
Senja Untuk Sang Direktur
Cemburu
Senja termenung seorang diri di kamarnya, setelah pengalaman pertamanya dengan Dime
kemarin malam kini ia harus menyaksikan wajah dingin dari wanita masa lalu
suaminya. Mereka memang sudah pernah bertemu sebelumnya tapi kali ini dengan
suasana berbeda.
Senja mengusap wajahnya beberapa kali, melihat ke jam
dinding yang menunjukan bahwa ini sudah lewat tengah malam, ia memandang tempat
kosong di sebelahnya dimana Dime biasanya berbaring, sejak tadi lelaki itu
memang belum kembali ke kamarnya.
Kedatangan Marisa yang tiba-tiba ingin mengambil Radinka
tentu bukan masalah yang ringan untuk suaminya itu, tapi jika mengingat apa
yang diperbuat Marisa dimasa lalu, apakah pantas ia ingin membawa anak itu
sekarang, apalagi ia juga menginginkan Dime kembali ke sisinya.
“Maaf, kali ini aku tidak akan mengalah, karena kak Dimi dan
Radinka bukan boneka seperti waktu itu,” gumam Senja dalam hati.
“Sayang, kamu masih belum tidur,” ucap Dime yang tiba-tiba
masuk ke kamar, pria itu langsung memeluk isterinya itu dengan erat, ia merasa
bersalah sudah mengabaikan Senja daritadi.
“Ini baru mau tidur, kak Dimi mandi dulu sana, bau ....”
ucap Senja sambil melepaskan pelukan Dime secara perlahan.
“Masa sih bau,,, nggak kok, aku kan sudah mandi tadi,” jawab
Dime sambil mencium baju dan tubuhnya. Senja menatap lekat pada Dime yang duduk
didepannya, tiba-tiba air matanya jatuh dan itu membuat Dime panik.
“La kok nangis sih,, kamu kenapa sayang,” Dime mencoba
menghapus air mata itu dengan tangannya, namun ditepis Senja, sebenarnya ia
juga tak ingin menangis, tapi entah kenapa setelah melihat wajah Dime ia
menjadi takut dan merasa kesal.
Senja menutup matanya sejenak, bayangannya kejadian tadi
masih membekas, bagaimana cara Dime melihat dan memperlakukan Marisa, dan
mereka hanya bicara berdua tanpa melibatkannya, membuat perasaan Senja menjadi
sakit.
“Hei-hei jangan menangis, kamu kenapa sayang,,, aku salah
ya, aku minta maaf,” ucap Dime yang kebingungan, ia kembali menarik Senja
kedalam pelukannya walau Senja berontak.
“Lepasin kak Dimi, aku mau tidur,” ucap Senja, sejenak Dime
melepas pelukannya, lalu menatap dalam wajah Senja yang masih tampak basah
dengan air mata.
“Kamu marah ya, aku gak maksud mengabaikan kamu sayang,,,,
aku...
“Aku mau tidur kak Dimi, aku ngantuk,,,,”
“SENJA... tolong jangan begini,,, kamu kenapa
sebenarnya ? “
__ADS_1
“Gak kenapa-kenapa... cuma ngantuk,” Senja menarik tangangnya yang digenggam Dime,
tapi tak dilepaskan lelaki itu, bahkan saat Senja mencoba mengalihkan
pandangannya dari Dime, pria itu kembali memaksa Senja untuk menatapnya.
“Tolong jangan berpikir macam-macam, aku gak ada apa-apa
dengan Marisa, kami sudah selesai, cuma untuk masalah Radinka, aku akan mencoba
berdamai dengannya,”
Senja menyeka air matanya, “Kalau kak Dime mau kembali sama
Marisa, aku gak apa-apa kok,” gumam Senja pelan dan disambut dengan reaksi
terkejut oleh Dime, sejak awal ia sudah mengira persoalan itu yang membuat
Senja kesal padanya.
Dime tiba-tiba tersenyum, ada rasa sedikit senang terbesit
dihatinya karena kemarahan Senja, bukankah itu tanda wanita ini sedang cemburu.
Dime kembali menarik Senja dan memberikan ciuman bertubi-tubi, walau Senja
berontak dan mengigitnya sekalipun ia tak melepaskannya dan terus menyerang
bibir isterinya itu dengan frontal, hingga akhirnya Senja yang menyerah.
