Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 27 - Rasa


__ADS_3

Liam mengusap kepalanya, melirik Eve seperti seekor kelinci. "Dasar istri durhaka!" umpatnya yang kesal. Anita yang mendengarnya semakin tertawa melihat hal di depannya. "Wah…tidak bisa aku bayangkan, bagaimana jadinya jika kalian menjadi pasangan suami istri."


"Tentu saja hidup harmonis dengan lima anak!" seru Liam yang memperlihatkan kelima jarinya di hadapan Anita. 


"Apa kau pikir aku ini kucing?" ketus Eve. 


Liam bersikap dramatis, seolah-olah dia pria yang paling polos di dunia ini. "Bukankah pepatah mengatakan, banyak anak banyak rezeki. Mari kita memperbanyak keturunan, lagi pula kau cantik dan aku tampan, dan yang pastinya kita mempunyai gen bibit unggul. Bukankah itu sangat me__" belum selesai dia melanjutkan ucapannya, Sebuah sandal mendarat di mulut pria malang itu. 


"Kau sangat cerewet juga penuh percaya diri, perkataanmu membuat bulu kuduk ku berdiri." Eve menatap pria di hadapannya, menjauhkan sandal dan kembali memakainya. 


"Kalian, sangat lucu. Bahkan perutku terasa kram!" ujar Anita seraya tertawa lepas, memukul punggung Liam dan juga Eve. 


"Berhentilah tertawa!" ketus Eve hang sangat kesal. 


"Baiklah-baiklah, aku usahakan." Jawab Anita yang masih tertawa. 


"Bagaimana? Apa kau setuju?" desak Liam dengan tatapan penuh harapan, berharap jika gadis itu mengatakan setuju untuk menikah dengannya. 


"Apa sendal ku ini masih belum cukup?" 


"Jangankan sendal mu, kentutmu pun aku terima." Goda Liam yang mengeringkan kedua matanya. 


"Bisakah kau pergi?" usir Eve yang sangat jengah. 


"Sesuai yang kau inginkan," sahut Liam yang beranjak pergi, mencium pipi Eve dan kabur sebelum di amuk sang empunya. 


"Dasar pria kurang ajar, kembali kau!" teriak Eve kesal, menatap punggung Liam yang mulai menjauh. 


"Pria itu sangat menyebalkan!"


"Wow, sepertinya dia mencicil nya." Anita tersenyum jahil, menyukai wajah sahabatnya yang memerah menahan amarah. 


"Apa maksudmu dengan mencicil?" Eve menatap Anita dengan tajam, seakan ingin mengarunginya. 


"Mencicil untuk menjadi suami yang penuh cinta," jawab Anita yang juga memasang langkah seribu, menjauh dari sahabatnya. 


"Anita…kembalilah!" teriak Eve yang terengah-engah, nafas naik turun karena emosi pada sahabat juga Liam. "Mereka benar-benar membuat aku emosi, Awas kau…Anita!" 


Mata kuliah telah selesai, Eve pergi dari ruangan itu tanpa menyapa sahabatnya yang tadi membuatnya kesal, langkah gontai menuju keluar dari kampus. 


"Hai…calon istri!" sapa Liam yang sudah di mabuk asmara. 

__ADS_1


Eve menoleh dan menghela nafas berat. "Jangan menggangguku, pergilah!" ketusnya mengusir pria itu. 


"Apa aku boleh berkunjung ke rumahmu?" Liam menatap Eve penuh harap, pepatah mengatakan jika ingin mendekati seseorang yang disukai, sebaiknya dekati dulu keluarganya. Itulah yang di coba dilakukan olehnya. 


"Eh, kenapa kau tiba-tiba ingin ke rumahku?" 


"Aku ingin mengenal keluargamu yang nantinya menjadi keluargaku." 


"Hentikan itu!"


"Ayolah, bawa aku ke rumahmu!" rengek Liam dengan puppy eyes miliknya, berusaha untuk meluluhkan hati Eve. 


"Apa kau yakin? Kau tidak akan bisa keluar dari rumahku setelah masuk ke sana." Ini peringatan yang diberikan Eve, mengingat keluarga serta ayah posesif. Dia sangat yakin jika keluarganya tidak akan melepaskan Liam, terutama kedua kakak sepupunya, Alex, Niko dan Niki. 


"Hah, aku tahu! Apa itu artinya keluargamu menerimaku?" 


