Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 24 - Ancaman


__ADS_3

Suasana di Cafe dengan dekorasi yang indah, rintik-rintik hujan tipis mulai membasahi pepohonan yang tumbuh. Pertemuan antara Samuel dan Niko dalam keadaan seperti itu, saling terdiam membuat keadaan sekitar sedikit sunyi, hanya terdengar riuhnya air hujan. 


"Kenapa kau membuat temu janji denganku?"


"Aku tidak menyangka, bagaimana kuda nil bisa menjadi pria tampan," sindiran yang terlihat jelas saat niko melirik Samuel. 


"Tidak perlu berbasa-basi, cepat katakan! Kenapa kau mengundangku kesini."


Niko tidak segera menjawab, memilih untuk menyeruput secangkir kopi. "Jauhi Eve!" 


"Kau tidak ada hak mengatakan itu," geram Samuel, menatap tajam pada pria itu. 


"Cari saja target lain, karena Eve adalah milikku." Ucapan Niko berhasil membuat Samuel salah paham, mengira jika gadis yang menjadi pelayannya adalah wanita incaran pria itu. 


"Kau tidak ada hak untuk melarang ku."


"Heh, ternyata sifat bersikukuh mu tidak hilang. Kau pasti tahu bagaimana kekuatan Wijaya, sangat mudah bagiku membuatmu bangkrut menjadi gembel."


"Apa permasalahan mu sebenarnya? Aku tahu Eve bukanlah kriteria wanita yang kau sukai." Samuel tak akan melepaskan gadis cupu itu, taruhan bersama temannya sangatlah penting dan bisa membalaskan dendam kepada adik tirinya. 


"Biarkan itu menjadi urusanku, Niki pasti kaget melihatmu yang berubah seratus delapan puluh derajat." Niko mengingat bagaimana dulunya Samuel adalah teman sekaligus sahabat mereka, namun suatu tragedi yang membuat Samuel yang sangat membenci cassanova itu, melihat kekasihnya yang sedang bercumbu dengan sahabatnya di sebuah hotel. 


"Dasar pengkhianat, kau tidak perlu mencemaskan diriku."


Niko terdiam, pikirannya masih mengingat bagaimana Samuel membencinya. Padahal dulunya mereka salah paham saja, karena akar sebenarnya kekasih Samuel lah yang datang menggoda. Karena imannya sangat dangkal membuat mereka menjalani malam yang sangat panas, tapi di ketahui oleh Samuel. 

__ADS_1


"Aku tegaskan kepadamu untuk menjauhi Eve, karena aku tak bermain-main dengan ucapan saja." Niko melempar sebuah kartu tanpa limit, menatap mantan sahabatnya dengan seringaian. "Sekarang Eve bebas, dan kau tidak perlu lagi menindasnya!" 


"Ck, simpan saja kartu itu." Samuel melirik kartu yang ada di atas meja. "Sepertinya Eve sangat spesial, aku tidak akan melepaskan dengan mudah." Gumamnya di dalam hati, tersenyum dengan tantangan baru seakan mengalir seperti lomba. "Sepertinya aku harus pergi!" beranjak dari kursinya, membenarkan jas tapi masih menatap pria di hadapannya, berlalu pergi tanpa mengambil kartu yang disodorkan Niko. 


Di kantor, Samuel bergelut dengan layar pipihnya, fokus kepada pekerjaan dan menyita banyak waktu. Ketukan pintu menghentikan aktivitasnya, mengizinkan masuk tanpa menoleh. 


"Sekarang perjanjian kontrak sudah selesai, aku membayar ganti rugi ponselmu." 


Segera Samuel menatap asal suara, sedikit terkejut dengan kedatangan Eve yang menyodorkan sebuah kartu tanpa limit. "Hutangku lunas, termasuk dengan bunga-bunganya. Jangan pernah menggangguku lagi, aku tidak ada urusan dengan pria sepertimu." 


Samuel terdiam sejenak, menatap wajah tenang Eve yang kemudian ingin meninggalkan ruangannya. Langkah cepatnya berhasil menghadang gadis cupu itu, menelisik wajah yang ditutupi dandanan kuno seperti boneka Annabelle. "Kau tidak bisa memutuskan itu dengan sepihak, aku tidak akan melepaskanmu walau sudah membayar lunas."


"Ck, kau pria yang sangat licik juga menyebalkan. Anggap kita tidak saling mengenal layaknya orang asing." Eve memegang gagang pintu hendak keluar ruangan, tak ingin lagi berurusan dengan pria menyebalkan itu. 


