Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 40


__ADS_3

Senja Untuk Sang Direktur 2


Isteri kedua yang cantik (2)


Dime termenung di ruang kerjanya, seharian kemarin ia di rumah


sakit, bukan menemani mommy tapi menunggui perempuan yang sama sekali tidak


mengucapkan terima kasih padanya.  “Huh, melihat wajahku pun dia gak mau, dasar perempuan ...” Dime tak meneruskan umpatannya, dia kembali menatap layar komputernya yang penuhi dengan


angka-angka.


“Pak...pak Dimitri, ada telpon dari ibu,” panggil sekretarisnya,


“Iya,,, aku terima di sini saja !”


Sekretaris itu mengangguk dan keluar dari ruangan,


“Iya mom, ada apa ?”


“Kamu makan siang di rumah ya Dime,”


“Tumben, mommy masak hari ini ?”


“Iya,,, adikmu ada di rumah !”


“Artya ?”


“Iya,,, dia nganterin undangan, sekalian ....


“Mana dia, Dime mau bicara sebentar,” potong Dime


“Ada, lagi didepan ngobrol sama Senja,”


Suasana hening sejenak, “Tak usah dipanggil, aku pulang


sebentar lagi mom !”


Dime menutup telponnya, keningnya berkerut,’Kemarin dokter


Jepang itu,, sekarang Artya,,,, siapa sebenarnya perempuan itu, berapa banyak


laki-laki yang dekat dengannya,.,, apa dia hidup dengan menjual diri,’ pikiran


jahat Dime menyeruak.


Senja bahkan tak menceritakan hubungannya dengan Dime pada


Vanya sahabatnya, dan itu membuat Dime kesal apalagi pandangan Vanya yang


menaruh kecurigaan. ’apa yang dia mau,,, uang,,,aku akan memberikannya, asal


kau menjauh dari keluargaku,’


.... ^-) .....


“Apa kabar direktur JY itu sekarang ?” tanya Art tiba-tiba,


Senja hanya diam tak menjawab dan masih asik memainkan game di HP Art.


“Senjaaaa,” Art menarik hape dari tangan gadis itu


“Apasih,,, mana gue tahu, udah mati kali !”


“Siapa yang mati ?” kalimat Dime yang tiba-tiba membuat


mereka kaget, Senja sempat melirik ke arah Dime yang baru saja sampai, sesaat


mata mereka beradu pandang. Senja lalu bangkit dari duduknya tapi tangannya di


tahan oleh Art.


“Mau kemana ? aku kan cuma nanyain mantan, kok ngambek,”


jawab Art menjelaskan.


“Udah deh,”


“Apa aku batalin aja nikahnya, lalu melamar kamu !” Art lalu


berdiri dan mata mereka bertatapan,


“Ehem...” Dime spontan berdehem melihat mereka berdua


“Udah telat...” jawab Senja sambil menarik tangannya, gadis


itu berjalan lurus masuk kedalam rumah tanpa menoleh ke arah Dime sedikit pun.


“Gila cantik banget,,, deg degan gue,” celoteh Art sambil

__ADS_1


tertawa, lalu pandangannya mengalih pada Dime yang masih menenteng tas


kerjanya.


“Jangan main-main, kapan kamu sampai ?” tanya Dime


“Tadi pagi,,,  mommy yang telpon kamu


bang ?”


“Iya,,, mana calonmu ? gak dibawa ?”


“Itu yang barusan masuk !” jawab Art asal sambil tertawa, ia tahu kakak


sepupunya itu selalu pasang wajah serius. “Aku gak tahu kalau Senja itu


ternyata keponakannya mommy,” lanjut Art lagi


“Kamu sudah lama kenal dia ?”


“Lumayan, dia mahasiswaku di kampus. Hampir goyah aku bang,


seringan aku bareng dia dari pada calonku, tapi sainganku banyak,” celoteh Art


sambil tertawa lebar dan hanya disambut senyum dingin oleh Dime.


.....^-*.....


Suasana hangat terasa di meja makan malam itu, tak seperti


tadi siang, kali ini Senja ikut makan malam bersama mereka. Sesekali  Art melontarkan candaan untuk menggoda Senja


dan ditanggapi cuek oleh gadis itu.


Radinka yang biasanya anteng untuk makan sendiri tapi malam


ini agak rewel dan minta Senja yang menyuapinya makan tapi itu malah membuat


Senja senang karena ia menjadi tak canggung ada di sana.


Selepas makan malam, semua larut dengan kegiatan


masing-masing, mom yang menemani Radinka tidur sedangkan Dime sibuk dengan


smartphonenya, walau malam lelaki itu masih mengurus pekerjaannya.


