
Samuel tak bisa melakukan apapun karena luka di perut masih belum kering apalagi lengannya juga masih terasa berdenyut akibat goresan pisau yang sangat tajam, dia mensyukuri jika mengetahui masalah setiap orang dengan berpura-pura belum sadarkan diri. Pintu kembali terbuka dan dia juga berakting, dan mendengarkan apa saja keluhan selanjutnya yang diterima oleh indra pendengarnya.
Seorang pria tampan yang lengkap menggunakan setelan jas datang menghampiri, dia adalah sang asisten yang sangat prihatin dengan kondisi atasannya masih berbaring di atas brankar. "Tuan, aku salah satu fansmu bagai dewa cinta. Tapi, kapan kau akan sadar? Pekerjaan kantor selalu membuatku lembur. Begitu banyak yang aku urus sendirian, hah…ini sangat melelahkan." Keluh asisten Li yang bersedih. namun kesedihan itu tidak berlangsung lama saat kepalanya dijitak. "Apa ruangan ini berhantu?" gumamnya sembari memegang tengkuknya meremang ngeri.
Asisten Li terus mencari siapa pelakunya tapi tidak menemukan orang lain, dia hendak pergi tapi jasnya ditarik dan segera menoleh dengan ragu-ragu. "Ampuni aku Paman setan, aku tidak mempunyai niat yang jahat. ini murni menjenguk atasanku!" gugupnya yang sangat ketakutan.
"Lancang sekali kau mengatakan aku setan, mana ada setan setampan diriku?"
Asisten Li meneguk salivanya dengan susah payah, seakan tersendat di tenggorokan. Kedua pupil mata yang melebar, saat menatap seorang pria yang terbangun dari tidurnya. "Tuan kau?"
"Iya, ini aku." Ketus Samuel yang menyandarkan punggungnya dengan hati-hati.
"Ini kabar yang sangat baik, aku akan mengabarkan nona Eve dan yang lainnya, pasti mereka sangat senang."
"Ck, tidak perlu terburu-buru, jangan katakan apapun kepada mereka."
"Tapi mengapa Tuan berpura-pura belum sadarkan diri?" asisten Li mengerutkan kening karena tak memahami jalan pikiran dari atasannya.
"Aku bisa mendengar apa saja yang mereka katakan selagi aku berbaring di tempat ini, dan jangan lupakan jika aku juga mendengar keluh kesahmu itu." Sedikit ada nada ancaman dan tekanan dengan apa yang diucapkan oleh Samuel. Hal itu membuat sang asisten bergidik ngeri, tak ingin mendapatkan hukuman dari pria yang masih di atas brankar.
"Aku tidak sengaja mengatakannya, Tuan." Asisten Li menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal, cengengesan karena telah berbuat kesalahan.
"Akan aku maafkan, asal kau tidak memberitahu siapapun dulu. Perintahkan kepada beberapa orang untuk mengikuti Niko, Niki dan Alex yang ingin pergi, pantau mereka setelah aku menikah."
"Aku tidak mengerti."
__ADS_1
"Karena otak dangkal mu tidak terkoneksi dengan baik, jalankan saja perintahku! Karena mereka merasa bersalah, dan berniat untuk pergi dari Mansion Wijaya. Aku sangat mencintai Eve dan tidak ingin membuatnya bersedih. Apa sudah jelas?"
"Baik Tuan."
Eve yang ingin membuka pintu terdengar samar suara orang yang tengah berbincang di dalam ruangan itu, membuka sedikit celah di pintu dan melihat Samuel dan juga asistennya di tengah membicarakan sesuatu. "Eh, dia sudah sadar?" gumamnya yang terdengar oleh dua orang di dalam ruangan.
Eve segera masuk ke dalam dan memergoki dua orang yang telah membohonginya, berdiri di daun pintu melototi dua orang pria yang gelagapan saat kedatangannya secara tiba-tiba. "Oho, jadi kau sudah sadar dan kalian berdua sekongkol untuk rencana ini?" tuduh nya yang bertolak pinggang.
