Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 50


__ADS_3

Senja Untuk Sang Direktur


Cemburu


Senja termenung seorang diri di kamarnya,  setelah pengalaman pertamanya dengan Dime


kemarin malam kini ia harus menyaksikan wajah dingin dari wanita masa lalu


suaminya. Mereka memang sudah pernah bertemu sebelumnya tapi kali ini dengan


suasana berbeda.


Senja mengusap wajahnya beberapa kali, melihat ke jam


dinding yang menunjukan bahwa ini sudah lewat tengah malam, ia memandang tempat


kosong di sebelahnya dimana Dime biasanya berbaring, sejak tadi lelaki itu


memang belum kembali ke kamarnya.


Kedatangan Marisa yang tiba-tiba ingin mengambil Radinka


tentu bukan masalah yang ringan untuk suaminya itu, tapi jika mengingat apa


yang diperbuat Marisa dimasa lalu, apakah pantas ia ingin membawa anak itu


sekarang, apalagi ia juga menginginkan  Dime kembali ke sisinya.


“Maaf, kali ini aku tidak akan mengalah, karena kak Dimi dan


Radinka bukan boneka seperti waktu itu,” gumam Senja dalam hati.


“Sayang, kamu masih belum tidur,” ucap Dime yang tiba-tiba


masuk ke kamar, pria itu langsung memeluk isterinya itu dengan erat, ia merasa


bersalah sudah mengabaikan Senja daritadi.


“Ini baru mau tidur, kak Dimi mandi dulu sana, bau ....”


ucap Senja sambil melepaskan pelukan Dime secara perlahan.


“Masa sih bau,,, nggak kok, aku kan sudah mandi tadi,” jawab


Dime sambil mencium baju dan tubuhnya. Senja menatap lekat pada Dime yang duduk


didepannya, tiba-tiba air matanya jatuh dan itu membuat Dime panik.


“La kok nangis sih,, kamu kenapa sayang,” Dime mencoba


menghapus air mata itu dengan tangannya, namun ditepis Senja, sebenarnya ia


juga tak ingin menangis, tapi entah kenapa setelah melihat wajah Dime ia


menjadi takut dan merasa kesal.


Senja menutup matanya sejenak, bayangannya kejadian tadi


masih membekas, bagaimana cara Dime melihat dan memperlakukan Marisa, dan


mereka hanya bicara berdua tanpa melibatkannya, membuat perasaan Senja menjadi


sakit.


“Hei-hei jangan menangis, kamu kenapa sayang,,, aku salah


ya, aku minta maaf,” ucap Dime yang kebingungan, ia kembali menarik Senja


kedalam pelukannya walau Senja berontak.


“Lepasin kak Dimi, aku mau tidur,” ucap Senja, sejenak Dime


melepas pelukannya, lalu menatap dalam wajah Senja yang masih tampak basah


dengan air mata.


“Kamu marah ya, aku gak maksud mengabaikan kamu sayang,,,,


aku...


“Aku mau tidur kak Dimi, aku ngantuk,,,,”


“SENJA... tolong jangan begini,,, kamu kenapa


sebenarnya  ? “

__ADS_1


“Gak kenapa-kenapa... cuma ngantuk,”  Senja menarik tangangnya yang digenggam Dime,


tapi tak dilepaskan lelaki itu, bahkan saat Senja mencoba mengalihkan


pandangannya dari Dime, pria itu kembali memaksa Senja untuk menatapnya.


“Tolong jangan berpikir macam-macam, aku gak ada apa-apa


dengan Marisa, kami sudah selesai, cuma untuk masalah Radinka, aku akan mencoba


berdamai dengannya,”


Senja menyeka air matanya, “Kalau kak Dime mau kembali sama


Marisa, aku gak apa-apa kok,” gumam Senja pelan dan disambut dengan reaksi


terkejut oleh Dime, sejak awal ia sudah mengira persoalan itu yang membuat


Senja kesal padanya.


Dime tiba-tiba tersenyum, ada rasa sedikit senang terbesit


dihatinya karena kemarahan Senja, bukankah itu tanda wanita ini sedang cemburu.


Dime kembali menarik Senja dan memberikan ciuman bertubi-tubi, walau Senja


berontak dan mengigitnya sekalipun ia tak melepaskannya dan terus menyerang


bibir isterinya itu dengan frontal, hingga akhirnya Senja yang menyerah.


