
Eve yang terjebak membuatnya tak punya pilihan lain, menginjak kaki Samuel dan segera kabur dari sana. Semua orang menatap kepergiannya, Anita menatap pria tampan itu dengan banyak pertanyaan.
"Apa kau adalah kekasih Eve?" tanya Anita yang sangat penasaran, ingin meyakinkan hatinya sekali lagi.
"Tentu saja." Jawab Samuel yang menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya. "Larilah sekuat yang kau bisa, Eve." Batinnya, berlalu pergi meninggalkan tempat itu, dia melirik pemilik kontrakan dan memberi isyarat pada wanita paruh baya itu.
Pemilik kontrakan mengangguk kepala dan menatap tajam Anita. "Untung saja kontrakanku aman, kau hampir menyeretku ke dalam masalah besar."
"Memangnya apa yang terjadi?" ujar Anita yang pongah.
"Kau tidak perlu tahu, yang harus kau ingat adalah jauhi kekasih dari tuan Samuel."
"Tapi Eve adalah sahabatku."
"Aku tidak mau tahu apapun yang perkataanmu, aku tidak ingin jatuh miskin karena kau membantu gadis itu untuk kabur." Peringatan pemilik kontrakan yang bergegas pergi meninggalkan Anita yang sangat bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ya tuhan…semoga Eve baik-baik saja. Aku tidak menyangka jika dia sudah mempunyai kekasih," monolog Anita yang menutup pintu.
Sementara di tempat lain, Eve terus berlari menghindar dari Samuel, memutuskan untuk bersembunyi dan memantau keadaan sekitar. "Semoga saja pria sinting itu tidak mengejarku lagi," gumamnya, mengatur nafas yang terengah-engah akibat berlari cukup jauh.
"Ya, aku harap begitu." Ucap seseorang yang berada di belakang Eve, membuat gadis itu menoleh ke belakang saat menyadari kejanggalan.
Eve membulatkan mata saat melihat pria sinting yang dia maksud berada tepat di belakangnya tengah tersenyum. "Senyumannya terlihat seperti mempunyai niat terselubung dan makna tersembunyi," batinnya yang menelan saliva dengan susah payah.
"Sudah cukup bermain-main denganku!" Tanpa menunggu waktu lagi, Samuel menggendong tubuh Eve layaknya sekarung beras, membawanya menuju masuk ke dalam mobil.
"Hai, lepaskan aku! Apa kesalahanku padamu?" Eve memukul punggung pria itu, karena telah menyulitkannya.
"Diamlah atau aku akan memukul pantatmu!" ancam Samuel yang terus berjalan, Eve menghela nafas dan tak ingin jika pria itu melakukan sesuai ucapan yang baru saja di dengar.
Di dalam mobil, Samuel menatap Eve dengan tajam, ingin meminta jawaban dari tindakan di hari ini. "Kau menipuku! Siapa kau?"
"Aku Eve, dan aku tidak membohongimu." Jawab Eve dengan santai, jauh di lubuk hatinya yang sangat gugup.
"Aku bukan pria bodoh yang mudah kau tipu, kenapa kau memberiku alamat yang salah?"
"Sebenarnya aku…aku__" Eve mencoba untuk mencari jawaban yang pas. Samuel mendekati Eve, jarak mereka sangatlah dekat hingga hembusan nafas dapat dirasakan oleh keduanya. "Apa yang kau lakukan, menjauhlah dariku!" ucap Eve yang sedikit takut, menunjuk pria itu agar segera menyingkir dari situasi yang terlihat canggung.
__ADS_1
"Aku hanya ingin membantumu memasang seatbelt," jawab Samuel seraya menyetir mobil.
Eve menggaruk pangkal hidungnya yang tidak gatal, berpikir jika pria itu akan menciumnya seperti drama film yang dia tonton.
"Katakan alamatmu yang asli, aku akan mengantarkanmu," celetuk Samuel yang fokus mengemudi.
"Aku tidak punya rumah," jawab Eve asal.
"Apa kau bercanda? Jangan membohongiku, apa kau pikir aku ini bodoh?" kesal Samuel.
"Kau tidak perlu tahu, lebih baik kau turunkan aku di depan saja."
"Tidak, aku ingin mengajakmu ke pusat perbelanjaan."
