
"Ehem!" Samuel berdehem untuk mengalihkan perhatian keduanya. Eve dan Julian menoleh ke sumber suara, melihat wajah tampan dari mantan majikan dadakan nya.
"Kau di sini?" ujar Eve yang mengerutkan kening.
"Sedang apa kau dengan pria itu?" jawab Samuel dingin, melirik Julian sepersekian detik dan kembali menatap Eve tajam.
"Terserah padaku, pergi sana!" usir Eve yang merasa terganggu.
"Ck, berani sekali gadis jelek ini mengusirku?" umpat Samuel di dalam hati, mengepal tangannya dan rahang yang mengeras.
Sedangkan Julian hanya menatap Samuel penasaran, karena dia tidak mengenal pria itu dan ada hubungan apa dengan Eve. "Apa kau mengenalnya?"
"Tidak!" jawab Eve santai membuat Samuel semakin geram, tanpa meminta izin terlebih dulu dia duduk di sebelah sang gadis cupu.
"Jika kau tidak mengenalnya, tapi kenapa pria itu mengenalmu?" celetuk Julian.
"Dia hanya pria sinting yang mencari sensasi, sebaiknya kita pergi karena ada nyamuk di sini." Eve segera menarik tangan Julian dan menjauh dari mantan majikannya.
Ada sesuatu hal yang mengganjal di hati, perasaan benih-benih cinta yang belum dia sadari. "Apa bagusnya boneka santet itu?" gumamnya yang dengan cepat menghadang keduanya di depan pintu, menatap mereka menggunakan raut wajah yang sarkas. "Tidak semudah itu kau pergi, Sayang!"
"Menyingkirlah dari jalanku!" ketus Eve yang tersulut emosi.
"Tidak." Memegang sebelah tangan Eve dengan erat membuat sang empunya meringis kesakitan. Melihat hal itu, Julian pasang badan melindungi gadis berkacamata.
"Menyingkirlah!" raut wajah dingin Julian, tatapan membunuh dan juga kosong di lontarkan ke arah Samuel.
Samuel tersentak kaget melihat Julian, dia sangat tahu persis dan memahami kepribadian pria itu lewat sorot matanya. "Dia bukan pria sembarangan, tatapan membunuh seperti seorang psikopat."
"Menyingkirlah!" ulang Julian, dengan terpaksa Samuel memberikan jalan, menatap punggung mereka yang mulai menjauh.
Eve sangat bingung dengan situasinya saat ini, memikirkan Samuel yang mengalah saat mendengar sekali sentakan dari Julian. "Apa ini kebetulan?" batinnya yang merasa aneh, melirik wajah Julian diam-diam.
__ADS_1
"Apa aku terlihat tampan?"
"Eh, maafkan aku." segera Eve melepaskan cengkraman tangannya, sedikit gugup saat pria itu menangkap basah dirinya.
"Tidak masalah, kau mau mengajakku kemana?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Eve lupa untuk memeriksa laporan Cafe, hanya saja mood nya memburuk saat mantan majikannya juga berada di sana.
"Bagaimana, jika aku mengajakmu jalan-jalan?" tawar Julian.
"Kemana?"
"Ikuti saja!"
Eve memicingkan kedua matanya, menyelidiki seperti seorang polisi. "Kita baru saja saling mengenal, aku tidak bisa pergi bersama denganmu!" tolaknya yang berlalu pergi meninggalkan pria tampan itu.
Julian menatap kepergian Eve dengan teduh, kedua lesung pipi terlihat menambah pesona di wajahnya yang sangat tampan. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan saat ponselnya berdering, segera mengangkat.
Eve mengumpati Samuel saat menuju pemberhentian taksi, mulut yang terus komat-kamit dengan sumpah serapah pada pria menyebalkan itu.
"Jangan memaksaku!" ketus Eve.
Samuel mendelik kesal, segera menggendong tubuh Eve layaknya sekarung beras dan memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kau ini kenapa? Urusan kita sudah selesai!" pekik Eve kesal.
"Jauhi pria tadi."
"Kau tidak ada hak!"
