
Niko yang kesal dengan pria muda itu, berjalan semakin dekat dan menjatuhkan Liam hanya sekali sentakan saja, tersenyum saat melihat pria muda itu terjerembab di lantai. "Apa kau ingin menambah lagi?"
"Ck, ternyata gerakanmu sangat cepat juga." Liam mengusap pantatnya yang terasa sakit, berusaha berdiri dan kembali menatap pria di hadapannya.
"Apa kau ingin mata itu di congkel?" garam Niko yang sudah tak bisa menahan amarahnya.
"Lakukan jika kau bisa." Tantang Liam dengan tatapan merendahkan, hingga keduanya saling bertarung dan menjadi pusat perhatian semua orang.
Eve yang tengah duduk di kursinya, mendengarkan suara keributan di luar. Segera beranjak dari tempat duduknya menuju keluar kelas, sangat terkejut saat melihat pertarungan. "Hentikan ini!" pekiknya yang melerai perkelahian itu. "Jika Kakak hanya ingin membuat rusuh di sini, sebaiknya pergilah! Dan kau, apa masalahmu sebenarnya?" Eve memarahi kedua pria tampan itu secara bergantian.
"Pria sialan inilah yang menghalangiku, apa begitu caramu berkata kepada kakak mu sendiri?" sarkas Niko menatap adik sepupunya, dia melupakan pesan dari pamannya, Abian.
"Kakak?" ulang Liam yang sangat terkejut, dia tak menyangka jika pria yang selama ini di anggap kekasih oleh Eve ternyata hanya kakaknya. "Ternyata dia membohongiku hanya untuk menjauh." Lirihnya.
Eve memberi isyarat pada Niko untuk tidak mengatakan lebih, tapi pria itu tak mengerti, kerena rasa kesalnya. "Kenapa kau menggeleng begitu? Jika saja paman Abian tidak mengancamku, aku tak akan melakukan ini." Ungkap Niko yang jengkel, karena mandat sang paman membuatnya menjadi seorang
Prajurit siap perang. karena selama ini dia bergantungan kepada seorang wanita cantik, membuat Eve menepuk dahi dengan pelan, membongkar identitas yang selama ini ditutupinya. "Ck, baik kak Niki ataupun kak Niko sama saja. Ingin rasanya aku memukul kepala mereka," batinnya menahan kekesalan mendalam.
Sementara Liam tersenyum lebar, dia merasa bersalah telah mengajak pria yang mengaku sebagai kakak dari wanita dicintainya berduel. "Hah, ternyata kau adalah kakaknya Eve. Aku pikir kau adalah kekasihnya!" segera menghampiri dan mencium tangan sebagai calon adik ipar yang sangat baik, di penuhi dedikasi dan rasa hormat.
"Ck, tidak perlu menyentuh tubuhku." Niko menepis tangan pria muda itu dengan kasar, mengeluarkan hand sanitizer yang selalu dia bawa kemanapun dan menyemprotkannya ke tangan yang terkena bekas bibir Liam. "Heh, jangan harap kau bisa mendapatkan adikku!" ancamnya dengan penuh penekanan, menunjuk wajah pria muda itu dan sedikit gertakan.
"Kenapa Kakak mengatakan jika kita saudara?" Eve mendelik kesal, dia tidak tahu lagi mengenai kedua pria kembarnya.
"Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin identitasku terbongkar, tapi Kakak sendirilah yang membuka jati diriku." Ungkap Eve.
Niko menggaruk pangkal hidungnya, dia tak sengaja keceplosan. Tapi semua telah terlambat, Liam sudah mengetahui hubungan mereka. Sementara Eve menghela nafas panjang, dia tak tahu bagaimana jadinya jika identitas yang telah di sembunyikan sejak lama terbongkar.
"Bagaimana ini? Kedua kakak bodohku itu mengatakannya, aku harap musuh tidak menemukanku." Batin Eve seraya berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Kedua pria tampan mengejarnya, tapi suara dering ponsel milik Niko berdering dan dengan terpaksa mengangkatnya dari telepon penting.