"Percuma saja aku jelaskan, karena kau tidak akan mengerti. Jangan ikuti aku atau kau akan aku hajar!" ancam Eve yang berlalu pergi. 


Kali ini Eve memutuskan untuk ke Cafe, memantau laporan beberapa hari sebelumnya. Saat hendak masuk ke dalam, teleponnya berdering dan terpaksa mengangkatnya. 


"Halo, kak. Ada apa?" 


"Kau dimana?" 


"Aku ada di Mansion."


"Tapi kenapa?"


"Setelah urusan mu selesai, pulang ke Mansion!"


"Katakan dulu, apa kak?"


"Jangan banyak bertanya."


Sambungan telepon terputus membuat Eve sangat kesal, dia tidak tahu kesalahan apa yang membuat Alex menghubunginya. "Hah, aku jadi takut jika berurusan dengan kak Alex." Saat berjalan masuk, tak sengaja dia menyenggol seseorang berlawanan arah. "Maaf, aku tidak sengaja." Segera dia mengambil buku-buku yang berserakan di lantai, memberikannya kepada orang itu. 


"Maaf, aku tak sengaja." Mendongakkan kepala menatap siapa orang yang baru saja ditabrak. 


"Hem, Eve?"


"Kau mengenalku?" Eve menunjuk dirinya, karena melupakan pria itu. 

__ADS_1


"Ya, kita bertemu di rumah sakit. Namaku Julian!" menyodorkan tangan untuk kembali berkenalan, kedua lesung pipinya terlihat saat gadis itu menjabat tangannya. 


"Eve."


"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu."


"Hem, bagaimana kondisimu?" tanya Eve yang berbasa-basi. 


"Aku sudah baikan."


"Itu bagus!"


"Aku tak menyangka menemuimu di sini, bagaimana jika aku mentraktirmu?"


"Baiklah, aku setuju." Eve ingin menolak, namun senyum Julian membuatnya mengubah keputusannya. Tatapan teduh pria itu seakan mempunyai sihir, pria yang sangat berbeda dari Liam dan juga Samuel. 


****


Sementara di tempat lain, Samuel memainkan pulpen seraya memikirkan rencana selanjutnya. "Eve harus menjadi milikku, setelah balas dendam itu selesai? Maka aku akan mencampakkan gadis cupu itu," batinnya yang tersenyum licik. 


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, mengalihkan perhatian menatap sumber suara. "Ada apa?"


"Saya membawakan laporan mengenai Eve Wijaya." Jawab sang asisten yang berjalan menghampiri Samuel, memegang sebuah berkas di tangannya. 


Samuel mengambil berkas itu dan membaca data Eve Wijaya, walau hanya sebagian data yang didapat oleh asistennya. "Ini hanya setengah saja, apa tidak ada informasi detailnya?" 


"Maaf, Tuan. Hanya itu yang bisa saya temukan, cukup sulit untuk mendapatkan data dari keluarga Wijaya."


"Kau hanya membuang-buang waktuku, kau tangani urusan kantor!" titahnya beranjak pergi. 


"Tuan, ingin kemana?"


"Ini urusan hidup dan mati, laksanakan sesuai perintah."


"Baik, Tuan."


Samuel segera pergi meninggalkan tempat itu menuju ke Cafe Floress dan menemui wanita cantik, tidak sabar untuk menebarkan jala tebar pesona. 


Sesampainya di Cafe, Samuel melangkahkan kaki menuju kursi yang biasa diduduki. Celingukan mencari keberadaan gadis cantik, tapi malah menangkap sosok Eve bersama dengan seorang pria. "Boneka santet ada di sini? Apa yang mereka lakukannya bersama pria itu?" guratan pertanyaan memenuhi pikirannya. 


Samuel berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang dilihat, melirik jam mahalnya yang melingkar di tangan. Menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan itu, tapi tidak menemukan wanita cantik. "Kenapa gadis cantik itu tidak terlihat?" gumamnya yang diam-diam melirik Eve bersama dengan seorang pria. Entah mengapa, dia tak menyukai jika ada pria lain mendekati Eve. 

__ADS_1


Dia marah dan juga kesal melihat pemandangan di depannya, terselip rasa yang tidak dia ketahui. Berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri Eve, raut wajahnya menjadi dingin saat melihat pria tampan dengan lesung pipi di wajah tertawa bersama mantan pelayan dadakkan nya. 


__ADS_2