
Eve segera mendorong tubuh Samuel, menginjak kaki pria itu dan segera lari dari sana sembari mengusap bibirnya dengan kasar. "Sial, berani sekali dia menciumku!" umpatnya yang begitu kesal.
Sementara Samuel terkekeh geli, melihat ekspresi Eve yang terlihat menjauh darinya, menyentuh bibir yang masih terasa basah. "Ya tuhan… aku ingin menikahi gadis itu, semoga saja keluarga Wijaya tidak merepotkan kunanti. Tapi bagaimana dengan Niko dan Niki? Si kembar itu sama saja, sangat-sangat menyebalkan!" gumamnya yang geram dengan situasi yang akan dihadapi kedepannya.
Samuel mengeluarkan ponsel mahalnya dari saku celana, mencari nomor kontak yang tertera di ponselnya itu dan menghubungi asistennya yang bernama Li.
"Halo!"
"Iya tuan, ada apa?"
"Apakah berhasil dengan misi yang aku berikan kepadamu?'
"Aku sudah menyelesaikannya dengan sangat baik, sebentar lagi tuan akan mendengarkan kabar yang sangat baik."
"Bagus, aku suka pekerjaanmu jangan sampai ada yang tersisa sedikitpun jika tidak gajimu akan aku potong!"
"Tentu tuan, aku akan melaksanakan sesuai perintah!"
"Hem."
Samuel memutuskan sambungan telepon dan bergegas pergi menuju Mansion milik keluarga Matthew, dia sangat senang mendengar kabar sebentar lagi mengenai kehancuran dari keluarga dari istri kedua ayahnya. "Jalankan mobilnya menuju ke Mansion!" titahnya dengan tegas.
"Baik, Tuan."
Di sepanjang perjalanan, Samuel menatap foto sang Ibu dia tersenyum karena akan memberikan sebuah kejutan. "Rasa sakit yang Ibu derita dari pria itu akan dibayar lunas hari ini juga, yaitu dan istri keduanya akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang mereka tuai." Batinnya dengan penuh keyakinan melihat kehancuran dari keluarga yang membuatnya tersiksa.
Tak butuh waktu yang lama, mobil berhenti di sebuah bangunan mewah dan juga lega dengan arsitektur yang sangat indah. Tanpa menunggu waktu lagi, dia bergegas keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam Mansion. Samuel menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan, tercium aroma kemenangan dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Oho, ternyata ada tamu tak diundang datang ke Mansion milikku." ucap seorang yang menghentikan langkah Samuel, dia segera menoleh dan menatap seorang wanita paruh baya yang sangat dikenal.
"Apa kabar ibu tiri? senang bertemu denganmu hari ini!" siapa Samuel yang tersenyum Smirk.
"Langsung to the point saja, kenapa kau datang ke sini?" ketus Manda menatap anak tirinya.
"Dimana pria tua itu, aku ingin bertatap muka dengannya."
Manda tersenyum licik segera menuruni tangga dengan begitu angkuhnya. "Dia sekarang ada di kantor, jika ingin menemuinya kembalilah nanti saja." Ucapnya dan memutuskan untuk duduk di sofa empuk yang tersedia di ruangan itu, melirik anak tirinya dengan sinis.
Samuel juga memutuskan untuk duduk di sofa tanpa menunggu persetujuan dan izin dari wanita paruh baya itu, mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang asisten.
"Bagaimana hasilnya?"
"Sudah bersih, tuan."
"Baik, tuan."
Manda menetap Samuel dengan penuh penasaran karena tak mengerti apa alasan pria itu datang dan menginjakkan Mansion karena sebelumnya anak tirinya itu sangat enggan untuk datang berkunjung. Namun, rasa penasarannya semakin kuat saat melihat suaminya yang bernama Bramantyo tiba-tiba pulang dari kantor dengan cepat dan segera menghampiri suaminya.
"Kenapa kau pulang begitu cepat? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Bramantyo sangat putus asa, wajah yang begitu kusut seperti benang sangat terlihat jelas. Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan, menghela napas yang begitu berat, serta melempar tas yang ada di tangannya membuat Manda sangat terkejut. "Kau kenapa?" tanyanya sekali lagi. "Oh ya, aku ingin membeli cincin berlian yang sangat limited edition tolong belikan satu untukku, karena cincin yang lama begitu membosankan!" ucapnya yang membujuk sang suami dengan nada manja.
