
Senja Untuk Sang Direktur
Antara Aku, Kau dan Dia
Mata Dime dan Senja saling bertatapan, setelah seminggu ini
Radinka menemani mereka tidur bersama kali ini mereka harus tidur berdua karena
Radinka kembali tidur di kamar mom. Senja mengalihkan pandangannya, kini
menatap langit kamar yang mulai terasa akrab dengannya, ia lelah karena
seharian ini duduk termenung di rumah sakit, tanpa bisa mendekat apalagi
berbicara dengan Hans.
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, banyak cerita yang
ingin ia sampaikan namun mungkin itu hanya angannya saja, karena Hans sama sekali
tak mau bertemu dengannya, mendengar namanya saja membuat lelaki itu histeris
dan frustasi.
“Kamu kenapa ?” tanya Dime sembari merebahkan kepalanya di
atas bantal, pemandangan kali ini agak sedikit berbeda tanpa Radinka tidur di
tengah-tengah.
“Gak kenapa-napa, cuma sedikit capek !”
“Kamu kerja apa sampai capek begitu,” Sindir Dime dengan nada dingin
“Ish, kak Dimi ini sukanya main sindir-sindiran”
“Lalu?"
“Lalu apanya, lalu lintas ..... ugh... aku ke rumah sakit tadi siang, Hans sudah mulai dirawat,”
“Heem...”
“Kok Heem sih ....,”
Dime menghembus nafas panjang lalu berbaring menyamping
menghadap Senja, ia membesarkan bola matanya, mengisyaratkan agar Senja
bercerita. Sedikit tersenyum gadis itu mulai bicara tentang kegusaran hatinya,
tentang Hans yang menolak untuk bertemu dengannya bahkan tak ingin Senja tahu
bahwa ia sudah kembali ke Indonesia.
“Jadi kamu ingin dia (Hans) bereaksi seperti apa ?
merengek-rengek minta maaf di depanmu atau mengeluh bahwa ia kini sedang
kesakitan ?” tanya Dime yang membuat Senja sedikit terperanjat.
Senja yang awalnya berbaring terlentang kini memiringkan
badannya menghadap Dime, minta penjelasan dari perkataan yang menusuk hatinya itu.
“Ya setidaknya, kalau dia anggap aku penting, orang yang pertama untuk berbagi kisah adalah aku kan,” debat Senja.
“Hatiku sakit ketika ia menghilang tanpa kabar, ditambah dengan kepergian bunda, suka atau tidak aku jadi menyalahkannya, sekarang ketika dia kembali dan aku adalah orang yang tak mau ia temui, aku sakit kak Dime,,,sakit ...” Kalimat Senja mulai memarau,
__ADS_1
beberapa kali ia mengelap air yang tiba-tiba meleleh di pipinya.
Kini Dime yang memalingkan wajah dan mengubah posisi baringnya, ia sempat menghela nafas panjang sebelum memulai kalimat untuk Senja.
“Laki-laki itu kadang tak ingin terlihat rapuh di depan orang yang dicintainya, Senja ...... bukan hanya kamu yang sakit, bukan kamu
saja yang gagal menikah... dia juga, bahkan ia berada di posisi yang lebih sulit darimu sekarang,”
“Tapikan ..... “ Senja tak bisa meneruskan kalimatnya, sesak di dadanya tak bisa dibendung dan akhirnya ia hanya bisa menelungkupkan wajahnya dibantal sambil menangis.
Dime hanya diam melihat itu, ia membiarkan Senja menangis sejadinya agar beban yang ada selama ini tertumpah semua. “Semua akan lebih baik besok,” ucap Dime sambil menarik tubuh Senja dan memeluknya dengan erat.
//// Keesokan harinya /////
Hans sudah tampak segar siang itu, rambutnya sudah dipotong
rapi, wajahnya pun tak sekusam kemarin, sedari pagi Vanya sudah sibuk merombak
tampilan buluk saudara sepupunya itu. Ia bahkan menyuapi Hans dengan makanan
bergizi yang disiapkan oleh pihak rumah sakit.
“Percaya atau tidak, aku akan menelpon Senja, bila kau masih
seperti ini,” ancam Vanya, ekspresi Hans mulai masam, ia sedikit frustasi
ketika nama gadis itu disebut.
“Kau betul-betul tak memberitahunya kan ?”