Samuel menutup pintu dengan cepat, menguncinya membuat Eve takut dan gelisah. Memundurkan langkah kaki, hingga dia tak bisa mundur lagi akibat terhalang dinding. "Apa kau yakin? Atau perlu ku perlihatkan sesuatu?" tekannya dengan seringaian licik. 


Samuel dengan licik memperlihatkan sebuah rekaman, di mana Anita yang sedang di awasi oleh orang suruhannya. "Jika kau masih bersikeras membatalkan kontrak sebelum waktunya, maka sahabatmu akan terkena masalah besar." Ancamnya. 


"Brengsek! Kau mempergunakan sahabatku untuk masalah ini!" pekiknya yang melototi mata dengan lebar, menarik kerah leher pria itu walau dia menjinjitkan kaki, karena tingginya hanya sebatas dada Samuel. 


"Dan jika kau mengadu pada Niko? Kau pasti tahu bagaimana Samuel Matthew bertindak."


Eve melepaskan cengkramannya, memalingkan wajah karena sangat geram dengan ancaman itu. "Kau sangat licik!" pekiknya. 


"Pilihan ada di tanganmu!"

__ADS_1


Eve sangat kesal dan menahan amarah, beranjak pergi dari tempat itu. Saat di ambang pintu, dia menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan, tatapan sinis dan juga tajam. Memegang gagang pintu menutupnya dengan sangat keras, membuat Samuel tersentak kaget, mengelus dadanya dari rasa terkejut yang ditimbulkan gadis itu. "Kau harus menjadi kekasihku, karena kau adalah kunci dari permasalahanku, Eve." 


Eve sangat kesal, mengumpati pria itu sepanjang kaki melangkah dan masuk ke dalam mobil. 


"Bagaimana?" tanya seseorang di sebelah Eve. 


"Aku sudah melakukan sesuai perkataan kak Niko." Jawabnya di serta helaan nafas panjang. 


"Bagaimana hasilnya?" Niki sangat penasaran mengenai pria yang mencoba menindas adik sepupunya. 


"Dia tidak menerima uangnya, jadi aku harus apa?" 


"Kau tenang saja, kakakmu Niki masih ada di sini." Niki menunjuk dirinya sendiri dengan bangga, dia sangat penasaran siapa pria yang berani bermain-main dengan keluarga Wijaya. Keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung itu, perasaannya sangat kesal dan menahan amarah. Dia tidak menghiraukan para petugas keamanan, memaksakan masuk menuju ruangan presdir. 


Niki menendang pintu dengan sangat keras, membuat seseorang di dalam ruangan sangat terkejut dengan aksinya yang membuat keributan di kantor. Langkah tergesa-gesa menghampiri pria yang tengah duduk di kursi kebanggaan. "Berani sekali kau mempermainkan adikku!" tekannya yang menunjuk wajah Samuel. 


Samuel terdiam sejenak, memikirkan perkataan dari Niki. "Adik?" 


"Ya, kau sedang berurusan dengan keluarga Wijaya. Apa perusahaanmu yang kecil ini ingin diratakan?" Kemarahan Niki berhasil menguak identitas Eve yang disembunyikan. 


"Pantas saja aku tidak menemukan identitas Eve, ternyata dia cucu dari Nathan Wijaya?" batin Samuel yang sangat terkejut, dia merasa tidak asing dengan pria cepat emosian itu. 


"Tapi, tunggu dulu! Kenapa wajahmu sangat mirip dengan badak bercula satu itu?" pikir Niki yang berpikir, karena wajah pria yang berhadapan dengannya sangat tidak asing. 


"Sial! Sampai sekarang kau masih saja memberiku gelar itu," sahut Samuel yang mendelik kesal. 

__ADS_1


"Oh astaga…ternyata kau Bimbom? Telah lama kau menghilang, tapi perubahan tubuhmu sangat drastis."


Samuel menganggukkan kepala, mereka terdiam beberapa saat dan saling berpelukan. Bahkan Niki melupakan alasan dia berada di sana, pertemuan dengan sahabat lamanya. Sementara Eve terus melihat jam yang melingkar di tangan, sangat gelisah dan khawatir dengan kakaknya yang marah. "Sebaiknya aku pergi kesana, melihat wajah pria tengil itu babak belur." Serunya yang bersemangat masuk kedalam kantor dan melihat nasib sial dari Samuel. 


__ADS_2