Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 57 - Tatapan semua orang


__ADS_3

Samuel meneguk saliva dengan susah payah saat melihat seluruh mata memandangnya, semua orang yang berada di ruangan itu bahkan tak berkedip sedikitpun. Kegugupannya dalam menghadapi semua keluarga Wijaya yang tengah berkumpul, seakan menjadikannya seorang tahanan kelas kakap. "Astaga…mereka seakan ingin memakanku hidup-hidup, terutama daddy nya Eve." Batinnya yang menahan nafas sebentar, memegang dada saat jantungnya tidak bisa diajak kompromi. 


"Hal apa yang membuatmu begitu berani datang kesini?" tanya Abian selaku ayah Eve, menatap pria brewok dengan menyipitkan kedua matanya menyelidik.


"Kau mempunyai begitu keberanian untuk datang kesini, siapa kau? Apa hubunganmu dengan cucuku?" sambung Kakek Bara.


"Dasar tak tahu malu, apa pintu di depan tidak terlihat? Kau lebih memanjat menuju kamar Eve, sangat menggelikan." Tukas Niko.


"Kau lebih mirip dengan seekor monyet, heh. Untung saja Dave melihat apa yang kau lakukan!" seru Niki.


"Apa kau bosan hidup?" lanjut Alex.


Begitu banyak pertanyaan yang menyerangnya dengan bertubi-tubi, bahkan perut Samuel merasa melilit saat aksinya di ketahui oleh keluarga Wijaya yang anehnya sungguh luar biasa. "Ya, tuhan. Ini kali pertama aku merasakan ketakutan, sihir apa yang mereka gunakan?" batinnya yang lagi-lagi menelan saliva dengan susah payah, seakan tersangkut di tenggorokan.


Sementara Eve menatap Samuel dengan tajam, dia tak menyangka dengan aksi pria itu yang nekat memanjat demi menemuinya setelah dia menolak untuk bertemu. Perasaannya juga sangat marah, karena pria itu mengusik privasinya dan bahkan melihat dirinya yang berpakaian tidur cukup pendek. 


Jangan tanya bagaimana Dave melakukan hal itu, karena kecerdasan didapatkan dari kedua orang tuanya yang merupakan pimpinan Mafia paling ditakuti, hal mudah baginya untuk memeriksa segala yang terjadi di Mansion. "Bahkan Paman itu tersenyum saat melihat kak Eve yang tengah tertidur, dia juga berani mencium kakak ku!" geramnya yang mengompori semua orang.


"APA?" sahut semua orang dengan serempak, sementara Eve membelalakkan kedua matanya menatap sang tersangka.


"Jadi kau mengambil kesempatan dengan menciumku? Dasar pria mesum!" kesal Eve, hingga bantal kecil di sofa melayang tepat mengenai pria itu.


Samuel hanya cengengesan, dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya untuk menjelaskan, bahkan lidahnya tak ingin mengeluarkan suara. Hal itu semakin menyulut emosi para pria di keluarga Wijaya. 


Abian menggebrak meja dengan sangat keras, hingga membuat semua orang terkejut dengan aksinya. "Berani sekali kau mencium putri semata wayangku!" pekiknya yang penuh amarah.


"Apa kau berniat untuk membuat kami terserang penyakit jantung, hah?" ketus kakek Bara seraya menoyor kepala Abian dengan keras. 


"Hehe…aku tidak bermaksud begitu!" 


"Aku dan Nathan baru saja sembuh, tapi apa ini?" protes kakek Bara.


"Sudahlah, dia tidak sengaja dan tidak bermaksud begitu. Jangan tersinggung dengan apa yang dilakukannya!" sela Nenek Dita yang menatap adik iparnya dan membela Abian sang anak angkat yang menikahi putrinya.


"Ibu, aku mencintaimu!" ujar Abian yang berusaha untuk mendapatkan simpati ibu angkat sekaligus ibu mertuanya.


"Jika kau mengatakan hal itu lagi, akan aku patahkan lehermu!" sela kakek Nathan yang tak ingin jika istrinya digoda oleh orang lain selain dirinya.


