
Seorang pria yang berdiri di balkon kamarnya menatap indahnya bintang yang bersinar di langit, senyuman indah yang terus terukir di wajah tampan pria itu. "Hidupku sudah lengkap, ibu yang sudah sembuh sepenuhnya. Aku akan merebut apa yang menjadi milikku! Pria tua itu dan bersama istri keduanya akan bertepuk lutut dan memohon. Ini benar-benar sangat menarik inilah saatnya untuk membalas kan dendam!" Batin samuel seraya menegur minuman beralkohol.
Samuel juga mengingat kenangan nya bersama Eve, dia tak menyangka jika dirinya telah jatuh cinta kepada gadis cupu secepat ini. Hanya memerlukan satu hari untuk bersama dalam memahami gadis itu yang mempunyai sifat yang sangat murah hati dan juga dermawan membuatnya begitu terpesona. "Apakah ini benar-benar cinta atau hanya obsesi ku saja?" gumamnya yang tersenyum saat memikirkan hal-hal konyol bersama mantan pelayannya.
Dia bahkan tak menyadari, jika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka lebar. Terlihat seorang wanita paruh baya yang berjalan menghampiri, memegang pundaknya dengan lembut. "Ibu memperhatikanmu dari tadi, apa yang kau pikirkan? Sehingga senyuman indah terus saja terpancar dari wajahmu? Apa kau memikirkan gadis itu?"
Samuel menoleh, menatap sang ibu sembari menggaruk tengku leher yang tidak gatal. "Ibu disini?"
"Jika kau tak menyukainya, ibu bisa pergi dari kamarmu." Jawab lili yang berpura-pura marah.
"Jangan salah paham kepadaku! Kenapa ibu belum juga tidur?"
"Ibu tidak mengantuk dan tak sengaja melihat pintu kamar mu yang sedikit terbuka," jawab lili yang tersenyum menatap putranya namun melihat segelas kecil minuman yang beralkohol. Samuel gelagapan, segera menyembunyikan minuman alkohol di belakang punggungnya.
"Itu hanya minuman dingin saja!"
"Apa kau pikir ibu ini bodoh? Dasar anak nakal!" cetus lili seraya menjewer telinga putranya yang meringis kesakitan.
"Auh…sakit Bu, tolong lepaskan!" ringis Samuel berpura-pura kesakitan.
"Baiklah! Tapi katakan dulu, apa yang akan kau pikirkan?" perlahan Lili melepaskan jeweran di telinga sang putra dan tersenyum.
"Sam memikirkan untuk merebut semua hak Ibu yang dikuasai oleh keluarga laknat itu, dan juga memikirkan kekasihku!"
"Hem, sudah cukup mereka memakan harta Ibu dan sekarang kita mengambil kembali hak yang sudah mereka renggut. Masalah Eve? Aku sangat menyukai gadis itu, dan sangat berharap jika kalian menikah."
"Itu sebabnya Sam merencanakan semuanya dengan matang, Ibu hanya duduk diam dan menyaksikan kehancuran keluarga Matthew palsu itu."
"Ibu percayakan semuanya kepadamu, Sam."
Seakan mendapatkan lampu hijau dan semangat, Samuel tersenyum bahagia dengan bertambahnya harta yang selama ini di renggut oleh istri kedua ayahnya. Dia tidak ingin membalaskan dendam lewat Eve, untuk menyerang Liam. Karena dia sudah termakan oleh rencananya sendiri dan jatuh cinta dengan gadis cupu yang sangat cantik. Bahkan sudah melupakan masalahnya dengan Niko yang pernah merebut kekasihnya, karena dia tak peduli lagi dengan masa lalu, yang terpikirkan hanyalah masa depannya untuk mendapatkan restu.
"Tapi cukup sulit untuk menaklukkan Eve, Bu."
"Eh, bukankah dia sudah menjadi kekasihmu?"
"Hah, sebenarnya dia hanya kekasih kontrakku selama sebulan saja." Sahut Samuel yang menundukkan kepala, dia sangat menginginkan jika hubungannya dengan Eve berjalan sesuai keinginannya.
