
Samuel tampak berpikir mengenai tubuhnya yang terasa gatal, terus menggaruk membuat asisten Li dan Lili mengerutkan dahi karena penasaran. "Kenapa kau menggaruk seperti kera?"
"Seluruh tubuhku terasa gatal, Bu." Jawab Samuel yang segera melepaskan jasnya dan juga kemeja, betapa terkejutnya Lili saat melihat punggung putranya yang memerah di persekitaran kulit, terdapat benjolan kecil-kecil juga beruam. "Ini akibatnya, jika kau malas mandi. Punggung mu penuh dengan panu!" ketus sang ibu.
"Apa?" Samuel sangat kaget, ini kali pertamanya dia mendapatkan panu yang muncul dengan tiba-tiba.
"Astaga…lain kali aku tidak ingin meminjam pakaian tuan Samuel, panu merupakan penyakit kulit yang bisa pindah. Semoga saja aku di jauhi hal seperti itu, dasar pria jorok!" umpat asisten Li yang mengelus dadanya.
"Kau kenapa?" tanya Samuel yang melihat asisten.
"Aku hanya diam saja, Tuan."
Lili segera memukul putranya yang terkesan tidak menjaga kebersihan hingga jamur kulit itu menyebar dengan sangat cepat, Samuel tak tahan dengan rasa gatal dan juga perih bersamaan. "Bantu aku!"
"Ibu tidak ingin panumu berpindah, bagaimana jika kita ke apotik dan membeli cairan yang bisa membasmi panu dengan sangat cepat."
"Asisten Li! Kau dengar apa yang diucapkan ibuku?"
"Iya Tuan."
"Kalau begitu, tambah kecepatan laju mobil ini. Aku sangat tersiksa!" bentak Samuel yang sudah tak tahan.
"Baik, Tuan."
Baru beberapa langkah menit kemudian, tiba-tiba Samuel berteriak, sangat ketakutan saat melihat tubuhnya sendiri. Dia bersembunyi di balik tubuh sang ibu, dan sesekali menatap kaca spion mobil. "Sembunyikan aku…sembunyikan aku!" tuturnya ketakutan layaknya seorang anak kecil.
Lili yang kesal memukul dan mendorong putranya, tak ingin jika panu itu menyebar ke tubuhnya. "Kau kenapa? Jaga jarakmu!" cetusnya yang berusaha untuk memperingati putranya.
"Tidak...tolong sembunyikan aku! Ada yang mengikutiku sedari tadi."
"Siapa yang mengikutimu, Tuan?" tanya asisten Li yang sangat penasaran, menatap kaca spion dan tidak ada siapapun selain mereka.
"Tubuhku sendiri." Bisik Samuel.
Seketika tawa asisten Li meledak. "Apa Tuan sedang melawak untuk mendapatkan perhatian dari nona Eve?"
"Apa kau gila?" sela Lili seraya mengerutkan kening.
"Aku mengatakan yang sebenarnya."
__ADS_1
"Sepertinya tuan Samuel mempunyai masalah dengan salah satu urat yang sedikit bergeser."
"Apa maksudmu?" cetus Lili menatap punggu asisten Li tak suka.
"Tolong…siapapun itu, bantu aku. Singkirkan tubuhku!" pekik Samuel mulai merasakan halusinasi, akibat bubuk kecubung yang dicampurkan kedalam minumannya.
"Sepertinya tuan Samuel depresi akibat nona Eve tidak menyetujui lamaran itu." Jawab asisten Li sekena nya.
"Tapi keluarganya sudah menerima lamaran itu, lalu apa lagi? Walau bagaimanapun, mereka tetap akan menikah."
"Ada yang salah dengan tuan."
"Kau benar, ayo kita ke psikiater." Ajak Lili yang mendekati putranya. "Apa dia juga akan gila seperti ku dulu?" gumamnya tampak berpikir.
Asisten Li menganggukkan kepala dan segera melakukan sesuai perintah, mengemudikan mobil dan menambah kecepatan laju kendaraan. Sedangkan Samuel meringkuk, memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya. "Buang tubuhku!" pekiknya seperti orang gila, hal itu membuat Lili dan asisten Li sangat terkejut.
"Kita harus ke dokter lebih cepat! Oh ya tuhan…semoga saja putraku tidak gila."
