Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 35 - Kelicikan Samuel


__ADS_3

Eve sangat panik, terlihat dari keringat yang ada di dahinya. Namun suasana yang mencekam itu terhenti saat mendengar suara pintu yang yang ditendang dari luar. Keduanya menoleh, menatap Niki yang sangat marah melihat kejadian di hadapannya. Langkah yang tergesa-gesa dan melayangkan pukulan di wajah tampan pria yang ingin mencium adiknya. "Brengsek! Nyalimu cukup besar melawan keluarga Wijaya." 


Terlihat salah satu sudut di bibir Samuel mengeluarkan darah segar, mengusap bibir yang berdarah menggunakan tangannya. Sorot mata yang tidak bisa dipahami oleh Niki, menghampiri sahabat kecilnya. "Hanya cara seperti ini aku bisa bertemu denganmu, Niki." Samuel tersenyum tipis, saat rencana yang diatur sedemikian rupa berhasil. Sebelumnya, dia mengetahui jika Eve pergi bersama Niki menuju apartemennya. Bahkan dia juga tahu, jika sahabat kecilnya sedang memantau Eve. 


Dia tak punya pilihan lain, mengundang Niki dengan cara normal. 


Niki menautkan kedua alisnya, dia tak tahu maksud dari perkataan Samuel dan berusaha untuk mencernanya. "Apa yang kau maksud?" ucapnya dengan tatapan tajam. 


Samuel menatap beberapa orang pelayan yang berada di sudut apartemen, memberikan isyarat hanya dua jari untuk mengusir mereka. "Duduklah!" ujarnya menatap Eve dan Niki secara bergantian. Sedangkan dua kakak adik itu saling melirik, mereka sangat bingung dengan situasi yang baru saja terjadi. 


Mereka menuruti perkataan Samuel dan duduk di sofa empuk, menatap pria brewok itu dengan sarkas. "Sekarang kau bisa menjelaskannya!"


"Tentu saja! Eve dalam bahaya."


"Aku tahu," sahut Niki jengah. 


"Apa kau tahu pelakunya?" Kali ini Samuel sangat serius, karena dia ingin ikut serta dalam membantu Niki. 


"Apa Kakak percaya dengan pria sinting ini? Bisa jadi itu hanya omong kosong saja." Sela Eve yang tidak ingin berada di ruangan itu lebih lama lagi. 


"Tunggu dulu! Kenapa kau tiba-tiba menjadi peduli? Ini sangat mencurigakan."


"Jangan percaya padanya! Dia pria yang sangat licik, dan bisa memperdaya Kakak." Eve terus saja mengompori Niki agar tidak terpengaruh, walau bagaimanapun juga, pria itu tidak bisa dianggap teman. Sedangkan Niki terdiam, memikirkan ucapan yang didengar. Tapi dia tidak bisa mengabaikan berita yang diberikan oleh Samuel. 


"Katakan siapa pelakunya!" desak Niki. 

__ADS_1


Samuel tersenyum tipis dan bertepuk tangan untuk memanggil sang asisten yang membawakan sebuah dokumen mengenai musuh yang mengincar Eve. "Kau bisa melihat laporan itu, jika kau masih berpikir untuk tidak mempercayaiku? Itu terserah padamu, aku mengatakan ini karena kau adalah sahabat kecilku."


Segera Niki mengambil laporan di atas meja dan mulai membacanya, beberapa mengenai rencana, profesi musuh, dan lengkap dengan foto. Kedua pupil matanya membesar, tak percaya jika lawannya kali ini sangatlah berat. "Astaga, ini karena ulahku yang tak sengaja keceplosan. Eve dalam bahaya, karena musuh sudah mengelilinginya." Batinnya yang sangat khawatir. 


"Bagaimana? Apa kau masih berpikir jika aku hanya mengada-ngada saja?" Samuel melirik tangan kanan sekaligus asistennya. 


Asisten Li mengerti dengan kode itu, menganggukkan kepala dan beranjak pergi dari tempat itu untuk mengambil bukti Video. Tak perlu menunggu lama, pria itu membawa laptop dan memutarkan rekaman Cctv yang sempat mereka retas. 


Bukan hanya Niki yang terkejut, melainkan Eve juga sangat syok. Melihat sebuah rekaman yang memperlihatkan Julian membunuh musuh dengan sangat keji. "Astaga, dia terlihat polos dan sangat mengagumkan. Untung saja aku belum mencintainya," seru Eve yang keceplosan membuat dua pasang mata melotot ke arahnya. 