"Pria itu tidak seperti apa yang kau bayangkan, menjauhlah darinya!" Samuel terus memberikan peringatan, karena dia merasa ada kejanggalan dari pria itu.
__ADS_1
Eve tak menggubris perkataan Samuel, dan keluar dari mobil mewah itu dengan perasaan dongkol.
"Kenapa semua orang mengatur hidupku? Aku sangat lelah jika terus dikekang seperti ini, bahkan pria asing itu juga melakukan hal yang sama." Eve menangis dalam diam, mengingat semua keluarga terutama ayahnya begitu posesif dan membatasi dirinya dari dunia luar. Sebenarnya dia sangat lelah menjadi Eve yang diinginkan semua orang, hanya ingin menjadi dirinya sendiri.
Eve memutuskan menaiki taksi, pulang ke Mansion dan segera beristirahat. Tak butuh waktu lama, taksi berhenti di halaman luas itu. Sang supir sangat terkejut saat mengantarkan anggota keluarga dari orang terpandang.
"Neng, tinggal disini?"
Hem, terima kasih." Eve berjalan masuk ke dalam, suasana sepi dan sunyi di dalam Mansion. Menyusuri pandangannya menatap ruangan mewah tanpa seorang pun karena sibuk. Langkah kaki gontai menuju kamarnya, memikirkan perkataan Samuel. "Kenapa dia sangat melarangku untuk menjauhi Julian? Apa mereka saling mengenal?" monolognya sambil menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk.
****
Di malam hari, Samuel tak bisa memejamkan kedua matanya. Perasaan kesal kembali menyelimuti hatinya, saat dia tak bisa mendapatkan informasi yang diinginkan. "Sepertinya aku harus mencari tahu hal ini!" gumamnya sambil memejamkan kedua mata akibat lelah dalam bekerja.
Terdengar bunyi cambuk yang terdengar nyaring, seseorang yang kembali menerima siksaan di punggungnya akibat tak mematuhi perkataan orang itu. "Dasar anak pembawa sial, kau selalu saja membangkang perkataanku. Apa kau ingin hukuman yang lebih dari ini?" bentak pria paruh baya itu.
"Tidak Ayah, aku mohon! Jangan hukum aku!"
"Karena ulahmu membuat putra bungsu terluka."
"Aku tidak sengaja, ayah!" rengek pria kecil itu yang sangat ketakutan, mendongakkan kepala berharap balas kasih dari pria itu.
"Sengaja ataupun tidak! Kau tetap melukai putra bungsuku." Pria paruh baya itu kembali melecutkan cambuknya dengan keras, hingga bekasnya berdarah. Seorang anak kecil yang berusia 10 tahun, selalu mendapatkan ketidakadilan yang terjadi padanya.
Setelah anak laki-laki itu dipecut, dia segera berlari dengan langkah yang terseok-seok menuju kamarnya.
Samuel kecil tidak pernah membagikan kesedihannya kepada siapapun, bahkan kepada Niko dan Niki. Siksaan yang selalu didapatkan dari sang ayah yang ringan tangan, dia hanya mampu mengatasinya sendiri.
Setelah memberikan salep pada luka di tubuhnya, Samuel segera menuju kamar sang ibu. Melihat keadaan sang ibu yang dipasung oleh istri kedua ayahnya, air mata yang menitik saat tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Samuel kecil ingin menemui ibunya secara bersembunyi, tapi seseorang membawa kayu balok dan memukul kepala wanita yang di pasung hingga pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"TIDAK!" Samuel berteriak dan terbangun dari mimpinya, keringat yang bercucuran deras saat mimpi buruk itu kembali hadir. Segera mengambil gelas yang berisi air mineral di atas nakas, meminumnya hingga habis.
Dendam masa lalu membuat Samuel sangat membenci untuk berdamai dengan masa lalunya, luka yang di torehkan oleh ayah dan juga ibu tirinya sangatlah dalam. "Aku sangat merindukan ibu, sebaiknya aku mengambil cuti dan menikmati momen bersama. Itu pasti sangat menyenangkan. " Gumamnya yang sangat merindukan sesosok ibu. Kembali berbaring di atas tempat tidur dan memejamkan kedua matanya.