Liam mencekal tangan Eve, tersenyum senang saat gadis itu belum mempunyai kekasih. "Kau tidak bisa menghindar lagi, jadilah kekasihku!" ucapnya penuh harapan, terlihat jelas saat kedua matanya yang berbinar cerah.
"Maaf, aku tidak tertarik untuk mencari kekasih saat ini."
"Tapi, kenapa? Apa alasannya?"
"Tidak ada alasan apapun, hanya tidak ingin saja."
"Berikan aku kesempatan!"
Tanpa disadari oleh Eve, seseorang telah mengawasinya sedari tadi, tersenyum saat mendapatkan informasi luar biasa. "Kita sudah menemukannya, Tuan."
"Hem, gadis cupu itu sangatlah cerdik, jangan sampai kau tertipu dengan keluguan Eve Wijaya."
"Baik, Tuan."
"Awasi setiap pergerakannya dan juga siapa saja orang di sekelilingnya."
"Itu pasti," sahut sang asisten mengangguk.
__ADS_1
"Hem, bagus." Pria itu terus memantau Eve di dalam mobil mewahnya, menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan membayangkan mengenai rencana yang sebentar lagi dimainkan.
Eve mengumpati kedua kakak kembarnya, identitas yang terbongkar sama saja mengancam keselamatannya juga keluarga. Namun, lamunan nya berhenti saat tak sengaja menabrak seseorang. "Maaf, aku tidak sengaja!" ucapnya seraya memungut buku-buku di lantai, dan menyerahkannya kepada orang yang baru saja ditabrak.
"Ternyata kita dipertemukan seperti ini!" ucap orang itu, dan segera mengambil bukunya.
"Julian? Kau mahasiswa di sini?" serunya yang bersemangat.
Julian mengangguk menyetujui perkataan gadis di hadapannya, dan tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipi membuatnya terlihat menawan. "Aku baru saja pindah, dan belajar di sini."
"Hem, itu bagus. Aku pergi dulu, semoga harimu menyenangkan!" Eve melangkah pergi tanpa menghiraukan panggilan dari Julian, karena saat ini dia hanya membutuhkan waktu sendiri.
Julian mengulas senyum, mengingat Eve dan pertemuan mereka yang ketiga kalinya. "Gadis yang sangat cantik." Segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
****
Samuel sangat terkejut dengan informasi yang diberikan oleh asisten Li, dia tidak bisa membayangkan jika nasib mantan pelayan dadakan nya sangat terancam. "Aku tak menyangka, jika jalanan boneka santet itu sangatlah berduri. Apa aku harus membahas hal ini pada Niki? Sebaiknya tidak, sepertinya aku harus mengatasi ini sendiri saja." Monolognya yang tampak berpikir.
Asisten Li melihat tuannya, mengerutkan dahi karena tak bisa memahami pola pikir Samuel. "Sepertinya Tuan mulai menyukai nona Eve," godanya.
"Sekali lagi kau mengatakan itu? Maka kau akan mendapatkan hukuman." Samuel menatap asistennya tajam, dia tak bermain-main mengenai ancamannya.
"Jangan di pecat, Tuan. Angsuran apartemen masih ada lima kali cicilan lagi!" Asisten Li tercengir kuda, memperlihatkan gigi putih dan sangat rapi. Hampir saja dia menyinggung bosnya, atau dia akan dihukum untuk memantau beberapa anak cabang perusahaan.
"Ck, kau sudah tau konsekuensi jika melanggar aturan dariku. Sekarang kau boleh pergi!"
__ADS_1
"Baik, Tuan. Saya pamit!" Asisten Li segera bergegas keluar dari ruangan, kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.
Samuel terdiam, di satu sisi rencana untuk balas dendam dan satunya lagi karena menolong sesama. Tapi keegoisannya kembali membutakan hati nurani yang selama ini beku oleh tindakan ayah dan juga ibu tirinya. "Aku harus mendapatkan Eve, karena dia adalah alat untukku membalaskan dendam." Monolognya seraya melihat keluar jendela, hujan rintik-rintik mulai keluar dan membasahi tanaman.