"Sayang…kenapa kau begitu posesif pada Abian? Dia anak kita sekaligus menantu." Jelas Dita yang paling bijak di antara keluarga aneh bin ajaib itu. "Kita sudah tua, untuk apa ikut campur dengan permasalahan ini? Biarkan para cucu kita yang menangani dan menyelesaikan segalanya, jangan bebankan pikiranmu." 

__ADS_1


"Hah, kau selalu saja membuatku bungkam. Baiklah, sebaiknya kita pergi saja! Dan kau, ikut denganku. Jangan merusak reputasimu sebagai tetua di keluarga ini." Kakek Nathan terpaksa mengalah demi sang istri tercinta, kemudian dia menunjuk adik iparnya yang bahkan tidak berubah walau rambut berubah memutih.


"Aku masih ingin mengintrogasi pria muda itu, mengapa dia mencium Eve," jawab kakek Bara.


Dita melirik Naina, memberikan bahasa isyarat agar adik iparnya segera membawa Bara untuk pergi dari tempat itu. 


Para tetua di keluarga Wijaya sudah meninggalkan tempat itu, sedangkan Lea terus saja membujuk suaminya agar bisa mengontrol emosi untuk menghadapi Samuel. "Kenapa kau mencium putriku, siapa kau sebenarnya?" 


"Samuel Matthew," lirihnya dengan pelan, menundukkan kepala karena merasa deg-degan saat menghadapi cinta pertama dari gadis yang dicintainya. 


Abian berjalan mendekati pria brewok berwajah tampan, melayangkan sebuah tamparan yang melukai sudut bibir Samuel dengan sangat keras, memberikan sebuah pelajaran yang bahkan menurutnya masih saja kurang. "Bahkan hukumanku tidak seimbang dengan apa yang kau perbuat kepada putriku!"


Samuel menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar, memberanikan dirinya untuk menatap dua manik mata yang penuh kemarahan. "Aku akui, jika perbuatanku salah. Tapi Paman, aku sangat mencintai Eve dan tidak bermaksud untuk melakukannya. Apa dayaku? Eve tidak menjawab telepon dan juga pesan dariku, dan aku sudah datang ke sini berulang kali. Twins N dan Alex tidak mengijinkan aku untuk datang menemui kekasihku, Eve!" 


"Putriku tidak akan mempunyai kekasih, apalagi pria sepertimu. Aku dengar, jika kau seorang playboy. Kau dengarkan aku baik-baik, jauhi putriku!" tegas Abian yang menunjuk wajah Samuel, dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu, diikuti oleh istrinya.


Samuel merasa sangat menyesal dan melirik Dave dengan sinis. "Semua kesialan yang aku alami hari ini, karena telur cicak itu!" gumamnya yang jengkel.


"Hei, jangan menatapku seperti itu. Apa kesalahan anak seusia sepertiku? Aku kebetulan bermain dengan memantau keamanan Mansion, tapi aku melihat Paman yang bergelantungan seperti monyet untuk menuju ke kamar kak Eve." Dave berpura-pura seakan dirinya korban, memberikan wajah sedih dan memperlihatkan kepada semua orang.


"Sial! Telur cicak itu cukup cerdik juga, aku harus mengawasinya!" batin Samuel.


Niki yang kesal membuatnya mengusap wajah Samuel dengan kasar. "Apa kau ingin aku bawa ke dukun? Disini kaulah yang bersalah, karena Dave hanya menjalankan tugas hariannya."


"Aku tidak terima dengan pria ini, dan aku juga tidak menyukainya."


"Eve, kenapa kau tidak menjawab teleponku?" tanya Samuel tak peduli kepada semua orang, menatap gadis cupu dengan tatapan teduh.


Eve menghela nafas dengan kesal, menatap pria itu dengan jengkel. "Jangan bersikap seolah-olah kau adalah kekasihku."


"Tapi kau masih menjadi kekasihku, masih ada satu minggu lagi."


"Oh ayolah, bahkan aku tidak menghubungimu hanya beberapa hari saja. Apa sekarang kau jatuh cinta padaku?" cetus Eve. 


"Pergilah! Sebelum aku menghajarmu di sini!" ucap Niki yang menunjuk ke arah pintu utama.


