
Dime melangkahkan cepat kakinya menuju salah satu ruangrawat khusus di National University Hospital (NUH) Singapore, nafasnya sedikit ngos-ngosan karena berjalan tanpa jeda. Tiba-tiba langkahnya terhenti, tanpa
melihat pun ia tahu itu suara isterinya, Senja.
Senja Untuk Sang Direktur
Remuk Redam
Badan Senja bergetar hebat, jantungnya terasa berhenti
berdetak,,, siapa ? siapa yang ada didepan matanya sekarang,,, pria yang selama
enam bulan ini memenuhi hatinya dengan kebencian, bahkan untuk hidup pun sudah
tak ada arti buatnya.
Ditinggal tanpa kabar sesaat sebelum akad, kehilangan bunda
yang sangat dicintai dan lihat dirinya sekarang, menjalani kehidupan sebagai
isteri kedua dari laki-laki yang tak mencintainya.
Senja maju selangkah, menyentuh kaca yang membatasi mereka, pria itu duduk diatas kursi roda dengan pandangan kosong, rambutnya panjang tak terurus, tubuhnya kurus walau masih tersisa kegagahannya dimasa
lalu.
Kaki Senja melemas, hampir ia tersungkur andai saja Ryuji tak dengan cepat menahan tubuhnya,
“Kak ?”
“Aku juga baru tau Senja,,,, kudengar ia mengalami kelumpuhan,”
Senja melihat kearah Ryuji, mata itu seakan ini meminta
kejelasan tentang apa yang terjadi, Ryuji menyeka bulir air yang jatuh dipipi Senja,
ia tahu semua ini membuka luka lama yang baru saja terjahit rapi,
“Menurut info yang kudapat, Hans dan Fabio di bawa sekelompok orang dari
bandara menuju sebuah pulau, aku pun tak jelas itu dimana, mereka disekap dan baru ditemukan. Sepertinya mereka sengaja dilepaskan dan kami
mendapatkan pesan bahwa Hans dan Fabio sudah di rawat di sini,”
“Kak Fabio ?”
“Ya, ia juga di sini, nanti kita jenguk sekalian,”
Senja menutup wajah dengan kedua tangannya, air matanya
sudah tak terbendung lagi, pertahanannya runtuh seketika, kemarahan dan
kebenciannya selama ini juga tak sebanding dengan derita yang ditanggung Hans
bahkan Fabio juga ikut terseret.
“Adek tenanglah,,, kalau kamu begini, bagaimana dengan Hans,
kamu satu-satu harapan agar dia bisa bangkit lagi,,, punya keinginan untuk sembuh,,,,”
Senja bagai tersambar petir, bagaimana ini bisa terjadi,,, ia mengetahui
ini setelah dirinya sudah dimiliki orang lain.
“Kak “
“Aku tahu kamu belum siap, tenanglah, aku akan membawa
mereka kembali ke Indonesia jadi kita bisa merawatnya disana,”
Senja hanya mengangguk,,, wajahnya basah dengan air mata,,,
tak lama mereka berdua keluar menuju koridor rumah sakit.
Ryuji meninggalkan Senja yang duduk di depan ruang rawat
inap untuk mendapatkan rekam medis Hans dan Fabio. Sedangkan Senja sudah membersihkan
wajahnya, walaupun mata sembabnya masih terlihat. Senja tertunduk sambil
memainkan HP ditangannya, tak lama
terdengar langkah kaki mendekat.
“Kak Ryu, kok ce.... “
Kalimat Senja terhenti, sosok itu melihatnya dengan tatapan
menusuk, bukan Ryuji tapi Dime..
__ADS_1
“Kok ada di sini ?” gadis itu gugup, namun masih mencoba
berdiri ,
“Heem.... aku baru tahu tempat jalan-jalan di Singapore
sudah berubah “ Sindir Dime
Senja terdiam, sebenarnya ia juga baru tahu akan dibawa
menemui Hans hari ini, Mata keduanya saling pandang, baru saja Senja akan
memulai kalimatnya namun langsung di potong oleh Dime,
“Kenapa tidak jujur ?”
“Maaf,,, aku juga baru tau,”
Dime terdiam antara
percaya dan tidak, “Lalu ?”
“Apanya ?”
“Kamu pulang atau tetap di sini ?”
Kali ini Senja yang terdiam, “aku....”
“Baiklah .....gunakan ini selama kau menjadi isteriku,,, aku
tidak suka kau menggunakan uang orang lain,” ucap Dime sambil meletakan kartu
debit miliknya, Mata dingin lelaki
berhasil membuat Senja membeku, kalimat demi kalimat Dime terasa mengirisnya tipis-tipis,
“Dan katakan jika kau telah mengambil keputusan, aku akan
membebaskan mu, kapan pun kau minta itu dariku,"
Dime berbalik lalu melangkah hingga tak tak tampak lagi dari pandangannya,
Senja menarik nafas panjang, hatinya terasa sakit. Ia kembali terduduk lemas,
sakit.