"Eve, kau ke mana saja aku tersadar tetapi tidak ada orang lain selain asistenku." Samuel memasang wajah pria yang tak berdaya dengan sedikit tetesan air mata, membuat asisten Li memahami perannya.
"Nona tidak tahu, bagaimana tuan terus saja memanggil namamu saat dia tersadar." Sambung asisten Li.
Seketika Eve melunak, berjalan menghampiri Samuel dengan rasa iba dan juga simpati. "Maaf, aku hanya pergi sebentar, karena mom menghubungiku untuk datang ke Mansion." Jelasnya.
Samuel melirik asistennya dengan tajam, memberikan isyarat agar pria itu harus pergi meninggalkan dirinya yang hanya ingin berduaan dengan calon istri.
"Mendekatlah, ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa?" Eve sangat penasaran dan mendekat.
"Aku tidak ingin melanjutkan pernikahan ini dan tidak akan memaksamu, kejar cita-citamu dan aku tidak akan menjadi penghalang." ucap Samuel yang menunjukkan kepala melakukan rencana liciknya agar Eve merasa bersalah, apalagi dia juga tahu jika gadis itu juga mencintainya.
"Apa yang kau katakan? Semuanya sudah siap, hanya tinggal menunggu kesehatanmu membaik." Eve sangat sedih karena perkataan dari pria itu membuat hatinya sedikit terluka, tak terasa cairan terbendung di pelupuk mata.
Samuel menyeka air mata yang ingin membasahi pipi di wajah mulus dan juga cantik. "Bukankah itu yang kau inginkan? Aku hanya ingin mengabulkan permintaanmu saja. Aku memang mencintaimu, tetapi tidak ingin memaksamu agar bisa bersama denganku."
__ADS_1
"Tidak jangan katakan itu."
"Apa yang harus dipertahankan? Kau tidak mencintaiku, pergilah dari sini dan aku tidak akan mengganggumu lagi."
Perkataan yang terus keluar dari mulut Samuel menyakiti hatinya, karena kata-kata yang dulu dianggap remeh sekarang penuh makna karena dia juga mencintai pria itu. "Memang aku ingin menjadi wanita karir dengan segudang prestasi."
"Katakan kepada semua orang, jika kau ingin membatalkan pernikahan ini dan aku akan membujuk semua orang agar tidak memarahimu. Aku juga akan menerima keputusan ibuku yang ingin menjodohkan ku dengan wanita lain, anggap saja kita tidak berjodoh."
Eve semakin terisak dengan perkataan yang begitu mendalam, menangis sesegukan dan menghamburkan pelukan. Dia memeluk dengan erat, karena tak ingin jika pria itu menjadi milik wanita lain, ada rasa di hati yang tidak rela. "Aku mencintaimu…Aku mencintaimu." mengakui perasaannya dihadapan Samuel dan berharap agar pria itu tidak meninggalkannya.
"Coba ulangi sekali lagi?" pinta Samuel yang tersenyum tipis karena rencananya berhasil.
"Jangan tinggalkan aku, Sam. Aku mencintaimu!"
Samuel membalas pelukan itu karena dia sangat senang tak bisa digambarkan yang terlukiskan lewat, menenggelamkan kepalanya di leher Eve. "Aku juga sangat mencintaimu, besok pagi kita menikah!"
Seketika tangisan Eve mereda, melonggarkan pelukan itu dan menatap Samuel dengan pongah. "Apa kau bercanda? Lihatlah kondisimu yang belum pulih."
"Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi, Apa kau ingin aku menikah dengan wanita lain?"
"Kenapa kata itu seperti menyiratkan sesuatu."
"Aku baru saja sadar, tapi kau malah membawaku berdebat. Apa ini yang kau inginkan?" Samuel terus saja berakting untuk mendapatkan rasa peduli dari calon istrinya. Bahkan dia tak berpikir dua kali menggunakan cara lain, yaitu air mata palsunya.
"Jangan menangis! Baiklah, besok pagi kita akan menikah sesuai dengan keinginanmu."
__ADS_1
Samuel tersenyum dengan mata yang berbinar cerah dan kembali memeluk gadis itu.