
"Aargh!" Eve terbangun dari tidurnya, tak menyadari jika dari tadi alarm berbunyi untuk membangunkannya. Kedua mata yang terbelalak sempurna saat menyadari jika dirinya terlambat untuk pergi ke kampus.
Segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. "Hari ini aku ada kelas dengan dosen killer, semoga saja tidak terlambat." Monolognya yang bergegas mandi, lebih tepatnya hanya menggosok gigi dan juga mencuci bagian tubuh yang penting saja.
Langkah terburu-buru dia lakukan, mengejar waktu yang terasa amat berharga setiap detik-detik terakhirnya.
Setelah bersiap-siap dengan upaya yang dilakukan dengan terdesak, selesai dia lakukan dan hendak keluar kamar, namun tak sengaja menabrak dada bidang. "Kak, jangan menghalangi jalanku!" ketusnya mengusap wajah tanpa menoleh.
"Aku kekasihmu!" ralat Samuel yang tersenyum indah saat melihat wajah Eve.
Merasa sangat mengenali suara itu, Eve mendongakkan kepala menatap wajah kekasih kontraknya ada di hadapannya. "Mungkin saja ini ilusi," gumamnya seraya menggosokkan kedua matanya, berharap jika pria itu tidak nyata. "Ais, kenapa kau tak menghilang?" gerutunya.
"Apa nya yang hilang?" tanya Samuel yang mengerutkan dahinya.
"Tentu saja kau, siapa lagi?" sahut Eve.
Samuel terkekeh melihat ekspresi dari kekasihnya, ingin mendekatkan wajah untuk mencium sang kekasih. Tapi hal itu tidak terjadi, disaat wajahnya mendapat sambutan dari sandal milik Eve. "Jangan merusak pagiku! Kenapa kau kesini?" cetusnya dengan tajam.
"Selamat pagi menjelang siang!" sapa Samuel yang tersenyum hangat.
Eve menghela nafas jengah, menerobos untuk keluar dari kamarnya. "Pagi, bisakah kau menyingkir?" tuturnya dengan tersenyum lembut dan seketika merubah ekspresi datar.
"Hari ini kau pergi bersama dengan ku!"
Eve menyatukan kedua tangannya dengan jengah. "Biarkan aku pergi, karena hari ini adalah si dosen killer."
"Pria tua dengan kepala plontos itu?" terka Samuel yang menghentikan aksi Eve.
"Eh, darimana kau tahu?"
"Tentu saja, aku akan mengantarmu. Bagaimana? Kau setuju, Baby?" jawab Samuel yang tersenyum tipis.
"Apa kau cacingan?"
"Bersikaplah sedikit romantis, walaupun kita hanya terjalin kontrak saja."
"Hem, baiklah."
Sesuai perkataan Samuel, mengantarkan kekasihnya dan mengikutinya hingga ke kelas. Eve menjadi pusat perhatian semua orang, begitu banyak yang iri dengan keberuntungan si gadis cupu dalam memikat pria.
__ADS_1
Eve sangat keheranan menjadi pusat perhatian semua orang, karena merasa ada yang mengikutinya, segera menoleh kebelakang dan benar saja! Ternyata akar dari permasalahannya adalah Samuel. "Eh kenapa kau mengikutiku?"
"Aku tidak mengikutimu! Tapi hari ada keperluan yang membuatku berada disini."
"Itu hanya alasanmu saja, pergilah dari sini"
Samuel tersenyum tipis, dan masuk ke kelas kekasihnya menyapa semua orang dan memperkenalkan diri sebagai dosen pengganti. semua orang begitu memuji ketampanan dari pria itu tapi tidak dengan Eve yang sangat shock, begitupun dengan Anita dan juga Liam.
"Aku tidak menyangka jika kekasih sahabatku adalah dosen pengganti," seloroh Anita.
"Jangankan kau, aku bahkan sangat terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya." Sahut Eve.
Liam terus menatap dosen pengganti dengan tatapan sengit memusuhi pria itu, sangat membenci tidak bisa menerima kenyataan yang ada ada. "Sial! Kenapa pria itu ada di sini? Apa dia sengaja melakukannya?" gumamnya pelan.
"Berhubung bapak Burhan tidak masuk hari ini, saya yang akan menggantikannya sementara waktu semua peraturan harus diikuti dengan baik. Jika tidak menyukainya silahkan keluar dari kelas saya!" tegas Samuel yang melirik adik tirinya.
Liam terpaksa menahan emosi, tak ingin jika pria itu selangkah lebih maju darinya.
Mata kuliah yang biasa diajarkan oleh pak Burhan membuat para murid merasa bosan, namun saat kedatangan Samuel bagaikan suntikan vitamin c bagi mereka. Semua mahasiswi berlomba-lomba ingin mendekati dosen pengganti sedangkan Eve sangat tidak bersemangat.
"Seakan waktu berjalan terlalu lamban," batin Eve.
Samuel tersenyum penuh kemenangan, rencana yang dibuat sangat luar biasa menjauhkan kekasihnya dari adik tiri. Upaya yang merugikan orang lain dengan melakukan sedikit insiden kecelakaan untuk dosen malang itu, dan mendaftarkan diri sebagai dosen pengganti.
"Lepaskan aku!" Eve berusaha memberontak.
Suasana hening dan sepi di ruangan itu, membuat Samuel merasa puas. Memegang tengkuk wanita cupu di hadapannya dan segera mencium bibir Eve dengan sangat romantis.
