Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 64 - Persiapan


__ADS_3

Semakin Eve berusaha untuk melepaskan diri, semakin cengkraman Samuel mengerat. Dia hanya bisa pasrah, tapi tak ingin disalahkan sepenuhnya. "Apa tidak ada pilihan kedua?" ucapnya yang mencoba untuk berkompromi dengan negosiasi.


"Tidak ada pilihan lainnya, kau setuju atau tidak?" 


"Apa aku mempunyai pilihan lain? Tapi aku belum mencintaimu!"


"Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, yang utama adalah kau menjadi istri ku, Nyonya Samuel Matthew." 


Terdapat kata yang menekan Eve, sehingga tak membuat pilihan kedua, hanya menerima dengan lapang dada. Harapan dan impiannya selama ini pupus saat bertemu dengan Samuel, dia tidak menyangka jika pertemuan mereka yang tidaklah menyenangkan membuat pria itu menyukainya. "Baiklah, jika alasannya keluargaku, aku bersedia untuk menikah denganmu." Lirihnya pelan tak bersemangat, lain halnya dengan Samuel yang begitu cepat mengubah ekspresi di wajahnya.


Betapa bahagianya Samuel saat ini, apa yang diinginkan akhirnya terwujud. "Aku akan menikahimu dua hari lagi!"


Dengan cepat Eve mendongakkan kepala menatap mata pria itu, dia sangat terkejut dan berharap hanya salah dalam mendengar. "Apa aku salah dengar?" 


"Tidak, kau mendengarnya dengan baik. Aku sudah tidak sabar untuk memilikimu, secepatnya."


"Itu sangat cepat, tunggulah hingga aku lulus kuliah." 


"Aku tidak bisa menunggu selama itu!"


"Kau…kau pria yang sangat licik." Geram Eve yang sangat kesal, ingin protes tapi selalu saja Samuel yang menjadi pemenang. 


"Kau pikir apa? Bukankah kau sudah mengenal calon suamimu yang tampan ini, Eve Wijaya?"


Eve tak mampu mengatakan apapun lagi, hampir saja dia melupakan tabiat buruk dari calon suaminya yang terkenal akan kelicikannya. Dia melihat Samuel yang menjauh tengah menghubungi seseorang yang tak lain adalah ibunya sendiri.


"Halo, bu."


"Ya, ada apa?"


"Persiapkan pernikahan kami, karena dua hari lagi aku akan menikahi Eve."


"APA? Tapi bagaimana bisa?"


"Itu rahasiaku, dan katakan hal ini pada keluarga Wijaya."


"Apa Eve sudah setuju?"


"Dia sudah menyetujuinya, aku akan mengirimkan beberapa orang untuk mendekorasi Mansion Matthew dan juga Mansion Wijaya." 

__ADS_1


"Wah, pelet apa yang kau gunakan? Ibu akan menyiapkan segalanya, kalian pergilah mencari baju pengantin."


"Tentu saja, aku juga memperkuat sistem keamanan Mansion, tak ingin jika ada musuh yang menyelinap masuk."


"Baiklah-baiklah, segera tutup teleponnya. Ibu akan mengatakan ini pada keluarga Wijaya."


"Aku mencintaimu, bu."


"Ibu juga."


Samuel menutup telepon dan segera menghampiri calon istrinya dengan wajah yang tersenyum, kemarahannya mendatangkan keberuntungan dengan sedikit kelicikan. "Ikut denganku!"


"Kemana?"


"Mencari pakaian pengantin," sahut Samuel seraya menarik tangan Eve, tapi langkahnya terhenti saat melihat kedatangan sang asisten.


"Aku ingin kau mengurus perusahaan selama sebulan penuh, aku mempercayakannya padamu."


"Tuan mau kemana?"


"Ke pelaminan dan berbulan madu, gantikan aku untuk sementara waktu. Perintahkan anggota agar menjaga setiap sudut Mansion Wijaya juga Matthew, jangan sampai ada pihak musuh yang masuk!"


"Gajimu tiga bulan kedepan aku naikkan lima kali lipat, semoga kau tak mengeluh lagi dengan tugasmu." Samuel berlalu pergi seraya menarik tangan Eve, meninggalkan asisten Li yang berbinar cerah.


"Wah…pernikahan tuan membuatku merasa diuntungkan, jika dia menaikkan gajiku di saat menikah, bagaimana jika mereka mempunyai keturunan? Sebaiknya aku membuat kartu bank yang baru," gumamnya yang meninggalkan tempat itu, menjalankan perkataan yang sudah menjadi perintah.


