tiba kembali, Senja mau dikemanakan ?” teriak Iwan kala itu,


walau semua setuju dengan perkataan Iwan namun tak ada yang bisa mencegah


keputusan Senja.


“Ayah meninggal karena adek,,, bunda juga ... kini adek


harus apa,,, adek gak mau jadi beban kalian,,, biarkan sisa hidup adek berguna


untuk membantu orang lain, membantu keluarga tante Hima,”


Jawaban Senja kala itu membuat semua sadar, Adiknya itu


sedang berada dititik nol, putus asa dan akhirnya mereka menyetujui nya, agar


Senja tidak mengambang dalam keputus asaan yang dalam.


-----^-*-----


Dime duduk sendirian di ruang tamu rumah Senja sambil


menghabiskan sebatang rokok yang sudah tersulut api ditangannya. Ia tak menduga


sama sekali  yang akan menjadi


pengantinnya adalah gadis itu.


Gadis yang terduduk sendiri  disudut ruangan kala tubuh ibunya sudah terbujur kaku, ia tak mengeluarkan


airmata, kerudung putih menutupi sebagian wajahnya kala itu, bahkan ketika Dime


melihatnya lagi dihari berikutnya, gadis itu masih di tempat yang sama dengan


posisi yang sama pula.


“Kau lelaki yang menikahi Senja kan?” kalimat itu memecah


lamunan Dime. Ia melihat sosok tinggi besar berdiri dihadapannya, tentu saja


Dime mengenal pria itu.


“Iya,”


“Aku tahu kau menikahinya  bukan karena kau suka padanya, jadi.....”


“tenang saja,,, aku akan melepaskannya jika ia meminta itu


padaku,”


IWan menatap tajam mata Dime,,, ia tak menduga Dime akan


mengatakan itu,


“Ucapan itu adalah janji,,, dan kau harus penuhi itu,”


“Aku bukan lelaki yang suka mengingkari ucapanku sendiri,”


Mereka saling menatap tajam, namun ketika Dime mengalihkan


pandangannya, sebuah mata bening menyambut tatapannya. Dime tersentak namun ia


tak bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan bola mata bening itu/////


bersambung////

__ADS_1


----- Makasih ya yang sudah nyempetin baca ^-*.... heppy


reading  ^-*////


__ADS_2