“Kak Dimi jahat,” gumam Senja pelan, membuat Dime


menghentikan aksinya sesaat


“Heem,,, yang jahat itu kamu,,, tiba-tiba marah, buat aku


bingung,,,,kan sudah kubilang, sejak ada Senja, tak mungkin ada wanita lain,


walau Marisa sekalipun,”


“Bohong,”


Dime tersenyum melihat wajah cemberut Senja, tanpa basa basi


ia kembali melesap bibir ranum itu, begitu lama dan mulai begerilya dengan


“Kak Dimi ?”


“Ssttt... kita buat adik bayi untuk Radinka ya,”


“ ... “


...... ^-* .......


///// Tiga Hari kemudian /////


Dime terkejut setengah mati, jantungnya seakan ingin


melompat keluar, penjelasan Ryuji membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Tiga


hari lalu, sebenarnya Ryu sudah menghubunginya dan mengajak bertemu, namun


karena harus mengurus masalah Radinka, pertemuan ini tertunda selama tiga hari.


“Apa tidak ada alternatif pengobatan lain atau di bawa


keluar negeri,” ucap Dime panik


“Mungkin perawatan di luar negeri cukup baik, namun untuk


saat ini, aku rasa lebih baik kita observasi dulu, karena kondisi Senja yang


kurang stabil dan yang pasti Senja akan menolak untuk di rawat. Cobalah untuk


membujuknya, dan kosongkan jadwalmu untuk menemaninya, kalau tidak aku akan


minta Hans yang melakukannya,”


Dime memandang kesal ke arah Ryuji, memang kali ini


kesalahannya karena baru sempat menemui dokter mantan pria masa lalu isterinya


ini.


“Aku akan bicara pelan-pelan pada Senja, dan tolong ingat,

__ADS_1


sekarang aku pria terdekat Senja, dokter,” ucap Dime sambil berdiri menyalami


Ryu yang tampak mengintimidasinya itu.


Dime berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit,


perasaannya campur aduk, ucapan Ryu terus terngiang-ngiang dibenaknya, “Apa dia


sedang menyindirku, tapi bagaimana jika apa yang dikatakannya itu benar,


bagaimana jika nanti Senja hamil karena kami melakukannya setiap hari,’ gumam Dime


dalam hati.


.... ^-*-----


Sementara itu di ruang perawatan Hans, Senja sedang duduk


sambil mengupaskan buah untuknya, tak seperti kemarin, hari ini Hans tak


mempermasalahkan keberadaan Senja di kamarnya.


Matanya terus menatap ke arah Senja, walaupun kabur namun ia


masih bisa melihat sosok itu. “Kalau mengantuk, berbaring saja di sana, aku akan


duduk disini sambil menunggu Vanya datang,” ucap Hans yang melihat Senja


menguap beberapa kali.


“Boleh ya,,, nanti kalau ada dokter masuk gimana ?”


“Ryuji ?”


“Memangnya dokternya kak Ryu ya,,, gak ada dokter lain gitu


?”


“Ntahlah,,, kurasa sebentar lagi rumah sakit ini juga akan


jadi miliknya,”


Senja tertawa mendengar guyonan Hans, ia meletakan piring buah


didekat Hans lalu berbaring di sofa, entah kenapa hari ini ia merasa sedikit


lelah,


“Nanti kalau kak Dimi datang, tolong bangunkan ya,” ucap


Senja lalu meletakan kepalanya diatas bantal kecil sambil berbaring miring


menghadap Hans.


“Dia tahu kamu disini ?”


“Iya,,, tadi datangnya barengan,,, katanya kak Dimi ada


janji sama kak Ryu,”


“Hmm,”


Hans diam tak bicara lagi, entah orang macam apa Dimi itu


hingga mengizinkan isterinya untuk bersama mantan kekasihnya, pikirannya Hans


sedikit mengawang namun tak lama pintu ruang perawatan itu terbuka.


“Maaf,,, boleh masuk ?” tanya Dimi sambil mengedar pandangan


ke ruangan itu dan matanya berhenti pada sosok Senja yang sudah terlelap di


kursi.


“Dia tampak lelah, jadi ketiduran,” ucap Hans dan ditanggapi


senyum sekilas dari Dime. Pria itu lalu duduk di samping Senja, tangannya


membenahi rambut Senja yang sedikit terlepas dari ikatannya.


“Terimakasih sudah menjaganya selama ini,” ucap Hans dingin.


Dime menoleh kearah pria itu, memandangnya dengan sejuta arti,  pria yang selalu dikhawatirkan Senja itu.


“Aku akan membawanya pulang sekarang,” ucap Dime sambil

__ADS_1


tersenyum sekilas, tanpa membangunkan Senja, Dime langsung membopongnya pergi. “Sial,


mengapa pria itu begitu tampan,’ gumam Dime kesal. //// bersambung


__ADS_2