Eve membelalakkan kedua matanya, tak tahu jika pria itu bertindak nekat. Segera dia memukul dada bidang kekasih sekaligus dosen penggantinya, namun terlambat saat tangan kekar itu menahan tangannya dan menempelkan ke dinding.
Samuel tersenyum tipis, mencium kekasih kontraknya dengan sangat lihai, berbeda dengan Eve yang kali pertamanya berciuman begitu dalam dengan seorang pria. "Bernafaslah!" ucapnya yang memberikan ruang pada gadis di dalam cengkramannya.
Eve menghirup nafas sedalam mungkin, saat kadar oksigen yang dia dapatkan sedikit berkurang. Menatap pria yang ada di hadapannya dengan marah dan juga kesal, segera menghapus bekas air liur yang masih menempel di mulutnya. "Dasar tidak sopan! Dan kau juga pria mesum!" ketusnya.
"Ayolah, Honey. Ini biasa dilakukan oleh pasangan kekasih!" jawab Samuel dengan santai.
"Seharusnya itu hak suamiku di masa depan!"
"Ya, setidaknya kau mencicil terlebih dulu karena akulah pria yang akan menjadi suamimu!" Samuel tersenyum penuh kemenangan, sangat gemas melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Eve. Merasa ketagihan, membuatnya kembali mencium bibir indah milik kekasihnya.
__ADS_1
Ciuman dengan sangat lembut, berusaha untuk memberikan rasa kenyamanan. Eve awalnya menolak, namun terbuai dengan permainan sang player yang sangat ahli di bidang percintaan. Keduanya hanyut dalam desiran yang seperti menyengat bagai listrik berapa watt.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengawasi mereka di balik tembok. Mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna, mata yang merah akibat menahan emosi hampir saja meluap. "Baru saja aku menghilang beberapa saat, tapi ada orang lain yang ingin merebut Eve." Gumamnya seraya pergi meninggalkan tempat itu.
Pria yang mengenakan jas hitam, masker, dan juga topi hitam segera pergi dari tempat itu tak ingin jika hatinya semakin terluka. Perasaan yang sangat menggebu-gebu hancur seketika melihat wanita pujaannya bersama dengan pria lain. "Jalankan mobilnya!" titah pria itu yang membuka masker dan juga topinya.
"Baik, tuan!"
Pria itu mengeluarkan foto seorang wanita yang dia cintai, mengusapnya dengan perlahan dan penuh hati-hati. Kenangan singkat yang diberikan oleh Eve, sangat berpengaruh di kehidupannya saat ini bahkan berjuang melawan kematian. "Apa kau melupakan aku? Julian Permana telah kembali hanya untuk dirimu, Eve."
Ya, dia adalah Julian yang berhasil lolos dari kematian, menyelamatkan diri yang dibantu oleh anak buahnya.
Bersambung..
...****************...
Iklan! karya dari Dini Ratna, cekidot🥰
Rekomendasi nih!! yuk..kepoin🤭
"Hei, OB kau becus gak sih kerja, gara-gara lo, gue jatuh tahu gak!" hardik Sharon.
"Anda yang jatuh bukan salah saya, sepertinya anda tidak melihat peringatan itu, bahwa lantai ini sedang di bersihkan," bantah Meisie. Karena tak terima di salahkan Sharon pun melepas paksa masker yang Meisie gunakan untuk menutup codetnya. Sharon begitu terkejut ketika melihat wajah Meisie yang mengerikan, begitu pun dengan karyawan yang lain, mereka semua saling berbisik.
"Jadi, masker ini untuk menutupi wajah burukmu, dasar gadis buruk rupa." Ucap Sharon, yang tersenyum sinis. Meisie hanya diam, tapi Sharon terus menghinanya tanpa henti.
"Hey, lihatlah wajahnya begitu menyeramkan, untuk apa kau tutupi pakai masker ini, tetap saja wajahmu terlihat," ejek Sharon, seraya menginjak masker Meisie dengan kakinya.
"Ada apa ini?" ucapan seseorang mengejutkannya, dan mampu membuat diam semua orang yang saling berbisik. Siapa lagi kalau bukan Elo, pria dingin dan cuek yang di takuti semua orang.
Elo, melirik ke arah Meisie yang terus menunduk, namun Sharon dengan sengaja mencengkram dagunya, dan menariknya ke atas membuat Meisie mendongak, dan Elo, harus melihat codet di wajahnya.
"Elo, lihatlah wajahnya apa kau tidak malu memperkerjakan gadis cacat seperti dia," cibir Sharon, berharap Meisie dapat hinaan dari Elo.
"Siapapun boleh bekerja disini, fisik bagi saya tidak penting, yang penting adalah orang itu punya kemampuan dan bekerja dengan baik. Seharusnya kamu yang malu, kau orang terpelajar tapi tingkah mu seperti tidak berpendidikan," Telgas Elo, namun menusuk di hati Sharon. Sharon pun langsung melepaskan cengkraman tangannya, wajahnya begitu merah karena menahan malu, akhirnya Sharon pun pergi.
"Bubar kalian semua, kembali bekerja." Tegas Elo pada semua karyawannya. Elo kembali menatap Meisie, Elo terus menatap luka codetnya, entah kenapa Elo, teringat seseorang di masa kecilnya. Meisie hanya menunduk hormat pada Elo. Elo pun akhirnya melangkah pergi.
****
__ADS_1
Meisie Callia, seorang gadis buruk rupa karena codet di wajahnya. Yang selalu di hina dan d ejek. Namun kehidupannya berubah setelah menemukan sebuah brush ajaib.