
Tak butuh waktu lama, mobil berhenti sesuai arahan Eve. Baru saja dia mengeluarkan sebelah kakinya untuk turun dari mobil, namun sepatu mahalnya terkena lumpur. "Astaga, kenapa hariku sangat sial?" umpatnya kesal, melirik sepatu yang terkena lumpur.
"Itu hal biasa yang terjadi, memang seperti ini. Jangan banyak mengeluh. Ayo turun!" ujar Eve yang membuka pintu mobil dan turun. Segera menghampiri pria tampan itu. "Mengapa kau diam saja? Ayo!"
"Tidak, kau saja yang pergi. Aku akan menunggumu di sini saja."
"Dasar payah, hanya lumpur saja dan kau sudah mengeluh." Ledek Eve yang tertawa, segera mengeluarkan beberapa paper bag yang berisi roti.
"Akan aku buktikan, jika aku pria tangguh." Tekad Samuel yang mengambil sebotol air mineral tak jauh darinya, menyiram sepatu mahal yang dilumuri lumpur. Setelah itu, dia bergegas membantu Eve untuk membawakan paper bag, berharap misinya berhasil.
"Apa kau yakin ingin ikut denganku?" celetuk Eve yang menoleh ke samping.
"Aku sangat yakin, kau adalah kekasihku."
"Jangan menyesal dengan keputusanmu, Ayo!"
Samuel menggaruk kan kepala karena tak mengerti apa maksud dari perkataan itu. Mengikuti langkah gadis itu menuju lapangan yang berisi anak-anak sedang bermain.
"Wah, sepertinya kedatanganku tidak disambut." Eve berjalan mengikuti anak jalanan yang sedang bermain.
"Kak Eve!" ucap mereka kompak dan berlari menghampiri gadis cupu itu. Memeluk Eve layaknya kakak kandung, karena hati dermawan yang membuat mereka berhenti mengamen dan mengemis.
Samuel melihat keakraban Eve dengan anak-anak jalanan yang kurang kasih sayang, hatinya seakan mencair melihat jiwa dari gadis yang ingin dia manfaatkan berhati lembut dan mulia, sisi keibuan yang begitu menonjol. "Aku tidak menyangka, jika Eve Wijaya tidak merasa jijik dengan para anak jalanan." Batinnya.
"Hei, kenapa kau diam saja. Kemarilah, akan aku kenalkan kau dengan anak-anak ini." Pekik Eve yang tersenyum tulus.
"Baiklah." Samuel melangkahkan kakinya untuk mendekat, membawa empat kantong paper bag dan menyerahkannya kepada Eve.
"Sudah lama kak Eve tidak berkunjung, kami sangat merindukan Kakak." Ucap salah satu anak yang berpenampilan kumuh.
Eve tersenyum seraya mengacak rambut gadis kecil itu. " Maaf, ada hal penting yang tidak bisa ditinggal."
"Siapa pria yang bersama Kakak?"
"Panggil dia dengan sebutan kak Sam."
"Hai, Kak Sam." Sapa semua anak yang tersenyum tulus.
__ADS_1
"Hai," balas Samuel yang juga tersenyum.
"Kakak punya sesuatu untuk kalian!"
"Benarkah?" ucap anak-anak yang berbinar cerah.
Eve mengangguk dan tersenyum dengan antusias, membagikan roti kepada anak-anak yang kurang mampu, dan sejumlah uang yang telah dimasukkan ke dalam amplop kecil.
Sementara Samuel hanya berdiam diri bagai patung, melihat kemurahan hati gadis yang sangat berbeda dari wanita yang selama ini mendekatinya. Tanpa dia sadari, semua anak-anak telah pergi meninggalkan dirinya juga gadis baik hati.
"Dari tadi kau hanya diam saja, apa kau tidak betah? Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengerjai mu dengan membawa kesini." Eve sedikit bersalah, mengingat mantan majikannya tidak menyukai tempat kumuh yang mereka datangi.
"Apa kau selalu membagikan ini?" tanya Samuel tak menggubris ucapan Eve.
