Senja Untuk Sang Direktur

Senja Untuk Sang Direktur
Episode 52


__ADS_3

Senja Untuk Sang Direktur


Firasat


“Kak Dimi, aku pergi dulu ya,,,,”


“Senja kamu mau kemana ?”


“Pergi,”


“Pergi kemana,,,, Senja ...


Senjaaaaa”


Dime terperanjat bangun, napasnya


ngos-ngosan, Senja yang sedari tadi mencoba membangunkannya langsung mengambilkan


segelas air putih dan  diteguk habis oleh


pria itu.


“Mimpi buruk ya ?”


“Iya... “ Dime menatap dalam


wajah isterinya, lalu memeluknya dengan erat dan dibalas elusan lembut oleh


Senja, masih terasa degup cepat jantung Dime bahkan ia enggan melepaskan


pelukan Senja.


“Senja jangan tinggalkan aku,”


“Ha ?”


“Please, aku mohon jangan pernah


pergi dariku,”


“Iya,,, kak Dimi mimpi apa sih,


sampai segitunya ?”


Dime diam tak menjawab, ia


menelusupkan kepalanya diceruk leher Senja, ini sudah kedua kalinya ia bermimpi


yang sama, dan sungguh membuat tak nyaman hatinya. Mungkin karena pertemuannya


dengan Lea hingga kalimat buruk Lea terbawa ke alam mimpi.


.... ^-*......


“Bagaimana hasil penyelidikanmu


tentang wanita itu, ini sudah lebih dari waktu yang kau janjikan padaku ?” ucap


Dime pada seorang pria, tatapannya yang mengintimidasi tak membuat pria


berjaket hitam itu goyah, ia tetap dengan gaya santainya sambil menyulut


sebatang rokok.


“Tenanglah Dime,,, berurusan dengan


Lea itu bukan perkara mudah dan seperti dugaanku wanita itu sudah melancarkan


serangan-serangan kecil ke keluargamu, apa kau tak merasakannya ?”


“Apa maksudmu ? “


“Hei,,,, Isterimu yang sekarang


itu adalah pemicu Lea melakukan “itu” dan kau tahukan penculikan itu dilakukan


dihari pernikahan Hans dan ....” Pria itu tak meneruskan kalimatnya, ia tahu


menyebutkan nama Senja di depan Dime saat ini akan menyendat pembayaran


bonusnya.


Pandangan Dime tambah menusuk


bukan untuk pria yang biasa dipanggil Herman itu tapi untuk kenyataan yang dia


akan hadapi, bahkan Lea dengan sombongnya sudah datang menemuinya kemarin.


Wanita itu menawarkan kerjasama


yang tak mungkin diterimanya dan berakhir dengan sebuah ancaman yang


mengerikan.


“Ini ?” ucap Herman sambil meletakan


sebuah amplop coklat dengan capat Dime membukanya dan membuat DIme tersenyum

__ADS_1


dengan hasil kerja pria itu karena bukti yang didapatkannya cukup detail.


“Tapi kau harus hati-hati karena


Lea itu licik, jika kau melangkah sekali maka ia akan menerjangmu dua kali,”


“Dia tak kan bisa melakukan itu,


aku akan melindungi Senja,”


“Tapi bagaimana dengan anakmu,”


“ Apa maksudmu ?”


“Kau kira kedatangan Marisa


dengan tiba-tiba itu adalah kebetulan,,, jangan terlalu naif Dime,,, Lea ada


dibelakang semua itu dan satu lagi,,, Direktur JY itu tak kan pernah mendapatkan


donor , aku bisa memastikan itu,”


“Shit ... Lea yang melakukannya ?”


“Ya,”


“Bagaimana bisa,,, bahkan Hans


sudah melakukan pemeriksaan dan hasilnya cocok, apa Lea mengintimidasi keluarga


donor, bagaimana mungkin ? bahkan itu bersifat rahasia,”


“Donor itu tak pernah ada, Lea


merekayasanya,”


“Shit...Shit,,,Shit, manusia


macam apa dia,”umpat Dime sambil memijat kepalanya yang penuh, jika benar donor


itu tak ada, bagaimana jika Senja mengetahui tentang ini. Herman hanya diam tak


berkomentar lagi, ia melihat bosnya sedang sedang kusut, ’inilah susahnya jika


perempuan sudah sakit hati, hancur dunia,” gumam Heran dalam hati sambil


menikmati rokoknya.


....^-*....


“Kepalaku kenapa pusing sekali,


terpaksa bangun dari tempat tidur karena terdengar suara gaduh dari luar. Senja


berjalan pelan hampir saja ia menabrak meja kalau bi Asih tak segera


menariknya.