****


Keluarga Wijaya bersorak mengenai pernikahan Eve yang akan terjadi dua hari lagi, mereka tak menyangka jika Samuel berhasil membuat gadis cupu itu menerima pinangan begitu cepat. Tapi mereka juga kelimpungan dengan persiapan pesta pernikahan yang sangat mendadak itu.


"Apa keputusan ini sudah disepakati oleh mereka?" tanya Lea.


"Itu benar, Sam baru saja meneleponku dan sekarang mereka sedang mencari pakaian pengantin."


"Telepon saja mereka, aku sudah lama menyiapkan gaun untuk Eve dan juga jasnya. Mereka tidak perlu mencemaskan masalah pakaiannya, hanya perlu membeli cincin saja. Minta mereka untuk mencobanya di butik, di sana ada Lexi." Seru Lexa selaku desainer, karena dia sudah mempersiapkannya di jauh hari.


"Wah, itu sangat bagus. Akan aku kabari mereka." Sahut Lili yang menghubungi anaknya.


"Halo."

__ADS_1


"Iya, bu. Ada apa?"


"Kalian pergilah ke butik yang dikelola Lexa, dia sudah mempersiapkan pakaian pernikahan untuk kalian. Hanya tinggal mencari cincin dan juga perawatan tubuh."


"Baiklah, bu."


"Hem."


Selesai menelepon, Samuel membelokkan arah mobilnya menuju L'Boutique. Hal itu membuat Eve mengerutkan dahi karena penasaran. "Kenapa?" 


"Lex sudah merancang gaun pernikahan kita, dan mencobanya."


"Hem." Sahut Eve yang tak bersemangat mengenai pernikahannya, karena cukup sulit menerima seorang pria yang telah mempermainkan banyak wanita. Dia sengaja membuka kaca jendela mobil dan membiarkan angin menerpa wajahnya yang terasa sejuk.


"Apa aku bisa mencintainya? Aku harus mengubur impianku untuk menjadi wanita karir seperti kak Lexa dan juga kak Lexi, nasibku selalu saja kurang beruntung." Batinnya. 


"Eve, kau melamun?" tanya Samuel yang mengkhawatirkan gadis di sebelahnya.


"Tidak, hanya ingin merasakan terpaan angin saja."


"Sungguh?"


"Ya." Jawab Eve singkat, sejujurnya dia melihat bangunan tinggi yang menjulang ke atas. Berkhayal bekerja di salah satu gedung itu dan menjadi wanita karir seperti mimpinya, namun semua itu sia-sia saat Samuel akan menikahinya.


Mobil berhenti di butik ternama di kota, mereka menjejakkan kaki untuk masuk ke dalam. Saat mereka masuk, Lexi segera menyambut adik sepupu dan calon adik iparnya dengan ramah. Dia sngat senang, karena sebentar lagi Eve akan menikah dengan pria kaya.


Lexi meminta mereka untuk duduk dan mengambil koleksi yang sudah di rancang oleh Lexa. "Aku baru saja pulang, dan kau memberiku kabar yang sangat baik. Berbahagialah dengan calon suamimu." 


"Terima kasih," ujar Eve tak bersemangat.


"Cobalah, gaun ini sangat spesial, desainnya hanya satu dan khusus untuk kalian."


"Hem."


Eve segera meraih gaun putih di tangan kakaknya, dan menuju ke ruang ganti. Samuel juga mencoba jas putih yang terkesan mewah tapi tak meninggalkan sentuhan elegannya. 


Beberapa saat kemudian, keduanya keluar dari ruang ganti, Lexa menatap sepasang calon pengantin yang tampak serasi. "Astaga…kalian terlihat sangat perfect dengan gaun dan juga jas itu," pujinya.


Samuel tak menghiraukan orang lain, karena pandangan matanya hanya tertuju pada Eve yang sangat cantik dengan balutan gaun putih dan beberapa mutiara yang menghiasi gaun itu, hampir saja dia tidak berkedip. "Dia sangat cantik," gumamnya terpesona.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, seorang pria yang melihat aktivitas sepasang calon pengantin. Dia mengepalkan tangannya dengan sempurna, sorot mata tajam seperti tak menerima hal itu akan terjadi. "Eve hanya milikku, tidak akan aku biarkan dia menikah dengan pria lain," gumam pria itu yang tak lain Julian.


__ADS_2