"Singkirkan pikiranmu itu!" ketus Niki tak terima jika sang adik menyukai sang psikopat berdarah dingin, tak kenal ampun pada musuhnya. 


"Itu hanya asumsi ku saja, apalagi Julian sangat ramah padaku. Tidak seperti pria di sebelahmu," cibir Eve yang melirik Samuel. 


Niki tidak menyukai jika ada orang lain yang berani mengancam ataupun menyakiti Eve, memukul wajah Samuel menggunakan bantal kecil di sofa. "Jangan menatap adikku begitu!" 


"Ck, kau ini hanya merusak suasana. Kau dan adikmu itu sama saja!" 


"Tentu saja, karena mommy nya dan daddy ku bersaudara. Apa masalahmu sekarang?" 


"Jika seperti ini, kapan permasalahan ini selesai? 


"Tentu saja dengan kita bekerja sama." Sahut Samuel. 


"Aku tak sudi bekerja sama denganmu," ketus Niki. 

__ADS_1


"Kau tak punya pilihan lain, nama keluargamu saja tidak akan cukup untuk mengalahkan psikopat kejam itu. Kekayaan nya melebihi keluargamu, dia penguasa di eropa dan kau tidak akan sanggup melawannya."


"Lalu? Kau ingin kita bekerja sama? Tapi apa yang kau ingin capai?" Niki menatap Samuel penuh penyelidik, karena dia tak bisa sepenuhnya mempercayai pria tampan itu. 


Samuel tersenyum dan melirik Eve, mengedipkan sebelah matanya saat Niki lengah. "Aku ingin Eve menjadi kekasih kontrakku hanya satu bulan saja!"


"Sial! Kau mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Perhatikan bagaimana penampilan adikku itu, masih banyak wanita cantik yang bisa kau dapatkan."


"Tapi aku menginginkannya, hanya satu bulan saja. Aku berjanji akan menjaganya, kau pasti mengetahui sifatku dengan sangat baik. Pantang bagiku mengingkari janji!" ungkap Samuel yang mengatakan sebagian dari kebenarannya. 


"Apa sebenarnya yang ingin kau buktikan?" 


Suasana semakin mencekam saat Eve memperhatikan kedua pria yang berdebat tepat di hadapannya. "Oh ayolah, hentikan ini!" keluhnya. 


"Diam!" bentak kedua pria itu serempak yang menatapnya beberapa detik. 


Eve diam membeku, membalas tatapan dua pria aneh di hadapannya. "Hah, apa aku boleh pergi dari sini? Tanganku menjadi gatal untuk memukul kepala mereka menggunakan sepatuku." Batinnya yang menggerutu. 


"Ck, sebenarnya aku sangat enggan menceritakan ini padamu. Ayahku terus saja mengusik kehidupanku dengan mencari seorang wanita yang akan di jodohkan, aku menentang keras perjodohan karena aku tak ingin menikah. Aku hanya ingin menjadikan Eve sebagai kekasih kontrak hanya untuk sebulan saja. Sebagai balasannya, aku akan membantumu untuk melawan Julian. Kita akan menggabungkan kekuatan untuk menghadapi perang ini, setidaknya kau mempunyai sekutu."


"Berikan aku waktu untuk memikirkan ini." Ucap Niki yang tidak memberikan jawaban yang pasti, dia hanya ingin membicarakan hal ini kepada saudaranya yang lain. "Ayo, Eve!" menarik tangan adik sepupunya menuju ke ke mobil yang di parkir. 


Samuel tersenyum smirk saat melihat kepergian mereka, berjalan ke arah meja dan kembali meneguk alkohol. Terdengar seringaian tawa, saat rencananya  akan segera dimulai. "Niko dan Niki tidak ada apa-apa nya, mereka sangat bodoh. Tapi Alex? Pria itu sangatlah cerdik dan cukup sulit untuk mempengaruhinya." 


Samuel kembali meneguk alkohol dan kembali mengingat keluarganya yang mengkhianati dirinya dan juga sang ibu. "Aku akan mencari waktu yang tepat untuk menghabisi wanita perebut itu, dan hukuman paling ringannya adalah bernasib sama dengan dengan apa yang ibu ku alami."

__ADS_1


__ADS_2