Manda berniat untuk memanasi Samuel dengan meminta barang branded berpikir jika nasib dari anak tirinya itu sangatlah malang, dia ingin menunjukkan jika Bramantyo sangat-sangat memanjakannya. "Dan bagaimana dengan jalan-jalan ke luar negeri? Aku ingin menagih janjimu sekarang!" rengeknya lagi tanpa menghiraukan perasaan yang dialami oleh sang suami.
sementara Samuel tersenyum pongah dia memahami situasi yang dialami oleh ayahnya, namun wanita itu itu terus saja merengek seperti anak kecil.
__ADS_1
"Kau ini sangat boros, bukannya menyediakan segelas air untukku, tapi kau malah menanyakan cincin berlian dan juga jalan-jalan. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku yang sebenarnya?" bentak Bramantyo dengan sarkas menarik lengan istrinya.
"Kenapa kau begitu kasar padaku? Apa kau tidak mencintaiku lagi?" ucap Manda.
"Asal kau tahu? Jika perusahaan ku bangkrut, dan kau malah menambah suasana hatiku begitu buruk." Bramantyo mengambil vas bunga yang tak berada jauh dari jangkauan melemparkannya ke lantai untuk meluapkan emosi yang ada di hati, hal itu membuat Manda sangat terkejut dan menutup kedua telinganya tidak bisa mendengarkan jika dirinya kembali menjadi miskin.
"Itu tidak mungkin, bagaimana perusahaan mu bisa bangkrut? Kau pasti tidak menjalankannya dengan sangat baik." Tuduh Manda yang menatap tajam suaminya.
"Lancang sekali kau menuduhku seperti itu! Bahkan semua uangku kau yang memegangnya, dan jangan lupakan jika semua perhiasan dan semua kebutuhan mu aku lah yang membayarnya. Jual semua tas dan juga barang-barangmu yang tidak berguna itu untuk memenuhi kebutuhan kita kedepannya!" Bramantyo meninggikan suaranya dengan emosi, melihat sifat asli dari istrinya muncul disaat kabar kebangkrutan perusahaan.
Kedua orang itu terus saja berdebat, dan saling menyalahkan satu sama lain. Samuel hanya bisa tersenyum melihat situasi yang sangat menguntungkannya, rasa sakit yang diderita olehnya dan juga sang ibu terbalaskan dengan merebut semua aset yang menjadi haknya.
"Ehem, kalian begitu bersemangat dalam bertengkar hingga lupa jika aku ada disini!" celetuknya yang membuat suasana menjadi hening dua pasang mata menyorot dengan sangat tajam.
"Kenapa kau ada disini? Apa yang kau inginkan?"
Samuel tak menjawab, karena perhatiannya tertuju kepada beberapa orang yang datang menghampirinya. Asisten Li datang bersama beberapa orang untuk menyelesaikan masalahnya hari ini juga, sedangkan Bramantyo dan Manda menatap beberapa orang yang tak begitu asing.
"Mengapa mereka ada di sini?" tanya Bramantyo menatap tajam putranya.
Samuel mempersilahkan mereka semua untuk duduk dan membicarakan permasalahan, beberapa orang mulai menjelaskan mengapa mereka datang ke sana. Bramantyo semakin geram dan juga amarah, menahan emosi yang hampir meluap, dia tidak menyangka jika mengenai kebangkrutannya disebabkan oleh putranya sendiri.
"Kau tidak ada hak untuk menghancurkan perusahaanku, cepat kembalikan dan pulihkan kembali!" tukas Bramantyo yang mengepalkan kedua tangan dengan erat.
"Dan jangan lupakan, jika semua aset dan perusahaan adalah milikku. Semua kekayaan yang kalian nikmati, merupakan hak ku dan juga ibuku. Aku datang ke sini ini untuk menempatkan keluarga kalian ke asalnya, dan mulai hari ini, aku dan ibuku akan tinggal disini!"
Bramantyo dan Manda sangat terkejut, tidak menyangka jika Samuel mengetahui segalanya. Namun, rasa terkejut kian bertambah saat hadirnya istri pertama yang bernama Lili, ibu dari Samuel.
__ADS_1