Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 58 - Semangat Samuel


__ADS_3

Betapa terkejutnya semua orang mengenai pernyataan yang terucap dari mulut Samuel, mereka tak menyangka jika pria itu berani mengatakan perasaannya di hadapan mereka. Hal itu semakin membuat Alex dan twins N semakin emosi, kemarahan yang sebentar lagi akan meledak. "Berani sekali kau mengatakannya di hadapan kami semua, nyalimu cukup besar juga rupanya!" cibir Niko.


"Aku tidak takut kepada siapapun, apa aku salah mengatakan perasaanku di hadapan kalian semua?" 


"Kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi, kau tidak pantas bersama dengan Eve. Jauhi adik sepupu kami," sahur Niki yang menatap tajam sahabat lamanya.


"Dan aku akan tetap bertekad untuk menikahi adik kalian, KAKAK IPAR." Tekan Samuel yang tersenyum tipis.


"Hei, apa kau pikir aku ingin menikah denganmu? TIDAK." Sela Eve yang tak menyukai Samuel.


"Kau sudah mendengarkan perkataan dari Eve, sekarang pergilah dari sini, atau aku akan mematahkan lehermu!" ancam Niko yang mengepalkan kedua tangannya memperlihatkan kepada pria brewok di hadapannya.


"Apa kesalahanku dan kenapa kalian memusuhiku?"


"Ck, berhentilah menggunakan raut wajah yang sangat menjijikkan itu." Cibir Niki yang masih mengingat bagaimana perlakuan dari Samuel.


Eve tersenyum dengan puas, melihat wajah yang tidak berdaya dari Samuel. "Wah, Aku tidak menyangka jika fungsi mempunyai kakak laki-laki adalah sebagai tameng dan perisai untuk adiknya. ini sangat bagus, aku sangat yakin jika pria itu tidak akan menggangguku lagi." Gumamnya di dalam hati.


"Kita mulai dari awal lagi, berikan aku kesempatan untuk membuktikan diriku kepada kalian. Masa lalu biarlah berlalu, dan aku sudah melupakannya permusuhan kita."


"Apa ini semacam intrik mu untuk menyiksa adik sepupuku?" Alex menata Samuel dengan tajam karena dia mengetahui niat buruk dari pria itu. 


Sontak semua orang terkejut mendengarnya, Niko dan Niki sangat marah kepada Samuel dan menatapnya seperti seorang tawanan yang harus di introgasi. Namun sebelum itu, Niko mendaratkan pukulan tepat mengenai wajah sahabat lamanya dengan sangat keras, karena di antara ketiganya hanya dialah yang paling sensitif jika ada orang lain yang berani mengusik Eve selain dirinya. "Aku sudah curiga kepadamu, kau selalu saja mencari keuntungan dan juga pria yang sangat licik, aku tidak merestui mu berhubungan dengan adikku!" 


"Jangan berdebat lagi, cepat keluar dari Mansion Wijaya!" usir Niki.


Samuel hanya terdiam menyadari jika niatnya untuk mendekat Eve, dia merasa sangat bersalah dan menyesali semuanya. "Awalnya aku berniat seperti itu, tetapi adik kalian berhasil mengubah pandanganku hanya membutuhkan waktu satu hari saja." Jelasnya dengan jujur.

__ADS_1


Eve berdiri dari duduknya berjalan menghampiri Samuel dan menatapnya tanpa mengedipkan mata, sangat marah mengetahui dimanfaatkan. mengangkat tangannya dan melempar wajah yang ditumbuhi bulu dengan kuat. "Pergilah dari sini dan jangan ganggu aku!" ketusnya sarkas.


"Tidak Eve, berikan aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahanku dan membuktikan diri."


"Kau tidak membutuhkan satu kesempatan, karena aku tidak mencintaimu. Pintunya ada di sebelah sana," Eve menunjukkan jalan keluar berharap dia itu segera pergi dari Mansion. 


Samuel menatap teduh wajah wanita yang sangat dia cintai, terdiam karena tak mempunyai pembelaan apa-apa lagi karena awalnya memang salah. Berlalu pergi meninggalkan tempat itu, baru beberapa langkah dia kembali menoleh menatap Eve. "Aku akan membuktikannya kepada kalian semua, beri aku waktu."


"Itu tidak akan terjadi, pergilah dari sini sebelum aku memukul wajahmu untuk kedua kalinya."