"Apa?" Lili tak bisa menutupi rasa terkejutnya, dia merasa cocok dengan gadis itu dan menjadi menantunya.
"Ya, Sam berkata benar. Awalnya Sam hanya membalaskan dendam padanya, tapi hanya dalam sehari saja, Eve berhasil merubah pandanganku."
"Cara kau mendekatinya salah."
"Sam tahu akan hal itu dan sangat menyesalinya."
"Tidak masalah, perlihatkan ketulusanmu dengannya. Ibu sangat yakin, jika Eve akan menyukaimu."
Samuel tersenyum seraya memeluk Ibunya dengan erat, untuk pertama kalinya dia mencurahkan seluruh perasaan. Karena sebelumnya, dia hanya menyimpannya saja. "Sam akan berusaha agar Eve menjadi menantu Ibu, walau ketiga kakaknya yang gila dan di tambah dengan daddy nya."
"Apa maksudmu?" tanya Lili yang melepaskan pelukan itu, mengerutkan wajah menatap putranya.
"Seperti yang Sam katakan, apa ibu kenal dengan sahabat kembarku? Niko dan Niki, juga Alex?"
__ADS_1
"Ya, Ibu masih mengingatnya."
"Itu masalahnya, mereka adalah kakak sepupu Eve. Bahkan Sam bermusuhan dengan Niko, hubungan persahabatan kami sedikit renggang. Apa yang harus Sam lakukan?" rengek Samuel yang membayangkan ketiga pria gila yang akan menjadi rintangannya dalam mendapatkan cinta.
"Lalu, daddy nya?"
"Daddy nya Eve sangatlah posesif, astaga…bahkan Sam tidak bisa berpikir dengan keluarga Wijaya yang sangat aneh itu."
"Kau tenang saja, buatlah mereka senang dengan tindakanmu, bukankah dulunya kalian pernah menjalin persahabatan? Dan Ibu rasa, itu tidak akan sulit nantinya."
"Benarkah?"
"Coba saja."
Samuel sangat senang dan tersenyum sumringah, masalahnya bisa terpecahkan dengan sangat mudah oleh sang ibu. Seakan mendapatkan suntikan Vitamin untuk mengejar cinta di gadis cantik yang ditutupi oleh penampilan cupu. "Eve Wijaya akan menjadi nyonya Samuel Matthew! Hah, sepertinya aku segera membelokkan haluan dan melupakan dendam itu." Batinnya.
****
"Haa..chim!"
Eve bersin dan segera menggosokkan ujung hidung yang sedikit gatal, tidak tahu mengapa. "Siapa yang menyebut namaku?" monolognya serata mengangkat kedua bahu dengan cuek dan kembali melanjutkan membaca novel.
Suara ketukan pintu membuatnya kesal, dan segera beranjak dari atas tempat tidur. Membuka pintu, menatap sang pelaku yang tak lain adalah Niko. "Ada apa?" cetusnya.
Niko mengusap wajah adik sepupunya dengan kasar, membuat sang empunya semakin kesal. "Dasar tidak sopan!" balasnya yang segera masuk ke dalam kamar.
"Aku belum memberikan izin padamu, Kak. Ini bukanlah kamarmu, jadi keluarlah!" usir Eve jengah.
Pletak
"Katakan, ada apa?"
"Putuskan Samuel, aku tidak merestui hubungan kalian."
"Aku tidak bisa, kak Alex sudah berjanji padanya 'bukan? Aku tidak bisa mengingkari sebuah janji."
"Apa yang kau harapkan dari badak bercula satu itu? Aku tidak yakin, ada kejanggalan saat dia mendekatimu."
"Aku tahu hal itu."
"Lalu? Segera putuskan saja, dia pria player!"
"Dan Kakak bahkan lebih parah, seorang Cassanova,!"
"Tapi, walaupun begitu! Aku tidak ingin jika adikku menjadi korban dari laki-laki seperti itu. Aku bahkan membenci hidupku, dan kau tahu alasannya." Jelas Niko yang sangat menyesali tindakannya yang selama ini dia lampiaskan, hanya karena pengkhianat cinta dan membuatnya begitu trauma.