Tak butuh waktu lama, Samuel segera dibawa ke ahli kejiwaan. Dia harus berada di rumah sakit jiwa selama tiga hari, hal itu menambah kecemasan Lili selaku ibunya.
"Kenapa Sam bisa seperti itu, Dok?"
"Sepertinya anakmu mengkonsumsi bubuk kecubung yang menyebabkan dia berhalusinasi, tapi tidak berbahaya selama kami memantaunya."
"Tanaman yang tumbuh subur di iklim tropis, dapat menyebabkan halusinasi dan menyebabkan si pengkonsumsi mengalami kegilaan sementara atau permanen. Tapi Nyonya tenang saja, karena kasus yang dimiliki oleh tuan Samuel hanyalah sementara, sekitar dua atau tiga hari akan sembuh."
"Astaga…kenapa putraku bisa seperti ini?"
"Apa terakhir kali dia konsumsi?" tanya sang dokter.
"Kami baru saja dari kediaman Wijaya, dan dia meminum minuman buatan Eve." Sahut Lili dengan polos.
"Wah, sepertinya nona Eve benar-benar menolak lamaran ini." Celetuk asisten Li.
Lili yang kesal segera memukul asisten Li. "Apa kau ingin di pecat?" kesalnya membuat pria itu menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan.
"Tidak Nyonya."
"Sebaiknya kau menemani atasanmu di rumah sakit jiwa, aku pergi dulu!"
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan di sini, Nyonya?" pekik asisten Li yang menatap kepergian wanita paruh baya.
"Kau asistennya 'bukan? Maka temanilah atasanmu." Sahut Lili tak peduli.
"Astaga…bisa-bisa aku juga ikut gila berada di sini, di tambah dengan pekerjaan kantor yang menumpuk." Gumam asisten Li mengelus dada.
Lili memesan taksi online, dia tidak marah kepada calon menantu yang mengerjai putranya sendiri. Semua sikap yang selama ini diketahui olehnya dari beberapa pelayan dan juga sang asisten, perlakuan Samuel kepada Eve. "Wah, aku tak menyangka jika calon menantuku sangatlah pintar." Gumamnya tersenyum cerah.
"Bawa aku ke L'Boutique!"
"Baik Nyonya."
****
Sementara disisi lain, twins N sedang merayakan kesialan yang dialami oleh Samuel. Mereka sangat senang dengan bubuk gatal yang diciptakan Alex bekerja tanpa terdeteksi oleh medis, panu yang hanya akan bertahan satu hari saja.
Niko menggaruk kan tubuhnya seperti seekor monyet, mencontohkan bagaimana Samuel menderita. "Dia akan menggaruk seperti ini!"
"Wah, aku tak menyangka jika saudara kembarku sangat mirip dengan kera." Puji Niki yang tersenyum mengejek, membuat sang empunya geram.
Niko yang kesal pun menghentikan atraksi topeng monyetnya, segera meraih bantal dan melemparkannya tepat sasaran. "Rasakan itu!"
"Yang terpenting Samuel merasakan akibatnya jika terus saja memaksa kehendak menikahi Eve." Tutur Niki sembari mengusap wajahnya yang terkena lemparan bantal.
"Kau benar, pasti sangat lucu jika aku berada di sana. Ingin sekali aku memotretnya," ucap Niko yang tertawa, mereka mengingat kejahilan di masa kecil dan terkekeh geli.
Pintu terbuka membuat seseorang diluar sana mendengar perkataan twins N, hal itu membuat mereka hampir tersedak. "Jadi kalian mengerjai Samuel?" ucap wanita itu seraya menolak pinggang, sorot mata tajam dan mengintimidasi keduanya.
Sontak Niko dan Niki menoleh ke asal suara, menatap wanita yang mengenakan kacamata. "Eve? Kau mendengarnya?" gugup salah satu dari mereka, takut jika adik sepupunya marah.
"Ya, aku mendengar segalanya."
"Apa kau marah?"
"Aku tidak marah, tapi keluarga kita."
"Asal kau tidak mengatakan kepada mereka." Ucap Niko dengan santai.
"Apa kau marah, Eve?"
__ADS_1
"Tentu saja, kenapa kalian tidak melibatkan aku dalam rencana kalian? Aku malah memberinya bubuk kecubung dalam minuman Sam."
"APA?" ucap Niko dan Niko serentak, mereka terkejut jika Eve sudah melakukan rencananya.