"Kenapa? Apa kau tidak takut jika kekasihmu melihat kita?" Eve menatap pria itu, enggan untuk pergi bersamanya.
"Tidak, kau tidak perlu mencemaskan mereka, karena aku sudah memutuskan mereka."
"Wow, luar biasa. Kau memutuskan kekasihmu itu? Sangat mustahil." Sindir Eve melontarkan tatapan sinis.
"Aku tidak pernah berbohong, tidak seperti dirimu."
"Hanya bingung bagaimana cara menghabiskan uang, aku mentraktirmu."
"Dasar sombong," gumam Eve yang memalingkan wajah.
Sesampainya di pusat perbelanjaan, Samuel menarik tangan Eve untuk masuk ke dalam. Menjadi pusat perhatian semua orang karena ketampanannya, tapi beberapa orang menatap Eve dengan sinis melihat penampilan yang sangat cupu dan tidak sebanding dengan pria di sebelahnya.
Samuel membawa pelayan dadakan nya menuju L'Boutique, membuat Eve membelalakkan kedua matanya karena mengenal tempat itu. "Astaga, semoga saja kak Lexa tidak melihatku. Pria sinting ini memberiku masalah baru," batinnya.
"Kenapa kau diam saja, ayolah masuklah!" ajak Samuel.
"Hem." Eve mengikuti langkah kaki pria itu dan beberapa orang karyawan menghormati keduanya.
"Selamat datang, Tuan Samuel dan Nona Eve." Sapa kepala butik dengan ramah.
"Kau mengenal gadis ini?" tanya Samuel yang mengerutkan dahinya menatap kepala butik.
__ADS_1
"Tentu saja, aku dulu bekerja di sini." Jawab Eve dengan cepat. Dia tersenyum pongah, menatap pria tampan itu, melirik kepala butik dan memberikan isyarat untuk tutup mulut.
"Hem, kau boleh mengambil pakaian di sini dan aku akan membayarnya." Samuel menerima panggilan masuk dan menjauh dari tempat itu, sedangkan Eve menghampiri kepala butik.
"Apa Nona sedang menyamar?" tanya kepala butik.
"Sttt…jangan berbicara dengan keras, apa kak Lexa ada di dalam ruangan?" bisik Eve yang membekap mulut wanita itu.
"Nona Lexa tidak ada di butik."
"Itu bagus, jangan beritahu siapapun mengenai hal ini."
"Baiklah." Kepala butik mengangguk setuju dan memberikan rancangan Lexa, kakak sepupu Eve.
Eve melihat-lihat dan tersenyum licik. "Bukankah pria itu mengatakan tidak tahu bagaimana menghabiskan uang? Akan aku buat dia bangkrut," batinnya yang mengambil semua pajangan gaun paling mahal.
Di saat memborong gaun, terasa sebuah tangan yang menepuk pundaknya dengan pelan. Menoleh ke belakang dan melihat seorang pria tampan yang tengah tersenyum lebar.
"Eve? Kau di sini?"
"Liam?"
"Wah…seleramu bagus juga." Seru Liam yang melirik gaun mahal nan indah di tangan Eve.
"Tentu saja."
"Apa kau sendirian saja?" tanya Liam yang memandangi Eve yang sibuk memilih gaun, lebih tepatnya memborong gaun.
"Tidak, aku datang bersama seseorang."
"Seseorang?"
Eve menarik perhatiannya kepada lawan bicara, dia sangat bersemangat untuk menguras dompet majikannya. "Aku pergi bersamanya!" serunya seraya menunjuk Samuel yang berada di belakang Liam.
"Ehem," samuel sengaja berdehem saat melihat Eve bersama dengan pria lain.
Liam membalikkan badan, tatapan keduanya sangat terkejut namun segera mengalihkan nya. Sorot mata dingin seakan membunuh satu sama lain, ekspresi wajah berubah dengan suasana yang mencekam. Sedangkan Eve memperhatikan kedua pria itu dengan menyelidik. "Ada apa dengan dua pria sinting itu?" batinnya.
__ADS_1
Liam memegang tangan Eve dan ingin menariknya, sedangkan Samuel tak ingin kalah juga melakukan hal yang sama. Tatapan yang sangat sengit itu dapat dirasakan oleh Eve, berniat untuk kabur dari mereka.