“Untuk saat ini ... “
“Jangan macam-macam, aku akan minta kembali ke Singapore jika kamu berani memberitahunya Vanya,”
“Hans .... dunia ini luas, kalau bukan dariku bisa saja dia tahu dari orang lain, dari si ****** Lea misalnya,” jawab Vanya sambil
“Jangan sebut nama wanita itu, sudah cukup aku saja, aku takut dia menyakiti yang lain ?”
“Yang lain siapa ? Senja maksudmu?”
Hans terdiam, ia tak membalas kalimat Vanya lagi, ia memutar kursi rodanya menghadap jendela, siang itu cuaca tak begitu panas, seperti akan hujan sore harinya.
Seketika perasaan kalut itu kembali, mengingat kejadian enam
bulan lalu yang menimpanya, bagaimana ketidak hadirannya pada akad pagi itu
menjadi kesedihan berkepanjangan bagi gadisnya.
“Bagaimana aku bisa muncul di depanmu Senja, tolong maafkan aku,” gumamnya dalam hati.
Senja berjalan pelan di koridor rumah sakit, badannya sedikit tak enak hari ini, sendi-sendinya sedikit ngilu dan tangannya mengalami tremor.
“Gue kenapa sih, padahal belum jadwalnya,,,, apa jangan-jangan gara-gara semalam ya,” gumam Senja sembari menelusuri lorong,
dari kejauhan Vanya sudah melambaikan tangannya dan di sambut senyum oleh
Senja.
“Dia mana ?” ucap Senja setengah berbisik, dengan kode mata dari Vanya, Senja dapan melihat Hans yang masih mematung di depan jendela.
“Sudah setengah jam dia begitu,”
Senja menatap lurus pada sosok yang dulu sangat dicintainya itu, ada iba bahkan ada sedikit rasa gemas ingin datang langsung berdiri didepannya.
“Apa kata dokter ?” ucap Senja sambil menarik Vanya untuk duduk,
“Menurut Ryuji, besok ia sudah bisa kembali terapi untuk kaki dan tangannya, kalau hasilnya baik, mungkin ia sudah bisa berjalan dalam waktu dekat ini,”
__ADS_1
“Benarkah ?”
“Ya....”
“Alhamdulillah ....”
“Tapi .....”
“Tapi apa ?”
“Kondisi penglihatannya memburuk, kornea matanya rusak,
sekarang saja ia tak bisa memandang jelas lebih dari satu meter dan kedepannya
mungkin ia akan mengalami kebutaan,”
“ .... “
Ucapan Vanya mampu membuat sendi-sendi ditubuh Senja
melunglai, sakit yang dirasakannya tadi, kini bertambah berkali-kali lipat,
rasanya ia tak sanggup untuk berdiri lagi...
“Senja, lo kenapa ? Sakit ?” ucap Vanya panik melihat sahabatnya kini sudah merebahkan kepala di bahunya.
“Badan gue sakit Nya,”
“Ya Allah, maafin gue, gue gak maksud buat lo panik, gue telpon Ryuji dulu ya,”
“Gak usah,,,, hubungin kak Dime saja,,,”
“Kak Dime ?”
“Heem....”
Walau sedikit bingung, tapi Vanya langsung merogoh tas Senja
untuk mencari telpon genggamnya, tanpa berpikir panjang ia langsung menelpon
Dime, yang kebetulan namanya ada dipencarian paling atas.
“Udah gue telpon, sebentar lagi dia datang ... ke ruang perawatan dulu gimana ? .... Senja ... Senja...”
Vanya makin panik, karena Senja sudah tak bergerak, bahkan
badannya sudah sedingin es, Vanya mencoba berdiri sambil mengangkat tubuh Senja,
tanpa di sadarinya ia malah berteriak memanggil suster.
“Vanya ada apa ?” teriak Hans dari dalam, dengan susah payah
pria itu mendorong kursi rodanya menuju ke arah pintu.
“Hans... Hans tolong gue, teleponin suster, temen gue
pingsan .... cepetan Hans,” teriak Vanya setengah menangis, Hans kemudian
berbalik arah memencet tombol yang terhubung ke ruang jaga, tak lama dua orang
suster datang menghampiri Vanya dan membantu menaikan tubuh Senja ke tempat
tidur dorong.
“Itu Senja, apa itu Senja,” ucap Hans yang termangu di depan pintu melihat suster yang
sedang mengevakuasi Senja .... //// Bersambung.
__ADS_1