Tak lama Senja lewat sambil membawa sebungkus makanan ikan


teras depan.


Dengan hati-hati gadis itu berjalan di samping kolam ikan


yang licin, ia menaburkan sedikit di sisi kanan dan langsung dikerubuti


ikan-ikan yang membuatnya tertawa geli, bagai anak kecil yang perutnya


dikelitiki,,,, lalu ia menaburkannya lagi di sisi kiri dan diserbu lagi oleh


ikan yang belum kebagian.


“Ayo cepat sini.. sini, mama kasi makan,” ucapnya sambil


tersenyum, senyumnya cantik, hingga lesung pipinya tampak sangat dalam, angin


malam yang semilir membuat rambut tergerainya melambai-lambai.


“eits,” ucap Dime spontan ketika melihat gadis itu hampir


terpeleset, untung suaranya tak keras sehingga Senja tak mendengarnya. Tanpa


Dime sadari, ia memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu dan menikmati senyum


manisnya.


“Kau menaruh bom waktu dihatimu  bang,,,,” ujar Art yang melihat mereka dari


kejauhan.


----^-^-----


Tiga hari kemudian, Dime sekeluarga sudah sibuk berkemas,


mereka akan berangkat ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan Art. Si mbok pun


sudah tampak rapi lengkap dengan koper kecil miliknya,,,”cie si mbok,,,, jangan


lupa oleh-oleh untuk adek ya,” gumam Senja bergelayut manja pada si mbok.


“La,,emangnya nak Senja gak ikut ke Surabaya ?”

__ADS_1


“Gak lah,,, adek di sini aja,,,”


“Ingat ya Senja, janji kamu sama mommy,” ucap mom yang


tiba-tiba menghampiri mereka.


“Iya mom,,,, adek lagi dateng bulan, sakit banget, makanya


gak ikut, ntar malah ngerepotin yang lain,”


“Iya, mommy ngerti tapi ingat kamu jangan keluyuran,” pesan


mommy lagi, wanita tua itu agaknya mengerti keadaan Senja karena sejak awal


Senja sudah menceritakan tentang lupus yang dideritanya.


“Acaranya masih tiga hari lagi, nanti kamu nyusul ya, paling


gak kamu ucapin selamat sebentar sambil ketemuan sama keluarga besar ayahnya


Dime di sana,” tambah mommy


Deg,,,, tiba-tiba perasaan Senja tak enak,,,’keluarga besar


? apa mereka tahu tentang statusnya sebagai isteri Dime,,,ish...gak deh,,,


orang mesum kayak gitu,’ wajah Senja mengernyit saat memikirkannya, jangankan


sebagai isteri, Dime dan Senja bahkan tak pernah bicara berdua kecuali insiden


kamar mandi yang sangat intim kemarin.


“Iya mommy,,, ntar adek ajak Vanya sama temen kampus yang


lain,”


“Janji ya,”


“Siap,”


Senja dan bi Asih membantu si mbok dan pak Ujang memasukan


barang- barang ke mobil, sedangkan Radinka terus merengek, protes kenapa Mommy


kecilnya (Senja), tak ikut pergi bersama mereka.


“Ada apa ? tanya Dime, sambil meletakan laptopnya di jok


belakang mobil. Dia baru selesai berkemas, aroma harum sabun pun masih tercium


dari tubuhnya.


“Ini Radinka rewel, mommy kecilnya  gak ikut,” jawab mom


“Dia gak pergi ?”


“Nanti nyusul katanya,” Mom membawa masuk Radinka ke dalam


mobil, ia tak mau melanjutkan percakapan dengan Dime, karna takut diberondong


pertanyaan lain oleh anak lelaki itu. Dime menoleh ke arah Senja, lalu berjalan


mendekatinya.


“Kamu gak pergi ?”


“Nggak,” jawab Senja sambil tersenyum lebar


“Bahagia sekali nampaknya,”


“Iya dong,,,gak lihat muka orang mesum sehari saja itu


rasanya seperti ..... akh gak bisa digambarkan,”


“Oh,,,” ucap Dime dingin. “Bi Asih,,, foto kegiatannya


selama sejam sekali, kirim ke saya,,,  hidupkan CCTV,,,, minimalisir perempuan ini membuat masalah,”


Senja ternganga mendengar ucapan Dime,,, belum sempat Senja


membalas kalimatnya, Dime sudah berjalan dan masuk ke mobil,


“Selamat menikmati hari kebebasanmu,,,” ucap Dime tersenyum


licik lalu menutup pintu mobilnya....


“Arggggg ... orang gila..”


.///// bersambung/////.

__ADS_1


(makasih banyak yang sudah baca ^-^ heppy reading)


__ADS_2