“Kak Dimi jahat,” gumam Senja pelan, membuat Dime
menghentikan aksinya sesaat
“Heem,,, yang jahat itu kamu,,, tiba-tiba marah, buat aku
bingung,,,,kan sudah kubilang, sejak ada Senja, tak mungkin ada wanita lain,
walau Marisa sekalipun,”
“Bohong,”
Dime tersenyum melihat wajah cemberut Senja, tanpa basa basi
ia kembali melesap bibir ranum itu, begitu lama dan mulai begerilya dengan
“Kak Dimi ?”
“Ssttt... kita buat adik bayi untuk Radinka ya,”
“ ... “
...... ^-* .......
///// Tiga Hari kemudian /////
Dime terkejut setengah mati, jantungnya seakan ingin
melompat keluar, penjelasan Ryuji membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Tiga
hari lalu, sebenarnya Ryu sudah menghubunginya dan mengajak bertemu, namun
karena harus mengurus masalah Radinka, pertemuan ini tertunda selama tiga hari.
“Apa tidak ada alternatif pengobatan lain atau di bawa
keluar negeri,” ucap Dime panik
“Mungkin perawatan di luar negeri cukup baik, namun untuk
saat ini, aku rasa lebih baik kita observasi dulu, karena kondisi Senja yang
kurang stabil dan yang pasti Senja akan menolak untuk di rawat. Cobalah untuk
membujuknya, dan kosongkan jadwalmu untuk menemaninya, kalau tidak aku akan
minta Hans yang melakukannya,”
Dime memandang kesal ke arah Ryuji, memang kali ini
kesalahannya karena baru sempat menemui dokter mantan pria masa lalu isterinya
ini.
“Aku akan bicara pelan-pelan pada Senja, dan tolong ingat,
__ADS_1
sekarang aku pria terdekat Senja, dokter,” ucap Dime sambil berdiri menyalami
Ryu yang tampak mengintimidasinya itu.
Dime berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit,
perasaannya campur aduk, ucapan Ryu terus terngiang-ngiang dibenaknya, “Apa dia
sedang menyindirku, tapi bagaimana jika apa yang dikatakannya itu benar,
bagaimana jika nanti Senja hamil karena kami melakukannya setiap hari,’ gumam Dime
dalam hati.
.... ^-*-----
Sementara itu di ruang perawatan Hans, Senja sedang duduk
sambil mengupaskan buah untuknya, tak seperti kemarin, hari ini Hans tak
mempermasalahkan keberadaan Senja di kamarnya.
Matanya terus menatap ke arah Senja, walaupun kabur namun ia
masih bisa melihat sosok itu. “Kalau mengantuk, berbaring saja di sana, aku akan
duduk disini sambil menunggu Vanya datang,” ucap Hans yang melihat Senja
menguap beberapa kali.
“Boleh ya,,, nanti kalau ada dokter masuk gimana ?”
“Ryuji ?”
“Memangnya dokternya kak Ryu ya,,, gak ada dokter lain gitu
?”
“Ntahlah,,, kurasa sebentar lagi rumah sakit ini juga akan
jadi miliknya,”
Senja tertawa mendengar guyonan Hans, ia meletakan piring buah
didekat Hans lalu berbaring di sofa, entah kenapa hari ini ia merasa sedikit
lelah,
“Nanti kalau kak Dimi datang, tolong bangunkan ya,” ucap
Senja lalu meletakan kepalanya diatas bantal kecil sambil berbaring miring
menghadap Hans.
“Dia tahu kamu disini ?”
“Iya,,, tadi datangnya barengan,,, katanya kak Dimi ada
janji sama kak Ryu,”
“Hmm,”
Hans diam tak bicara lagi, entah orang macam apa Dimi itu
hingga mengizinkan isterinya untuk bersama mantan kekasihnya, pikirannya Hans
sedikit mengawang namun tak lama pintu ruang perawatan itu terbuka.
“Maaf,,, boleh masuk ?” tanya Dimi sambil mengedar pandangan
ke ruangan itu dan matanya berhenti pada sosok Senja yang sudah terlelap di
kursi.
“Dia tampak lelah, jadi ketiduran,” ucap Hans dan ditanggapi
senyum sekilas dari Dime. Pria itu lalu duduk di samping Senja, tangannya
membenahi rambut Senja yang sedikit terlepas dari ikatannya.
“Terimakasih sudah menjaganya selama ini,” ucap Hans dingin.
Dime menoleh kearah pria itu, memandangnya dengan sejuta arti, pria yang selalu dikhawatirkan Senja itu.
“Aku akan membawanya pulang sekarang,” ucap Dime sambil
__ADS_1
tersenyum sekilas, tanpa membangunkan Senja, Dime langsung membopongnya pergi. “Sial,
mengapa pria itu begitu tampan,’ gumam Dime kesal. //// bersambung