
Eve sangat bingung dan menjadi gundah, antara ingin mengatakan atau tidak kepada kakak sepupunya. "Mungkin kakak salah orang," jawabnya asal.
"Jangan mencoba untuk membohongiku, Eve. Apa kau pikir kakak mu ini bodoh? Kau bekerja menjadi pelayan di apartemen milik Samuel Matthew karena tindak cerobohmu," usut Niko yang mengetahui segalanya mengenai sang adik sepupu.
Eve menelan saliva dengan susah payah, ternyata selama ini dia ketahuan. "Ka-kapan Kakak mengetahuinya?" dia sangat penasaran, apalagi sudah melakukannya secara diam-diam.
"Apa kau berpikir aku ini tidak peduli? Mengetahui apa yang kau sembunyikan sangat mudah bagi Niko Wijaya," tegas Niko yang mengingat tamparan dari Alex akibat lalai dalam menjaga Eve yang ternyata mempunyai masalah.
"Ya tuhan…ternyata semuanya terbongkar." Batin Eve yang tersenyum kaku, menatap pria tampan itu dengan puppy eyes miliknya.
Niko melemparkan sebuah kartu tanpa limit dan dengan sigap di tangkap oleh Eve. "Untuk apa kartu ini, Kak?"
"Bayar hutangmu pada pria itu, karena aku tak ingin jika kau semakin dekat dengannya, atau paman Abian akan memotong anu ku." Cetus Niko yang sedikit merasa linu serta memegang pisang tanpa expired, mengingat bagaimana ancaman yang dilontarkan oleh sang paman lewat telepon.
Seketika Eve tersenyum cerah, berlari memeluk kakak sepupunya dan mengecup pipi dengan lembut. "Aku mengira jika kakak tidak peduli padaku, ternyata punya cara tersendiri dalam menyayangi aku." Serunya yang memeluk kakak sepupunya dengan erat. Sedangkan Niko sangat risih dan berusaha melepaskan pelukan itu. "Aku ini sangat lembut di dalam seperti coklat lumer, kau saja yang selalu berpikiran sempit menilaiku."
Segera Eve melepaskan pelukannya dan mencium kartu tanpa limit, itu artinya dia tidak akan berurusan dengan pria menyebalkan lainnya seperti Samuel.
"Menjauh dari Samuel Matthew, karena pria itu playboy sama seperti diriku. Jangan berurusan dengannya lagi, karena aku tidak akan merestui mu," ucap Niko yang memperingatkan Eve.
"Sepertinya kak Niko mempunyai dendam pribadi padanya?" selidik Eve yang sangat penasaran mengenai hubungan kedua pria itu.
"Aku mengenalnya dengan sangat baik, sudahlah…kau masih kecil dan tidak akan aku beritahu kepada bocah tuyul sepertimu."
Seketika Eve mengerucutkan bibirnya beberapa sentimeter ke depan, baru saja dia memuji sang kakak bagai seorang pahlawan. "Ck, sifatnya kembali lagi." Gerutunya yang masih terdengar di telinga pria itu.
Pletak
Niko menjitak kepala Eve karena geram dengan gadis yang menurutnya masih bocah menggerutu tepat di hadapannya. "Jangan menggerutu, dasar bocah labil!"
"Maaf, lidahku terpeleset mengatakannya."
__ADS_1
"Aku maafkan, tapi ingat ini! Putuskan kesepakatan mu dengan pria playboy cap terasi sambal lalap itu!" ujar Niko yang sangat tidak menyukai Samuel, karena urusan pribadi dan juga kantor. Sebenarnya dia hanya mengenal Samuel dari namanya yang terkenal di kalangan bisnis, namun informasi yang dia dapatkan membuat Niko syok. Ternyata dulunya Samuel adalah seorang pria gendut, teman sekolahnya dulu dan sering menyebutnya dengan nama Bimbom. "Heh, ternyata pria gendut itu mengikuti jejak ku!" batinnya.
"Kakak sama saja dengannya, bahkan lebih parah lagi," sindir Eve yang kembali mendapatkan jitakan panas dingin. "Auh…aku akan bodoh jika kakak terus menjitaknya!" kesanya seraya mengusap kepala.
"Karena otakmu tidak berjalan dengan semestinya, kau beruntung jika aku berusaha untuk membenarkan otakmu yang konslet itu."
"Hem."
"Mulai sekarang, akulah yang akan mengantar jemputmu."