"Ya...aku mencintaimu Eve Wijaya, aku ingin menikahimu!" Ungkapan dari Samuel berhasil membuat para kakak sepupu Eve sangat terkejut.


Bersambung..

__ADS_1


...****************...


Sambil nunggu si Ratu Malas up, kalian boleh mampir di karya author kesayangan nih🥰🥰


Iklan dari author Ramanda


Cuplikan di Bab: SEBUAH KEAJAIBAN.


Sesuai kesepakatan keesokan harinya, Dhanu dan Salwa pun menikah walaupun pada awalnya sangat sulit mengajarkan Dhanu untuk berijab qobul, dan selalu salah karena keterbatasannya. Namun kyai Zainal dengan sabarnya tetap membimbing Dhanu hingga pada akhirnya mereka di nyatakan sah!, oleh para saksi.


"Sekarang Wawa udah jadi istri Adan yaa.?" tanya Dhanu saat Salwa membawa Dhanu ke kamarnya, setelah tadi mereka menyaksikan kepergian Dharma yang tadi sempat menitipkan Dhanu pada Salwa dan Kyai Zainal.


"Iya mas Ardhan, sekarang Wawa, udah jadi istrinya Mas Ardhan." jawab Salwa lembut.


"Horree..horree..Adan sekarang punya istri.." sorak Dhanu sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan, bak anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.


Salwa tersenyum lucu melihat tingkah suaminya yang seperti anak-anak itu. " jangan loncat-loncat Mas nanti kamu jatuh." ujar Salwa dengan lembut.


"Iya Wawa, Adan nggak loncat lagi kok, tapi nanti kita main mobil-mobilan ya?" balas Dhanu dengan wajah polosnya.


"Iya Mas, nanti kita main mobil-mobilan ya." balas Salwa dengan senyum manisnya. " Tapi sekarang mas Ardhan bobo dulu ya," lanjutnya dengan nada lembutnya.


"Baiklah Wawa, Adan sekarang mau bobo, tapi Wawa jangan pergi ya?"


"Iya Mas, Wawa nggak kemana-mana kok."


"Asyiiik, ya udah deh Adan sekarang bobo, ya Wawa." kata Dhanu yang kemudian ia pun mulai memejamkan matanya


"Iya Mas, " balas Salwa masih lembut, namun baru saja Dhanu memejamkan matanya, ia sudah kembali membuka matanya lagi


"Wawa, Adan nggak bisa bobo, kalau nggak di giniin kepalanya Adan, kalau di rumah Bi Ijah giniin kepala Adan Wawa," kata Dhanu dengan wajah polosnya, sambil ia mengusap rambutnya sendiri dari kata giniin.


"Oh baiklah, sekarang Wawa usap-usap kepala Mas Adhan ya."


"Hu'um" balas Dhanu, yang kemudian ia kembali memejamkan matanya setelah Salwa membelai-belai lembut rambut Dhanu, sambil dia bersholawat, membuat Dhanu senang mendengarnya.


Begitulah keseharian mereka setiap harinya, walaupun Dhanu tahu kalau Salwa adalah istrinya. Namun ia memperlakukan Salwa hanya seperti teman bermain baginya, begitu juga dengan Salwa, yang dengan sabarnya ia mengurus dan menemani Dhanu bak seorang ibu yang mendidik anaknya. Hingga pernikahan mereka berusia dua minggu, sebuah keajaiban pun datang pada Dhanu.


Di dalam tidurnya Dhanu ia bermimpi bertemu seorang kakek-kakek, berjubah putih, serta memakai sorban putih, lalu sang kakek meletakkan tangannya di dahi Dhanu yang terlihat bingung melihat sang kakek, namun itu hanya sesaat karena tiba-tiba Dhanu melihat masa lalunya, dan ia juga melihat kejahatan sang tante yang menyebabkan kematian orang tuanya serta saudaranya, membuat hatinya menjadi sedih, bercampur dengan kemarahan.

__ADS_1


"Sekarang kamu sudah sembuh nak, lakukanlah yang terbaik, untuk keluarga mu, juga selamatkanlah harta kamu, dan bawalah kejalan kebaikan."



__ADS_2