"Ya, jika aku tidak sibuk. Aku selalu datang dan memberikan mereka makan, baju, dan juga sejumlah uang. Kau tahu? Melihat senyuman tulus dari mereka, membuat kita bahagia. Bantuan yang kita berikan tidak seberapa, tapi sangat berarti bagi mereka, dan aku menyukai tindakan ini." Jelas Eve yang tersenyum indah, berjalan menuju mobil yang terparkir. Sedangkan Samuel hanya menganggukkan kepala.
"Jangan tersinggung, apa kau tidak jijik saat anak-anak itu memelukmu?"
"Tidak, karena aku menyukai anak-anak."
"Kau sangat penuh percaya diri, belum tentu kita menikah. Aku juga tidak ingin menikah dengan pria sepertimu!" tukas Eve yang menolak.
"Astaga…kata-kata mu sangat tajam sekali." Gerutu Samuel yang cemberut, kata-kata yang terlontarkan dari mulut Eve sangat mempengaruhinya.
"Tapi itulah kenyataannya!"
Di dalam mobil, Samuel membantu kekasihnya memasangkan seatbelt dan kembali fokus mengemudi. Di sepanjang perjalanan, suasana hening, hal itu membuat Eve untuk membuka suara.
"Sam!"
"Iya, ada apa?" jawab Samuel yang menoleh dengan sekilas dan kembali fokus ke jalanan.
"Bisakah kita ke taman bermain? Sekarang ada karnaval di sana."
"Kenapa kau ingin kesana?"
"Sudah lama aku tidak pergi kesana, hanya sebentar saja!" bujuk Eve dengan dua manik mata berbinar.
__ADS_1
"Baiklah."
Samuel menghela nafas, karena seharusnya mereka berkencan di tempat yang romantis, tapi malah sebaliknya. Suasana ramai dan berisik membuatnya tidak tahan, sedikit enggan untuk menemani kekasihnya. "Ayolah, kita bermain di sana. Pasti sangat seru!"
"Tidak, kau saja." Tolak Samuel.
Eve menarik tangan Samuel hingga mereka bertabrakan, jarak yang sangat dekat. Kedua pasang mata saling bertemu dan menatap lama, namun dengan cepat Eve menjauh dari pria yang telah menjadi kekasihnya.
"Jika kau tidak ingin ikut, ya sudah! Aku akan pergi sendiri!" ucap Eve untuk menghilangkan rasa canggung keduanya.
"Baiklah, aku ikut bersamamu!" sahut Samuel yang juga merasa canggung.
Mereka segera menaiki beberapa wahana yang sangat asing bagi Samuel, karena dirinya hanya tau bekerja di kantor. Terdapat kebahagiaan yang selama ini tidak dia dapatkan di masa kecil, membuatnya sangat senang.
"Bagaimana? Apa kau suka?" tanya Eve yang tersenyum indah.
"Aku tidak menyangka, jika tempat sederhana ini membuatku bahagia."
"Baguslah, jika kau menikmatinya."
"Apa kau selalu datang ke tempat ini?"
"Karnaval hanya diadakan setahun sekali, aku selalu datang ke tempat ini."
"Aku ingin mengajakmu di tempat mewah, tapi kau lebih menyukai tempat sederhana seperti ini. Kenapa kau berbeda dari wanita kaya lainnya? Apa keluargamu tahu akan hal ini?"
"Apa kau pikir orang kaya hanya menyukai tempat mewah? Kau salah. Bahkan keluargaku sesekali ke sini, Kakek Bara yang mengajak kami dan menikmati wahana permainan."
Samuel hanya terdiam, menghabiskan waktu bersama Eve memberikan pelajaran hidup baginya. Selama ini, dia hanya tau hal-hal umum yang dilakukan orang kaya dan melupakan hal sederhana.
"Aku lapar!" ucap Eve yang memegang perutnya, menatap sang kekasih dengan manja.
Samuel sangat terkejut saat Eve menentukan lokasi, berpikir jika mereka akan makan di sebuah restoran mewah. Tapi nyatanya, Eve bersikukuh makan di tempat sederhana di pinggir jalan. "Sebaiknya kita cari restoran saja, di sini tidak higienis dan membuatmu sakit perut."
Eve menghela nafas, menatap pria tampan di sebelahnya dengan jengah. "Tempat ini bersih, jika kau tidak mau? Kau bisa pergi dari sini!"
Akhirnya Samuel mengalah, tak ingin meninggalkan kekasihnya.
__ADS_1