"Kenapa? Bagaimana dengan kekasih ulat keket?" Eve sangat penasaran, memberi gelar para wanita seksi yang menjadi kekasih sang kakak sepupu.
"Aku tak ingin dihukum oleh Alex sialan itu!"
"Dasar penakut!" ledek Eve.
"Aku tidak peduli, dan yang pasti tak ingin berurusan dengannya."
"Itu sebabnya aku dan Niki akan mengikutimu jika keluar dari Mansion."
"APA?" Eve melototin kedua matanya yang hampir keluar dari tempatnya, hal yang ditakutkan malah terjadi. Bergegas pergi dari tempat itu menuju kamar, menutup pintu dengan sangat keras membuat Niko tersentak kaget.
"Astaga, dia sangat sensitif. Aku harus tegas padamu, karena Alex sangatlah kejam. Sepertinya aku harus menemui kuda nil diet itu," gumamnya yang melangkahkan kaki, mengambil ponsel dari saku celana untuk menghubungi seseorang.
"Halo, tuan."
"Hem, segera buat temu janji dengan Samuel Matthew."
"Laksanakan!"
Niko memutuskan sambungan telepon dan menuju ke dalam mobil, ingin kembali ke kantor karena ada berkas yang harus dia ambil.
__ADS_1
Eve sangat kesal namun bahagia seketika, terpaksa mengorbankan kebebasan demi merdeka dari si penindas majikan dadakan nya. Mengipasi kartu ke wajahnya, memikirkan bagaimana dia akan bertindak kepada Samuel Matthew. "Akhirnya aku tidak perlu menunggu waktu yang disepakati, semoga saja orang-orang tidak mencurigaiku saat kak Niko atau kak Niki menjadi pengawal." Monolognya, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
****
Sementara di sisi lain, seorang pria yang berbaring di atas tempat tidur, wajah yang pucat, dan rambut yang mulai memutih. Menatap pria tampan yang berdiri, menatap dirinya dengan api kemarahan selama bertahun-tahun menyala. "Akhirnya kau menjengukku juga," ucapnya dengan tatapan nanar dan sendu.
"Ck, aku terpaksa kesini. Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan," ketus Samuel yang menatap ayahnya dengan tajam.
"Sampai kapan kau akan terus marah padaku? Terimakah Manda sebagai ibu tirimu dan juga Liam sebagai adik tirimu." Lirih Bramantyo, ayah kandung Samuel.
"Apa kau sudah selesai? Jika tak ada yang ingin dibicarakan lagi, sebaiknya aku pergi saja!" Samuel ingin beranjak dari sana, tapi tangannya di cekal.
"Jangan pergi! Masih ada yang ingin aku bicarakan, mengenai wasiat untuk kedua putraku."
"Kau berikan saja pada anakmu itu, aku tidak memerlukannya."
"Aku tahu kau sangat marah padaku, tapi jangan menolak hak mu."
"Ya, baiklah. Aku akan mengambil hak ku!" Seketika Samuel tersenyum samar, dirinya akan semakin kaya dan berkuasa dengan wasiat dari sang ayah.
"Syukurlah, dan aku ingin meminta satu hal lagi. Segera menikahlah dan jauhi para wanita yang tidak baik itu," ucap Bramantyo dengan penuh penyesalan, mengingat dirinya menikah tanpa diketahui oleh istri pertama.
"Menikah? Apa kau bercanda? Kau tidak ada hak mengatur kehidupanku." Bentak Samuel yang sangat membenci pria paruh baya yang terbujur lemah di atas tempat tidur.
"Aku tidak tahu kapan kematian akan datang, menikahlah!" bujuk Bramantyo.
"Aku melihat segalanya, bagaimana pernikahan yang sangat harmonis kau hancurkan, hingga ibuku ada di rumah sakit jiwa, ini adalah karmamu. Kau bahkan tidak tahu bagaimana aku berjuang, kau sendirilah yang merenggut masa kecilku."
"Maafkan aku!" ucap pelan Bramantyo yang meneteskan air matanya, kesalahan di masa lalu membuat putranya sangat membenci dirinya. Karena disini dialah yang bersalah, menikah siri dengan sekretaris pribadi.
"Heh, maafku tidak akan memulihkan keadaan ibuku." Cibir Samuel yang berlalu pergi, suasana di ruangan itu sangatlah menyesakkan.
__ADS_1