Eve berdiam diri dan tak menjawab, dia sangat bersimpati dengan apa yang menyebabkan sang kakaknya itu trauma akan cinta, namun dia berpegang teguh akan perkataan.
"Pikirkan ini, Kakak tahu! Jika hal ini melenceng dari motto mu sendiri, tapi aku mengatakannya karena sangat mencemaskanmu. Walau aku terkadang sangat menyebalkan dan begitupun sebaliknya, tapi kau paling ku sayangi setelah Dave."
Ucapan Niko berhasil membuat Eve terbang tinggi dan terjatuh dengan tidak elit, tersenyum dan jengkel bercampur menjadi satu.
Bersambung..
__ADS_1
...****************...
Maafkan author yang jarang up, karena kesibukan dunia nyata🙏Minal Aidin Walfaizin, mohon maaf lahir batin.
Iklan!
Rekomendasi karya dari RirinRohman, cekidot!!🥰😘
Adip terlonjak kaget, kenapa Jingga yang terlihat manis dan saat diam terasa sulit dijangkau, sekarang sangat centil dan menyebalkan.
“Sejak kapan kamu bangun?” jawab Adip balik bertanya.
“Selalu deh, kalau aku tanya nggak pernah dijawab dan selalu menghindar. Aku istrimu bukan sih?” tanya Jingga sewot.
Adip memang selalu menghindari pertanyaan Jingga yang menurutnya tidak perlu dibahas.
“Ngobrolnya nanti lagi, sudah ashar, sebentar lagi petang, cepat mandi dan ambil wudzu, akan susah jika kita ke sumber air malam- malam, bahaya. Terus kalau udah wudzu usahakan jangan batal sampai Isya!” ucap Adip lagi menasehati.
“Ish... di sini nggak ada kamar mandi, aku nggak usah mandilah!” jawab Jingga sekarang sudah mulai meninggalkan penyakit perfecsionistnya tentang kebersihan.
“Dasar jorok! Mandi lah!”
Mendengar kata itu, Jingga jadi ingat waktu ke pantai.
“He... aku jorok ya?” tanya Jingga malu.
“Iya...!” jawab Adip terus terang.
“Apa itu juga penyebab kau tak pernah mau menatapku dan dekat- dekat denganku? Aku bau kah?” tanya Jingga.
Mendengar itu Adip menelan ludahnya, siapa bilang Adip tak pernah menatap Jingga, Adip kan justru selalu mencuri pandang ke Jingga.
“Sudah cepat bangun! Ayo makanya mandi, bawa baju basahan dan gantimu!” jawab Adip lagi, selalu mengacuhkan pertanyaan Jingga dan mengalihkan topik.
“Apa kita akan mandi bersama di tempat terbuka?” tanya Jingga kemudian.
“Tidak! Kau mandi tetap memakai baju dan aku kita bergantian! Cepat!” jawab Adip tegas.
"Ish!" desis Jingga manyun.
Mereka berdua kemudian ke air, bersih- bersih setelah itu sholat bersama dan masak untuk makan malam.
Meski ada bisikan dari ke Adip memberitahu bahwa Jingga istrinya, dan seharusnya Adip bisa leluasa dengan Jingga, tapi Adip selalu melawan.
Adip tetap ingin bertemu Baba Jingga dulu, melakukan pernikahan mereka sebagai mana mestinya. Pernikahan mereka masih abu- abu, terpaksa terjadi karena adat.
“Sepertinya Amer tidak pulang malam ini!” tutur Adip menyalakan lentera dari bambu yang hampir mati karena tertiup angin.
Setelah sholat isya mereka berdua duduk di depan gubuk menikmati langit yang ditemani rembulan. Sangat indah.
"Berarti kita hanya berdua malam ini?" tanya Jingga dengan mata berbinar dan mata centilnya.
Adip hanya menelan ludahnya mendadak keringetan, kenapa Jingga selalu menggodanya.
__ADS_1