‘Kemana Dimitri yang ku kenal kemarin, Dimitri yang datang
dengan pelukan hangat dan tersenyum padaku,,, apa aku salah,,, inikah dia yang
sebenarnya, dingin dan tak berperasaan,’
......^-^.......
Keesokan harinya, Senja dan Vanya kembali pulang ke
Indonesia, sementara Ryuji masih tetap tinggal untuk mengurus kepulangan Hans. Begitu
sampai didepan pintu, Mom menyambutnya seperti biasa, hangat disertai celotehan
khas ala mommy, sepertinya Dime belum menceritakan perihal kemarin.
“Jadi kapan mereka membawanya pulang ?” tanya Mommy
“Minggu depan mom,”
Mom diam sejenak matanya memandang ekspresi sendu Senja
setelah menceritakan semuanya, kecuali bagian bertemu dengan Dime. Tak lama
senyum hangatnya mengembang, wanita itu tau kondisi hati Senja kini sedang
resah yang tergambar dari mimik wajahnya ataupun suaranya yang terdengar serak.
“Istirahat dulu,,, nanti kita bicarakan lagi bertiga !”
“Bertiga ?”
“Iya, bertiga,,, sama Dime juga,”
Ekspresi keterkejutan Senja membuat mom paham, bahwa Senja
juga merisaukan hal yang sama dengannya, bagaimana dengan Dime, bagaimana
reaksi lelaki itu.
----^-^-----
__ADS_1
Mereka bertiga kini duduk diruang tengah, semua tenggelam
dengan pikiran masing-masing hingga ruangan itu senyap, Dime berdehem beberapa
kali berharap dari kedua wanita di depannya itu ada yang buka suara.
“Lalu ada apa sampai kita bertiga harus duduk bersamaan
seperti ini, ada yang ingin dibicarakan?”
Senja melihat ke arah mommy dan mengerlingkan mata, isyarat
supaya mom membantunya.
“Itu Dime... Sen...” kalimat mommy terhenti, ketika Dime
langsung menyela dengan tatapannya,
“Mom ... kalau kita punya masalah biasanya kita bicarakan berdua,..
“ Mommy dan Dime saling pandang, lalu mata Dime beralih pada Senja yang bengong
sendiri,
“Lalu, apa kamu mau begitu juga ... Senja,”
“Apanya ?,” jawab Senja cepat karena Dime tiba-tiba menyebut namanya,
“Mau bicara di sini atau di kamar ?”
“Di sini aja,,, ngapain mesti ke kamar,” jawab Senja sedikit
gelagapan.
Senja mulai berbicara dari A sampai Z tanpa ada yang
terlewat, tentangnya, tentang Hans dan hubungan mereka, Dime hanya diam tak
berekspresi apa-apa, hanya mendengarkan tanpa menyela dan tanpa komentar.
Mom beberapa kali memberi kode pada Senja untuk menghentikan
ceritanya, namun di abaikan oleh gadis itu, ia terus menceritakan kisahnya,
mungkin ini saatnya untuk mengatakan semua, agar tak ada satupun lagi rahasia
yang disimpannya dari Dime.
Mom yang khawatir melihat ekspresi dingin anak lelakinya itu,
beranjak dari duduknya mengambil teh hangat di dapur. Setidaknya bisa
mencairkan suasana yang terasa mencekam. ‘mendengar kisah cinta isteri sendiri,
bukanlah yang hal yang baik, walaupun mereka belum saling mencintai,’ pikir mom,
apalagi Dime termasuk tipe pria yang lumayan posesif.
“Sudah selesai ?” tanya Dime sambil menatap wajah Senja,
gadis itu menganggukan kepala tanpa menurunkan matanya dari mata Dime yang
menatapnya.
“Kamu ingin aku bereaksi seperti apa,,, kagum atau kasian
dengan kisah cintamu itu,”
“Gak perlu, aku hanya ingin cerita saja,, gak usah
repot-repot,” balas Senja ketus,
“Lalu maksudmu bercerita tentang ini ?”
Senja terdiam sejenak, menarik napas sebelum mulai menjawab
pertanyaan Dime,
“Dia kembali, orang yang kak Dimi lihat di Singapura. Dia
lumpuh karena aku,,, aku ingin
menemuinya,”
Kini Dime yang diam, ia tampak berfikir, tak lama mom masuk
membawa tiga cangkir teh untuk mereka, tanpa sepatah kata pun Dime beranjak sambil
membawa gelas tehnya masuk ke kamar, ///// bersambung
(makasih ya yang sudah baca,,, heppy reading..
__ADS_1