Tak punya pilihan lain membuatnya berlalu pergi, bukan Samuel namanya jika menyerah sebelum berperang. "Aku akan membuktikannya kepada mereka, Untung saja aku memahami Alex, Niko, Niki dengan sangat baik dan itu tidak akan sulit bagiku. Masalahku hanya satu yaitu meyakinkan Eve agar menerima cintaku dan menikah." 


****


Setelah kepergian Samuel, semua mata menyorot ke arah sang adik yang tengah santai memakan cemilan, begitu banyak pertanyaan yang ingin mereka lontarkan. Eve menyadari jika ketiga pria tampan menatapnya dengan serius. "Apa aku begitu cantik, hingga kalian tidak berkedip sedikitpun." 


"Ck, berhentilah bersikap seperti anak-anak. Apakah menyukai Samuel?" tanya Niko yang sangat mencemaskan Eve.


"Bagus, jangan sampai kau mencintai pria brengsek itu!" tukas Niki. "Dan kau! Kenapa kau menutupi hal ini dan baru mengungkapnya sekarang?" kesalnya sembari menunjuk Alex.


"Karena aku baru beberapa hari mengetahuinya setelah penyelidikan ku selesai."


"Kau selalu saja membuat aku kesal, menghukum orang lain dengan sesuka hatimu. Tapi kau sendiri malah bersikap seperti ini, sangat tidak adil." Gerutu Niko yang mendelik kesal.


"Dan satu hal lagi yang ingin aku beritahu kepada kalian semua, jika Julian masih hidup!"


"APA?" sambut Niko, Niki, dan Eve yang membelalakkan kedua matanya.

__ADS_1


"Aku sangat takut mendengarnya, bagaimana pria psikopat itu mengancamku?" 


"Kau tenang saja, begitu banyak pengawal yang akan mengawasimu dari kejauhan." Ucap Alex yang berusaha menenangkan Eve.


"Kenapa hidupku sangat sial?" keluh Eve yang menggerutui nasibnya.


Seorang anak kecil berumur 10 tahun hanya melihat apa yang terjadi di hadapannya dan memahami obrolan orang dewasa, tapi tak begitu tertarik membuatnya segera berlalu pergi dari tempat itu. "Aku tidak ingin menjadi orang dewasa, sangat memusingkan." Umpat Dave.


"Apa kau baru menyadarinya sekarang? Aku bahkan terkena imbas dari kesialan mu," ujar Niko.


"Beginilah nasib orang cantik seperti diriku," balas Eve yang mengibaskan rambutnya dengan bangga.


"Ck, kau ini." Niko segera beranjak dari tempat itu, dan tersenyum puas karena berhasil memberikan pelajaran kepada Samuel. "Semoga saja dia tidak akan menampakan wajahnya itu di hadapanku!" gumamnya.


Eve tak ingin membuat dirinya semakin pusing dan memutuskan untuk menaiki tangga menuju kamarnya, namun sudut mata tak sengaja melihat jika dua orang paruh baya yang sangat dikenalnya menguping pembicaraan mereka, dan menghampirinya. "Mom? Dad? Kalian menguping pembicaraan kami?" selidiknya seraya menyipitkan kedua matanya.


"Ti-tidak, kami hanya kebetulan lewat saja." Jawab Lea yang sedikit gugup.


"Jangan berbohong, Mom."


"Ya, sebenarnya kami mendengarkan pembicaraan kalian, dan mengenai keputusan dari Samuel Deddy menolak keras lamaran pria itu."


Seketika Lea mencubit pinggang suaminya, memberikan isyarat agar dia paruh baya itu tidak mengatakan banyak hal. "Tapi, Mommy akan selalu mendukung keputusanmu."


"Sayang…kenapa kau begitu menyambut si pria kera?" 


"Aku melihat Samuel sangat baik."

__ADS_1


"Itu tidak akan berhasil, lihatlah dari sudut pandangku. Pria kera itu tidak akan menjadi menantuku, berani sekali dia membuat putriku tersiksa."


Eve menghela nafas dan masuk ke kamar dan tak lupa mengunci pintu, segera membaringkan tubuhnya yang sedikit merasa lelah. "Samuel, Liam, dan Julian. Kenapa mereka selalu mengganggu ketenanganku?" 


__ADS_2