“Nggak usah keluar nak Senja,,,


di kamar saja kan kepalanya masih pusing,”


“Iya,,, tapi itu ada apa, kenapa


ribut sekali,”


Bi Asih sedikit ragu, tapi akhirnya


ia bercerita juga, Senja sedikit terkejut dan langsung berjalan ke ruang tamu


di mana mom sedang ribut dengan Marisa. Mom tampak tak dapat menahan emosinya


ketika Marisa menarik cucunya dan itu membuat gadis kecil itu menangis


ketakutan.


“Mbak Marisa jangan begini,


Radinka ketakutan,” ucap Senja menengahi,,,,


“Mommy kecil,” teriak Radinka


sambil berontak dari kungkungan Marisa, tapi tetap wanita itu tak


melepaskannya, itu anaknya kenapa harus dekat dengan wanita lain, pikirnya.


“Jangan ikut campur, dasar


perempuan perebut suami orang,” ucap Marisa sambil mengacungkan telunjuknya


pada Senja


“Siapa yang kamu sebut perebut


suami orang, bukannya kamu sendiri yang kabur dengan lelaki lain dan


meninggalkan anak dan suamimu,” timpal mom emosi, Senja dengan sigap menarik

__ADS_1


tangan mom, menenangkan wanita tua itu. Karena bagaimanapun bertengkar di depan


anak kecil itu bukan pilihan yang bagus.


“Mom,,, Radinka ketakutan, jangan


emosi,” gumam Senja lirih, lalu mom memandang wajah cucunya yang sudah


berlinangan air mata dan pucat.


Senja menatap wajah Marisa, ia


tahu bagaimana perasaan wanita itu, Radinka anaknya, jelas ia merasa memilikinya


tapi caranya salah, sejak kecil Radinka tak pernah mengenal Marisa wajar kalau


ia merasa asing dan ketakutan.


“Sayang ini mama,” ucap Marisa


sambil bersimpuh di depan gadis kecil yang berlingan air mata itu, beberapa


kali wanita itu mencoba menyeka air matanya namun ditepis oleh Radinka.


“Mau mommy kecil.... “ rengeknya


sambil tersedu, tak ayal membuat Marisa sakit hati, dilihatnya Senja dan


jadilah mereka saling bertatap mata.


“Aku mau bicara denganmu


sebentar,” ucap Marisa dengan gaya pongahnya, ia berjalan duluan meninggalkan


Radinka yang langsung berlari menunju mom.


Senja menjurut dari belakang,


sedikit banyak ia tahu apa yang akan diucapkan oleh wanita ini, pasti kata-kata


pedas bahwa ia yang merebut Dime, Senja menghela nafas panjang lalu berdiri


berhadapan dengan Marisa.


Wanita yang mengenakan mini dress


ketat itu, memperhatikan Senja dengan seksama tersirat pandangan melecehkan dari


matanya. Kemudian wanita berambut pendek itu menyilangkan kedua tangannya lalu


mulai membuka kata dengan bibir merah yang mencolok itu.


“Aku sudah mendengar tentangmu,,,


jadi tinggalkan Dime sekarang,”


“Apa maksud mbak aku tak


mengerti, tapi satu yang perlu aku ingatkan, jangan pernah mengganggu kehidupan


rumah tangga orang lain. Isteri Dimitri Alexander itu adalah aku, bukan kamu,”


ucap Senja sambil menatap tajam, yang jelas ia harus menekankan posisinya pada


wanita ini dulu.


“Sombongnya,,, kau tahu Dime menikahimu


karena terpaksa oleh wanita tua itu, tapi hatinya masih ada aku,,,”


“Terserah dengan perasaan kak


Dime, yang jelas jangan buat keributan lagi, sebaiknya mbak pulang sekarang,”


“Kamu berani mengusirku, dasar


wanita sialan,”


“PLAAK,” sebuah tamparan keras


mendarat di wajah Senja tak ayal membuat wanita itu terhuyung. Senja segera memencet


hidungnya yang terasa panas, tak lama keluar darah segar dari sana.


“Oh itu rupanya senjatamu untuk


meluluhkan kan Dime, berhentilah berpura-pula lemah,” ucap Marisa yang bahkan tak


punya inisiatif untuk menolong, tanpa basa basi lagi wanita itu langsung pergi


meninggakan Senja.


“Mbok....mbok,,, tolong aku,”


ucap Senja setengah berteriak, tak lama si mbok berlari menghampiri Senja sudah


terduduk dengan posisi mengeluarkan darah dari hidung dan sela kakinya. ////

__ADS_1


(Bersambung).


__ADS_2